BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Lanjut Baca

Cerita Fecia, Anak Buruh Tani Asal Semanu Merajut Mimpi Kuliah di UGM  

Hidup dalam kesederhanaan di selatan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya du Padukuhan Tunggul Barat, Semanu, Gunungkidul, tak membuat Fecia Laura Revani (18) berhenti bermimpi untuk meraih cita-citanya bisa mengenyam bangku perguruan tinggi. Sang Ayah, Subyono (51), bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Dalam sebulan, ia hanya bisa mengumpulkan penghasilan kurang lebih satu juta rupiah. Sementara sang ibu, Puji (46), sehari-hari sebagai ibu rumah tangga yang hanya mengandalkan penghasilan dari suaminya untuk memenuhi kebutuhan. Meskipun demikian, kedua orang tuanya sangat mendukung penuh cita-cita Fecia untuk meraih cita-citanya. Bungsu dari dua bersaudara ini aktif dalam berbagai kegiatan di sekolahnya, SMAN 1 Wonosari Gunungkidul. Ia aktif di organisasi Patroli Keamanan Sekolah hingga menjadi vokalis band sekolah yang mengantarkannya langganan juara. Kesibukannya ini cukup membuat Fecia kewalahan dalam mengatur waktu dengan mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi. Namun, ia tetap berusaha semaksimal mungkin untuk memprioritaskan kegiatan akademiknya. “Jika di sekolah sedang ada ujian, saya mengutamakan ujian sekolah terlebih dahulu. Setelah itu, jika ada waktu luang setelah pulang sekolah, saya usahakan mencicil belajar sedikit demi sedikit untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi,” jelasnya, Senin (20/7). Mimpi yang begitu besar untuk melanjutkan pendidikan tinggi tertanam kuat dalam diri Fecia. Sudah sejak lama, memiliki tekad untuk berkuliah dengan jurusan pertanian. Ia sempat mendaftar lewat jalur SNBP dan SNBT namun belum diterima. Meskipun ia sempat mengalami beberapa kali kegagalan, ia tidak menyerah begitu saja. Dengan rain belajar dan senantiasa terus berdoa, Fecia akhirnya diterima menjadi mahasiswa Agronomi UGM melalui jalur ujian mandiri UGM atau UM UGM CBT. Pada mulanya, Fecia mengaku tak percaya berhasil lolos seleksi ujian mandiri UGM. Ia merasa sangat senang dapat diterima di jurusan impiannya. Sejak awal, ia sudah tertarik untuk mempelajari lebih dalam bidang pertanian, khususnya budidaya tanaman. Minatnya tersebut didukung penuh oleh kedua orang tuanya, yang paham betul bahwa Fecia tertarik pada dunia pertanian. “Dari awal tertariknya, ke pertanian untuk membudidaya tanaman. Karena suka menanam tanaman, jadi ingin tahu lebih banyak lagi tentang tanaman-tanaman,”kata sang Ibu, Puji. Sempat khawatir soal biaya, namun Puji percaya bahwa anaknya memiliki rezekinya sendiri. “Memang secara hitung-hitungan penghasilannya cuma segini, tapi dari awal kan insya Allah anak saya itu kan memiliki rezeki sendiri gitu,” ungkap Puji. Berkat doa orang tua dan kegigihan Puji yang mengajukan beasiswa subsidi Uang Kuliah Tunggal dari pihak Kampus, ia pun berhasil mendapatkan Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100% atau biaya UKT 0. Fecia mengaku bersyukur bisa diterima kuliah gratis di UGM dan diterima di prodi yang sesuai dengan minatnya. Ia berterus terang bahwa kedua orang tuanyalah yang menjadi sosok inspiratifnya dalam meraih mimpi. Merekalah menjadi alasan bagi Fecia untuk terus berjuang,  tidak mudah menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan yang terbaik. “Mereka sudah berjuang banyak buat aku, sudah ngorbanin semuanya buat aku sampai apa ya cari uang ke mana-mana gitu,” terangnya. Keberhasilan Fecia lolos kuliah di UGM ini disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Puji berharap agar Fecia bisa menjalankan kuliah dengan lancar. Ia dan suaminya selalu memberikan dukungan. “Kami selalu mengajarkan Fecia untuk  selalu banyak berdoa, berusaha secara maksimal semampunya, dan memasrahkan hasil akhirnya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,” terang Puji. Fecia berpesan kepada teman-teman seperjuangan, untuk tetap semangat dan optimis dalam meraih mimpi. Ia selalu percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil. “Meskipun saya sendiri memiliki banyak kekurangan dan belajar kurang maksimal, saya percaya bahwa usaha tidak akan mengkhianati hasil,” pungkasnya. Penulis/Foto : Fatihah Salwa Rasyid Editor : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Sosok Arifin, Anak Penjual Keripik Pisang Disambangi Dekan Fapet UGM

Dekan Fakultas Peternakan (Fapet) UGM, Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., menyambangi rumah keluarga Ngalimah, orang tua dari Muhammad Nur Arifin, salah satu mahasiswa baru penerima beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen yang beralamat di daerah Dayu, Gadingsari, Sanden, Bantul, Selasa(7/7) lalu. Arifin merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara. Ayahnya, Karyana, yang bekerja sebagai tukang kayu, telah meninggal dunia sekitar 15 tahun lalu. Sejak saat itu, ibunya, Ngalimah, menjadi sosok yang berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya dengan berjualan keripik pisang.  Selain berjualan keripik pisang berdasarkan pesanan, Ngalimah juga mengajar kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di lingkungan tempat tinggalnya. Ia bahkan rutin mengadakan pengajian bagi anak-anak kampung setiap selesai salat Magrib di rumahnya. Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari masyarakat hingga bagian teras rumah mereka pernah mendapatkan bantuan rehabilitasi. “Saya sangat bersyukur atas diterimanya Arifin di UGM. Semoga anak saya diberikan kemudahan dalam menempuh kuliah dan dapat meraih cita-citanya,” tutur Ngalimah. Ngalimah menuturkan di tengah berbagai keterbatasan, Arifin menunjukkan bahwa prestasi dapat diraih melalui ketekunan dan kedisiplinan belajar. Menurut sang ibu, putranya tidak pernah mengikuti les tambahan. “Dia anak yang selalu fokus saat belajar di sekolah sehingga tidak perlu mengulang pelajaran secara berlebihan di rumah,” kenangnya.  Di bidang non akademik, Arifin memiliki prestasi membanggakan. Ia pernah meraih juara lomba musikalisasi puisi tingkat provinsi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa selain memiliki minat pada peternakan, ia juga aktif mengembangkan kemampuan di bidang seni dan literasi. Kebahagiaan menyelimuti keluarga Muhammad Nur Arifin setelah putra mereka berhasil diterima di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Lulusan SMAN 1 Bantul tersebut menjadi kebanggaan keluarga yang telah melalui berbagai perjuangan hidup. Arifin, yang lahir di Bantul pada 17 Juli 2006, mengaku tidak menyangka dapat diterima di prodi ilmu peternakan UGM. Bahkan, saat proses pemilihan jurusan, beberapa guru sempat menyarankan dirinya untuk memilih program studi lain. Namun, kecintaannya terhadap dunia peternakan membuatnya yakin memilih Fakultas Peternakan UGM. “Sejak kecil saya sudah senang memelihara hewan, terutama kambing. Walaupun dulu pernah mengalami pengalaman sedih karena kambing peliharaan saya mati saat masih SD, ketertarikan saya pada peternakan tidak pernah hilang,” ungkapnya. Ketertarikan tersebut semakin kuat karena ia bercita-cita mengembangkan usaha peternakan ayam broiler di masa depan. Selain itu, ia juga memiliki minat besar pada bidang nutrisi dan pangan. Menjelang perkuliahan dimulai, Arifin tidak menghabiskan waktunya dengan berdiam diri. Sejak awal Juni hingga akhir Juli, ia membantu kegiatan peternakan milik tetangga yang sedang menjadi lokasi praktik mahasiswa UGM di THR Farm, Karanganyar. Dalam kesehariannya, ia bertugas mengambil telur, memberikan pakan ternak, serta memantau suhu kandang. “Pengalaman ini membuat saya semakin memahami bagaimana pengelolaan peternakan dilakukan secara langsung. Saya jadi semakin yakin memilih peternakan sebagai bidang yang ingin saya tekuni,” katanya. Budi Guntoro, berharap Arifin bisa fokus dan mengoptimalkan diri saat kuliah nanti. “Selamat mas. Ke depan harus fokus baik studi maupun di organisasi nanti. Manfaatkan kesempatan yang diberikan dengan beasiswa kuliah gratis ini untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya. Budi melihat keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk memperoleh pendidikan tinggi. Menurutnya, UGM selalu berkomitmen memastikan mahasiswa dapat belajar dengan tenang. Terlebih dalam menyelesaikan studi secara optimal melalui berbagai bentuk dukungan yang tersedia. Kisah Muhammad Nur Arifin menjadi bukti bahwa semangat belajar, ketekunan, dan dukungan keluarga dapat membuka jalan menuju perguruan tinggi impian. Melalui pendidikan di Fakultas Peternakan UGM, ia berharap dapat memperdalam ilmu peternakan dan nutrisi ternak serta mewujudkan cita-citanya menjadi peternak unggas yang sukses dan bermanfaat bagi masyarakat. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : Hanifah Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim Media Center Peternakan

Selengkapnya

Berkat Mahasiswa KKN UGM, Desa Limboro Kembali Bisa Panen Padi Setelah 14 tahun 

Mo Sangki Pae Kita Mosiala Pale, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengarit padi kita bergandeng tangan, bukan sekadar tradisi panen raya bagi masyarakat Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Perayaan yang diselenggarakan pada Selasa (7/7) tersebut menjadi simbol bangkitnya kembali harapan masyarakat setelah bertahun-tahun lahan pertanian mereka kehilangan pasokan irigasi akibat rusaknya Bendung Uvenja. Namun sejak kedatangan mahasiswa, mereka bisa merasakan panen padi kembali. Selama kurang lebih 14 tahun, Bendung Uvenja di Sungai Limboro mengalami kerusakan akibat banjir sehingga aliran irigasi terputus dan sekitar 43 hektare sawah tidak lagi dapat ditanami. Kondisi tersebut membuat para petani kehilangan sumber penghidupan sekaligus harapan untuk kembali mengolah sawah mereka. Harapan itu mulai tumbuh kembali ketika Program KKN-PPM UGM berkolaborasi dengan Universitas Tadulako (UNTAD) pada 2025 untuk menginisiasi gerakan gotong royong memperbaiki Bendung Uvenja. Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito ikut hadir dalam panen ra kali ini serata menyerahkan bantuan benih padi Gamagora, varietas padi dari hasil hilirisasi peneliti UGM, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian masyarakat Desa Limboro. Pasalnya, padi ‘ampibi’ ini bisa ditanam di area persawahan maupun lahan kering. Arie mengajak masyarakat untuk terus menjaga potensi yang dimiliki setiap daerah agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanahan dan membangun tanggung jawab bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan. "Mari daerah-daerah itu sumber dayanya dijaga, pertanahannya diperkuat, pangannya dipikul," ujarnya. Panen raya yang berlangsung tahun ini tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembalikan produktivitas lahan pertanian mereka. Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut telah dipersiapkan sejak akhir 2024 melalui serangkaian pemetaan kebutuhan masyarakat. Bersama tim dari Universitas Tadulako (UNTAD), Nizam mengunjungi Desa Towale dan Desa Limboro pada November 2024 untuk berdialog dengan kepala desa, perangkat desa, Pemerintah Kabupaten Donggala, serta Camat Banawa Tengah. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi secara virtual yang melibatkan mahasiswa UGM dan UNTAD bersama pemerintah desa serta tokoh masyarakat guna merumuskan program yang benar-benar menjawab kebutuhan warga. Dari hasil pemetaan tersebut, Bendung Uvenja ditetapkan sebagai program prioritas. Setelah melalui berbagai tahapan yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, UGM, UNTAD, sejumlah mitra, serta dukungan alat berat, bendung akhirnya berhasil diperbaiki sehingga aliran air kembali mengairi lahan pertanian warga. "Kami kemudian fokus mencari solusi dengan menggalang gotong royong masyarakat sekaligus dukungan dari berbagai pihak," ujar Nizam. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat Desa Limboro. Pada awal 2026, sekitar 43 hektare sawah yang selama bertahun-tahun tidak dapat ditanami akhirnya kembali menghasilkan padi. Bagi sebuah desa di ujung Kabupaten Donggala, luasan tersebut menjadi capaian yang sangat berarti sekaligus menandai pulihnya produktivitas pertanian masyarakat. Menurut Nizam, kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi pertanian yang sangat besar karena kondisi tanahnya tergolong subur dengan produktivitas yang mampu mencapai sekitar delapan ton gabah per hektare. Kembalinya aliran irigasi tidak hanya menghidupkan kembali harapan masyarakat untuk mewujudkan swasembada pangan di tingkat desa, tetapi juga memperkuat peran Limboro sebagai salah satu penopang lumbung padi di Sulawesi Tengah. Keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja tidak menjadi akhir dari kolaborasi tersebut. Melalui KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026, berbagai program pemberdayaan kembali dilanjutkan, salah satunya melalui penguatan ketahanan pangan dengan memperkenalkan varietas padi Gamagora kepada masyarakat. Varietas padi hasil pengembangan UGM tersebut dipilih karena mampu tumbuh pada lahan kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dinilai berpotensi membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Kormanit KKN-PPM UGM Bulava Donggala, I Komang Agus Juliantara, menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada penyerahan benih. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan mendampingi petani dalam mengenal karakteristik Gamagora, teknik budidaya, hingga penyusunan demonstration plot (demplot) sebagai media pembelajaran di lapangan.  "Gamagora merupakan padi yang amfibi dan bisa hidup di lahan yang kering, serta memiliki produktivitas yang unggul. Diharapkan padi ini dapat membantu masyarakat untuk mengatasi serangan El Nino ke depannya di Sulawesi," jelas Komang. Menurutnya, keberadaan demplot diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempelajari teknik budidaya Gamagora secara langsung sehingga inovasi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan."Rencananya kami akan membersamai masyarakat tentunya. Kami akan mengenalkan lebih dalam lagi perihal padi Gamagora itu sendiri, khususnya yang terkait dengan cara penanaman, hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, dan akan membuat demplot," ujarnya. Selain penguatan ketahanan pangan, Tim KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026 juga mengembangkan sejumlah program lain yang disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi pengembangan sektor pariwisata, seperti restorasi terumbu karang, penguatan ekonomi kreatif, serta lingkungan dan konservasi melalui rencana pembangunan tanggul dan penanaman bambu sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan. Bagi Komang, seluruh rangkaian pendampingan tersebut menjadi pengalaman berharga. Ia menilai keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang dibawa mahasiswa, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pelaksanaan. "Pembelajarannya, masyarakatnya sangat terbuka sehingga mudah diajak berdiskusi. Kami belajar bahwa keberhasilan suatu program itu harus ada keterlibatan semua pihak," tuturnya. Waludin, selaku perwakilan dari kelompok tani juga turut mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas hibahan Padi Gamagora yang telah diberikan oleh UGM. “Kami sangat bersyukur karena adanya bantuan bibit Gamagora dari UGM,” ungkapnya. Kolaborasi yang telah terjalin selama dua tahun terakhir juga mendapat apresiasi dari Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli. Menurutnya, kehadiran UGM telah menjadi bagian dari proses belajar bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di desa."Saya memberi ucapan syukur dan juga ungkapan rasa terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang sudah dua tahun ini sudah membersamai proses belajar dengan kami," katanya. Kifli menilai keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja hingga sawah kembali produktif merupakan bukti nyata bahwa pembangunan desa hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak. "Bagi kami ini merupakan proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak," ujarnya. Ia juga mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, yang mendampingi masyarakat sejak awal proses perencanaan hingga pelaksanaan program. "Banyak kades yang punya kenalan profesor, tapi bagi kami, teman profesor pertama kami itu ya Prof. Nizam. Ini menjadi kesan yang melekat di warga desa karena jarang sekali ada profesor yang mau berproses bersama dengan petani," ungkapnya. Ke depan, Pemerintah Desa Limboro berharap kolaborasi yang telah terbangun bersama UGM tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. "Besar harapan saya bahwa ini tidak bersifat momentum, tetapi bisa kami rawat juga," pungkas Kifli. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim KKN-PPM Bulava Donggala

Selengkapnya

Anak Tukang Bengkel Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keinginan untuk berkuliah di UGM sebenarnya telah tumbuh sejak Andini Dwi Lestari masih duduk di bangku sekolah dasar. Dalam perjalanan akademiknya, Andini dikenal sebagai siswa yang konsisten berprestasi. Sejak SD hingga SMA, ia beberapa kali meraih peringkat pertama di kelas. Di SMA, tepatnya SMA 1 CIrebon, ia berhasil meraih peringkat pertama paket IPS dan dinyatakan sebagai siswa eligible pertama. Ia juga pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat Kota Cirebon pada tahun 2025, bidang ekonomi. Di balik capaian tersebut, dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar bagi Andini. Kedua orang tuanya selalu menanamkan nilai kejujuran, disiplin, dan pentingnya memohon ridha Tuhan dalam setiap usaha yang dilakukan. Kebahagiaan keluarga semakin lengkap ketika Andini diterima kuliah di Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), lewat jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Kebahagiaan keluarga terus bertambah setelah mengetahui Andini memperoleh beasiswa pendidikan unggul bersubsidi 100 persen dari UGM atau UKT nol. Sebelumnya, sang ibu sempat memikirkan berbagai kebutuhan biaya kuliah, mulai dari uang pendidikan, biaya hidup, hingga tempat tinggal selama Andini menempuh studi di Yogyakarta. “Alhamdulillah, senang sekali melihat nominal UKT nol rupiah karena bisa membantu meringankan beban keluarga dalam biaya kuliah,” ungkap Andini, Rabu (8/7). Sementara itu, sang ibu, Siti Patonah menyampaikan bahwa ia dan suaminya, Suryanto selalu mendukung keinginan putra-putrinya untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Siti, yang merupakan lulusan SMA, bersama sang suami yang mengenyam pendidikan hingga jenjang SMP, berharap Andini dapat memiliki masa depan yang lebih baik daripada orang tuanya. Meski sempat memikirkan keterbatasan biaya, keluarga tetap bertekad mencari berbagai peluang bantuan pendidikan. “Yang penting Andini bisa masuk kuliah dulu. Soal biaya, kami yakin selalu ada jalan dan bisa diusahakan nanti, termasuk mencari beasiswa,” ujar Siti. Siti mengatakan bahwa selama ini ia dan suami yang bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Cirebon, selalu menanamkan pentingnya doa, ikhtiar, dan semangat untuk tidak mudah menyerah kepada anak-anaknya. Menurutnya, setiap hari harus menjadi kesempatan untuk terus menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari sebelumnya.“Saya selalu berpesan kepada Andini agar jangan pernah putus asa, terus berusaha, dan berdoa. Hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Jangan sampai mengecewakan Bapak dan Ibu,” tuturnya. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada UGM atas kesempatan dan bantuan pendidikan yang diberikan kepada putrinya.“Terima kasih kepada UGM yang telah menerima Andini dan memberikan subsidi UKT. Semoga kesempatan ini bisa dimanfaatkan dengan baik, menjadi amanah yang dijaga dengan sungguh-sungguh, dan membantu Andini mewujudkan cita-citanya, sehingga bantuan yang diberikan tidak menjadi sia-sia,” ungkapnya. Kini, langkah Andini menuju FEB UGM tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat diraih dengan kerja keras, doa, dan dukungan dari orang-orang terdekat. Menurut Andini, kunci untuk menjaga prestasi adalah kemampuan mengatur waktu dan menetapkan prioritas. Ia selalu berusaha menyeimbangkan waktu untuk belajar, bermain, dan kegiatan lainnya.“Saya juga selalu mengingat mimpi jangka panjang saya untuk menjadi pengusaha sehingga saya lebih bersemangat untuk belajar,” katanya. Andini berpesan kepada teman-teman yang masih berjuang meraih cita-cita agar tidak mudah menyerah. “Terus semangat belajar, berusaha, dan berdoa. Kalau kita bersungguh-sungguh dalam berikhtiar, pasti akan ada jalan,” pesannya. Reportase : Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson Foto           : Dok. Humas FEB

Selengkapnya

Kisah Fathan, Bantu Ibu Berjualan di Kantin Sekolah dan Wujudkan Mimpi Kuliah Gratis di UGM

Di balik keberhasilan mahasiswa baru diterima kuliah gratis di kampus Universitas Gadjah Mada, tersimpan cerita perjuangan yang menginspirasi. Begitu pun dengan kehidupan  keluarga Muhammad Fathan Khairul Muna R (17). Bersama ibu dan kakaknya, Fathan menapaki hari demi hari sambil terus memperjuangkan mimpinya untuk tembus kuliah di kampus UGM dengan belajar secara giat.  Ia selalu bangun dini hari untuk membantu mengantarkan sang ibu beserta dagangan menuju kantin SMA Negeri 8 Pekanbaru, tempat ibunya mencari nafkah sekaligus sekolahnya, sebelum kemudian mengenakan seragam dan menjalani hari sebagai siswa seperti remaja lainnya. Ibunya,  Rida Rahayu,menjadi tulang punggung keluarga dengan berjualan di kantin sekolah setelah suaminya meninggal. Namun di tengah keterbatasan tersebut, pendidikan selalu menjadi prioritas utama dalam keluarga mereka. “Sejak SMA, saya sudah memiliki keinginan kuat untuk masuk kuliah. Saya suka belajar dan bertemu dengan orang-orang untuk memperluas pengetahuan. Ibu saya juga selalu mendukung dalam hal apa pun, meskipun tidak sesuai atau Ibu pengennya berbeda, tetap mendukung saya dan percaya apa pun pilihannya,” ujar Fathan, Rabu (1/7). Persiapannya menuju kampus impian dimulai sejak Fathan masuk SMA. Ia menjaga konsistensi nilai akademik karena sekolah menerapkan penilaian prestasi akademik sejak semester awal hingga semester kelima. Ia memberikan perhatian khusus pada mata pelajaran ekonomi saat memasuki peminatan untuk mendukung impiannya masuk ke Program Studi Akuntansi. Di balik prestasinya, Fathan didukung oleh lingkungan yang aktif mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi. Salah satu kompetisi yang paling berkesan baginya adalah Cerdas Cermat yang diadakan oleh Mahkamah Konstitusi Indonesia, dan ia berhasil meraih Juara II tingkat Sumatera. Bahkan di kelas XII, Fathan juga menerima Beasiswa 4698 yang diberikan oleh para alumni sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan selama masa pendidikan di SMA. Ia mengaku sempat kecewa saat mengalami berbagai kegagalan dalam beberapa kompetisi. Namun, pengalaman tersebut justru memotivasinya untuk terus berani mengikuti berbagai perlombaan, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Baginya, setiap kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari proses yang diyakininya sebagai cara Tuhan mempersiapkan kesempatan yang lebih baik di masa depan. “Awalnya sedih harus menghadapi banyak kekalahan. Tetapi, ini membuat saya untuk terus tetap berani mencoba banyak lomba-lomba lainnya dari akademik hingga non akademik. Prinsip yang selalu saya pegang adalah bahwa setiap kegagalan bukan berarti akhir dari perjalanan, melainkan tanda bahwa Tuhan sedang menyiapkan jalan yang lebih baik,” ungkapnya. Perjuangan Fathan tidak sia-sia, Dua orang yang paling berperan dalam perjalanan Fathan adalah ibunya dan kakak perempuannya. Ibunya selalu meyakinkannya bahwa tidak ada mimpi yang mustahil dicapai selama ia mau berusaha. Sementara itu, kakaknya menjadi sosok yang selalu memberikan dukungan moral maupun finansial selama Fathan menjalani studinya. Kini, Fathan bersiap memulai babak baru sebagai mahasiswa FEB UGM. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, ia percaya bahwa tidak ada mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih selama seseorang mau terus berusaha. “Kalau mimpi kita jauh, kita akan terus mencari cara untuk menuju ke sana. Tidak ada yang mustahil untuk dicapai karena yang memimpikannya adalah kita sendiri,” pungkasnya. Reportase  : Shofi Hawa Anjani dan Kurnia Ekaptiningrum/Humas FEB Editor         : Gusti Grehenson

Selengkapnya

Dorong Swasembada Pangan, Kementan RI Siap Borong Hasil Riset Inovasi UGM

Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengajak Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dalam melakukan hilirisasi hasil riset guna mendukung swasembada dan kedaulatan pangan nasional. Ajakan tersebut disampaikan saat menerima delegasi UGM yang dihadiri langsung oleh Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, PhD., bersama jajaran pimpinan Universitas dan Fakultas, dosen dan mahasiswa di kediamannya di Jakarta, Senin (29/6). Amran menyampaikan bahwa berbagai inovasi yang dikembangkan UGM memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam sektor pertanian nasional. Dikatakan langsung oleh Amran jika hilirisasi hasil riset menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor sekaligus meningkatkan daya saing pertanian nasional. "Banyak dari hasil karya UGM yang dapat diterapkan untuk sektor pertanian Indonesia," ujarnya. Ia menjelaskan keadaan ekspor sektor pertanian saat ini telah mencapai sekitar Rp760 triliun, tergolong meningkat sekitar Rp166 triliun dalam satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo-Gibran. Di sisi lain, nilai impor sektor pertanian juga telah turun sekitar Rp41 triliun, meski masih menyisakan peluang substitusi impor yang cukup besar. Dalam pertemuan tersebut, Mentan dan UGM membahas pengembangan kurang lebih enam komoditas strategis dengan nilai kerja sama sekitar Rp40 miliar yang akan dihibahkan ke UGM. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan kedelai, bawang putih, pakan peternakan, pupuk berbahan batu bara, hingga inovasi sapi perah hasil riset UGM. Lanjut Amran, varietas kedelai yang dikembangkan UGM memiliki keunggulan karena bersifat non-genetically modified organism (non-GMO) serta memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan kedelai impor. Baginya, hal tersebut merupakan sebuah peluang kerja sama yang sangat baik karena memanfaatkan hasil lokal dibandingkan milik luar. Pemerintah pun berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000-2.000 hektare yang pada gagasannya akan berlokasi di Jawa Tengah. "Kalau kita bisa menghasilkan bibit-bibit unggul, kenapa kita harus beli dari luar?" katanya. Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan. Menurutnya, percepatan pembangunan sektor pertanian membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Sementara itu, Wakil Rektor Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko mengatakan pertemuan dengan Mentan merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah terjalin sebelumnya antara UGM dan Mentan. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Menurut Danang, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras perlu didukung dengan penguatan kedaulatan benih. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pengembangan varietas unggul yang dapat dimanfaatkan secara luas. "Salah satu faktornya adalah bagaimana kita memiliki kedaulatan benih. Kampus menghasilkan varietas, khususnya padi Gamagora, untuk bisa diserap oleh pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan tersebut," ujarnya. Ia berharap berbagai inovasi yang dihasilkan UGM, tidak hanya pada komoditas padi, tetapi juga komoditas strategis lainnya, dapat semakin dimanfaatkan dalam program-program pemerintah. Menurutnya, keberpihakan terhadap hasil riset perguruan tinggi akan mempercepat pemanfaatan inovasi untuk menjawab tantangan pembangunan nasional, khususnya di sektor pangan. “Kerja sama ini juga yang kami tunggu-tunggu sebenarnya, bagaimana keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan keberpihakan terhadap kampus sehingga warisan dan hasil riset kampus bisa diserap oleh pemerintah,” pungkasnya. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang, Anak Buruh Tani Asal Gunungkidul Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi Leni Ismawati (18) untuk meraih mimpi tinggi. Gadis asal Gunungkidul tersebut telah memiliki mimpi untuk berkuliah di UGM sejak menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Keberhasilannya lolos Akuntansi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol dari UGM membuktikan bahwa dirinya berhasil memenuhi salah satu impiannya. Leni merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Semojo (50) dan Ibu Erni (37) yang sehari-harinya mengurus sawah dan ternak dengan penghasilan yang tidak tetap. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Erni mengaku sering mencari tambahan dengan menjadi buruh tani kepada tetangganya. Namun, keterbatasan ini bukan halangan untuk pendidikan putrinya. Erni mengatakan dirinya selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Hal ini karena dirinya yang hanya lulusan SMP dan suaminya yang hanya  lulusan SD. Bahkan ia mengaku menyesal tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ditambah dari keluarganya dan suaminya belum ada yang melanjutkan pendidikan hingga kuliah. Rasa bangga terhadap Leni turut menyertai pencapaian yang didapatkannya. “Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya untuk biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” tutur Erni, Senin (29/6). Dukungan penuh yang diberikan kedua orang tuanya, membuat Leni lebih berani dalam melangkah. “Ibu sempat berpesan agar jangan takut mengejar mimpi. Hal itulah yang akhirnya membuat saya berani mencoba mendaftar di jurusan Akuntansi UGM,” ujar Leni. Erni mengungkap bahwa sejak kecil Leni sudah diajarkan untuk selalu prihatin karena bukan dari keluarga berada yang bisa mengadakan segala sesuatu secara instan. Ia menanamkan pemahaman bahwa setiap keinginan harus dicapai melalui usaha dan kerja keras, termasuk membiasakan Leni menabung dari uang sakunya jika ingin membeli kebutuhan pribadi. Ia juga memantau pendidikan agama serta pergaulannya agar ia tidak terjerumus ke dalam lingkungan yang membawa dampak negatif. “Saya sengaja tidak memanjakannya sedari kecil, selain karena kondisi ekonomi, saya juga khawatir Leni akan kesulitan menghadapi masa depannya nanti,” ungkapnya. Perjalanan Leni menuju kampus biru tidaklah mudah. Sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA 1 Wonosari, yang berjarak cukup jauh dari rumah, membuatnya harus tinggal di kos sendiri. Namun, hal inilah yang membuatnya dapat hidup mandiri dan membagi waktu dengan lebih baik. Berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang mengikuti bimbingan belajar tambahan, karena keterbatasan ekonomi, Ia memilih untuk belajar mandiri. Leni menemukan waktu belajar efektif untuknya yaitu saat dini hari, Ia secara rutin bangun pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Kegigihannya berbuah manis, Ia berhasil mendapat peringkat kedua eligible yang menjadi modal untuk melanjutkan pendidikannya. Ketertarikan Leni pada bidang ekonomi telah tumbuh sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA. Minat tersebut diperdalam dengan mengambil mata pelajaran peminatan ekonomi, yang kemudian secara spesifik mempelajari akuntansi di kelas 12. “Semenjak kelas 12, saya mulai mendalami akuntansi serta bagaimana prospek karir ke depan. Hal tersebut akhirnya membuat saya merasa bidang ini sangat tepat bagi saya,” tuturnya. Prestasinya dalam hal akademik tidak diragukan lagi, sedari menempuh pendidikan SD, Leni rutin mendapat peringkat satu hingga mendapatkan title lulusan terbaik saat SMP. Ia juga menyambangi berbagai kegiatan seperti Rohani Islam (Rohis), Palang Merah Remaja (PMR), hingga keikutsertaan dalam Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kapanewon Wonosari. Saat SMA, Ia sempat mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi hingga tingkat Kabupaten. Leni mengaku bahwa semakin bertambah usia, pemikirannya semakin terbuka luas. Awalnya Ia belajar untuk meraih peringkat dan hadiah, kini Ia belajar untuk mengubah kehidupannya baik dari segi ekonomi maupun latar belakang pendidikannya. “Saya berharap setelah ini, Akuntansi UGM bisa membuka lebih banyak jalan dan hal-hal baik bagi masa depan saya,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Hanifah dan Dok. Leni

Selengkapnya

Masjid Kampus UGM Salurkan Beasiswa dan Bangun Semangat Kerelawanan

Masjid Kampus UGM atau dikenal dengan sebutan Maskam, bukan hanya menjadi tempat ibadah dan wadah kajian ilmu agama bagi umat muslim. Lebih dari itu, masjid kampus juga menjalankan perannya untuk membangun budaya kepedulian sosial untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang tengah menempuh studi di kampus UGM. Melalui Rumah Zakat Infaq Sedekah (RZIS) Universitas Gadjah Mada, program yang dikelola Maskam UGM ini terus berkomitmen mendukung keberlanjutan studi mahasiswa melalui program beasiswa yang telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2008. Tidak hanya memberikan bantuan biaya hidup, RZIS UGM juga membangun budaya kepedulian sosial dengan melibatkan para penerima beasiswa sebagai relawan di tengah masyarakat. Wakil Direktur sekaligus Manajer Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., menjelaskan bahwa program beasiswa menjadi salah satu program utama sejak lembaga tersebut didirikan. Kehadiran RZIS berawal dari kepedulian terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi, kini KIP Kuliah, yang pada saat itu hanya memperoleh pembebasan biaya pendidikan tanpa dukungan biaya hidup. "Pada tahun 2008 banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu berhasil masuk UGM, tetapi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situlah Rektor UGM saat itu, almarhum Prof. Dr. Sukadji, bersama Prof. Ainun Na'im menginisiasi pembentukan lembaga zakat di UGM," ujar Taufik, Senin (29/6). Bernaung di bawah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, RZIS UGM menghimpun dana zakat dari dosen, tenaga kependidikan, alumni, hingga masyarakat umum, terutama jamaah Masjid Kampus UGM. Selama hampir dua dekade, program beasiswa tersebut tidak pernah terhenti. Menurut Taufik, setiap semester RZIS UGM rata-rata membantu sekitar 200 mahasiswa. Jumlah penerima tidak ditentukan dengan kuota tetap, melainkan disesuaikan dengan besarnya dana zakat yang berhasil dihimpun. "Semakin besar dana zakat yang terkumpul, semakin banyak mahasiswa yang dapat kami bantu," katanya. Persyaratan memperoleh beasiswa pun dibuat sederhana agar mudah diakses oleh mahasiswa yang membutuhkan. Calon penerima hanya diwajibkan berstatus sebagai mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma empat di UGM serta berasal dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Tidak ada persyaratan mengenai indeks prestasi kumulatif maupun batas semester. "Kami tidak ingin mahasiswa hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga kami dorong menjadi relawan sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat melalui tenaga, waktu, dan kepedulian yang mereka miliki," jelasnya. Selain beasiswa reguler, RZIS UGM juga memiliki Program Rescue bagi mahasiswa yang masa bantuan KIP Kuliahnya telah berakhir, tetapi belum menyelesaikan studi. Program ini menjadi bentuk pendampingan agar mahasiswa tetap dapat menuntaskan pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi. Besaran bantuan yang diberikan bervariasi. Mahasiswa penerima KIP Kuliah memperoleh tambahan biaya hidup sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per bulan, sedangkan penerima beasiswa reguler menerima bantuan sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000 per bulan selama satu semester. Perpanjangan bantuan dilakukan melalui evaluasi sederhana dengan mengunggah Kartu Hasil Studi (KHS) terbaru. Tidak hanya mendukung kebutuhan pendidikan, RZIS UGM juga memberikan bantuan bagi mahasiswa yang menghadapi kondisi darurat, seperti mengalami musibah, membutuhkan biaya pulang kampung, hingga terjerat pinjaman daring. Dalam perspektif syariat, mahasiswa dikategorikan sebagai fisabilillah, yakni pihak yang berjuang di jalan Allah melalui pendidikan. Salah satu ciri khas program RZIS UGM adalah keterlibatan aktif mahasiswa sebagai relawan. Para relawan melakukan kunjungan ke rumah-rumah keluarga penerima manfaat untuk menyerahkan bantuan sembako sekaligus memantau kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. "Kami ingin mahasiswa belajar langsung memahami kondisi masyarakat. Kalau ditemukan kebutuhan khusus, misalnya kursi roda, alat bantu dengar, BPJS, atau rujukan ke Rumah Sakit Akademik UGM, relawan akan melaporkan kepada kami agar dapat ditindaklanjuti," tutur Taufik. RZIS UGM juga menerapkan pendekatan pemberdayaan ekonomi dalam penyaluran bantuan. Paket sembako tidak dibeli dari toko besar, melainkan dari warung atau toko kecil di sekitar tempat tinggal penerima manfaat sehingga dana zakat turut menggerakkan perekonomian lokal dan mendukung pelaku UMKM. Selain pengelolaan zakat, RZIS UGM tengah mempersiapkan pembentukan lembaga wakaf yang akan memperoleh legalitas dari Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Ke depan, aset wakaf akan dimanfaatkan untuk pembangunan asrama mahasiswa serta Rumah Al-Qur'an. Saat ini RZIS UGM juga telah mengelola tiga asrama mahasiswa di kawasan Pogung Dalangan, Pogung Kidul, dan Klebengan. Asrama tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi dan membutuhkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan kampus. Menutup wawancara, Taufik berharap semakin banyak mahasiswa mengetahui keberadaan program beasiswa RZIS UGM sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terhambat menyelesaikan pendidikan karena kendala biaya. "Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan tetapi belum mengetahui informasi beasiswa ini. Karena itu kami berharap publikasi mengenai pembukaan beasiswa RZIS UGM dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan secara optimal," pungkasnya. Penulis : Jelita Agustine Editor   : Gusti Grehenson Foto      : Dok. Humas UGM dan Masjid Kampus

Selengkapnya

Kisah Syahla, Putri Pengemudi Ojek Online Kuliah Gratis di UGM 

Tak hanya menjadi tempat tinggal bagi Syahla Nabilah Junita Wibawa (19) dan keluarganya, rumah sederhana yang berada di Nogotirto, Sleman, ini juga menjadi tempat sang ibu mencari nafkah melalui warung makan sederhana. Sang ibu, Nurjanah (42) berjualan makanan di warung nasi yang juga berlokasi di rumahnya. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata (43) bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di tengah keterbatasan ekonomi dan penghasilan keluarga yang tak menentu, Syahla tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas. Keyakinan itu kini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM. Keberhasilan Syahla diterima berkuliah di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah pencapaian yang ia raih secara instan. Sejak kelas 10 SMA, ia sudah menargetkan untuk menjadi siswa eligible agar memiliki peluang peluang lebih besar lolos ke perguruan tinggi impiannya, yakni UGM. Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” tuturnya, Rabu (24/6). Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan. “Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya. Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal. “Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya. Di tengah kesibukannya, Syahla juga menyempatkan waktu untuk berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah. Bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upayanya untuk memiliki uang saku tambahan dan ingin senantiasa belajar mandiri sejak dini. Kesadaran akan jerih payah kedua orang tua untuk membiayainya sekaligus ketiga saudaranya membuatnya berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa banyak meminta. “Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” ujarnya. Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih. “Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya. Nurjanah mengaku bersyukur atas keberhasilan putri sulungnya diterima di UGM. Menurutnya, semangat belajar Syahla sudah terlihat sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua, ia berupaya mendukung cita-cita anaknya meski harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. “Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” terangnya. Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah. Penulis : Cynthia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine dan Dok.Syahla