BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Schneider Indonesia Hibahkan Panel Listrik untuk Dukung Pengembangan Fasilitas FT UGM

PT Schneider Indonesia menghibahkan satu unit panel listrik PIX12 2500A kepada Fakultas Teknik (FT) UGM sebagai bagian dari hibah tiga unit panel listrik kepada Universitas Gadjah Mada senilai Rp778 juta. Hibah panel listrik tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan industri terhadap pengembangan sarana kelistrikan di lingkungan UGM. Bagi FT UGM, keberadaan panel PIX12 2500A diharapkan dapat mendukung kebutuhan fasilitas kelistrikan sekaligus menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan riset. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM Arief Setiawan Budi Nugroho, Ph.D., menyampaikan bahwa hibah tersebut sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk terus mengembangkan teknologi dan sarana kelistrikan. “Isu persoalan energi di Indonesia ini sedang umum terjadi sehingga kerja sama ini merupakan wujud dari upaya menjawab persoalan nyata tersebut,” ujar Arief di Gedung Pusat UGM, Jumat (18/9). Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fasilitas kelistrikan di FT UGM, tetapi juga membuka peluang pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, khususnya dalam bidang energi, otomasi, dan teknologi.

Lanjut Baca

Ketika Keilmuan Teknik Pertanian Menjangkau Luar Angkasa, Mahasiswa TPB UGM Terpilih dalam DropTES UNOOSA

Yogyakarta, 24 September 2026 — Keilmuan Teknik Pertanian dan Biosistem tidak hanya berkontribusi pada persoalan pertanian di Bumi, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan teknologi eksplorasi luar angkasa. Hal tersebut ditunjukkan oleh Rendy Dwi Nugraha, mahasiswa Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB), Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) angkatan 2024, yang terpilih sebagai awardee Drop Tower Experiment Series (DropTES) ke-10 dari United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA). Bersama tim lintas disiplin UGM, Rendy akan menguji penelitian mengenai dinamika material granular pada kondisi gravitasi mikro di Bremen Drop Tower, Jerman, pada kuartal pertama 2027. Rendy tergabung dalam tim yang terdiri atas Alessander Reynard Aritonang sebagai Team Leader dari S1 Teknik Nuklir angkatan 2025, Rendy Dwi Nugraha sebagai Team Member 1 dari S1 Teknik Pertanian angkatan 2024, dan Idam Sholikhah sebagai Team Member 2 dari D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol angkatan 2023. Dalam program DropTES, tim tersebut membawa penelitian mengenai dinamika material granular, khususnya untuk mengamati redistribusi pasir silika yang sebagian mengandung air (partially wet silica sand) ketika mengalami guncangan dalam kondisi gravitasi mikro. Eksperimen tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana material granular berperilaku ketika berada pada kondisi gravitasi yang sangat rendah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan teknologi yang mendukung misi eksplorasi antariksa pada masa mendatang, termasuk misi menuju Bulan maupun objek planet lainnya. Kesempatan melakukan eksperimen secara langsung di Bremen Drop Tower menjadi bagian penting dari proses penelitian. Tim tidak hanya mengembangkan rancangan eksperimen, tetapi juga mempersiapkan perangkat dan menjalani proses pengujian teknis sesuai standar yang ditetapkan oleh penyelenggara. Melalui Proses Persiapan dan Critical Design Review [caption id="attachment_15905" align="alignnone" width="768"] Foto Bersama Tim (Kanan ke Kiri): Rendy Dwi Nugraha (Team Member 1 | S1 Teknik Pertanian 2024), Alessander Reynard Aritonang (Team Leader | S1 Teknik Nuklir 2025), dan Idam Sholikhah.[/caption] Program DropTES ke-10 tidak langsung dimulai dengan pelaksanaan eksperimen di Jerman. Tim terlebih dahulu mengikuti rangkaian persiapan dan pengujian teknis yang berlangsung pada Agustus hingga Desember 2026. Dalam fase tersebut, tim akan menjalani proses pengembangan dan penyempurnaan perangkat eksperimen, termasuk Critical Design Review (CDR) bersama pihak UNOOSA dan ZARM. Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan rancangan eksperimen memenuhi persyaratan teknis sebelum digunakan dalam pengujian gravitasi mikro. Pelaksanaan eksperimen di Jerman dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih dua minggu pada kuartal pertama 2027, dengan rencana pelaksanaan pada minggu kedua Februari 2027. Keterlibatan dalam program ini juga mempertemukan mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan. Kolaborasi antara Teknik Nuklir, Teknik Pertanian, serta Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol menjadi bagian dari proses pengembangan eksperimen yang membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari karakteristik material, perancangan eksperimen, hingga instrumentasi dan pengukuran. Ketika Keilmuan Teknik Pertanian Menjangkau Luar Angkasa Bagi Rendy, keterlibatannya dalam riset gravitasi mikro pada awalnya menghadirkan tantangan tersendiri. Riset antariksa kerap dipandang sebagai bidang yang jauh dari Teknik Pertanian. Namun, pengalaman mengikuti DropTES justru menunjukkan adanya keterkaitan antara keilmuan Teknik Pertanian dan kebutuhan penelitian untuk eksplorasi luar angkasa. “Jujur awal mulanya sempat ragu karena riset antariksa sering dianggap jauh dari ranah Teknik Pertanian, tetapi justru keilmuan TPB seperti mekanika tanah, perilaku material granular, dan interaksi fluida sangat krusial dipelajari terutama sebagai fondasi penting bagi pemahaman media tanam untuk space agriculture di masa depan,” ungkap Rendy. Menurutnya, keterlibatan dalam penelitian tersebut menjadi pengalaman yang menunjukkan bahwa keilmuan Teknik Pertanian tidak hanya relevan untuk persoalan produksi pertanian di Bumi. Pemahaman mengenai karakteristik tanah, material granular, serta interaksi antara material dan fluida juga dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi pertanian dalam lingkungan ekstrem. “Pengalaman ini membuktikan bahwa batas ilmu TPB tidak berhenti di bumi saja, melainkan berpotensi dalam aplikasi teknologi eksplorasi luar angkasa,” lanjutnya. Relevansi tersebut semakin terbuka seiring berkembangnya konsep space agriculture, yang membutuhkan pemahaman mengenai media tanam, distribusi material, air, dan lingkungan tumbuh pada kondisi gravitasi yang berbeda dari Bumi. Belajar Membawa Gagasan dari Kampus Menjadi Eksperimen Nyata Bagi Rendy, kesempatan mengikuti DropTES bukan hanya pengalaman melakukan eksperimen di fasilitas gravitasi mikro, tetapi juga menjadi proses pembelajaran mengenai bagaimana penelitian dikembangkan dalam lingkungan kolaborasi internasional. “Terpilih dalam program DropTES dari UNOOSA ini adalah sebuah kesempatan dan tantangan luar biasa bagi saya dan tim. Pengalaman baru yang paling berharga bukan hanya sekadar berkesempatan datang dan menguji riset kami langsung di fasilitas menara drop di Jerman, tetapi juga proses kolaborasi internasional yang kami jalani,” tutur Rendy. Ia menambahkan bahwa proses tersebut memberikan pengalaman dalam memahami standar penelitian antariksa, mulai dari perancangan perangkat eksperimen secara presisi hingga membawa gagasan ilmiah dari lingkungan perkuliahan menjadi eksperimen yang dapat diuji secara langsung. “Dari program ini, kami belajar banyak mengenai standar riset antariksa mulai dari perancangan alat yang presisi hingga bagaimana membawa gagasan ilmiah dari bangku perkuliahan menjadi eksperimen nyata yang berdampak bagi perkembangan ilmu pengetahuan antariksa,” tambahnya. Kolaborasi Internasional untuk Pengembangan Riset Mahasiswa DropTES ke-10 diselenggarakan oleh UNOOSA melalui inisiatif Access to Space for All bersama ZARM University of Bremen dan DLR. Pelaksanaan program juga berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia melalui KBRI/PTRI Vienna. Keterlibatan mahasiswa UGM dalam program tersebut menjadi bagian dari pengalaman akademik dan riset yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dengan ekosistem penelitian antariksa internasional. Bagi Rendy dan tim, rangkaian kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan riset, rekayasa eksperimen, kolaborasi lintas disiplin, sekaligus memahami standar penelitian pada fasilitas pengujian gravitasi mikro. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa TPB FTP UGM menunjukkan bahwa kompetensi Teknik Pertanian dan Biosistem dapat dikembangkan melampaui konteks pertanian konvensional. Pemahaman mengenai mekanika tanah, material granular, interaksi fluida, serta sistem lingkungan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertanian di lingkungan ekstrem, termasuk untuk mendukung visi space agriculture dan eksplorasi manusia di luar Bumi.

Selengkapnya

Magister Teknik Biomedis UGM Gelar Layanan Kesehatan Terpadu bagi Penyandang Disabilitas dan Pendamping

[metaslider id="1524581"] Sedayu, Bantul — Program Studi Magister Teknik Biomedis, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM serta Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Layanan Kesehatan Terpadu untuk Penyandang Disabilitas dan Pendampingnya”. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Rumah Kebugaran Difabel (RKD), Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PKM dan bertujuan memberikan layanan kesehatan terpadu bagi penyandang disabilitas dan anggota keluarga atau pengasuh yang mendampingi mereka. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan gigi, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta pemeriksaan khusus bagi sejumlah penyandang disabilitas berupa pemeriksaan neurologi, fisioterapi, dan survei penggunaan alat bantu. Sebanyak 25 penyandang disabilitas dan 25 anggota keluarga atau pengasuh menjadi sasaran kegiatan. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan peserta sekaligus memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung perawatan dan pendampingan secara berkelanjutan. Ketua PKM, Dr. drg. Anne Handrini Dewi, M. Kes., dari FKG UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta melalui informasi mengenai kondisi kesehatan mereka. “Dari kegiatan ini diharapkan peserta memperoleh informasi terkait kondisi kesehatannya secara langsung. Pemeriksaan gigi, khususnya pada penyandang disabilitas, bermanfaat untuk deteksi dini masalah kesehatan mulut, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas hidup. Selain itu, orang tua atau pengasuh juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Dr. Anne. Selain memberikan layanan pemeriksaan, tim juga memperhatikan aspek perlindungan data dan privasi peserta. Dr. Anne menegaskan bahwa identitas peserta dijamin kerahasiaannya. Publikasi hasil kegiatan hanya akan menggunakan data anonim dan tidak mencantumkan nama maupun identitas pribadi peserta. “Peserta berkewajiban mengikuti aturan kegiatan dan dapat bertanya kepada petugas apabila terdapat informasi atau prosedur yang belum jelas,” tambahnya. Sementara itu, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., selaku Ketua Program Studi Magister Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas bidang keilmuan. Menurut Dr. Rini, kebutuhan kesehatan penyandang disabilitas memiliki karakteristik yang beragam sehingga diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu aspek kesehatan. Kolaborasi antara bidang teknik biomedis, kedokteran, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, neurologi, dan fisioterapi memungkinkan layanan diberikan secara lebih terpadu sesuai kebutuhan peserta. “Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai kebutuhan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan pendampingnya. Kami berharap kolaborasi lintas fakultas dan lintas disiplin seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga hasil pendidikan dan keilmuan di UGM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Rini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM. Tim pelaksana terdiri atas tenaga profesional dan akademisi dari berbagai bidang, antara lain dokter neurologi dan dokter saraf dari FK-KMK UGM, dokter gigi dari FKG UGM, para residen FK-KMK UGM, serta mahasiswa Magister Teknik Biomedis. Keterlibatan berbagai bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan kesehatan terpadu. Selain pemeriksaan, peserta juga memperoleh informasi dan edukasi yang diharapkan dapat membantu keluarga maupun pengasuh dalam melakukan pendampingan kesehatan sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh hibah penelitian SPs ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis : Arni W

Selengkapnya

Tak Cukup Sekadar Berbagi Makanan: FTP UGM dan Foodbank of Indonesia Sepakat Hidupkan Lagi Lumbung Pangan Desa

Fakultas Teknologi Pertanian UGM bersama dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami di Operation Room FTP UGM pada Jumat (25/9), untuk mengembangkan gerakan ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat. Pertemuan ini dihadiri Dekan FTP UGM Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerjasama, dan Alumni Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P., serta jajaran pimpinan departemen dan dosen. Dari pihak yayasan hadir Ketua Dewan Pembina M. Hendro Utomo, S.S., MBA, Ketua Yayasan Wida Septarina, S.S., M.Si., serta pengurus Foodbank of Indonesia (FOI). Dekan FTP UGM menyambut baik kedatangan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia dengan adanya keberlanjutan dan pengembangan kerja sama yang dilakukan oleh FTP UGM dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia. “Kegiatan ini diharapkan dapat dikembangkan bersama masyarakat dengan melibatkan akademisi serta yayasan atau lembaga lain yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap isu pangan” Ujar Eni. Hendro Utomo menyampaikan bahwa pengalaman FOI selama sekitar 11 tahun menunjukkan pembagian makanan lebih tepat disebut solusi darurat (emergency response) yang belum menyelesaikan persoalan secara struktural. Karena itu, menurutnya organisasi kemanusiaan perlu mendorong masyarakat agar mampu menolong dan memberdayakan dirinya sendiri. Pandangan inilah yang melandasi Gerakan Bangkitnya Lumbung Kami, yakni menghidupkan kembali ekosistem pangan di desa. Ruang lingkup PKS ini mencakup penelitian dan publikasi mengenai lumbung pangan, pangan lokal, dan budaya pertanian dari sudut pandang ilmu teknologi pertanian, serta hasil riset beragam varietas benih lokal. Kedua pihak juga akan mendampingi pengembangan Lumbung Mustikarasa di Dusun Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, dan menyusun buku bunga rampai "Bangkitnya Lumbung Kami". Sebagai sarana kaderisasi dan pembelajaran bagi mahasiswa, termasuk mahasiswa FTP UGM, akan digelar Rembug Pangan Orang Muda. Kerja sama ini turut mencakup inisiasi Pasar Rakyat Mustikarasa, yakni UMKM setempat menampilkan kreasi dan olahan pangan lokal sebagai pengenalan kuliner lokal di lingkungan universitas. Pembahasan juga menyinggung rencana pendampingan petani muda di Sriharjo, Bantul, yang diusulkan menjadi lokasi pilot project. Prof. Dr. Ir. Sigit Supadmo Arif, M.Eng., dan kelompok Taruna Tani yang mulai memanfaatkan teknologi. Prof. Dr. Mirwan Ushada, S.T.P., M.App.Life.Sc., menilai inisiatif ini berpeluang menjadi flagship program pemberdayaan masyarakat FTP UGM, dengan catatan dampaknya perlu diukur secara konkret pada satu lokasi yang sama dan dapat dikembangkan menjadi policy brief . Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 1 Tanpa Kemiskinan, SDG 2 Tanpa Kelaparan, dan SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. penulis : Shella Herdanti

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM

Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu membiayai kuliahnya hingga selesai. Kedua orang tua Silvia, Syarifuddin (45) dan Mufati (45), tak lulus SMA. Tentunya besar keinginan mereka agar anak-anaknya dapat mencapai pendidikan yang lebih baik. Syarifuddin, yang merupakan petani, penghasilannya tak menentu karena bergantung pada cuaca dan hasil panen, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan keluarganya, Silvia tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik. Semangatnya yang gigih dan rasa ingin tahu yang besar ini pun sudah terlihat jelas dari jejak prestasinya selama bersekolah. Selama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonosobo, Silvia menjaga konsistensi prestasi akademik hingga berhasil meraih Penghargaan Khusus OSN-K Bidang Kimia peringkat kedelapan dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya pada tahun 2026. Dari SMP-nya, Silvia pernah menjuarai perlombaan LCC Islami juara 3 dan PBB juara 1 di kabupaten. Ia pun aktif dalam berorganisasi, terbukti dengan jejaknya sebagai koordinator di ekskul Pramuka. Saat SMA, ia pun pernah menjabat sebagai ketua koordinator Fraksi 2 dan juga ketua Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolahnya. Saat menjadi ketua PIK-R, ia menjadi juara satu sebagai PIK-R percontohan 1 Jawa Tengah. Untuk membagi antara kegiatan organisasi dan akademiknya, Silvia memfokuskan energinya pada kegiatannya saat itu. Prestasinya ini tak lepas dari kontribusi lingkungan yang mendukungnya untuk terus melangkah. Lalu ia pun mengejar ketertinggalannya di kelas dengan belajar di rumah saat malam hari dan pada liburan. “Kebetulan kalau di sekolah saya itu dispensasinya mudah gitu ya, Kak. Dan gurunya itu mendukung kita kalau misal dispensasinya itu tentang hal yang positif gitu. Jadi saya juga merasa sangat beruntung karena bisa didukung oleh lingkungannya,” jelasnya, Selasa (28/7). Gadis itu tak menyerah dan terus berusaha untuk mengupayakan mimpinya untuk berkuliah. Kedua orang tuanya pun mendukungnya dengan segenap hati. Meski dalam keterbatasan ekonomi, bukannya menyerah, gadis itu mencari informasi secara mandiri tentang beasiswa. Ia sempat bertanya kepada salah satu temannya yang juga merupakan penerima beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk pelajar. Pilihannya pun jatuh pada BSI Scholarship Unggulan karena beasiswa ini memenuhi kebutuhannya saat kuliah nanti, seperti laptop, uang saku bulanan, dan juga UKT, serta tak kalah penting juga menyediakan pengembangan diri dengan berbagai program leadership dan character building, dan juga kesempatan magang dan mentorship di industri ekonomi syariah. Dengan semangat belajar, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, ia berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ia diterima di prodi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur SNBP. Kini, menjadi calon sarjana pertama di keluarganya terasa bagaikan mimpi bagi Silvia. Ia pun berpesan kepada  semua teman-teman yang mungkin saat ini memiliki kondisi yang sama dengannya, bahwa mereka harus banyak mencari informasi, terlebih dengan kemudahan teknologi dan media sosial yang ada saat ini. Menurutnya, banyak sumber pendanaan dari beasiswa yang mungkin masih tak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Selain itu, ia pun mengingatkan untuk tak berpasrah pada keadaan. "Jangan pernah mengubur mimpimu sebelum bertarung habis-habisan. Menjadi generasi pertama yang kuliah memang berat karena harus membuka jalan sendiri. Namun, ketika kita mendahulukan keluarga dan melangkah dengan ikhlas, pintu yang semula terlihat tertutup dapat terbuka," ujar Silvia. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Silvia

Selengkapnya

UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat pengembangan riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., mengatakan pengembangan ekosistem AI menjadi salah satu langkah strategis UGM dalam mendorong inovasi, memperkuat kapasitas riset, sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. “Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison,” ujar Mardhani dalam seminar seminar UGM AI bertajuk “Riset dengan Artificial Intelligence (AI)” yang digelar di Ruang Multimedia, Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin (27/7). Mardhani mengungkapkan, tim dari Indosat dan NVIDIA sudah beberapa kali melakukan site visit serta evaluasi langsung ke UGM sebelum akhirnya menyatakan UGM memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat kapasitas riset AI di UGM melalui dukungan teknologi NVIDIA. “Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya,” jelasnya sembari memaparkan program-program yang telah digulirkan. Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga tengah menyiapkan sejumlah program untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun serta pembentukan Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. “Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” tuturnya. Menurut Mardhani, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan riset AI secara bersama-sama. Ke depan, kata Mardhani, UGM AI juga ditargetkan berkembang menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kolaborasi di tingkat internasional. “Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” pungkasnya. Memasuki diskusi sesi seminar, Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Rimawati, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam mendukung penelitian hukum, khususnya pada tahapan penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan AI. “Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam,” ujar Rimawati. Kendati demikian, lanjut Rimawati, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian dan pengorganisasian data hukum. Analisis, penafsiran norma, hingga justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Ia menambahkan, setiap hasil yang diberikan AI harus diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan yang menjadi sumber aslinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keakuratan informasi sekaligus menjaga kualitas dan integritas akademik dalam penelitian hukum. Senada dengan Rimawati, pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM., Guru Besar Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning mampu meningkatkan efisiensi penelitian, dalam hal ini eksplorasi sumber daya mineral serta energi. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan peneliti mengolah data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat sehingga proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat. “Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya,” ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-ekosistem-pembelajaran-ai-melalui-kolaborasi-dan-riset-multidisiplin/

Selengkapnya

UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin 

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat pengembangan riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., mengatakan pengembangan ekosistem AI menjadi salah satu langkah strategis UGM dalam mendorong inovasi, memperkuat kapasitas riset, sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. "Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison," ujar Mardhani dalam seminar seminar UGM AI bertajuk "Riset dengan Artificial Intelligence (AI)" yang digelar di Ruang Multimedia, Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin (27/7). Mardhani mengungkapkan, tim dari Indosat dan NVIDIA sudah beberapa kali melakukan site visit serta evaluasi langsung ke UGM sebelum akhirnya menyatakan UGM memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat kapasitas riset AI di UGM melalui dukungan teknologi NVIDIA.  "Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya," jelasnya sembari memaparkan program-program yang telah digulirkan. Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga tengah menyiapkan sejumlah program untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun serta pembentukan Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. "Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” tuturnya. Menurut Mardhani, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan riset AI secara bersama-sama. Ke depan, kata Mardhani, UGM AI juga ditargetkan berkembang menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kolaborasi di tingkat internasional. "Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” pungkasnya. Memasuki diskusi sesi seminar, Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Rimawati, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam mendukung penelitian hukum, khususnya pada tahapan penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan AI. "Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam," ujar Rimawati. Kendati demikian, lanjut Rimawati, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian dan pengorganisasian data hukum. Analisis, penafsiran norma, hingga justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Ia menambahkan, setiap hasil yang diberikan AI harus diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan yang menjadi sumber aslinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keakuratan informasi sekaligus menjaga kualitas dan integritas akademik dalam penelitian hukum. Senada dengan Rimawati, pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM., Guru Besar Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning mampu meningkatkan efisiensi penelitian, dalam hal ini eksplorasi sumber daya mineral serta energi. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan peneliti mengolah data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat sehingga proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat.  “Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya," ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut. Implementasi AI berikutnya dipaparkan oleh Dr. Nur Mohammad Farda dari Fakultas Geografi melalui pengembangan Tech4Disaster, sebuah platform GeoAI yang mengintegrasikan teknologi geospasial, Internet of Things (IoT), big data, citra satelit, drone, dan Artificial Intelligence untuk mendukung seluruh siklus manajemen bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, respons darurat, hingga pemulihan pascabencana. Platform tersebut memanfaatkan berbagai sumber data spasial yang diproses menggunakan model AI untuk menghasilkan informasi secara real time, seperti rapid mapping, identifikasi bangunan terdampak menggunakan deep learning, pemetaan kebutuhan masyarakat terdampak, hingga geoportal informasi kebencanaan yang mendukung pengambilan keputusan secara cepat dan akurat. Pengembangan Tech4Disaster juga menjadi contoh bagaimana AI dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan ketangguhan masyarakat menghadapi bencana melalui kolaborasi antara teknologi, data, dan berbagai disiplin ilmu. Rangkaian presentasi dalam Seminar UGM AI menunjukkan bahwa pemanfaatan Artificial Intelligence di UGM telah berkembang melampaui penggunaan sebagai alat bantu penelitian. Berbagai penelitian yang dipresentasikan memperlihatkan implementasi AI pada beragam bidang strategis, mulai dari hukum, energi, pertanian, kesehatan, hingga kebencanaan. Hal tersebut sekaligus mencerminkan kekuatan UGM sebagai universitas multidisiplin yang mampu menghubungkan keilmuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat dalam satu ekosistem inovasi. Melalui kolaborasi bersama Indosat Ooredoo Hutchison dan NVIDIA, UGM tidak hanya memperkuat kapasitas komputasi untuk penelitian, tetapi juga mempercepat lahirnya berbagai inovasi berbasis Artificial Intelligence yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dukungan AI Infrastructure as a Service menjadi fondasi penting bagi pengembangan riset-riset AI di lingkungan UGM sekaligus mempertegas komitmen universitas dalam membangun ekosistem AI nasional yang kolaboratif, berkelanjutan, dan berdampak. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

FK-KMK UGM Kembangkan Program Puskesmas Inklusif untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan Primer

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan kegiatan koordinasi dan sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah awal implementasi Program Puskesmas Inklusif bertajuk “FASKES Sahabat Kita Semua”. Kegiatan yang berlangsung pada 27 Juli 2026 di Puskesmas Umbulharjo 1, Kota Yogyakarta, ini bertujuan memperkuat layanan kesehatan primer yang inklusif, ramah, dan bebas stigma, khususnya bagi orang dengan HIV (ODHIV) dan penyintas tuberkulosis (TB), melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, M.A., bersama tim CHBP FK-KMK UGM. Kehadiran tim disambut oleh Kepala Puskesmas Umbulharjo 1, drg. Yunita Haryanti, M.M., didampingi penanggung jawab Program Pencegahan Penyakit Menular dr. Siti Kusdinariyalun Handarumurti, penyuluh kesehatan masyarakat Lany Kurniati, serta Sri Setiari sebagai pelaksana Program Pencegahan Penyakit Menular. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui Program Puskesmas Inklusif, kedua institusi berkomitmen menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih terbuka, menghargai keberagaman, serta memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada seluruh kelompok masyarakat. Setelah bergabung dalam grup WhatsApp, peserta akan mengikuti diskusi reflektif secara berkala sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan mulai Agustus 2026. Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 57 pegawai Puskesmas Umbulharjo 1. Melalui diskusi yang berkelanjutan, peserta diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pelayanan yang telah dilakukan, serta memperkuat kapasitas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih ramah dan bebas stigma. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mubasysyir Hasan Basri menjelaskan bahwa program ini berangkat dari keprihatinan terhadap stigma yang masih dialami oleh ODHIV maupun penyintas tuberkulosis. Menurutnya, stigma tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis individu, tetapi juga dapat menghambat akses terhadap layanan kesehatan, menurunkan kepatuhan berobat, bahkan memperbesar risiko penularan penyakit akibat keterlambatan diagnosis maupun pengobatan. Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif serta peningkatan upaya penanggulangan HIV dan tuberkulosis. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan dalam pelayanan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: Purnama Dewi Siregar).