BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

UGM Bantu 48 Mahasiswa NTT Terdampak Bencana

Universitas Gadjah Mada menegaskan komitmennya untuk memastikan mahasiswa yang terkena dampak bencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dapat melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik di kampus UGM. Untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga dari mahasiswa yang terdampak, UGM menyalurkan bantuan kepada 48 mahasiswa dari NTT. Mahasiswa terdampak bencana ini berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari jenjang program sarjana (S1) sebanyak 6 orang, magister (S2) 33 mahasiswa dan 7 mahasiswa jenjang doktor (S3). Sebelumnya, para mahasiswa terdampak dilakukan melalui proses verifikasi dan validasi. Bantuan yang diberikan meliputi Uang Kuliah Tunggal (UKT) Semester Gasal 2026/2027, uang saku sebesar Rp500.000 per orang selama tiga bulan pada Agustus, September, dan Oktober 2026, serta kupon makan siang gratis untuk periode Agustus–September. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menyampaikan bahwa kondisi bencana tidak semestinya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, UGM berkomitmen untuk hadir bersama mahasiswa, khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit akibat bencana. “Saya prihatin atas situasi ini. Tapi, saya juga berharap upaya saudara-saudara untuk bangkit lebih besar,” ujar Arie, Kamuis (1/10) di Gedung Pusat UGM. Arie menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan kepada mahasiswa terdampak merupakan bentuk kepedulian UGM sekaligus upaya untuk meringankan beban mahasiswa dan keluarga. Selain bantuan dana, UGM juga terus mendorong penguatan pendampingan melalui koordinasi dengan fakultas atau sekolah serta layanan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa tetap memperoleh dukungan akademik dan kemahasiswaan selama menghadapi situasi pascabencana. Kehadiran universitas diharapkan dapat membantu mahasiswa mempertahankan keberlanjutan pendidikan sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk kembali menjalani aktivitas akademik secara optimal. Bagi mahasiswa penerima bantuan, dukungan dari UGM tidak hanya memiliki arti secara material, tetapi juga menjadi bentuk perhatian dan solidaritas dari keluarga besar UGM. Imelda, perwakilan mahasiswa terdampak dari FISIPOL angkatan 2026, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang diberikan UGM kepada mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan. “Saya merasa bahwa UGM bukan hanya tempat kami belajar dan menikmati UGM juga hadir ketika mahasiswanya sedang menghadapi kesulitan,” ungkap Imelda, salah satu mahasiswa asal NTT. Ia menyampaikan bantuan tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa terdampak untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dukungan yang diberikan juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi dan kelak memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya bagi daerah asal mereka di Flores dan Indonesia. “Bantuan ini bagi kami bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan bentuk kepedulian, kekuatan, dan harapan kami untuk terus melanjutkan,” tuturnya. Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, mengatakan penyerahan bantuan ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam mendukung kelanjutan mahasiswa yang terdampak bencana. Melalui bantuan dan pendampingan yang diberikan, UGM berupaya memastikan mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan meskipun menghadapi kondisi sulit akibat bencana. “Mari kita berkomitmen untuk mewujudkan UGM yang inklusif, peduli, dan berkelanjutan,” ujar Hempri. Melalui penyerahan bantuan dan pendampingan tersebut, UGM berupaya memastikan mahasiswa terdampak bencana tetap memperoleh dukungan selama menjalani proses pendidikan. Semangat gotong royong, kepedulian, dan solidaritas diharapkan dapat membantu mahasiswa dan keluarganya menghadapi dampak bencana serta melanjutkan pendidikan mereka. Penulis     : Zabrina Kumara Editor       : Gusti Grehenson Foto         : Donnie

Lanjut Baca

FKG UGM dan RSGM UGM Prof. Soedomo Beri Subsidi Pendidikan untuk Mahasiswa Koas

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada (RSGM UGM) Prof. Soedomo resmi meluncurkan program subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa profesi atau koas (1/10). Langkah strategis ini bertujuan memangkas beban biaya pendidikan klinis yang selama ini ditanggung mandiri oleh mahasiswa. Kehadiran subsidi ini merupakan jawaban atas impian panjang fakultas. Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. menyebut perwujudan program ini sebagai mimpi bersama yang akhirnya terealisasi demi melancarkan pendidikan mahasiswa koas. Kebutuhan subsidi berkaitan dengan adanya perbedaan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi terutama pada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun Bidikmisi. Regulasi pemerintah yang berlaku saat ini hanya memberi bantuan biaya pendidikan hanya pada jenjang S1, sementara tidak untuk jenjang pendidikan profesi. “Untuk saat ini kami anggarkan Rp5 Miliar per tahun untuk memberikan subsidi bagi seluruh mahasiswa koas tanpa terkecuali,” ucap Dekan Suryono. Guna memastikan subsidi tersebut berjalan lancar, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG menyebut 49 mahasiswa penerima subsidi akan diberikan Buku Kendali dan Buku Formularium Alat dan Bahas Koas. Buku Kendali difungsikan sebagai pedoman utama yang memuat seluruh daftar syarat pemenuhan kompetensi (requirement) klinis mahasiswa yang mendapatkan pembiayaan penuh dari program subsidi. Melalui buku ini, setiap tahapan perawatan dan klaim subsidi mahasiswa harapannya dapat tercatat dengan baik. Sementara itu, Buku Formularium Alat dan Bahan Koas berperan sebagai panduan rinci terkait manajemen logistik, kendali bahan, biaya, serta peralatan yang akan digunakan oleh seluruh sivitas hospitalia. "Buku ini kita buat agar semua syarat pemenuhan kompetensi (requirement) yang disubsidi tercantum didalamnya,” kata drg. Rini. Sementara itu, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. selaku Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo memandang peluncuran program pendanaan ini sebagai tonggak sejarah baru bagi kedua institusi. "Ini bentuk komitmen bersama antara FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung seluruh proses pendidikan bagi mahasiswa koas," tegasnya. Ia meminta kepada para mahasiswa koas untuk menghargai perjalanan pendidikan ini dan memperlakukan pasien secara bermartabat dengan menjunjung tinggi mutu keselamatan. Menurut Margareta, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa koas tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Mahasiswa juga harus menanggung biaya kebutuhan saat merawat pasien, dan melalui program ini, institusi ikut meringankan biaya tersebut. Kebijakan subsidi ini mendapat respons positif dari peserta didik. Muhammad Al Fatih Su'aidi, mahasiswa koas angkatan 87, menilai subsidi tersebut meringankan proses pemenuhan kompetensi (requirement). "Subsidi ini sangat bermanfaat bagi kami para peserta didik koas untuk memenuhi requirement. Harapannya semua proses menjadi lebih mudah dan masyarakat bisa lebih terjangkau untuk segera datang berobat ke RSGM UGM," ujarnya. Hal serupa dirasakan Farrel, mahasiswa koas angkatan 91 yang baru dua bulan menjalani pendidikan koas. Ia mengaku terbantu secara finansial dan merasa didukung oleh FKG UGM dan RSGM UGM. “Jadi makin semangat dan termotivasi untuk segera menyelesaikan pendidikan koas, pungkas Farrel. Penulis dan Juru Kamera: Fajar Budi Harsakti

Selengkapnya

Mengenal Human Flourishing, Tujuan Tertinggi Hidup Manusia

Human flourishing merupakan tingkat kesejahteraan secara utuh yang diukur dari kondisi seluruh aspek kehidupan dalam keadaan baik. Saat ini human flourishing menjadi tujuan tertinggi dari kehidupan manusia, dengan harapan seseorang tidak hanya sekadar bertahan hidup, namun benar-benar berkembang dan berkembang dengan baik sehingga manusia tidak hanya berfungsi secara biologis, tetapi juga secara psikologis, sosial, ekonomi, dan spiritual. Dicky Sofjan, M.A., MPP., Ph.D., Dosen Indonesia Consortium for religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada, menjelaskan terdapat enam domain kesejahteraan yaitu kebahagiaan dan kepuasan hidup, kesehatan mental dan fisik, makna dan tujuan hidup, karakter dan kebajikan, hubungan sosial yang erat, dan stabilitas finansial. Menurutnya, kepercayaan pada agama turut memberikan peran penting bagi setiap pengambilan keputusan dalam sehari-hari sehingga mempengaruhi tingkat kesejahteraan seseorang. “Berdasarkan studi ini, Indonesia menjadi negara paling sejahtera manusianya dibandingkan dengan negara maju lainnya. Mungkin juga ada kaitan antara komitmen agama dengan kesejahteraan manusia di dalamnya,” jelasnya dalam Public Talk Show  yang bertajuk “Kajian Human Flourishing dari Multi Perspektif” pada Selasa (29/9) di Auditorium SPs UGM. Ia mengutip dari hasil penelitian Global Human Flourishing (GFS) belum lama ini yang menempatkan Indonesia menjadi negara yang paling sejahtera dari 22 negara yang lain. Menurutnya hasil survei ini erat kaitannya dengan kebanyakan responden Indonesia memahami makna kehidupan sesungguhnya serta dipengaruhi oleh hubungan sosial yang erat. Dalam perspektif agama islam, Dosen  Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof. Fatimah Husein, M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa terdapat beberapa istilah islam yang selaras dengan Human Flourishing seperti insan kamil (keseimbangan antara fisik, akal, sosial, serta hubungan spiritualnya), hayat thayyibah, maslahah (kesejahteraan holistik/martabat), dan tazkiyah an-nasf (penyucian jiwa). Baginya, syarat hidup baik dalam islam dimaknai dengan menggabungkan aspek iman, amal, kebaikan, sabar, memaafkan, serta prinsip maqasidul syariah (perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan amal). Sementara itu, Romo Dr. Albertus Bagus Laksana, SJ., S.S., Ph.D., dosen Universitas Sanata Dharma Yogyakarta menekankan pentingnya solidaritas terhadap sesama manusia sekaligus solidaritas terhadap bumi, serta mendefinisikan kondisi akhir yang ideal sebagai hidup yang terberkati dalam kesatuan dengan diri sendiri, sesama, dan kosmos. Perwakilan dari Human Flourishing Center UGM, Dr. dr. Andreasta Meliala, M.Kes., memaparkan terkait lima pilar Human Flourishing UGM. Pilar yang dikembangkan meliputi health and wellbeing, justice and equity for business and society, interreligious and intercultural relations, education across the lifespan, integral ecology and sustainability. Tujuan ini untuk membuktikan asumsi kemakmuran finansial yang berbanding lurus dengan kualitas hidup yang lebih baik. “Harapannya kontribusi bapak ibu bisa memunculkan studi yang sesuai dengan keadaan di Jogja,” tuturnya. Samantha Hauw dari Deakin University, Australia memaparkan kesejahteraan dari perspektif industrial dan keasliannya. Meskipun Australia adalah negara makmur, ukuran kesejahteraan tidak terdistribusi merata. Masyarakat adat terus mengalami kerugian sosio-ekonomi akibat dampak kolonisasi dan ketimpangan struktural. Sementara itu, populasi umum menghadapi masalah kesepian, kecemasan iklim, dan degradasi lingkungan. Selain itu, Ia juga menekankan prinsip non-hirarkis bahwa kesehatan manusia bergantung pada kesehatan alam. Konsep ini menawarkan kebebasan yang membebaskan dimana otonomi individu tetap terjaga di dalam jaringan hubungan yang saling bergantung secara mendalam. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok. Sps, Magnific

Selengkapnya

Cara Membangun Ketahanan Mental Anak melalui Dukungan Orang Tua dan Sekolah

Kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya ketika anak sudah menunjukkan masalah. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 4,4 persen anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan yang dapat membantu anak merasa aman, didengar, dan didukung dalam menghadapi berbagai tekanan. Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam sesi “Orang Tua-Sekolah: Support System Pembangun Kesehatan Mental Anak” yang menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM. Sesi tersebut merupakan bagian dari Program Kelas Parenting Online bertema “Rumah sebagai Ruang Aman: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta serta masyarakat umum. Dalam sesi tersebut, Nurul menjelaskan bahwa ketahanan mental bukan berarti anak harus selalu kuat dan mampu menghadapi segala sesuatu tanpa menangis atau mengeluh. “Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengeluh. Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah menangis,” ungkapnya. Menurut Nurul, kemampuan anak untuk bangkit dari kesulitan dapat berbeda-beda karena setiap anak memiliki kondisi dan dukungan yang berbeda. Ada anak yang memiliki lebih banyak orang untuk mendukungnya, sementara anak lain mungkin memiliki support system yang lebih terbatas. Karena itu, orang dewasa perlu melihat kebutuhan setiap anak secara lebih utuh, bukan membandingkan kemampuan mereka dalam menghadapi masalah. Sekolah juga menjadi bagian penting dari lingkungan pendukung tersebut. Anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah, sehingga pengalaman di sekolah turut berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Pada anak usia dini, misalnya, kesiapan untuk bersekolah dapat berbeda-beda. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi dan memastikan bahwa sekolah menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi mereka. Nurul juga mengingatkan bahwa peran orang dewasa tidak hanya sebatas menjadi teladan melalui “Ing Ngarsa Sung Tuladha”, tetapi juga hadir bersama anak melalui “Ing Madya Mangun Karsa” dan memberikan dukungan melalui “Tut Wuri Handayani”. Pada akhirnya, upaya membangun ketahanan mental anak juga dimulai dari orang dewasa yang mendampinginya. “Untuk menjadi orang dewasa yang aman, kita harus bisa menyediakan ruang aman bagi diri sendiri. Mari kita menjadi orang dewasa yang aman untuk diri sendiri dulu, sehingga kita merasa penuh dan dapat menghadirkan ruang yang aman untuk sekeliling kita,” jelas Nurul. Membangun ketahanan mental anak dengan demikian bukan sekadar mengajarkan anak untuk menjadi kuat. Ketahanan tumbuh melalui hubungan yang aman, komunikasi yang terbuka, serta dukungan yang konsisten dari keluarga dan sekolah. Ketika anak memiliki ruang untuk bercerita, menangis, melakukan kesalahan, dan belajar bangkit, orang dewasa membantu mereka membangun bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.

Selengkapnya

Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1999 dan 2001 cq. Menteri Sekretaris Negara RI Salurkan Beasiswa Keringanan UKT dan Prasarana Pendidikan

Yogyakarta – Kepedulian alumni terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa kembali diwujudkan melalui program Beasiswa Alumni dan pemberian sarana pendidikan untuk Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Program ini diberikan kepada mahasiswa berprestasi yang juga menghadapi kendala ekonomi akibat perubahan kondisi finansial orang tua atau wali, misalnya meninggal dunia, pensiun, kehilangan pekerjaan atau pemutusan hubungan kerja (PHK), serta penurunan usaha hingga kebangkrutan, serta sarana pendidikan untuk mendukung pendidikan menghadapi persaingan global.Bantuan tersebut merupakan kontribusi alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999 dan 2001, terutama Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia Prasetyo Hadi, S.Hut., M.H. dan Wahyu Fibriyanti, S.Hut., M.Sc., serta Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia  Rohmat Marzuki, S.Hut., beserta dukungan alumni angkatan tersebut. Penerima bantuan beasiswa merupakan mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UGM dari semester 2 hingga semester 14 yang tidak pernah menerima sanksi akademik. Penambahan prasarana pendidikan juga diberikan guna memudahkan transfer ilmu untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja di bidang kehutanan dan lingkungan saat ini. Besaran keringanan UKT yang diberikan berkisar antara 5 hingga 100 persen, sesuai dengan kondisi dan hasil pengajuan masing-masing mahasiswa. Pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, bantuan keringanan UKT disalurkan sebesar Rp. 118.050.000,- kepada 48 mahasiswa. Sementara itu, pada Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027, bantuan sebesar Rp. 137.200.000,- diberikan kepada 47 mahasiswa. Dengan demikian, total bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp. 255.250.000,- dan menjangkau 95 mahasiswa. Dukungan alumni tersebut memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dalam menjaga keberlanjutan studi di tengah perubahan kondisi ekonomi keluarga. Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Sa’duddin, mahasiswa angkatan 2019, yang menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prasetyo Hadi atas bantuan yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan masa studi saya. Semoga di masa mendatang, saya juga bisa menjadi alumni yang berguna bagi adik-adik mahasiswa yang sedang mengemban ilmu di Fakultas Kehutanan UGM.” ungkap Sa’duddin. Manfaat serupa juga dirasakan oleh Muhammad Ramadhan Mahesa Putra, mahasiswa angkatan 2021. “Dengan adanya beasiswa ini saya sangat terbantu untuk bisa menyelesaikan studi saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu alumni terkhusus Angkatan 1999 dan 2001, semoga segala kebaikan Bapak dan Ibu dibalas dengan kebaikan yang berlipat.” tutur Mahesa. Bantuan sarana pendidikan berupa 7 unit Smart Board sebagai sarana penunjang pendidikan diharapkan mampu memudahkan para pendidik dan mahasiswa di Fakultas Kehutanan UGM dalam berdiskusi, transfer knowledge, serta melaksanakan perkuliahan pada berbagai jenjang studi yang ada. Selain keringanan UKT dan sarana pendidikan, dukungan juga diberikan dalam bentuk fasilitas kos gratis bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan tempat tinggal. Rameyza Amani Rizky M. dan Alifia Citra R, mahasiswa angkatan 2024, menjadi 2 orang diantara 6 penerima bantuan kos. Mereka mengungkapkan,“Kami sangat terbantu sekali dengan adanya program kos yang diberikan karena sudah tidak memikirkan lagi terkait biaya kos sehingga kami dapat fokus pada kegiatan akademik dan non-akademik.” Lebih lanjut Rameyza dan Alifia Citra R juga mengapresiasi kualitas fasilitas kos yang dinilainya sangat bagus. Mereka berharap program tersebut dapat terus berlanjut karena menjadi salah satu bentuk dukungan penting bagi mahasiswa yang menghadapi kendala finasial. Melalui program ini, Fakultas Kehutanan UGM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Prasetyo Hadi, S.Hut., M.H. dan Ibu Wahyu Fibriyanti, serta Bapak Rohmat Marzuki, S.Hut. juga para alumni angkatan 1999 dan 2001, atas kontribusi dan kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa dan kampus. Dukungan tersebut menjadi wujud nyata semangat alumni untuk terus terhubung dengan almamater sekaligus membantu generasi penerus dalam melaksanakan dan menyelesaikan pendidikan.   Penulis : Irma Editor : Budi Mulyana

Selengkapnya

Magister Teknik Biomedis UGM Gelar Layanan Kesehatan Terpadu bagi Penyandang Disabilitas dan Pendamping

[metaslider id="1524581"] Sedayu, Bantul — Program Studi Magister Teknik Biomedis, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM serta Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Layanan Kesehatan Terpadu untuk Penyandang Disabilitas dan Pendampingnya”. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Rumah Kebugaran Difabel (RKD), Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PKM dan bertujuan memberikan layanan kesehatan terpadu bagi penyandang disabilitas dan anggota keluarga atau pengasuh yang mendampingi mereka. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan gigi, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta pemeriksaan khusus bagi sejumlah penyandang disabilitas berupa pemeriksaan neurologi, fisioterapi, dan survei penggunaan alat bantu. Sebanyak 25 penyandang disabilitas dan 25 anggota keluarga atau pengasuh menjadi sasaran kegiatan. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan peserta sekaligus memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung perawatan dan pendampingan secara berkelanjutan. Ketua PKM, Dr. drg. Anne Handrini Dewi, M. Kes., dari FKG UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta melalui informasi mengenai kondisi kesehatan mereka. “Dari kegiatan ini diharapkan peserta memperoleh informasi terkait kondisi kesehatannya secara langsung. Pemeriksaan gigi, khususnya pada penyandang disabilitas, bermanfaat untuk deteksi dini masalah kesehatan mulut, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas hidup. Selain itu, orang tua atau pengasuh juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Dr. Anne. Selain memberikan layanan pemeriksaan, tim juga memperhatikan aspek perlindungan data dan privasi peserta. Dr. Anne menegaskan bahwa identitas peserta dijamin kerahasiaannya. Publikasi hasil kegiatan hanya akan menggunakan data anonim dan tidak mencantumkan nama maupun identitas pribadi peserta. “Peserta berkewajiban mengikuti aturan kegiatan dan dapat bertanya kepada petugas apabila terdapat informasi atau prosedur yang belum jelas,” tambahnya. Sementara itu, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., selaku Ketua Program Studi Magister Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas bidang keilmuan. Menurut Dr. Rini, kebutuhan kesehatan penyandang disabilitas memiliki karakteristik yang beragam sehingga diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu aspek kesehatan. Kolaborasi antara bidang teknik biomedis, kedokteran, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, neurologi, dan fisioterapi memungkinkan layanan diberikan secara lebih terpadu sesuai kebutuhan peserta. “Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai kebutuhan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan pendampingnya. Kami berharap kolaborasi lintas fakultas dan lintas disiplin seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga hasil pendidikan dan keilmuan di UGM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Rini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM. Tim pelaksana terdiri atas tenaga profesional dan akademisi dari berbagai bidang, antara lain dokter neurologi dan dokter saraf dari FK-KMK UGM, dokter gigi dari FKG UGM, para residen FK-KMK UGM, serta mahasiswa Magister Teknik Biomedis. Keterlibatan berbagai bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan kesehatan terpadu. Selain pemeriksaan, peserta juga memperoleh informasi dan edukasi yang diharapkan dapat membantu keluarga maupun pengasuh dalam melakukan pendampingan kesehatan sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh hibah penelitian SPs ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis : Arni W

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

Raih Beasiswa BSI, Silvia Bisa Kuliah Gratis di UGM

Awalnya, tak terbersit di benak Silvia Nuril Mala (18) untuk berkuliah di kampus yang jauh dari rumahnya yang berada di Desa Kuripan, Wonosobo, Jawa Tengah. Mulanya, ia ingin berkuliah di lokasi yang lebih dekat dan lebih terjangkau, namun saat melihat biaya pendidikannya yang tinggi, Silvia pun mengurungkan niatnya. Kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk mampu membiayai kuliahnya hingga selesai. Kedua orang tua Silvia, Syarifuddin (45) dan Mufati (45), tak lulus SMA. Tentunya besar keinginan mereka agar anak-anaknya dapat mencapai pendidikan yang lebih baik. Syarifuddin, yang merupakan petani, penghasilannya tak menentu karena bergantung pada cuaca dan hasil panen, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meskipun hidup di tengah keterbatasan ekonomi dan berbagai tantangan keluarganya, Silvia tetap berpegang pada keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk membuka masa depan yang lebih baik. Semangatnya yang gigih dan rasa ingin tahu yang besar ini pun sudah terlihat jelas dari jejak prestasinya selama bersekolah. Selama duduk di bangku SMA Negeri 1 Wonosobo, Silvia menjaga konsistensi prestasi akademik hingga berhasil meraih Penghargaan Khusus OSN-K Bidang Kimia peringkat kedelapan dan menjadi lulusan terbaik ketiga di sekolahnya pada tahun 2026. Dari SMP-nya, Silvia pernah menjuarai perlombaan LCC Islami juara 3 dan PBB juara 1 di kabupaten. Ia pun aktif dalam berorganisasi, terbukti dengan jejaknya sebagai koordinator di ekskul Pramuka. Saat SMA, ia pun pernah menjabat sebagai ketua koordinator Fraksi 2 dan juga ketua Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) di sekolahnya. Saat menjadi ketua PIK-R, ia menjadi juara satu sebagai PIK-R percontohan 1 Jawa Tengah. Untuk membagi antara kegiatan organisasi dan akademiknya, Silvia memfokuskan energinya pada kegiatannya saat itu. Prestasinya ini tak lepas dari kontribusi lingkungan yang mendukungnya untuk terus melangkah. Lalu ia pun mengejar ketertinggalannya di kelas dengan belajar di rumah saat malam hari dan pada liburan. “Kebetulan kalau di sekolah saya itu dispensasinya mudah gitu ya, Kak. Dan gurunya itu mendukung kita kalau misal dispensasinya itu tentang hal yang positif gitu. Jadi saya juga merasa sangat beruntung karena bisa didukung oleh lingkungannya,” jelasnya, Selasa (28/7). Gadis itu tak menyerah dan terus berusaha untuk mengupayakan mimpinya untuk berkuliah. Kedua orang tuanya pun mendukungnya dengan segenap hati. Meski dalam keterbatasan ekonomi, bukannya menyerah, gadis itu mencari informasi secara mandiri tentang beasiswa. Ia sempat bertanya kepada salah satu temannya yang juga merupakan penerima beasiswa Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk pelajar. Pilihannya pun jatuh pada BSI Scholarship Unggulan karena beasiswa ini memenuhi kebutuhannya saat kuliah nanti, seperti laptop, uang saku bulanan, dan juga UKT, serta tak kalah penting juga menyediakan pengembangan diri dengan berbagai program leadership dan character building, dan juga kesempatan magang dan mentorship di industri ekonomi syariah. Dengan semangat belajar, dukungan keluarga, serta kolaborasi berbagai pihak, ia berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi mahasiswa baru Universitas Gadjah Mada. Ia diterima di prodi Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) melalui jalur SNBP. Kini, menjadi calon sarjana pertama di keluarganya terasa bagaikan mimpi bagi Silvia. Ia pun berpesan kepada  semua teman-teman yang mungkin saat ini memiliki kondisi yang sama dengannya, bahwa mereka harus banyak mencari informasi, terlebih dengan kemudahan teknologi dan media sosial yang ada saat ini. Menurutnya, banyak sumber pendanaan dari beasiswa yang mungkin masih tak banyak diketahui oleh masyarakat awam. Selain itu, ia pun mengingatkan untuk tak berpasrah pada keadaan. "Jangan pernah mengubur mimpimu sebelum bertarung habis-habisan. Menjadi generasi pertama yang kuliah memang berat karena harus membuka jalan sendiri. Namun, ketika kita mendahulukan keluarga dan melangkah dengan ikhlas, pintu yang semula terlihat tertutup dapat terbuka," ujar Silvia. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Silvia

Selengkapnya

FK-KMK UGM Kembangkan Program Puskesmas Inklusif untuk Perkuat Pelayanan Kesehatan Primer

FK-KMK UGM. Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan (Center for Health Behavior and Promotion/CHBP) menyelenggarakan kegiatan koordinasi dan sosialisasi program pengabdian kepada masyarakat sebagai langkah awal implementasi Program Puskesmas Inklusif bertajuk “FASKES Sahabat Kita Semua”. Kegiatan yang berlangsung pada 27 Juli 2026 di Puskesmas Umbulharjo 1, Kota Yogyakarta, ini bertujuan memperkuat layanan kesehatan primer yang inklusif, ramah, dan bebas stigma, khususnya bagi orang dengan HIV (ODHIV) dan penyintas tuberkulosis (TB), melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan dipimpin oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, M.A., bersama tim CHBP FK-KMK UGM. Kehadiran tim disambut oleh Kepala Puskesmas Umbulharjo 1, drg. Yunita Haryanti, M.M., didampingi penanggung jawab Program Pencegahan Penyakit Menular dr. Siti Kusdinariyalun Handarumurti, penyuluh kesehatan masyarakat Lany Kurniati, serta Sri Setiari sebagai pelaksana Program Pencegahan Penyakit Menular. Program pengabdian kepada masyarakat ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah terjalin antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Melalui Program Puskesmas Inklusif, kedua institusi berkomitmen menciptakan lingkungan pelayanan kesehatan yang lebih terbuka, menghargai keberagaman, serta memberikan layanan tanpa diskriminasi kepada seluruh kelompok masyarakat. Setelah bergabung dalam grup WhatsApp, peserta akan mengikuti diskusi reflektif secara berkala sebanyak satu hingga dua kali setiap bulan mulai Agustus 2026. Kegiatan ini direncanakan melibatkan sekitar 57 pegawai Puskesmas Umbulharjo 1. Melalui diskusi yang berkelanjutan, peserta diharapkan dapat saling berbagi pengalaman, merefleksikan praktik pelayanan yang telah dilakukan, serta memperkuat kapasitas dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih ramah dan bebas stigma. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Mubasysyir Hasan Basri menjelaskan bahwa program ini berangkat dari keprihatinan terhadap stigma yang masih dialami oleh ODHIV maupun penyintas tuberkulosis. Menurutnya, stigma tidak hanya berdampak pada kondisi psikologis individu, tetapi juga dapat menghambat akses terhadap layanan kesehatan, menurunkan kepatuhan berobat, bahkan memperbesar risiko penularan penyakit akibat keterlambatan diagnosis maupun pengobatan. Kegiatan ini mendukung SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui penguatan layanan kesehatan primer yang inklusif serta peningkatan upaya penanggulangan HIV dan tuberkulosis. SDG 10 Berkurangnya Kesenjangan dengan mendorong pengurangan stigma dan diskriminasi terhadap kelompok rentan dalam pelayanan kesehatan. SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara FK-KMK UGM dan Puskesmas Umbulharjo 1 dalam mengembangkan pelayanan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Kontributor: Purnama Dewi Siregar).