BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

UGM Bantu 48 Mahasiswa NTT Terdampak Bencana

Universitas Gadjah Mada menegaskan komitmennya untuk memastikan mahasiswa yang terkena dampak bencana gempa bumi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap dapat melanjutkan dan menyelesaikan pendidikannya dengan baik di kampus UGM. Untuk membantu meringankan beban ekonomi keluarga dari mahasiswa yang terdampak, UGM menyalurkan bantuan kepada 48 mahasiswa dari NTT. Mahasiswa terdampak bencana ini berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari jenjang program sarjana (S1) sebanyak 6 orang, magister (S2) 33 mahasiswa dan 7 mahasiswa jenjang doktor (S3). Sebelumnya, para mahasiswa terdampak dilakukan melalui proses verifikasi dan validasi. Bantuan yang diberikan meliputi Uang Kuliah Tunggal (UKT) Semester Gasal 2026/2027, uang saku sebesar Rp500.000 per orang selama tiga bulan pada Agustus, September, dan Oktober 2026, serta kupon makan siang gratis untuk periode Agustus–September. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, menyampaikan bahwa kondisi bencana tidak semestinya menjadi penghalang bagi mahasiswa untuk melanjutkan pendidikan. Menurutnya, UGM berkomitmen untuk hadir bersama mahasiswa, khususnya mereka yang menghadapi situasi sulit akibat bencana. “Saya prihatin atas situasi ini. Tapi, saya juga berharap upaya saudara-saudara untuk bangkit lebih besar,” ujar Arie, Kamuis (1/10) di Gedung Pusat UGM. Arie menjelaskan bahwa dukungan yang diberikan kepada mahasiswa terdampak merupakan bentuk kepedulian UGM sekaligus upaya untuk meringankan beban mahasiswa dan keluarga. Selain bantuan dana, UGM juga terus mendorong penguatan pendampingan melalui koordinasi dengan fakultas atau sekolah serta layanan kemahasiswaan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan mahasiswa tetap memperoleh dukungan akademik dan kemahasiswaan selama menghadapi situasi pascabencana. Kehadiran universitas diharapkan dapat membantu mahasiswa mempertahankan keberlanjutan pendidikan sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk kembali menjalani aktivitas akademik secara optimal. Bagi mahasiswa penerima bantuan, dukungan dari UGM tidak hanya memiliki arti secara material, tetapi juga menjadi bentuk perhatian dan solidaritas dari keluarga besar UGM. Imelda, perwakilan mahasiswa terdampak dari FISIPOL angkatan 2026, menyampaikan apresiasinya atas perhatian yang diberikan UGM kepada mahasiswa yang sedang menghadapi kesulitan. “Saya merasa bahwa UGM bukan hanya tempat kami belajar dan menikmati UGM juga hadir ketika mahasiswanya sedang menghadapi kesulitan,” ungkap Imelda, salah satu mahasiswa asal NTT. Ia menyampaikan bantuan tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa terdampak untuk terus belajar dan menyelesaikan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dukungan yang diberikan juga diharapkan dapat mendorong mahasiswa untuk terus berprestasi dan kelak memberikan kontribusi kepada masyarakat, khususnya bagi daerah asal mereka di Flores dan Indonesia. “Bantuan ini bagi kami bukan sekadar bantuan materi, tetapi merupakan bentuk kepedulian, kekuatan, dan harapan kami untuk terus melanjutkan,” tuturnya. Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, mengatakan penyerahan bantuan ini sebagai bentuk kepedulian bersama dalam mendukung kelanjutan mahasiswa yang terdampak bencana. Melalui bantuan dan pendampingan yang diberikan, UGM berupaya memastikan mahasiswa tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan meskipun menghadapi kondisi sulit akibat bencana. “Mari kita berkomitmen untuk mewujudkan UGM yang inklusif, peduli, dan berkelanjutan,” ujar Hempri. Melalui penyerahan bantuan dan pendampingan tersebut, UGM berupaya memastikan mahasiswa terdampak bencana tetap memperoleh dukungan selama menjalani proses pendidikan. Semangat gotong royong, kepedulian, dan solidaritas diharapkan dapat membantu mahasiswa dan keluarganya menghadapi dampak bencana serta melanjutkan pendidikan mereka. Penulis     : Zabrina Kumara Editor       : Gusti Grehenson Foto         : Donnie

Lanjut Baca

FKG UGM dan RSGM UGM Prof. Soedomo Beri Subsidi Pendidikan untuk Mahasiswa Koas

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) bersama Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Gadjah Mada (RSGM UGM) Prof. Soedomo resmi meluncurkan program subsidi pelayanan klinis bagi mahasiswa profesi atau koas (1/10). Langkah strategis ini bertujuan memangkas beban biaya pendidikan klinis yang selama ini ditanggung mandiri oleh mahasiswa. Kehadiran subsidi ini merupakan jawaban atas impian panjang fakultas. Dekan FKG UGM, Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D. menyebut perwujudan program ini sebagai mimpi bersama yang akhirnya terealisasi demi melancarkan pendidikan mahasiswa koas. Kebutuhan subsidi berkaitan dengan adanya perbedaan dukungan pembiayaan pendidikan antara jenjang sarjana dan profesi terutama pada mahasiswa penerima KIP Kuliah maupun Bidikmisi. Regulasi pemerintah yang berlaku saat ini hanya memberi bantuan biaya pendidikan hanya pada jenjang S1, sementara tidak untuk jenjang pendidikan profesi. “Untuk saat ini kami anggarkan Rp5 Miliar per tahun untuk memberikan subsidi bagi seluruh mahasiswa koas tanpa terkecuali,” ucap Dekan Suryono. Guna memastikan subsidi tersebut berjalan lancar, Kepala Bidang Pendidikan dan Penelitian RSGM UGM, Dr. drg. Rini Widyaningrum, M.Biotech., Sp.RKG menyebut 49 mahasiswa penerima subsidi akan diberikan Buku Kendali dan Buku Formularium Alat dan Bahas Koas. Buku Kendali difungsikan sebagai pedoman utama yang memuat seluruh daftar syarat pemenuhan kompetensi (requirement) klinis mahasiswa yang mendapatkan pembiayaan penuh dari program subsidi. Melalui buku ini, setiap tahapan perawatan dan klaim subsidi mahasiswa harapannya dapat tercatat dengan baik. Sementara itu, Buku Formularium Alat dan Bahan Koas berperan sebagai panduan rinci terkait manajemen logistik, kendali bahan, biaya, serta peralatan yang akan digunakan oleh seluruh sivitas hospitalia. "Buku ini kita buat agar semua syarat pemenuhan kompetensi (requirement) yang disubsidi tercantum didalamnya,” kata drg. Rini. Sementara itu, drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D. selaku Direktur RSGM UGM Prof. Soedomo memandang peluncuran program pendanaan ini sebagai tonggak sejarah baru bagi kedua institusi. "Ini bentuk komitmen bersama antara FKG UGM dan RSGM UGM dalam mendukung seluruh proses pendidikan bagi mahasiswa koas," tegasnya. Ia meminta kepada para mahasiswa koas untuk menghargai perjalanan pendidikan ini dan memperlakukan pasien secara bermartabat dengan menjunjung tinggi mutu keselamatan. Menurut Margareta, tantangan yang dihadapi oleh mahasiswa koas tidak berhenti pada penguasaan keterampilan. Mahasiswa juga harus menanggung biaya kebutuhan saat merawat pasien, dan melalui program ini, institusi ikut meringankan biaya tersebut. Kebijakan subsidi ini mendapat respons positif dari peserta didik. Muhammad Al Fatih Su'aidi, mahasiswa koas angkatan 87, menilai subsidi tersebut meringankan proses pemenuhan kompetensi (requirement). "Subsidi ini sangat bermanfaat bagi kami para peserta didik koas untuk memenuhi requirement. Harapannya semua proses menjadi lebih mudah dan masyarakat bisa lebih terjangkau untuk segera datang berobat ke RSGM UGM," ujarnya. Hal serupa dirasakan Farrel, mahasiswa koas angkatan 91 yang baru dua bulan menjalani pendidikan koas. Ia mengaku terbantu secara finansial dan merasa didukung oleh FKG UGM dan RSGM UGM. “Jadi makin semangat dan termotivasi untuk segera menyelesaikan pendidikan koas, pungkas Farrel. Penulis dan Juru Kamera: Fajar Budi Harsakti

Selengkapnya

Cara Membangun Ketahanan Mental Anak melalui Dukungan Orang Tua dan Sekolah

Kesehatan mental anak perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya ketika anak sudah menunjukkan masalah. Data Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani skrining pada periode 2025–2026, hampir 10 persen menunjukkan indikasi masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 4,4 persen anak menunjukkan gejala kecemasan dan 4,8 persen menunjukkan gejala depresi. Temuan tersebut menunjukkan pentingnya menciptakan lingkungan yang dapat membantu anak merasa aman, didengar, dan didukung dalam menghadapi berbagai tekanan. Hal ini menjadi salah satu pembahasan dalam sesi “Orang Tua-Sekolah: Support System Pembangun Kesehatan Mental Anak” yang menghadirkan Nurul Kusuma Hidayati, S.Psi., M.Psi., Psikolog dari Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM. Sesi tersebut merupakan bagian dari Program Kelas Parenting Online bertema “Rumah sebagai Ruang Aman: Peran Orang Tua dalam Menjaga Kesehatan Mental Anak & Remaja” yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta bekerja sama dengan Fakultas Psikologi UGM pada Rabu, 30 September 2026. Kegiatan dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan diikuti oleh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Yogyakarta serta masyarakat umum. Dalam sesi tersebut, Nurul menjelaskan bahwa ketahanan mental bukan berarti anak harus selalu kuat dan mampu menghadapi segala sesuatu tanpa menangis atau mengeluh. “Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah mengeluh. Anak yang tangguh bukan berarti tidak pernah menangis,” ungkapnya. Menurut Nurul, kemampuan anak untuk bangkit dari kesulitan dapat berbeda-beda karena setiap anak memiliki kondisi dan dukungan yang berbeda. Ada anak yang memiliki lebih banyak orang untuk mendukungnya, sementara anak lain mungkin memiliki support system yang lebih terbatas. Karena itu, orang dewasa perlu melihat kebutuhan setiap anak secara lebih utuh, bukan membandingkan kemampuan mereka dalam menghadapi masalah. Sekolah juga menjadi bagian penting dari lingkungan pendukung tersebut. Anak menghabiskan banyak waktunya di sekolah, sehingga pengalaman di sekolah turut berpengaruh terhadap kesehatan mentalnya. Pada anak usia dini, misalnya, kesiapan untuk bersekolah dapat berbeda-beda. Orang tua perlu memberikan ruang bagi anak untuk beradaptasi dan memastikan bahwa sekolah menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi mereka. Nurul juga mengingatkan bahwa peran orang dewasa tidak hanya sebatas menjadi teladan melalui “Ing Ngarsa Sung Tuladha”, tetapi juga hadir bersama anak melalui “Ing Madya Mangun Karsa” dan memberikan dukungan melalui “Tut Wuri Handayani”. Pada akhirnya, upaya membangun ketahanan mental anak juga dimulai dari orang dewasa yang mendampinginya. “Untuk menjadi orang dewasa yang aman, kita harus bisa menyediakan ruang aman bagi diri sendiri. Mari kita menjadi orang dewasa yang aman untuk diri sendiri dulu, sehingga kita merasa penuh dan dapat menghadirkan ruang yang aman untuk sekeliling kita,” jelas Nurul. Membangun ketahanan mental anak dengan demikian bukan sekadar mengajarkan anak untuk menjadi kuat. Ketahanan tumbuh melalui hubungan yang aman, komunikasi yang terbuka, serta dukungan yang konsisten dari keluarga dan sekolah. Ketika anak memiliki ruang untuk bercerita, menangis, melakukan kesalahan, dan belajar bangkit, orang dewasa membantu mereka membangun bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupannya.

Selengkapnya

Schneider Indonesia Hibahkan Panel Listrik untuk Dukung Pengembangan Fasilitas FT UGM

PT Schneider Indonesia menghibahkan satu unit panel listrik PIX12 2500A kepada Fakultas Teknik (FT) UGM sebagai bagian dari hibah tiga unit panel listrik kepada Universitas Gadjah Mada senilai Rp778 juta. Hibah panel listrik tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan industri terhadap pengembangan sarana kelistrikan di lingkungan UGM. Bagi FT UGM, keberadaan panel PIX12 2500A diharapkan dapat mendukung kebutuhan fasilitas kelistrikan sekaligus menunjang kegiatan pendidikan dan pengembangan riset. Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM Arief Setiawan Budi Nugroho, Ph.D., menyampaikan bahwa hibah tersebut sejalan dengan kebutuhan perguruan tinggi untuk terus mengembangkan teknologi dan sarana kelistrikan. “Isu persoalan energi di Indonesia ini sedang umum terjadi sehingga kerja sama ini merupakan wujud dari upaya menjawab persoalan nyata tersebut,” ujar Arief di Gedung Pusat UGM, Jumat (18/9). Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat fasilitas kelistrikan di FT UGM, tetapi juga membuka peluang pengembangan kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri, khususnya dalam bidang energi, otomasi, dan teknologi.

Selengkapnya

Alumni Fakultas Kehutanan UGM Angkatan 1999 dan 2001 cq. Menteri Sekretaris Negara RI Salurkan Beasiswa Keringanan UKT dan Prasarana Pendidikan

Yogyakarta – Kepedulian alumni terhadap keberlanjutan pendidikan mahasiswa kembali diwujudkan melalui program Beasiswa Alumni dan pemberian sarana pendidikan untuk Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Program ini diberikan kepada mahasiswa berprestasi yang juga menghadapi kendala ekonomi akibat perubahan kondisi finansial orang tua atau wali, misalnya meninggal dunia, pensiun, kehilangan pekerjaan atau pemutusan hubungan kerja (PHK), serta penurunan usaha hingga kebangkrutan, serta sarana pendidikan untuk mendukung pendidikan menghadapi persaingan global.Bantuan tersebut merupakan kontribusi alumni Fakultas Kehutanan UGM angkatan 1999 dan 2001, terutama Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia Prasetyo Hadi, S.Hut., M.H. dan Wahyu Fibriyanti, S.Hut., M.Sc., serta Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia  Rohmat Marzuki, S.Hut., beserta dukungan alumni angkatan tersebut. Penerima bantuan beasiswa merupakan mahasiswa aktif Fakultas Kehutanan UGM dari semester 2 hingga semester 14 yang tidak pernah menerima sanksi akademik. Penambahan prasarana pendidikan juga diberikan guna memudahkan transfer ilmu untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja di bidang kehutanan dan lingkungan saat ini. Besaran keringanan UKT yang diberikan berkisar antara 5 hingga 100 persen, sesuai dengan kondisi dan hasil pengajuan masing-masing mahasiswa. Pada Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, bantuan keringanan UKT disalurkan sebesar Rp. 118.050.000,- kepada 48 mahasiswa. Sementara itu, pada Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027, bantuan sebesar Rp. 137.200.000,- diberikan kepada 47 mahasiswa. Dengan demikian, total bantuan yang telah disalurkan mencapai Rp. 255.250.000,- dan menjangkau 95 mahasiswa. Dukungan alumni tersebut memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dalam menjaga keberlanjutan studi di tengah perubahan kondisi ekonomi keluarga. Salah satunya dirasakan oleh Muhammad Sa’duddin, mahasiswa angkatan 2019, yang menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diterimanya. “Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prasetyo Hadi atas bantuan yang diberikan sehingga saya dapat menyelesaikan masa studi saya. Semoga di masa mendatang, saya juga bisa menjadi alumni yang berguna bagi adik-adik mahasiswa yang sedang mengemban ilmu di Fakultas Kehutanan UGM.” ungkap Sa’duddin. Manfaat serupa juga dirasakan oleh Muhammad Ramadhan Mahesa Putra, mahasiswa angkatan 2021. “Dengan adanya beasiswa ini saya sangat terbantu untuk bisa menyelesaikan studi saya. Saya mengucapkan terima kasih kepada bapak ibu alumni terkhusus Angkatan 1999 dan 2001, semoga segala kebaikan Bapak dan Ibu dibalas dengan kebaikan yang berlipat.” tutur Mahesa. Bantuan sarana pendidikan berupa 7 unit Smart Board sebagai sarana penunjang pendidikan diharapkan mampu memudahkan para pendidik dan mahasiswa di Fakultas Kehutanan UGM dalam berdiskusi, transfer knowledge, serta melaksanakan perkuliahan pada berbagai jenjang studi yang ada. Selain keringanan UKT dan sarana pendidikan, dukungan juga diberikan dalam bentuk fasilitas kos gratis bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan tempat tinggal. Rameyza Amani Rizky M. dan Alifia Citra R, mahasiswa angkatan 2024, menjadi 2 orang diantara 6 penerima bantuan kos. Mereka mengungkapkan,“Kami sangat terbantu sekali dengan adanya program kos yang diberikan karena sudah tidak memikirkan lagi terkait biaya kos sehingga kami dapat fokus pada kegiatan akademik dan non-akademik.” Lebih lanjut Rameyza dan Alifia Citra R juga mengapresiasi kualitas fasilitas kos yang dinilainya sangat bagus. Mereka berharap program tersebut dapat terus berlanjut karena menjadi salah satu bentuk dukungan penting bagi mahasiswa yang menghadapi kendala finasial. Melalui program ini, Fakultas Kehutanan UGM menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Bapak Prasetyo Hadi, S.Hut., M.H. dan Ibu Wahyu Fibriyanti, serta Bapak Rohmat Marzuki, S.Hut. juga para alumni angkatan 1999 dan 2001, atas kontribusi dan kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan mahasiswa dan kampus. Dukungan tersebut menjadi wujud nyata semangat alumni untuk terus terhubung dengan almamater sekaligus membantu generasi penerus dalam melaksanakan dan menyelesaikan pendidikan.   Penulis : Irma Editor : Budi Mulyana

Selengkapnya

Ketika Keilmuan Teknik Pertanian Menjangkau Luar Angkasa, Mahasiswa TPB UGM Terpilih dalam DropTES UNOOSA

Yogyakarta, 24 September 2026 — Keilmuan Teknik Pertanian dan Biosistem tidak hanya berkontribusi pada persoalan pertanian di Bumi, tetapi juga membuka peluang bagi pengembangan teknologi eksplorasi luar angkasa. Hal tersebut ditunjukkan oleh Rendy Dwi Nugraha, mahasiswa Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (TPB), Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) angkatan 2024, yang terpilih sebagai awardee Drop Tower Experiment Series (DropTES) ke-10 dari United Nations Office for Outer Space Affairs (UNOOSA). Bersama tim lintas disiplin UGM, Rendy akan menguji penelitian mengenai dinamika material granular pada kondisi gravitasi mikro di Bremen Drop Tower, Jerman, pada kuartal pertama 2027. Rendy tergabung dalam tim yang terdiri atas Alessander Reynard Aritonang sebagai Team Leader dari S1 Teknik Nuklir angkatan 2025, Rendy Dwi Nugraha sebagai Team Member 1 dari S1 Teknik Pertanian angkatan 2024, dan Idam Sholikhah sebagai Team Member 2 dari D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol angkatan 2023. Dalam program DropTES, tim tersebut membawa penelitian mengenai dinamika material granular, khususnya untuk mengamati redistribusi pasir silika yang sebagian mengandung air (partially wet silica sand) ketika mengalami guncangan dalam kondisi gravitasi mikro. Eksperimen tersebut dirancang untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana material granular berperilaku ketika berada pada kondisi gravitasi yang sangat rendah. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan bagi pengembangan teknologi yang mendukung misi eksplorasi antariksa pada masa mendatang, termasuk misi menuju Bulan maupun objek planet lainnya. Kesempatan melakukan eksperimen secara langsung di Bremen Drop Tower menjadi bagian penting dari proses penelitian. Tim tidak hanya mengembangkan rancangan eksperimen, tetapi juga mempersiapkan perangkat dan menjalani proses pengujian teknis sesuai standar yang ditetapkan oleh penyelenggara. Melalui Proses Persiapan dan Critical Design Review [caption id="attachment_15905" align="alignnone" width="768"] Foto Bersama Tim (Kanan ke Kiri): Rendy Dwi Nugraha (Team Member 1 | S1 Teknik Pertanian 2024), Alessander Reynard Aritonang (Team Leader | S1 Teknik Nuklir 2025), dan Idam Sholikhah.[/caption] Program DropTES ke-10 tidak langsung dimulai dengan pelaksanaan eksperimen di Jerman. Tim terlebih dahulu mengikuti rangkaian persiapan dan pengujian teknis yang berlangsung pada Agustus hingga Desember 2026. Dalam fase tersebut, tim akan menjalani proses pengembangan dan penyempurnaan perangkat eksperimen, termasuk Critical Design Review (CDR) bersama pihak UNOOSA dan ZARM. Tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan rancangan eksperimen memenuhi persyaratan teknis sebelum digunakan dalam pengujian gravitasi mikro. Pelaksanaan eksperimen di Jerman dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih dua minggu pada kuartal pertama 2027, dengan rencana pelaksanaan pada minggu kedua Februari 2027. Keterlibatan dalam program ini juga mempertemukan mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan. Kolaborasi antara Teknik Nuklir, Teknik Pertanian, serta Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol menjadi bagian dari proses pengembangan eksperimen yang membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari karakteristik material, perancangan eksperimen, hingga instrumentasi dan pengukuran. Ketika Keilmuan Teknik Pertanian Menjangkau Luar Angkasa Bagi Rendy, keterlibatannya dalam riset gravitasi mikro pada awalnya menghadirkan tantangan tersendiri. Riset antariksa kerap dipandang sebagai bidang yang jauh dari Teknik Pertanian. Namun, pengalaman mengikuti DropTES justru menunjukkan adanya keterkaitan antara keilmuan Teknik Pertanian dan kebutuhan penelitian untuk eksplorasi luar angkasa. “Jujur awal mulanya sempat ragu karena riset antariksa sering dianggap jauh dari ranah Teknik Pertanian, tetapi justru keilmuan TPB seperti mekanika tanah, perilaku material granular, dan interaksi fluida sangat krusial dipelajari terutama sebagai fondasi penting bagi pemahaman media tanam untuk space agriculture di masa depan,” ungkap Rendy. Menurutnya, keterlibatan dalam penelitian tersebut menjadi pengalaman yang menunjukkan bahwa keilmuan Teknik Pertanian tidak hanya relevan untuk persoalan produksi pertanian di Bumi. Pemahaman mengenai karakteristik tanah, material granular, serta interaksi antara material dan fluida juga dapat menjadi bagian dari pengembangan teknologi pertanian dalam lingkungan ekstrem. “Pengalaman ini membuktikan bahwa batas ilmu TPB tidak berhenti di bumi saja, melainkan berpotensi dalam aplikasi teknologi eksplorasi luar angkasa,” lanjutnya. Relevansi tersebut semakin terbuka seiring berkembangnya konsep space agriculture, yang membutuhkan pemahaman mengenai media tanam, distribusi material, air, dan lingkungan tumbuh pada kondisi gravitasi yang berbeda dari Bumi. Belajar Membawa Gagasan dari Kampus Menjadi Eksperimen Nyata Bagi Rendy, kesempatan mengikuti DropTES bukan hanya pengalaman melakukan eksperimen di fasilitas gravitasi mikro, tetapi juga menjadi proses pembelajaran mengenai bagaimana penelitian dikembangkan dalam lingkungan kolaborasi internasional. “Terpilih dalam program DropTES dari UNOOSA ini adalah sebuah kesempatan dan tantangan luar biasa bagi saya dan tim. Pengalaman baru yang paling berharga bukan hanya sekadar berkesempatan datang dan menguji riset kami langsung di fasilitas menara drop di Jerman, tetapi juga proses kolaborasi internasional yang kami jalani,” tutur Rendy. Ia menambahkan bahwa proses tersebut memberikan pengalaman dalam memahami standar penelitian antariksa, mulai dari perancangan perangkat eksperimen secara presisi hingga membawa gagasan ilmiah dari lingkungan perkuliahan menjadi eksperimen yang dapat diuji secara langsung. “Dari program ini, kami belajar banyak mengenai standar riset antariksa mulai dari perancangan alat yang presisi hingga bagaimana membawa gagasan ilmiah dari bangku perkuliahan menjadi eksperimen nyata yang berdampak bagi perkembangan ilmu pengetahuan antariksa,” tambahnya. Kolaborasi Internasional untuk Pengembangan Riset Mahasiswa DropTES ke-10 diselenggarakan oleh UNOOSA melalui inisiatif Access to Space for All bersama ZARM University of Bremen dan DLR. Pelaksanaan program juga berkoordinasi dengan perwakilan diplomatik Indonesia melalui KBRI/PTRI Vienna. Keterlibatan mahasiswa UGM dalam program tersebut menjadi bagian dari pengalaman akademik dan riset yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dengan ekosistem penelitian antariksa internasional. Bagi Rendy dan tim, rangkaian kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan riset, rekayasa eksperimen, kolaborasi lintas disiplin, sekaligus memahami standar penelitian pada fasilitas pengujian gravitasi mikro. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa TPB FTP UGM menunjukkan bahwa kompetensi Teknik Pertanian dan Biosistem dapat dikembangkan melampaui konteks pertanian konvensional. Pemahaman mengenai mekanika tanah, material granular, interaksi fluida, serta sistem lingkungan dapat menjadi fondasi bagi pengembangan teknologi pertanian di lingkungan ekstrem, termasuk untuk mendukung visi space agriculture dan eksplorasi manusia di luar Bumi.

Selengkapnya

Magister Teknik Biomedis UGM Gelar Layanan Kesehatan Terpadu bagi Penyandang Disabilitas dan Pendamping

[metaslider id="1524581"] Sedayu, Bantul — Program Studi Magister Teknik Biomedis, Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM serta Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UGM, menyelenggarakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) dengan tema “Layanan Kesehatan Terpadu untuk Penyandang Disabilitas dan Pendampingnya”. Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026, bertempat di Rumah Kebugaran Difabel (RKD), Sedayu, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Acara ini merupakan rangkaian kegiatan PKM dan bertujuan memberikan layanan kesehatan terpadu bagi penyandang disabilitas dan anggota keluarga atau pengasuh yang mendampingi mereka. Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan umum, pemeriksaan gigi, pemeriksaan laboratorium sederhana, serta pemeriksaan khusus bagi sejumlah penyandang disabilitas berupa pemeriksaan neurologi, fisioterapi, dan survei penggunaan alat bantu. Sebanyak 25 penyandang disabilitas dan 25 anggota keluarga atau pengasuh menjadi sasaran kegiatan. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi kesehatan peserta sekaligus memberikan informasi yang dapat digunakan untuk mendukung perawatan dan pendampingan secara berkelanjutan. Ketua PKM, Dr. drg. Anne Handrini Dewi, M. Kes., dari FKG UGM menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung kepada peserta melalui informasi mengenai kondisi kesehatan mereka. “Dari kegiatan ini diharapkan peserta memperoleh informasi terkait kondisi kesehatannya secara langsung. Pemeriksaan gigi, khususnya pada penyandang disabilitas, bermanfaat untuk deteksi dini masalah kesehatan mulut, pencegahan komplikasi, serta peningkatan kualitas hidup. Selain itu, orang tua atau pengasuh juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan yang dapat dilakukan secara berkelanjutan,” ujar Dr. Anne. Selain memberikan layanan pemeriksaan, tim juga memperhatikan aspek perlindungan data dan privasi peserta. Dr. Anne menegaskan bahwa identitas peserta dijamin kerahasiaannya. Publikasi hasil kegiatan hanya akan menggunakan data anonim dan tidak mencantumkan nama maupun identitas pribadi peserta. “Peserta berkewajiban mengikuti aturan kegiatan dan dapat bertanya kepada petugas apabila terdapat informasi atau prosedur yang belum jelas,” tambahnya. Sementara itu, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., selaku Ketua Program Studi Magister Teknik Biomedis Sekolah Pascasarjana UGM, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi perguruan tinggi dalam memberikan manfaat bagi masyarakat melalui kolaborasi lintas bidang keilmuan. Menurut Dr. Rini, kebutuhan kesehatan penyandang disabilitas memiliki karakteristik yang beragam sehingga diperlukan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu aspek kesehatan. Kolaborasi antara bidang teknik biomedis, kedokteran, kesehatan masyarakat, kedokteran gigi, neurologi, dan fisioterapi memungkinkan layanan diberikan secara lebih terpadu sesuai kebutuhan peserta. “Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung mengenai kebutuhan masyarakat, khususnya penyandang disabilitas dan pendampingnya. Kami berharap kolaborasi lintas fakultas dan lintas disiplin seperti ini dapat terus dikembangkan sehingga hasil pendidikan dan keilmuan di UGM dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ungkap Dr. Rini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dibiayai melalui Hibah Penelitian Sekolah Pascasarjana (SPS) UGM. Tim pelaksana terdiri atas tenaga profesional dan akademisi dari berbagai bidang, antara lain dokter neurologi dan dokter saraf dari FK-KMK UGM, dokter gigi dari FKG UGM, para residen FK-KMK UGM, serta mahasiswa Magister Teknik Biomedis. Keterlibatan berbagai bidang tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan layanan kesehatan terpadu. Selain pemeriksaan, peserta juga memperoleh informasi dan edukasi yang diharapkan dapat membantu keluarga maupun pengasuh dalam melakukan pendampingan kesehatan sehari-hari. Pelaksanaan kegiatan yang didanai oleh hibah penelitian SPs ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis : Arni W

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Wakil Perdana Menteri Timor-Leste: Kolaborasi SPs UGM–DIT Perkuat Rekonsiliasi dan Pengembangan SDM Kawasan Perbatasan

[metaslider id="1523550"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) dan Graduate School Dili Institute of Technology (DIT) memperkuat kemitraan akademik melalui penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) yang diselenggarakan di Auditorium Dili Institute of Technology, Dili, Timor-Leste, Jumat (17/7). Kesepakatan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas kolaborasi di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat antara kedua institusi. Delegasi Sekolah Pascasarjana UGM dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerja Sama, Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S.Hut., M.Agr.Sc. Wakil Perdana Menteri Timor-Leste, Mariano Assanami Sabino, hadir memberikan sambutan pembuka (opening remarks) pada kegiatan ini. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor-Leste merupakan contoh bagaimana keamanan kawasan perbatasan dibangun melalui persaudaraan, rekonsiliasi, dan persahabatan, bukan semata-mata melalui penjagaan militer yang ketat. "Perbatasan Indonesia dan Timor-Leste merupakan salah satu perbatasan paling aman di dunia karena dibangun atas dasar rekonsiliasi dan solidaritas. Kita telah berhasil membangun model kawasan perbatasan yang berbeda dari banyak negara lain," ujarnya. Menurut Mariano Assanami Sabino, kolaborasi yang terjalin antara Keluarga Alumni Gadjah Mada (KAGAMA) Timor-Leste dan Sekolah Pascasarjana UGM menjadi wujud nyata dalam membumikan nilai-nilai rekonsiliasi dan solidaritas. Ia menilai kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat memiliki peran strategis dalam memperkuat pembangunan kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti bahwa malnutrisi dan stunting masih menjadi salah satu tantangan pembangunan di Timor-Leste. Ia menyampaikan apresiasi atas kontribusi akademisi UGM yang turut melakukan penelitian mengenai isu tersebut, salah satunya Dr. Hilda Ismail, Apt., M.Si., dan Prof. Siti Helmyati, DCN., M.Kes. yang sedang meneliti kejadian stunting di wilayah perbatasan. Menurutnya, penelitian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi ilmiah yang mendukung upaya penanganan stunting di kawasan perbatasan. Mariano juga menyampaikan bahwa Timor-Leste terus memperluas kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Portugal, negara-negara Pasifik, dan Afrika, untuk mendukung pembangunan nasional. Namun demikian, ia menekankan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada kemitraan internasional maupun infrastruktur, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. "Kita dapat terus membangun dan berkembang, tetapi kemajuan itu hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang unggul," pesannya. Usai sesi pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yang menghadirkan akademisi dari SPs UGM untuk mendiskusikan penguatan kolaborasi dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui penandatanganan MoA dan penyelenggaraan forum akademik tersebut, SPs UGM dan Graduate School DIT menegaskan komitmen bersama untuk menghasilkan kolaborasi yang berdampak nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di kawasan perbatasan Indonesia–Timor-Leste. Penulis: Asti Rahmaningrum

Selengkapnya

UGM Perkuat Ekosistem Pembelajaran AI Melalui Kolaborasi dan Riset Multidisiplin

Kehadiran Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk aspek pendidikan. Dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi, teknologi AI kini dimanfaatkan untuk beragam keperluan akademik, mulai dari pencarian referensi, perumusan ide riset, hingga mendukung proses pembelajaran dan penelitian. Adapun Universitas Gadjah Mada terus memperkuat ekosistem AI di lingkungan kampus lewat pengembangan riset dan kolaborasi dengan berbagai mitra strategis. Kepala Biro Transformasi Digital UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, SE Ak, M.T., mengatakan pengembangan ekosistem AI menjadi salah satu langkah strategis UGM dalam mendorong inovasi, memperkuat kapasitas riset, sekaligus menjawab kebutuhan transformasi digital di dunia pendidikan tinggi. “Tahun lalu kami berhasil mencapai salah satu milestone, yaitu peluncuran UGM AI Center of Excellence. Kemudian kami juga memperoleh kesempatan yang sangat berharga untuk menjalin kolaborasi dengan Indosat Ooredoo Hutchison,” ujar Mardhani dalam seminar seminar UGM AI bertajuk “Riset dengan Artificial Intelligence (AI)” yang digelar di Ruang Multimedia, Lantai 3 Gedung Pusat UGM, Senin (27/7). Mardhani mengungkapkan, tim dari Indosat dan NVIDIA sudah beberapa kali melakukan site visit serta evaluasi langsung ke UGM sebelum akhirnya menyatakan UGM memenuhi persyaratan untuk bergabung dalam jaringan NVIDIA AI Technology Center (NVAITC). Menurutnya, kolaborasi tersebut akan memperkuat kapasitas riset AI di UGM melalui dukungan teknologi NVIDIA. “Persoalan terbesar dalam pengembangan AI selama ini memang terletak pada keterbatasan sumber daya komputasi. Melalui kerja sama ini, mudah-mudahan para peneliti UGM dapat memanfaatkan kapasitas komputasi dalam skala yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya,” jelasnya sembari memaparkan program-program yang telah digulirkan. Selain memperkuat kolaborasi dengan mitra industri, UGM juga tengah menyiapkan sejumlah program untuk memperluas ekosistem AI di lingkungan kampus. Salah satunya melalui program Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) yang dirancang sebagai program pengembangan selama tiga tahun serta pembentukan Faculty Member UGM AI sebagai jejaring akademik lintas fakultas. “Yang paling kami dorong dalam kerja sama dengan NVIDIA adalah kekuatan utama UGM sebagai universitas multidisiplin. Pendekatan yang kami bangun tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga melibatkan berbagai disiplin ilmu lainnya seperti sosial humaniora,” tuturnya. Menurut Mardhani, jejaring tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para peneliti dari berbagai disiplin ilmu untuk mengembangkan riset AI secara bersama-sama. Ke depan, kata Mardhani, UGM AI juga ditargetkan berkembang menjadi pusat riset yang mampu mengelola pendanaan penelitian, menyediakan program beasiswa, merekrut mahasiswa magister dan doktor, serta memperluas kolaborasi di tingkat internasional. “Kami ingin membangun ekosistem ini secara bersama-sama. Karena pada akhirnya, tidak ada keberhasilan besar yang dapat dicapai sendirian,” pungkasnya. Memasuki diskusi sesi seminar, Dosen Fakultas Hukum UGM, Dr. Rimawati, S.H., M.Hum., menjelaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) telah membuka peluang baru dalam mendukung penelitian hukum, khususnya pada tahapan penelusuran regulasi, putusan pengadilan, hingga penyusunan matriks analisis. Menurutnya, pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual dan memerlukan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu, kini dapat diselesaikan jauh lebih cepat dengan bantuan AI. “Dengan bantuan AI, proses penelusuran tersebut menjadi jauh lebih efisien. Dahulu pekerjaan tersebut dapat memakan waktu hingga satu bulan, sekarang proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam,” ujar Rimawati. Kendati demikian, lanjut Rimawati, AI hanya berfungsi sebagai alat bantu untuk mempercepat pencarian dan pengorganisasian data hukum. Analisis, penafsiran norma, hingga justifikasi hukum tetap menjadi tanggung jawab peneliti. Ia menambahkan, setiap hasil yang diberikan AI harus diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap peraturan perundang-undangan maupun putusan pengadilan yang menjadi sumber aslinya. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk memastikan keakuratan informasi sekaligus menjaga kualitas dan integritas akademik dalam penelitian hukum. Senada dengan Rimawati, pemateri kedua, Prof. Dr. Ir. Ferian Anggara, S.T., M.Eng., IPM., Guru Besar Fakultas Teknik UGM, menjelaskan bahwa pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning mampu meningkatkan efisiensi penelitian, dalam hal ini eksplorasi sumber daya mineral serta energi. Menurutnya, teknologi tersebut memungkinkan peneliti mengolah data dalam jumlah besar untuk mengidentifikasi potensi sumber daya secara lebih cepat dan akurat sehingga proses analisis yang sebelumnya memerlukan waktu lama dapat dipersingkat. “Pemanfaatan artificial intelligence maupun machine learning yang kami lakukan tujuannya untuk mendukung efisiensi proses kerja. Ketika proses kerja menjadi lebih efisien, setidaknya ada dua manfaat yang kita dapatkan, yakni penghematan waktu dan penghematan biaya,” ujar dosen Departemen Teknik Geologi UGM tersebut. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/ugm-perkuat-ekosistem-pembelajaran-ai-melalui-kolaborasi-dan-riset-multidisiplin/