BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Laboratorium Terpadu FKH UGM Jadi Ruang Belajar Global bagi Peserta International Summer Course untuk Konservasi Satwa Liar

Laboratorium Terpadu Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) menjadi salah satu sarana pembelajaran dalam rangkaian The 1st Gadjah Mada Veterinary Medicine International Summer Course 2026, pada Rabu, 15 Juli 2026. Kegiatan bertema “Guardian of Forest Wildlife: Advancing Global Perspective in Wildlife Conservation, Health” ini, menghadirkan pengalaman praktik laboratorium yang memperkaya pemahaman peserta tentang konservasi, kesehatan, dan kesejahteraan satwa liar pada skala laboratorium. Kegiatan ini diikuti secara antusias oleh 26 peserta dari berbagai negara, antara lain Inggris, Filipina, Taiwan, Hong Kong, Vietnam, Singapura, Brunei Darussalam, Sri Lanka, dan Malaysia. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok kecil yang secara bergantian mengikuti pembelajaran di tiga learning station, yaitu Sperm Cryopreservation, Wildlife Parasitology, dan Stem Cell Culture. Setiap learning station diawali dengan materi pengantar oleh para dosen pengampu, kemudian dilanjutkan dengan praktik sederhana yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam menerapkan ilmu kedokteran hewan untuk konservasi satwa liar. Pada station sperm cryopreservation, Dr. drh. Vincentia Yoelinda, M.Si. dan Dr. drh. Berlin Pandapotan Pardede, M.Si., memandu peserta mempelajari teknik uji viabilitas sperma dan memberikan pengantar tentang preservasi semen beku. Peserta mengamati proses handling semen beku serta mengevaluasi kualitasnya menggunakan mikroskop. Pembelajaran ini menegaskan pentingnya teknologi reproduksi di tingkat laboratorium sebagai salah satu strategi konservasi satwa liar untuk menjaga keberlanjutan populasi satwa liar. Dr. drh. Vika Ichsania bersama asisten laboratorium parasitologi, Fais, memperkenalkan Wildlife Parasitology kepada para peserta. Peserta mengamati preparat berbagai parasit yang dapat menyerang satwa liar, seperti gajah, komodo, dan kerbau. Melalui pengamatan mikroskopis tersebut, peserta diajak untuk memahami pentingnya deteksi dan pengendalian penyakit parasitik dalam mendukung kesehatan satwa serta keberhasilan upaya konservasi di habitat alaminya. Sementara itu, di station stem cell culture, drh. Yudith Violetta Pamulang, M.Sc. dan drh. Irma Padeta, M.Sc., memberikan pengantar teknik dasar kultur sel, memandu praktik penggantian media kultur, serta mengamati pertumbuhan dan morfologi sel punca. Pembelajaran ini memperkenalkan potensi teknologi sel punca sebagai pendekatan inovatif dalam riset biomedis dan konservasi satwa liar di masa depan. Kegiatan yang dikemas secara interaktif ini tidak hanya memperluas wawasan peserta mengenai penerapan ilmu laboratorium dalam kedokteran hewan, tetapi juga mendorong minat mereka untuk terlibat lebih jauh dalam riset konservasi satwa liar. Kegiatan ini terselenggara melalui Program EQUITY (Hibah Inovasi dan Internasionalisasi Akademik Melalui Kursus Singkat Bidang Unggulan Lintas Disiplin), yang diinisiasi oleh Kemdiktisaintek dan LPDP, melalui Direktorat Kemitraan dan Relasi Global Universitas Gadjah Mada. Kolaborasi lintas negara melalui Summer Course ini diharapkan dapat memperkuat perspektif global dan jejaring akademik dalam menghadapi tantangan kesehatan dan kesejahteraan satwa liar.Pelaksanaan kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Lanjut Baca

IKGA FKG UGM & RSGM UGM Perkuat Edukasi Pencegahan Penyakit Gigi Anak di TK Rumahku Tumbuh

Upaya meningkatkan derajat kesehatan gigi anak tidak cukup dilakukan ketika masalah sudah muncul. Pencegahan sejak usia dini justru menjadi investasi kesehatan jangka panjang yang menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Berangkat dari semangat tersebut, Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Gadjah Mada bersama Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Anak (IKGA) Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menggelar kegiatan Pemeriksaan dan Edukasi Kesehatan Gigi dan Mulut bagi 71 siswa TK Rumahku Tumbuh, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 26/05/2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk membangun kesadaran menjaga kesehatan gigi sejak usia emas pertumbuhan anak. Kegiatan tersebut melibatkan tim multidisiplin yang terdiri atas staf RSGM UGM, dosen Departemen IKGA FKG UGM, dokter gigi residen, hingga mahasiswa koas. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan masyarakat tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan di lapangan, tetapi juga bagian dari proses pendidikan calon dokter gigi yang berorientasi pada pengabdian kepada masyarakat. Lebih dari sekadar pemeriksaan kesehatan, kegiatan diawali dengan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut melalui pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter anak usia dini. Setelah itu, seluruh siswa menjalani pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengidentifikasi kondisi rongga mulut masing-masing. Hasil pemeriksaan diharapkan menjadi bahan informasi bagi orang tua dan guru sehingga potensi gangguan kesehatan gigi dapat dikenali lebih awal dan segera mendapatkan penanganan yang tepat. Secara analitis, pendekatan seperti ini memiliki nilai strategis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penyakit gigi pada anak sebenarnya dapat dicegah melalui pembiasaan perilaku hidup sehat sejak dini. Namun, rendahnya literasi kesehatan gigi pada anak maupun orang tua masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Oleh karena itu, sekolah menjadi ruang intervensi yang efektif karena mampu menjangkau anak pada fase pembentukan kebiasaan. Kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi dan fasilitas pelayanan kesehatan seperti yang dilakukan RSGM UGM dan Departemen IKGA FKG UGM memperlihatkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat pengobatan, melainkan juga sebagai pusat edukasi masyarakat yang aktif membangun budaya hidup sehat. Ketua tim kegiatan dari Departemen IKGA FKG UGM menyampaikan bahwa pemeriksaan gigi pada anak usia dini memiliki manfaat yang jauh melampaui identifikasi penyakit. Masa kanak-kanak merupakan periode emas pembentukan perilaku hidup sehat. Melalui pemeriksaan dan edukasi yang dilakukan dengan pendekatan ramah anak, kami berharap mereka tidak hanya mengenal dokter gigi sebagai tempat berobat, tetapi juga sebagai sahabat yang membantu menjaga kesehatan. Pengalaman positif seperti ini akan membangun keberanian anak untuk rutin memeriksakan gigi hingga dewasa. Keterlibatan guru dan orang tua merupakan faktor yang menentukan keberhasilan program promotif. Edukasi kesehatan gigi tidak berhenti ketika kegiatan selesai. Orang tua dan guru memiliki peran penting untuk melanjutkan kebiasaan menyikat gigi yang benar, mengontrol konsumsi makanan manis, serta memastikan anak menjalani pemeriksaan gigi secara berkala. Antusiasme peserta menjadi salah satu indikator keberhasilan kegiatan. Anak-anak mengikuti setiap sesi dengan penuh semangat didampingi para guru dan tim pelaksana. Suasana yang komunikatif dan menyenangkan membantu mengurangi rasa takut terhadap pemeriksaan gigi, yang selama ini masih menjadi hambatan bagi banyak anak dalam mengakses layanan kesehatan gigi. Dari perspektif pendidikan kedokteran gigi, kegiatan ini juga menjadi wahana pembelajaran nyata bagi mahasiswa profesi dan dokter gigi residen. Mereka memperoleh pengalaman langsung berinteraksi dengan masyarakat serta memahami bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya diukur dari tindakan kuratif, tetapi juga dari kemampuan membangun kesadaran masyarakat untuk mencegah penyakit. Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat diperluas ke lebih banyak satuan pendidikan. Tantangan kesehatan gigi anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan klinis, melainkan membutuhkan gerakan bersama yang mengintegrasikan edukasi, deteksi dini, dan pendampingan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan tumbuh dengan kesehatan gigi dan mulut yang optimal sebagai fondasi kualitas hidup yang lebih baik. (Kontributor: drg. Fita Fathya Iriana, Redaksi: Andri Wicaksono)

Selengkapnya

Kisah Ibu dari Cileungsi Hantarkan Anak Kuliah Gratis di UGM 

Di sudut rumah kontrakan sederhana berukuran 4x6 meter persegi yang didominasi warna cat kuning, nampak berjejer tumpukan tabung gas dan galon air di depan pintu rumah. Usaha jual beli gas dan air ini menjadi mata pencaharian Charoline Sihole (52) bersama anaknya, Walmer Zebaoth Siburian (18). Semenjak sang suami, Wilmar Siburian (65), berpulang enam tahun lalu, mama Charoline menggantungkan hidupnya dari usaha ini. Hasil  dari berjualan gas dan tabung air ini tidaklah menentu karena hanya mengandalkan pesanan dari tetangga sekitar. Bahkan hanya cukup untuk bayar kontrakan setiap bulannya. “Setelah suami tidak ada, saya ikut kerja sama orang untuk menyelamati kontrakan setiap bulan. Kadang saya dikasih dikasih 1,5 kadang 2 juta. Kadang tidak mencukupi, apa saja saya lakuin, kadang ngojek, kadang jualan, yang penting bisa menghidupi kami berdua,” kata Mama Charoline saat ditemui di Kampung Bojongkaso,Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/7). Charoline mengaku, ia dan suami sudah merantau 23 tahun di Kota Cileungsi. Awal pertemuan mereka berdua dari sama-sama penjual koran, majalah dan novel di sebuah gerobak kios di pinggir jalan kota Cileungsi. Setelah usaha ini meredup, sang suami mengajak pindah kontrakan dan memilih berjualan galon air dan gas. “Saya menikah tahun 2000, bapak sudah jualan koran, dulu saya jualan koran juga, dipersatukan sama-sama jualan koran,” kenangnya. Meski menjadi orang tua tunggal, Charoline bersyukur bahwa kehidupan mereka berdua tetap berlanjut dengan banyak dibantu oleh teman-temannya dari sesama jemaat gereja. “Saya dapat bantuan dari gereja,  dapat beras dan untuk dia (walmer) dapat uang saku,” jelasnya. Beruntung bagi Mama Chaoline yang memiliki anak yang mengerti keadaan kondisi ekonomi orang tuanya. Walmer termasuk siswa berprestasi di SMAN 1 Cileungsi. Sejak kelas 11 sudah langganan rangking 5 besar di kelas. “Di kelas 10 saya tidak dapat ranking tinggi. Untuk pelajaran bahasa saja, nilainya rendah. Baru di kelas 11, saya ketemu teman berprestasi secara angkatan. Melihat mereka saya termotivasi. Akhirnya di kelas 11 semester 2 saya bisa rangking 3, lalu konsisten berada  lima besar hingga lulus,” ujarnya. Walmer mengaku mafhum tentang keadaan ekonomi keluarga yang hidup dari berjualan air dan gas serta bantuan dari sesama jemaat gereja. Ia pun tidak banyak meminta banyak di luar kebutuhan sekolah pada ibunya. Sejak SMP hingga SMA, ia sudah terbiasa membawa bekal sarapan siang dari rumah ke sekolah. Sepulang dari sekolah, ia tidak segan-segan ia membantu ibunya mengantar tabung gas dan galon air ke rumah tetangga yang kebetulan memesan via  whatsapp. Meski hidup dalam keterbatasan, tidak menyurutkan langkah Walmer untuk meraih mimpi kuliah di kampus terbaik. Namun begitu, ia sebenarnya tak kuasa meninggalkan sang ibu seorang diri jika ia harus kuliah jauh dari rumah. “Saat daftar ke UGM lewat SNBP, saya nggak bilang. Karena saya tahu Mama tidak mau ditinggalin. Biar nggak kepikiran, saya alihkan fokus belajar saja. Bahkan jelang malam pengumuman, masih liatin mama tidur, masa iya saya mau ninggalin? Ia yang sudah membesarkan saya seorang diri. Tapi saya harus memilih masa depan saya,” kata Walmer. Saat di hari pengumuman tiba. Sejak pagi, ibunya tengah melayat ke rumah duka anggota jemaat yang meninggal dunia yang berada di daerah kecamatan Gunungputri. Di sore harinya, Walmer membuka ponselnya, dan ia girang bukan main karena dirinya lolos diterima kuliah di prodi Teknik Nuklir, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Ia ingin segera menyampaikan berita gembira ini pada ibunya. Saat ditelpon, ibunya tidak menjawab karena masih sibuk mengurusi anggota jemaat yang tengah berduka. Ia pun menulis pesan lewat ponsel. “Ma, aku diterima di UGM,” Pesan itu berlanjut, "Ikut turut berduka cita ya, Ma,” Charoline, nampak bingung dengan pesan berantai yang dikirim Walmer. “Kamu kenapa?," kata seorang sahabatnya. “Nggak tahu, baca ini,” “Anakmu diterima di UGM,” celetuk temannya. “Apa itu UGM?” “Anakmu diterima kuliah di UGM, di Jogja tahu,” “Selamat ya,” Sahabat Charoline beramai-ramai memeluk dirinya. Ia pun tak kuasa menahan haru setelah tahu Walmer diterima kuliah di UGM. Tepat jam 5 sore, Mama Charoline pulang ke rumah. Di depan pintu Walmer sudah menunggunya dan keduanya berpelukan seraya menahan rasa haru dan bahagia. Air mata mereka pun tumpah. “Aku nunggu sampai jam 5 sore, aku sudah siap depan pintu, langsung meluk mama. Aku tak tahu mau jelasin apa mau ngomong apa. Seperti menyampaikan selamat tinggal beberapa saat. Mama langsung menangis, malamnya kami berdoa,” kata Walmer mengingat momen itu. Meski sudah diterima kuliah UGM. Charoline tetap berdoa agar kuliah anaknya nantinya dilancarkan dan mendapatkan bantuan beasiswa. Doanya dikabulkan. Beberapa hari kemudian saat Walmer menyampaikan informasi tersebut ketika ia tengah mengantarkan pesanan barang. “Pas saya lagi mengantar barang, dia kasih tahu pengumuman, apa itu namanya, uang kuliah," "Terus saya pertama nggak ngeh itu, saya bilang, 'Ini memang enggak bisa... enggak bisa berkurang, Bang?' Uang kuliahnya mahal banget,” “Mama bisa aku telepon?” kata Walmer. “Mama, saya dapat gratis di UGM,” Mendengar kabar bahagia ini, Mama Charoline tak kuasa menahan haru dan menangis. "Saya menangislah di rumah orang. Terus yang punya rumah itu ngasih ucapan selamat. 'Selamat ya, Kak. Kakak hebat bisa bikin anak kita kuliah di UGM dan gratis. Itu luar biasa, kuasa Tuhan sama Kakak,” katanya. Sebagai seorang Ibu, Charoline mengaku bersyukur atas karunia Tuhan berikan pada keluarga kecilnya. Apalagi sejak di bangku SMA, Walmer banyak dibantu. “Sedari kecil sampai SMA, saya antar jemput dia, apa kata orang, saya tidak peduli. Dia penyemangat diri saya,”ungkapnya haru. Meski tahu bahwa kelak Walmer akan meninggalkan dirinya seorang diri di sudut kontrakan karena akan menetap di Yogyakarta menjalani studi. Namun Charoline berharap agar Walmer bisa menjalaninya hari-harinya dengan baik apalagi Walmer akan tinggal di Asrama Dharma Putra UGM. “Saya percaya, Tuhan beri yang terbaik untuk kami berdua. Semoga Walmer mencapai cita-cita dan mengangkat derajat keluarga,” harapnya. Penulis : Gusti Grehenson Foto : Zarodin https://youtu.be/KETSGQAvCNY

Selengkapnya

Berkat Mahasiswa KKN UGM, Desa Limboro Kembali Bisa Panen Padi Setelah 14 tahun 

Mo Sangki Pae Kita Mosiala Pale, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengarit padi kita bergandeng tangan, bukan sekadar tradisi panen raya bagi masyarakat Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Perayaan yang diselenggarakan pada Selasa (7/7) tersebut menjadi simbol bangkitnya kembali harapan masyarakat setelah bertahun-tahun lahan pertanian mereka kehilangan pasokan irigasi akibat rusaknya Bendung Uvenja. Namun sejak kedatangan mahasiswa, mereka bisa merasakan panen padi kembali. Selama kurang lebih 14 tahun, Bendung Uvenja di Sungai Limboro mengalami kerusakan akibat banjir sehingga aliran irigasi terputus dan sekitar 43 hektare sawah tidak lagi dapat ditanami. Kondisi tersebut membuat para petani kehilangan sumber penghidupan sekaligus harapan untuk kembali mengolah sawah mereka. Harapan itu mulai tumbuh kembali ketika Program KKN-PPM UGM berkolaborasi dengan Universitas Tadulako (UNTAD) pada 2025 untuk menginisiasi gerakan gotong royong memperbaiki Bendung Uvenja. Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito ikut hadir dalam panen ra kali ini serata menyerahkan bantuan benih padi Gamagora, varietas padi dari hasil hilirisasi peneliti UGM, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian masyarakat Desa Limboro. Pasalnya, padi ‘ampibi’ ini bisa ditanam di area persawahan maupun lahan kering. Arie mengajak masyarakat untuk terus menjaga potensi yang dimiliki setiap daerah agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanahan dan membangun tanggung jawab bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan. "Mari daerah-daerah itu sumber dayanya dijaga, pertanahannya diperkuat, pangannya dipikul," ujarnya. Panen raya yang berlangsung tahun ini tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembalikan produktivitas lahan pertanian mereka. Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut telah dipersiapkan sejak akhir 2024 melalui serangkaian pemetaan kebutuhan masyarakat. Bersama tim dari Universitas Tadulako (UNTAD), Nizam mengunjungi Desa Towale dan Desa Limboro pada November 2024 untuk berdialog dengan kepala desa, perangkat desa, Pemerintah Kabupaten Donggala, serta Camat Banawa Tengah. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi secara virtual yang melibatkan mahasiswa UGM dan UNTAD bersama pemerintah desa serta tokoh masyarakat guna merumuskan program yang benar-benar menjawab kebutuhan warga. Dari hasil pemetaan tersebut, Bendung Uvenja ditetapkan sebagai program prioritas. Setelah melalui berbagai tahapan yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, UGM, UNTAD, sejumlah mitra, serta dukungan alat berat, bendung akhirnya berhasil diperbaiki sehingga aliran air kembali mengairi lahan pertanian warga. "Kami kemudian fokus mencari solusi dengan menggalang gotong royong masyarakat sekaligus dukungan dari berbagai pihak," ujar Nizam. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat Desa Limboro. Pada awal 2026, sekitar 43 hektare sawah yang selama bertahun-tahun tidak dapat ditanami akhirnya kembali menghasilkan padi. Bagi sebuah desa di ujung Kabupaten Donggala, luasan tersebut menjadi capaian yang sangat berarti sekaligus menandai pulihnya produktivitas pertanian masyarakat. Menurut Nizam, kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi pertanian yang sangat besar karena kondisi tanahnya tergolong subur dengan produktivitas yang mampu mencapai sekitar delapan ton gabah per hektare. Kembalinya aliran irigasi tidak hanya menghidupkan kembali harapan masyarakat untuk mewujudkan swasembada pangan di tingkat desa, tetapi juga memperkuat peran Limboro sebagai salah satu penopang lumbung padi di Sulawesi Tengah. Keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja tidak menjadi akhir dari kolaborasi tersebut. Melalui KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026, berbagai program pemberdayaan kembali dilanjutkan, salah satunya melalui penguatan ketahanan pangan dengan memperkenalkan varietas padi Gamagora kepada masyarakat. Varietas padi hasil pengembangan UGM tersebut dipilih karena mampu tumbuh pada lahan kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dinilai berpotensi membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Kormanit KKN-PPM UGM Bulava Donggala, I Komang Agus Juliantara, menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada penyerahan benih. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan mendampingi petani dalam mengenal karakteristik Gamagora, teknik budidaya, hingga penyusunan demonstration plot (demplot) sebagai media pembelajaran di lapangan.  "Gamagora merupakan padi yang amfibi dan bisa hidup di lahan yang kering, serta memiliki produktivitas yang unggul. Diharapkan padi ini dapat membantu masyarakat untuk mengatasi serangan El Nino ke depannya di Sulawesi," jelas Komang. Menurutnya, keberadaan demplot diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempelajari teknik budidaya Gamagora secara langsung sehingga inovasi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan."Rencananya kami akan membersamai masyarakat tentunya. Kami akan mengenalkan lebih dalam lagi perihal padi Gamagora itu sendiri, khususnya yang terkait dengan cara penanaman, hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, dan akan membuat demplot," ujarnya. Selain penguatan ketahanan pangan, Tim KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026 juga mengembangkan sejumlah program lain yang disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi pengembangan sektor pariwisata, seperti restorasi terumbu karang, penguatan ekonomi kreatif, serta lingkungan dan konservasi melalui rencana pembangunan tanggul dan penanaman bambu sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan. Bagi Komang, seluruh rangkaian pendampingan tersebut menjadi pengalaman berharga. Ia menilai keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang dibawa mahasiswa, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pelaksanaan. "Pembelajarannya, masyarakatnya sangat terbuka sehingga mudah diajak berdiskusi. Kami belajar bahwa keberhasilan suatu program itu harus ada keterlibatan semua pihak," tuturnya. Waludin, selaku perwakilan dari kelompok tani juga turut mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas hibahan Padi Gamagora yang telah diberikan oleh UGM. “Kami sangat bersyukur karena adanya bantuan bibit Gamagora dari UGM,” ungkapnya. Kolaborasi yang telah terjalin selama dua tahun terakhir juga mendapat apresiasi dari Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli. Menurutnya, kehadiran UGM telah menjadi bagian dari proses belajar bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di desa."Saya memberi ucapan syukur dan juga ungkapan rasa terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang sudah dua tahun ini sudah membersamai proses belajar dengan kami," katanya. Kifli menilai keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja hingga sawah kembali produktif merupakan bukti nyata bahwa pembangunan desa hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak. "Bagi kami ini merupakan proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak," ujarnya. Ia juga mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, yang mendampingi masyarakat sejak awal proses perencanaan hingga pelaksanaan program. "Banyak kades yang punya kenalan profesor, tapi bagi kami, teman profesor pertama kami itu ya Prof. Nizam. Ini menjadi kesan yang melekat di warga desa karena jarang sekali ada profesor yang mau berproses bersama dengan petani," ungkapnya. Ke depan, Pemerintah Desa Limboro berharap kolaborasi yang telah terbangun bersama UGM tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. "Besar harapan saya bahwa ini tidak bersifat momentum, tetapi bisa kami rawat juga," pungkas Kifli. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim KKN-PPM Bulava Donggala

Selengkapnya

FK-KMK UGM Sambut 8 Mahasiswa Palestina untuk Lanjutkan Studi Kedokteran Melalui Program SHEMIND 2026

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyambut kedatangan delapan mahasiswa Palestina pada Selasa (7/7/2026). Pertemuan ini dilaksanakan di Executive Room, Lantai 2 Gedung Pusat FK-KMK UGM. Kedatangan mahasiswa Palestina yang terdiri atas tiga mahasiswa dan lima mahasiswi Kedokteran Al-Azhar University, Gaza, ini merupakan hasil dari kerja sama FK-KMK UGM dengan Pemerintah Republik Indonesia melalui Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND): UGM For Palestine untuk memberikan kesempatan mahasiswa Kedokteran Palestina belajar dan mengembangkan diri secara praktis di FK-KMK UGM, serta membangkitkan kembali pendidikan kedokteran di Gaza. Menyambut kehadiran delapan mahasiswa Al-Azhar University Gaza, Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, mengatakan bahwa kehadiran mereka di FK-KMK bukan sekadar menyelesaikan studi, tetapi juga bukti ketahanan, ketekunan, dan harapan, dan komitmen mereka sebagai calon dokter masa depan dari tantangan yang telah dihadapi. Prof. Yodi meyakini bahwa tanggung jawab FK-KMK UGM tidak hanya di dalam ruang kelas, tetapi juga melampaui batas negara. “Jadi, ketika para profesional kesehatan di masa depan, yaitu calon dokter seperti Anda sekalian, menghadapi kesulitan, solidaritas akademik menjadi lebih dari sekadar nilai, tanggung jawab, dan kewajiban moral bagi kami,” ujar Prof. Yodi. Di FK-KMK UGM, para mahasiswa Palestina akan memperkuat kompetensi klinis, membangun persahabatan yang erat dengan mahasiswa lainnya, sekaligus menemukan rumah kedua. Di sisi lain, kehadiran para mahasiswa Palestina juga mengajarkan kepada sivitas FK-KMK UGM tentang ketahanan hidup. “Kami sangat berharap, suatu hari nanti, Anda akan kembali ke Gaza tidak hanya sebagai profesional kesehatan, tetapi juga sebagai pemimpin. Sampai hari itu tiba, ketahuilah bahwa kami di sini ada untuk kalian,” pesan Prof. Yodi. Selain Dekan, turut hadir Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D. dan Sekretaris Program Studi Kedokteran FK-KMK UGM, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D. Sementara itu, tim SHEMIND FK-KMK UGM yang juga membersamai antara lain Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes., AIFM., AIFO-K selaku konseptor SHEMIND; dr. Noviarina Kurniawati, M.Sc. dari Departemen Pendidikan Kedokteran dan Bioetika; Dr.rer.nat. Risky Oktriani, S.Si., M.Biotech., M.Sc. dari Departemen Biokimia; dr. Farida Nur Oktoviani, M.Biotech dari Departemen Mikrobiologi; dr. Alfin Harjuno Dwiputro, M.Sc. dari Departemen Parasitologi; dan Apri Linawati, S.E. dari Unit Akademik dan Kemahasiswaan. Mewakili Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, dr. Hamim mengemukakan bahwa saat ini, Fakultas tengah berupaya untuk menyelaraskan kurikulum FK-KMK dengan kurikulum Kedokteran di Al-Azhar University Gaza. “Meskipun nantinya kurikulum antara kedua universitas tidak dapat persis sama, semoga kurikulum yang telah diselaraskan tetap dapat relevan dengan kurikulum di Al-Azhar University Gaza,” terang dr. Hamim. Salah satu mahasiswa Al-Azhar University Gaza yang hadir, Yousef Albashiti, berterima kasih kepada FK-KMK UGM atas kesempatan yang diberikan. “Kami berterima kasih atas kesempatan yang ditawarkan kepada kami untuk melanjutkan tahun-tahun pendidikan klinis kami,” kata Yusuf. Mahasiswa lainnya, Mahmoud Hamdouna, turut bahagia atas sambutan yang diberikan oleh FK-KMK UGM. “Saya berasal dari Mesir dan berkuliah di Palestina. Terima kasih telah menyambut kami. Saya senang sekali bisa berada di sini,” ungkap Mahmoud. Inisiatif FK-KMK UGM dalam melanjutkan studi mahasiswa Kedokteran Palestina yang terdampak perang merupakan salah satu upaya fakultas dalam mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas dan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Fasilitasi pendidikan bagi mahasiswa kedokteran Palestina ini memastikan keberlanjutan hak atas pendidikan yang berkualitas meskipun di tengah situasi krisis, sekaligus menjadi langkah nyata dalam mencetak tenaga kesehatan profesional yang kelak akan memulihkan dan membangun kembali sistem kesehatan masyarakat di Gaza. Lebih dari itu, kemitraan global antara FK-KMK UGM, Pemerintah Republik Indonesia melalui Indonesian AID, dan Al-Azhar University ini merupakan wujud representatif dari SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Sinergi institusi pendidikan dan solidaritas kemanusiaan bersatu padu untuk mengatasi tantangan global serta merajut harapan masa depan yang lebih baik. (Penulis: Citra/Humas)

Selengkapnya

Dorong Swasembada Pangan, Kementan RI Siap Borong Hasil Riset Inovasi UGM

Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengajak Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dalam melakukan hilirisasi hasil riset guna mendukung swasembada dan kedaulatan pangan nasional. Ajakan tersebut disampaikan saat menerima delegasi UGM yang dihadiri langsung oleh Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, PhD., bersama jajaran pimpinan Universitas dan Fakultas, dosen dan mahasiswa di kediamannya di Jakarta, Senin (29/6). Amran menyampaikan bahwa berbagai inovasi yang dikembangkan UGM memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam sektor pertanian nasional. Dikatakan langsung oleh Amran jika hilirisasi hasil riset menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor sekaligus meningkatkan daya saing pertanian nasional. "Banyak dari hasil karya UGM yang dapat diterapkan untuk sektor pertanian Indonesia," ujarnya. Ia menjelaskan keadaan ekspor sektor pertanian saat ini telah mencapai sekitar Rp760 triliun, tergolong meningkat sekitar Rp166 triliun dalam satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo-Gibran. Di sisi lain, nilai impor sektor pertanian juga telah turun sekitar Rp41 triliun, meski masih menyisakan peluang substitusi impor yang cukup besar. Dalam pertemuan tersebut, Mentan dan UGM membahas pengembangan kurang lebih enam komoditas strategis dengan nilai kerja sama sekitar Rp40 miliar yang akan dihibahkan ke UGM. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan kedelai, bawang putih, pakan peternakan, pupuk berbahan batu bara, hingga inovasi sapi perah hasil riset UGM. Lanjut Amran, varietas kedelai yang dikembangkan UGM memiliki keunggulan karena bersifat non-genetically modified organism (non-GMO) serta memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan kedelai impor. Baginya, hal tersebut merupakan sebuah peluang kerja sama yang sangat baik karena memanfaatkan hasil lokal dibandingkan milik luar. Pemerintah pun berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000-2.000 hektare yang pada gagasannya akan berlokasi di Jawa Tengah. "Kalau kita bisa menghasilkan bibit-bibit unggul, kenapa kita harus beli dari luar?" katanya. Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan. Menurutnya, percepatan pembangunan sektor pertanian membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Sementara itu, Wakil Rektor Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko mengatakan pertemuan dengan Mentan merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah terjalin sebelumnya antara UGM dan Mentan. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Menurut Danang, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras perlu didukung dengan penguatan kedaulatan benih. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pengembangan varietas unggul yang dapat dimanfaatkan secara luas. "Salah satu faktornya adalah bagaimana kita memiliki kedaulatan benih. Kampus menghasilkan varietas, khususnya padi Gamagora, untuk bisa diserap oleh pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan tersebut," ujarnya. Ia berharap berbagai inovasi yang dihasilkan UGM, tidak hanya pada komoditas padi, tetapi juga komoditas strategis lainnya, dapat semakin dimanfaatkan dalam program-program pemerintah. Menurutnya, keberpihakan terhadap hasil riset perguruan tinggi akan mempercepat pemanfaatan inovasi untuk menjawab tantangan pembangunan nasional, khususnya di sektor pangan. “Kerja sama ini juga yang kami tunggu-tunggu sebenarnya, bagaimana keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan keberpihakan terhadap kampus sehingga warisan dan hasil riset kampus bisa diserap oleh pemerintah,” pungkasnya. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

Masjid Kampus UGM Salurkan Beasiswa dan Bangun Semangat Kerelawanan

Masjid Kampus UGM atau dikenal dengan sebutan Maskam, bukan hanya menjadi tempat ibadah dan wadah kajian ilmu agama bagi umat muslim. Lebih dari itu, masjid kampus juga menjalankan perannya untuk membangun budaya kepedulian sosial untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang tengah menempuh studi di kampus UGM. Melalui Rumah Zakat Infaq Sedekah (RZIS) Universitas Gadjah Mada, program yang dikelola Maskam UGM ini terus berkomitmen mendukung keberlanjutan studi mahasiswa melalui program beasiswa yang telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2008. Tidak hanya memberikan bantuan biaya hidup, RZIS UGM juga membangun budaya kepedulian sosial dengan melibatkan para penerima beasiswa sebagai relawan di tengah masyarakat. Wakil Direktur sekaligus Manajer Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., menjelaskan bahwa program beasiswa menjadi salah satu program utama sejak lembaga tersebut didirikan. Kehadiran RZIS berawal dari kepedulian terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi, kini KIP Kuliah, yang pada saat itu hanya memperoleh pembebasan biaya pendidikan tanpa dukungan biaya hidup. "Pada tahun 2008 banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu berhasil masuk UGM, tetapi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situlah Rektor UGM saat itu, almarhum Prof. Dr. Sukadji, bersama Prof. Ainun Na'im menginisiasi pembentukan lembaga zakat di UGM," ujar Taufik, Senin (29/6). Bernaung di bawah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, RZIS UGM menghimpun dana zakat dari dosen, tenaga kependidikan, alumni, hingga masyarakat umum, terutama jamaah Masjid Kampus UGM. Selama hampir dua dekade, program beasiswa tersebut tidak pernah terhenti. Menurut Taufik, setiap semester RZIS UGM rata-rata membantu sekitar 200 mahasiswa. Jumlah penerima tidak ditentukan dengan kuota tetap, melainkan disesuaikan dengan besarnya dana zakat yang berhasil dihimpun. "Semakin besar dana zakat yang terkumpul, semakin banyak mahasiswa yang dapat kami bantu," katanya. Persyaratan memperoleh beasiswa pun dibuat sederhana agar mudah diakses oleh mahasiswa yang membutuhkan. Calon penerima hanya diwajibkan berstatus sebagai mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma empat di UGM serta berasal dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Tidak ada persyaratan mengenai indeks prestasi kumulatif maupun batas semester. "Kami tidak ingin mahasiswa hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga kami dorong menjadi relawan sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat melalui tenaga, waktu, dan kepedulian yang mereka miliki," jelasnya. Selain beasiswa reguler, RZIS UGM juga memiliki Program Rescue bagi mahasiswa yang masa bantuan KIP Kuliahnya telah berakhir, tetapi belum menyelesaikan studi. Program ini menjadi bentuk pendampingan agar mahasiswa tetap dapat menuntaskan pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi. Besaran bantuan yang diberikan bervariasi. Mahasiswa penerima KIP Kuliah memperoleh tambahan biaya hidup sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per bulan, sedangkan penerima beasiswa reguler menerima bantuan sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000 per bulan selama satu semester. Perpanjangan bantuan dilakukan melalui evaluasi sederhana dengan mengunggah Kartu Hasil Studi (KHS) terbaru. Tidak hanya mendukung kebutuhan pendidikan, RZIS UGM juga memberikan bantuan bagi mahasiswa yang menghadapi kondisi darurat, seperti mengalami musibah, membutuhkan biaya pulang kampung, hingga terjerat pinjaman daring. Dalam perspektif syariat, mahasiswa dikategorikan sebagai fisabilillah, yakni pihak yang berjuang di jalan Allah melalui pendidikan. Salah satu ciri khas program RZIS UGM adalah keterlibatan aktif mahasiswa sebagai relawan. Para relawan melakukan kunjungan ke rumah-rumah keluarga penerima manfaat untuk menyerahkan bantuan sembako sekaligus memantau kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. "Kami ingin mahasiswa belajar langsung memahami kondisi masyarakat. Kalau ditemukan kebutuhan khusus, misalnya kursi roda, alat bantu dengar, BPJS, atau rujukan ke Rumah Sakit Akademik UGM, relawan akan melaporkan kepada kami agar dapat ditindaklanjuti," tutur Taufik. RZIS UGM juga menerapkan pendekatan pemberdayaan ekonomi dalam penyaluran bantuan. Paket sembako tidak dibeli dari toko besar, melainkan dari warung atau toko kecil di sekitar tempat tinggal penerima manfaat sehingga dana zakat turut menggerakkan perekonomian lokal dan mendukung pelaku UMKM. Selain pengelolaan zakat, RZIS UGM tengah mempersiapkan pembentukan lembaga wakaf yang akan memperoleh legalitas dari Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Ke depan, aset wakaf akan dimanfaatkan untuk pembangunan asrama mahasiswa serta Rumah Al-Qur'an. Saat ini RZIS UGM juga telah mengelola tiga asrama mahasiswa di kawasan Pogung Dalangan, Pogung Kidul, dan Klebengan. Asrama tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi dan membutuhkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan kampus. Menutup wawancara, Taufik berharap semakin banyak mahasiswa mengetahui keberadaan program beasiswa RZIS UGM sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terhambat menyelesaikan pendidikan karena kendala biaya. "Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan tetapi belum mengetahui informasi beasiswa ini. Karena itu kami berharap publikasi mengenai pembukaan beasiswa RZIS UGM dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan secara optimal," pungkasnya. Penulis : Jelita Agustine Editor   : Gusti Grehenson Foto      : Dok. Humas UGM dan Masjid Kampus

Selengkapnya

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN Mengabdi ke Masyarakat

Universitas Gadjah Mada resmi menerjunkan sebanyak 8.178 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode II Tahun 2026. Upacara penerjunan yang digelar di Lapangan Pancasila UGM pada Jumat (19/6) menandai dimulainya pengabdian mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia selama 50 hari, mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Mahasiswa peserta KKN-PPM akan ditempatkan di 298 unit lokasi yang tersebar di 274 kecamatan, 132 kabupaten/kota, dan 32 provinsi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa didampingi oleh 324 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Koordinator Wilayah (Korwil), serta didukung oleh 199 mitra yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, organisasi masyarakat, dan jejaring alumni UGM. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar sekaligus ruang kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. "Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi wadah pemersatu semangat dan komitmen untuk membangun bangsa melalui pemberdayaan masyarakat. Selama kurang lebih 50 hari, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan belajar langsung dari masyarakat," ujarnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan, keselamatan, serta nama baik almamater selama menjalankan pengabdian di daerah penempatan masing-masing. "Saya yakin kalian akan melaksanakan berbagai program yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan membawa perubahan positif, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," katanya. Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, S.S., M.A., yang hadir dalam acara penerjunan, mengapresiasi konsistensi UGM dalam menjaga hubungan antara kampus dan masyarakat melalui KKN. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendukung agenda industrialisasi desa yang tengah didorong pemerintah. "Desa memiliki potensi besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun jaringan sosial. Namun potensi tersebut harus dirajut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif melalui industri. Saya berharap mahasiswa KKN UGM dapat memberikan ide, inovasi, dan kontribusi nyata untuk mengembangkan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah," ungkapnya. Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa KKN-PPM merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus sarana pembelajaran mahasiswa untuk memahami realitas sosial secara langsung. "KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan otentik untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu membangun empati sosial, menghadirkan solusi bersama masyarakat, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya. Tahun ini KKN-PPM UGM mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim melalui KKN-PPM UGM.” Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, pengelolaan lingkungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, penanganan stunting, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna dan digitalisasi masyarakat. Semangat pengabdian tersebut tercermin dari berbagai tim KKN yang akan bertugas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Papua. Salah satunya adalah Tim KKN Raja Ampat Begisah yang akan bertugas di Kampung Samati dan Waim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Salah seorang anggota tim, Rizki Abdillah, selaku Koordinator unit dari Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan bahwa timnya mengusung sejumlah program unggulan berbasis potensi lokal masyarakat pesisir. "Kami akan mendampingi komunitas nelayan melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pengembangan pemasaran hasil perikanan, serta melanjutkan program pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan yang sebelumnya telah dirintis oleh tim KKN terdahulu," ujarnya. Selain itu, tim juga mengembangkan inovasi pemanfaatan mangrove melalui produksi teh mangrove sebagai produk ekonomi kreatif masyarakat. Di bidang lingkungan, mereka bekerja sama dengan perusahaan lingkungan internasional dan nasional untuk melakukan pengambilan sampel air guna menguji kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat. "Kami ingin memastikan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat karena sebagian sumber air masih terlihat keruh meskipun telah dimasak sebelum digunakan," jelas Rizki. Meski sempat menghadapi tantangan pendanaan karena tidak memperoleh hibah kompetitif, tim Raja Ampat Begisah berhasil memperoleh dukungan dari sejumlah mitra sehingga tetap dapat melaksanakan pengabdian di wilayah tujuan. Sementara itu, Tim KKN Biak Elok yang akan bertugas di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengusung program pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan ekonomi lokal, pariwisata partisipatif, dan infrastruktur hijau. Ketua tim, Sarasvati Baktiantoro dari Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan bahwa lokasi penugasan mereka merupakan wilayah baru yang belum pernah menjadi lokasi KKN UGM sebelumnya. "Kami akan fokus pada community empowerment melalui penguatan UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," ujarnya. Tim KKN Biak Elok telah mempersiapkan keberangkatan sejak September tahun lalu, termasuk membangun jejaring pendanaan dengan berbagai mitra dan perusahaan. Menurut Saras, pengalaman mengabdi di wilayah kepulauan Papua menjadi kesempatan berharga untuk berbagi ilmu sekaligus belajar langsung dari masyarakat. "Kami ingin membawa ilmu yang telah kami peroleh selama kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, kami juga ingin belajar dari pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat," tuturnya. Melalui penerjunan KKN-PPM Periode II Tahun 2026 ini, UGM berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan masyarakat. Lebih dari itu, program KKN diharapkan semakin memperkuat peran UGM sebagai universitas kerakyatan yang hadir dan bertumbuh bersama masyarakat Indonesia. "Kepada seluruh mahasiswa, berangkatlah dengan selamat dan pulanglah dengan selamat. Jaga diri, jaga teman, dan jaga persahabatan dengan masyarakat. Belajarlah bersama rakyat, karena di sanalah banyak pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas," pesan Arie Sudjito. Penulis : Jelita Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto dan Donnie

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Program Pengabdian Masyarakat UGM Hadirkan Teknologi Evaporator dan Kristalisator bagi Produsen Gula Semut Banyumas

Banyumas, 31 Mei 2026 – Menjawab tantangan peningkatan mutu gula semut untuk pasar ekspor, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menerapkan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini bertujuan meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi gula semut melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar, sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Banyumas di pasar internasional. Program Community Development berbasis riset aplikatif dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan berjudul “Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas” ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, bersama tim dosen lintas bidang, yaitu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia. Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan survei, sosialisasi, pelatihan, dan penyusunan laporan. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah KOPIPO. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan gula semut sebagai pemanis alami di pasar domestik maupun internasional. Gula semut memiliki berbagai keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki umur simpan yang lebih panjang, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik. Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan terhadap gula semut terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. [caption id="attachment_15150" align="alignnone" width="1024"] Proses Pemasakan Nira Kelapa menjadi Semut secara Tradisional[/caption] Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan, menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia untuk komoditas tersebut. Salah satu sentra produksi utama gula semut nasional adalah Kabupaten Banyumas. Menurut data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada tahun 2024 dan berkontribusi sekitar 40–50 persen terhadap produksi gula kelapa nasional, sehingga menjadi salah satu wilayah terpenting dalam rantai pasok gula semut Indonesia. Meskipun memiliki potensi pasar yang besar, proses produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi berbagai kendala, seperti ketidakseragaman mutu produk, keterbatasan pengendalian proses, dan tingginya ketergantungan pada keterampilan operator. Proses evaporasi nira umumnya masih dilakukan secara konvensional, sementara proses kristalisasi masih banyak bergantung pada pengalaman produsen. Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional. Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator dirancang untuk mengentalkan nira hingga mencapai kondisi siap kristalisasi dengan suhu yang lebih terkendali. Sementara itu, kristalisator digunakan untuk membantu proses pembentukan kristal gula semut agar lebih cepat dan seragam. [caption id="attachment_15149" align="alignnone" width="1024"] Pelatihan pengoperasian evaporator gula semut[/caption] Dr. Sri Rahayoe menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. “Selama ini proses produksi gula semut masih sangat bergantung pada pengalaman operator sehingga kualitas produk sering kali tidak seragam. Melalui penerapan evaporator dan kristalisator tepat guna, kami berharap proses pengolahan menjadi lebih terukur, efisien, dan menghasilkan gula semut dengan mutu yang lebih konsisten sesuai kebutuhan pasar ekspor,” ujarnya. [caption id="attachment_15151" align="alignnone" width="1024"] Alat Kristalisator (kanan) dan Evaporator (kiri) Gula Semut yang dihibahkan kepada Petani Produsen Gula Semut[/caption] Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup serangkaian pelatihan dan transfer pengetahuan yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keahlian. Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc. menyampaikan materi mengenai penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) proses produksi dan standar mutu gula semut untuk mendukung konsistensi kualitas produk. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D. memaparkan inovasi rekayasa alat pendukung penderesan nira kelapa serta pengembangan (improvement) teknologi kristalisator dan evaporator gula semut guna meningkatkan efisiensi dan keamanan proses produksi. Sementara itu, mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin, berbagi pengalaman mengenai budidaya dan pemanfaatan tanaman kelapa di Malaysia sebagai bagian dari praktik terbaik pengembangan industri kelapa yang berkelanjutan. [caption id="attachment_15152" align="alignnone" width="1024"] Prof. Rosnah menjelaskan materi budidaya kelapa dan pemanfaatannya di Malaysia[/caption] Kegiatan juga mencakup pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, penanganan pascapanen nira kelapa, serta praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan oleh Tim Fakultas Teknologi Pertanian UGM. [caption id="attachment_15153" align="alignnone" width="1024"] Prof. Eni Harmayani memberikan pelatihan GMP dan HACCP guna menjaga kualitas gula semut[/caption] Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Dr. Sri Rahayoe beserta tim dalam mengembangkan program berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana hasil riset dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan desa. “Saya memberikan apresiasi kepada Bu Yayuk atas inisiatif kegiatan ini. Program ini sangat baik karena mempertemukan unsur akademisi, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem pengembangan yang saling mendukung. FTP UGM akan selalu mendukung upaya mewujudkan kemandirian pangan, di mana desa dapat menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Dari pelatihan ini kami berharap terjadi transfer teknologi dan penguatan jejaring yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan asli desa (PAD) serta kesejahteraan masyarakat,” ungkap Prof. Eni. Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Mario Ngensowidjaja, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC). Dalam wawancara daring, ia menilai kolaborasi antara UGM dan industri memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas dan konsistensi produksi gula semut di tingkat petani. “Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki UGM, kegiatan pelatihan ini sangat membantu dalam menjaga kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membuat kegiatan pascapanen menjadi lebih terukur. Kerja sama antara UGM dan IMC membantu petani memahami proses yang mereka kerjakan dengan lebih baik sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan lebih konsisten,” ujarnya. Mario menambahkan bahwa pihaknya berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Harapan kami, kerja sama ini dapat terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan membantu pengembangan produksi gula kelapa dengan mutu yang semakin baik serta volume yang semakin besar. Dengan demikian, Indonesia dapat semakin dikenal sebagai salah satu produsen gula kelapa berkualitas di dunia,” tambahnya. Salah satu petani peserta kegiatan, Bapak Mukamil, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari materi dan pelatihan yang diberikan selama program berlangsung. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai proses produksi gula semut, tetapi juga meningkatkan kesadaran para petani akan pentingnya menjaga mutu produk secara berkelanjutan. “Materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menyadarkan dan memberikan semangat kepada kami untuk bersama-sama menjaga kualitas nira dan gula semut yang kami produksi. Kami jadi lebih memahami bahwa kualitas yang baik merupakan kunci agar produk kami dapat terus diterima di pasar,” ujar Mukamil. Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, menyampaikan bahwa penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani. “Keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga mutu secara konsisten. Karena itu, selain menyediakan teknologi, kami juga memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyusunan SOP, dan pengendalian mutu agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar pasar global,” jelasnya. Program ini juga diarahkan untuk mendukung produksi gula semut yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan. Budidaya kelapa genjah menjadi salah satu bagian penting dalam program karena tanaman ini memiliki batang lebih rendah dibandingkan kelapa dalam, sehingga proses penderesan nira dapat dilakukan dengan lebih aman dan berpotensi membuka ruang keterlibatan yang lebih luas bagi perempuan dan generasi muda. [caption id="attachment_15148" align="alignnone" width="1024"] Gula Semut hasil pelatihan bersama para produsen gula semut[/caption] Luaran utama dari kegiatan ini meliputi terpasangnya unit evaporator dan kristalisator yang operasional, meningkatnya kompetensi petani dan operator dalam penggunaan alat, tersusunnya SOP produksi dan mutu, serta terlaksananya sistem pengendalian mutu internal di tingkat kelompok. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengolahan gula semut berbasis teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di wilayah sentra produksi gula semut lainnya. Melalui kegiatan ini, UGM berkomitmen untuk mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, memperkuat kapasitas petani, meningkatkan mutu produk lokal, serta mendukung daya saing gula semut Indonesia di pasar global.