BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang, Anak Buruh Tani Asal Gunungkidul Diterima Kuliah Gratis di UGM

Keterbatasan ekonomi bukan penghalang bagi Leni Ismawati (18) untuk meraih mimpi tinggi. Gadis asal Gunungkidul tersebut telah memiliki mimpi untuk berkuliah di UGM sejak menempuh pendidikan Sekolah Dasar (SD). Keberhasilannya lolos Akuntansi UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan mendapatkan beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol dari UGM membuktikan bahwa dirinya berhasil memenuhi salah satu impiannya. Leni merupakan anak tunggal dari pasangan Bapak Semojo (50) dan Ibu Erni (37) yang sehari-harinya mengurus sawah dan ternak dengan penghasilan yang tidak tetap. Untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari, Erni mengaku sering mencari tambahan dengan menjadi buruh tani kepada tetangganya. Namun, keterbatasan ini bukan halangan untuk pendidikan putrinya. Erni mengatakan dirinya selalu mengutamakan pendidikan anaknya. Hal ini karena dirinya yang hanya lulusan SMP dan suaminya yang hanya  lulusan SD. Bahkan ia mengaku menyesal tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Ditambah dari keluarganya dan suaminya belum ada yang melanjutkan pendidikan hingga kuliah. Rasa bangga terhadap Leni turut menyertai pencapaian yang didapatkannya. “Saya selalu mendorong anak saya untuk sekolah, bagaimanapun caranya untuk biaya nanti bisa dicari. Saya tidak ingin dia menyesal seperti orang tuanya,” tutur Erni, Senin (29/6). Dukungan penuh yang diberikan kedua orang tuanya, membuat Leni lebih berani dalam melangkah. “Ibu sempat berpesan agar jangan takut mengejar mimpi. Hal itulah yang akhirnya membuat saya berani mencoba mendaftar di jurusan Akuntansi UGM,” ujar Leni. Erni mengungkap bahwa sejak kecil Leni sudah diajarkan untuk selalu prihatin karena bukan dari keluarga berada yang bisa mengadakan segala sesuatu secara instan. Ia menanamkan pemahaman bahwa setiap keinginan harus dicapai melalui usaha dan kerja keras, termasuk membiasakan Leni menabung dari uang sakunya jika ingin membeli kebutuhan pribadi. Ia juga memantau pendidikan agama serta pergaulannya agar ia tidak terjerumus ke dalam lingkungan yang membawa dampak negatif. “Saya sengaja tidak memanjakannya sedari kecil, selain karena kondisi ekonomi, saya juga khawatir Leni akan kesulitan menghadapi masa depannya nanti,” ungkapnya. Perjalanan Leni menuju kampus biru tidaklah mudah. Sejak memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di SMA 1 Wonosari, yang berjarak cukup jauh dari rumah, membuatnya harus tinggal di kos sendiri. Namun, hal inilah yang membuatnya dapat hidup mandiri dan membagi waktu dengan lebih baik. Berbeda dengan teman-teman sekolahnya yang mengikuti bimbingan belajar tambahan, karena keterbatasan ekonomi, Ia memilih untuk belajar mandiri. Leni menemukan waktu belajar efektif untuknya yaitu saat dini hari, Ia secara rutin bangun pukul 02.00 dini hari untuk belajar. Kegigihannya berbuah manis, Ia berhasil mendapat peringkat kedua eligible yang menjadi modal untuk melanjutkan pendidikannya. Ketertarikan Leni pada bidang ekonomi telah tumbuh sejak pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA. Minat tersebut diperdalam dengan mengambil mata pelajaran peminatan ekonomi, yang kemudian secara spesifik mempelajari akuntansi di kelas 12. “Semenjak kelas 12, saya mulai mendalami akuntansi serta bagaimana prospek karir ke depan. Hal tersebut akhirnya membuat saya merasa bidang ini sangat tepat bagi saya,” tuturnya. Prestasinya dalam hal akademik tidak diragukan lagi, sedari menempuh pendidikan SD, Leni rutin mendapat peringkat satu hingga mendapatkan title lulusan terbaik saat SMP. Ia juga menyambangi berbagai kegiatan seperti Rohani Islam (Rohis), Palang Merah Remaja (PMR), hingga keikutsertaan dalam Ikatan Pemuda Muhammadiyah (IPM) Kapanewon Wonosari. Saat SMA, Ia sempat mengikuti lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Ekonomi hingga tingkat Kabupaten. Leni mengaku bahwa semakin bertambah usia, pemikirannya semakin terbuka luas. Awalnya Ia belajar untuk meraih peringkat dan hadiah, kini Ia belajar untuk mengubah kehidupannya baik dari segi ekonomi maupun latar belakang pendidikannya. “Saya berharap setelah ini, Akuntansi UGM bisa membuka lebih banyak jalan dan hal-hal baik bagi masa depan saya,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Hanifah dan Dok. Leni

Lanjut Baca

Fakultas Biologi Berikan Pelatihan Pembuatan Biofertilizer dan Biocontrol pada IRT Al Barokah dan PKK Desa Kedungpoh

Sabtu (27/6) Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi untuk Desa Kedungpoh menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Biofertilizer dan Biocontrol (Pengendalian Hayati) pada Bunga Krisan dengan peserta anggota IRT Al Barokah dan PKK Pokja-3 Desa Kedungpoh, Nglipar, Gunungkidul. Pelatihan ini dilaksanakan di Rumah Produksi Al Barokah yang diketuai oleh Tri Wahyuni. PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Pokja-3 Kedungpoh membidangi pangan, sandang, perumahan dan tata laksana rumah tangga. Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi kali ini diwakili oleh Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc. dan Agil  Faiqotul Iqbaliyah, S.Si. Dwi Umi dan Agil merupakan bagian dari Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi yang mengusung tema “Eskalasi Nilai Ekonomi Limbah Organik IRT Al Barokah Kedungpoh Melalui Formulasi Probioik Dan Biopestisida Untuk Mewujudkan Konsumsi Dan Produksi yang Bertanggungjawab (SDG 12)”. [metaslider id="59278"] Dwi Umi yang mempunyai expertise di bidang formulasi biofertilizer menyampaikan materi tentang Produksi Biofertilizer untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan. Biofertilizer ini berbahan urin ternak (sapi, kambing, domba atau kelinci) yang ditambahkan biang mikrobia kemudian difermentasi selama empat belas hari hingga tidak berbau urin.  Biofertilizer  mampu membantu pendegradasian bahan organik seperti serasah dan kotoran ternak serta meningkatkan kesuburan tanaman. Beberapa mikrobia yang digunakan diantaranya Azotobacter, Bacillus dan  Trichoderma. “Biofertilizer dapat digunakan sebagai pengganti pupuk NPK, AB Mix maupun dalam mempercepat pembuatan kompos dan pupuk kandang plus, karena perannya sebagai pendegradasi bahan organik”, ungkap Dwi Umi di sela pemaparan materinya. “ Limbah produksi dari IRT Al Barokah maupun dari rumah tangga dapat segera dimanfaatkan sebagai kompos dengan bantuan biofertilizer”, tambahnya. Selepas pemaparan dan tanya jawab peserta pelatihan, Dwi Umi dan Agil membawa peserta menuju greenhouse yang telah dibangun menggunakan dana Hibah Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi UGM tahun anggaran 2026. Peserta melakukan praktik langsung aplikasi pupuk dasar yang diperkaya biofertilizer di lahan greenhouse krisan. Pelatihan yang melibatkan akademisi untuk kelompok wanita pengusaha industri rumah tangga dan kelompok ibu-ibu PKK merupakan pangejawantahan dari Sustainable Development Goals-1 (Tanpa Kemiskinan), SDG-2 (Tanpa kelaparan), SDG-3 (Kehidupan sehat dan sejahtera), SDG-5 (Kesetaraan Gender),  SDG-12 (Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), SDG-17 (Kemitraan untuk mencapai tujuan). (DUS)

Selengkapnya

Masjid Kampus UGM Salurkan Beasiswa dan Bangun Semangat Kerelawanan

Masjid Kampus UGM atau dikenal dengan sebutan Maskam, bukan hanya menjadi tempat ibadah dan wadah kajian ilmu agama bagi umat muslim. Lebih dari itu, masjid kampus juga menjalankan perannya untuk membangun budaya kepedulian sosial untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang tengah menempuh studi di kampus UGM. Melalui Rumah Zakat Infaq Sedekah (RZIS) Universitas Gadjah Mada, program yang dikelola Maskam UGM ini terus berkomitmen mendukung keberlanjutan studi mahasiswa melalui program beasiswa yang telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2008. Tidak hanya memberikan bantuan biaya hidup, RZIS UGM juga membangun budaya kepedulian sosial dengan melibatkan para penerima beasiswa sebagai relawan di tengah masyarakat. Wakil Direktur sekaligus Manajer Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., menjelaskan bahwa program beasiswa menjadi salah satu program utama sejak lembaga tersebut didirikan. Kehadiran RZIS berawal dari kepedulian terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi, kini KIP Kuliah, yang pada saat itu hanya memperoleh pembebasan biaya pendidikan tanpa dukungan biaya hidup. "Pada tahun 2008 banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu berhasil masuk UGM, tetapi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situlah Rektor UGM saat itu, almarhum Prof. Dr. Sukadji, bersama Prof. Ainun Na'im menginisiasi pembentukan lembaga zakat di UGM," ujar Taufik, Senin (29/6). Bernaung di bawah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, RZIS UGM menghimpun dana zakat dari dosen, tenaga kependidikan, alumni, hingga masyarakat umum, terutama jamaah Masjid Kampus UGM. Selama hampir dua dekade, program beasiswa tersebut tidak pernah terhenti. Menurut Taufik, setiap semester RZIS UGM rata-rata membantu sekitar 200 mahasiswa. Jumlah penerima tidak ditentukan dengan kuota tetap, melainkan disesuaikan dengan besarnya dana zakat yang berhasil dihimpun. "Semakin besar dana zakat yang terkumpul, semakin banyak mahasiswa yang dapat kami bantu," katanya. Persyaratan memperoleh beasiswa pun dibuat sederhana agar mudah diakses oleh mahasiswa yang membutuhkan. Calon penerima hanya diwajibkan berstatus sebagai mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma empat di UGM serta berasal dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Tidak ada persyaratan mengenai indeks prestasi kumulatif maupun batas semester. "Kami tidak ingin mahasiswa hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga kami dorong menjadi relawan sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat melalui tenaga, waktu, dan kepedulian yang mereka miliki," jelasnya. Selain beasiswa reguler, RZIS UGM juga memiliki Program Rescue bagi mahasiswa yang masa bantuan KIP Kuliahnya telah berakhir, tetapi belum menyelesaikan studi. Program ini menjadi bentuk pendampingan agar mahasiswa tetap dapat menuntaskan pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi. Besaran bantuan yang diberikan bervariasi. Mahasiswa penerima KIP Kuliah memperoleh tambahan biaya hidup sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per bulan, sedangkan penerima beasiswa reguler menerima bantuan sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000 per bulan selama satu semester. Perpanjangan bantuan dilakukan melalui evaluasi sederhana dengan mengunggah Kartu Hasil Studi (KHS) terbaru. Tidak hanya mendukung kebutuhan pendidikan, RZIS UGM juga memberikan bantuan bagi mahasiswa yang menghadapi kondisi darurat, seperti mengalami musibah, membutuhkan biaya pulang kampung, hingga terjerat pinjaman daring. Dalam perspektif syariat, mahasiswa dikategorikan sebagai fisabilillah, yakni pihak yang berjuang di jalan Allah melalui pendidikan. Salah satu ciri khas program RZIS UGM adalah keterlibatan aktif mahasiswa sebagai relawan. Para relawan melakukan kunjungan ke rumah-rumah keluarga penerima manfaat untuk menyerahkan bantuan sembako sekaligus memantau kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. "Kami ingin mahasiswa belajar langsung memahami kondisi masyarakat. Kalau ditemukan kebutuhan khusus, misalnya kursi roda, alat bantu dengar, BPJS, atau rujukan ke Rumah Sakit Akademik UGM, relawan akan melaporkan kepada kami agar dapat ditindaklanjuti," tutur Taufik. RZIS UGM juga menerapkan pendekatan pemberdayaan ekonomi dalam penyaluran bantuan. Paket sembako tidak dibeli dari toko besar, melainkan dari warung atau toko kecil di sekitar tempat tinggal penerima manfaat sehingga dana zakat turut menggerakkan perekonomian lokal dan mendukung pelaku UMKM. Selain pengelolaan zakat, RZIS UGM tengah mempersiapkan pembentukan lembaga wakaf yang akan memperoleh legalitas dari Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Ke depan, aset wakaf akan dimanfaatkan untuk pembangunan asrama mahasiswa serta Rumah Al-Qur'an. Saat ini RZIS UGM juga telah mengelola tiga asrama mahasiswa di kawasan Pogung Dalangan, Pogung Kidul, dan Klebengan. Asrama tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi dan membutuhkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan kampus. Menutup wawancara, Taufik berharap semakin banyak mahasiswa mengetahui keberadaan program beasiswa RZIS UGM sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terhambat menyelesaikan pendidikan karena kendala biaya. "Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan tetapi belum mengetahui informasi beasiswa ini. Karena itu kami berharap publikasi mengenai pembukaan beasiswa RZIS UGM dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan secara optimal," pungkasnya. Penulis : Jelita Agustine Editor   : Gusti Grehenson Foto      : Dok. Humas UGM dan Masjid Kampus

Selengkapnya

Kisah Syahla, Putri Pengemudi Ojek Online Kuliah Gratis di UGM 

Tak hanya menjadi tempat tinggal bagi Syahla Nabilah Junita Wibawa (19) dan keluarganya, rumah sederhana yang berada di Nogotirto, Sleman, ini juga menjadi tempat sang ibu mencari nafkah melalui warung makan sederhana. Sang ibu, Nurjanah (42) berjualan makanan di warung nasi yang juga berlokasi di rumahnya. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata (43) bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di tengah keterbatasan ekonomi dan penghasilan keluarga yang tak menentu, Syahla tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas. Keyakinan itu kini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM. Keberhasilan Syahla diterima berkuliah di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah pencapaian yang ia raih secara instan. Sejak kelas 10 SMA, ia sudah menargetkan untuk menjadi siswa eligible agar memiliki peluang peluang lebih besar lolos ke perguruan tinggi impiannya, yakni UGM. Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” tuturnya, Rabu (24/6). Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan. “Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya. Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal. “Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya. Di tengah kesibukannya, Syahla juga menyempatkan waktu untuk berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah. Bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upayanya untuk memiliki uang saku tambahan dan ingin senantiasa belajar mandiri sejak dini. Kesadaran akan jerih payah kedua orang tua untuk membiayainya sekaligus ketiga saudaranya membuatnya berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa banyak meminta. “Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” ujarnya. Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih. “Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya. Nurjanah mengaku bersyukur atas keberhasilan putri sulungnya diterima di UGM. Menurutnya, semangat belajar Syahla sudah terlihat sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua, ia berupaya mendukung cita-cita anaknya meski harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. “Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” terangnya. Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah. Penulis : Cynthia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine dan Dok.Syahla

Selengkapnya

100 Mahasiswa UGM Terdampak Bencana Sumatra Dapat Bantuan Beasiswa 

Sebanyak 100 mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang keluarganya terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menerima bantuan dari program LPS Peduli berupa pembayaran UKT semester genap tahun akademik 2025/2026 sebanyak Rp1,2 miliar. Bantuan beasiswa ini berasal dari hasil penyelenggaraan Jogja Run-D City 2026 di GIK UGM. (24/5) lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Transmedia ini berhasil diikuti oleh 6000 peserta. Prosesi penyerahan bantuan dilaksanakan di ruang multimedia Gedung Pusat UGM, Jumat (19/6). Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si, M.Sc., menyampaikan ucapan terima kasih pada LPS, Transmedia, dan CNBC Indonesia yang telah membantu mahasiswa yang terkena dampak bencana Sumatra. Bagi Danang bantuan ini menjadi wujud perhatian publik yang menaruh harapan bagi kelancaran kuliah mahasiswa UGM di tengah keterbatasan tetap bisa kuliah dan bisa terus berprestasi.“Artinya mereka punya harapan bahwa anak-anak UGM ini akan menjadi calon pemimpin bangsa masa depan,” jelasnya K.M Nurudin, selaku PLT Direktur Eksekutif Kesekretariat dan Hubungan Lembaga LPS, menuturkan bantuan ini merupakan bagian dari komitmen LPS untuk memajukan dunia pendidikan dan membantu meringankan beban keluarga yang terdampak bencana Sumatra. Ia berharap  bantuan beasiswa ini bisa menjadi sarana edukasi bagi LPS untuk berbagi pengetahuan mengenai literasi keuangan dan stabilitas keuangan kepada masyarakat. “Kami juga berharap dengan adanya kerja sama yang baik dengan UGM, juga melalui pemberian bantuan ini, kami berharap juga menjadi sarana LPS untuk membagikan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya literasi keuangan,” ungkapnya. Harapan yang besar kepada mahasiswa UGM penerima bantuan juga disampaikan oleh Wahyu Daniel selaku CEO CNBC. Dalam sambutannya ia berharap adanya keberlanjutan kegiatan olahraga ini memiliki kebermanfaatan bagi mahasiswa UGM. “Semoga kegiatan ini bisa dilanjutkan mungkin ke depan. Bisa jadi acara tahunan karena ternyata kita juga cukup banyak antusiasme dari peserta di Jogja dan kita berharap bantuan ini bisa bermanfaat buat mahasiswa-mahasiswa UGM” jelasnya. Salah satu mahasiswa penerima bantuan, Fakultas Teknik UGM, Bunga Aya Lalangsa, dari Kota Langsa, Provinsi Aceh, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut membuat dirinya dan keluarganya sangat terbantu. Bantuan ini meringankan beban biaya pendidikan yang harus dibayar orang tuanya di tengah masa pemulihan pasca-bencana, sehingga ia bisa tetap fokus berkuliah. Ia menceritakan kembali bencana yang melanda kampung halamannya tempo hari sempat membuatnya tak bisa menghubungi keluarganya. Bahkan air banjir masuk ke rumahnya dan menyisakan lapisan lumpur yang tebal. Hal ini berdampak pada kondisi perekonomian keluarganya, karena mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk membersihkan rumah, memperbaiki kerusakan, serta mengganti barang-barang yang rusak akibat bencana. “Dengan adanya bantuan beasiswa pendidikan dari LPS, saya sangat terbantu dalam melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan oleh Bunga Bonatua Sinaga, mahasiswa Fakultas Pertanian UGM ini menceritakan bahwa keluarganya turut mengalami penurunan finansial akibat bencana banjir. Tak hanya pendapatan sang ayah sebagai petani jagung dan padi yang merosot, bencana banjir ini berdampak pada rusaknya rumah dan perabotan yang dimiliki Bonatua dan keluarga. Melalui bantuan dari LPS ini, Bonatua menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak terkait yang telah memberikan bantuan tersebut. Ia berharap pihak-pihak terkait dapat terus memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk mahasiswa UGM secara umum, tetapi lebih difokuskan kepada mahasiswa yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan tersebut. “Semoga saya dan teman-teman yang terkena bencana lainnya bisa melanjutkan studi, bisa menjadi seorang sarjana yang pantas dan layak,” harapnya Penulis : Fatihah Salwa Rasyid Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN Mengabdi ke Masyarakat

Universitas Gadjah Mada resmi menerjunkan sebanyak 8.178 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode II Tahun 2026. Upacara penerjunan yang digelar di Lapangan Pancasila UGM pada Jumat (19/6) menandai dimulainya pengabdian mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia selama 50 hari, mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Mahasiswa peserta KKN-PPM akan ditempatkan di 298 unit lokasi yang tersebar di 274 kecamatan, 132 kabupaten/kota, dan 32 provinsi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa didampingi oleh 324 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Koordinator Wilayah (Korwil), serta didukung oleh 199 mitra yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, organisasi masyarakat, dan jejaring alumni UGM. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar sekaligus ruang kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. "Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi wadah pemersatu semangat dan komitmen untuk membangun bangsa melalui pemberdayaan masyarakat. Selama kurang lebih 50 hari, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan belajar langsung dari masyarakat," ujarnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan, keselamatan, serta nama baik almamater selama menjalankan pengabdian di daerah penempatan masing-masing. "Saya yakin kalian akan melaksanakan berbagai program yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan membawa perubahan positif, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," katanya. Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, S.S., M.A., yang hadir dalam acara penerjunan, mengapresiasi konsistensi UGM dalam menjaga hubungan antara kampus dan masyarakat melalui KKN. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendukung agenda industrialisasi desa yang tengah didorong pemerintah. "Desa memiliki potensi besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun jaringan sosial. Namun potensi tersebut harus dirajut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif melalui industri. Saya berharap mahasiswa KKN UGM dapat memberikan ide, inovasi, dan kontribusi nyata untuk mengembangkan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah," ungkapnya. Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa KKN-PPM merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus sarana pembelajaran mahasiswa untuk memahami realitas sosial secara langsung. "KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan otentik untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu membangun empati sosial, menghadirkan solusi bersama masyarakat, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya. Tahun ini KKN-PPM UGM mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim melalui KKN-PPM UGM.” Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, pengelolaan lingkungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, penanganan stunting, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna dan digitalisasi masyarakat. Semangat pengabdian tersebut tercermin dari berbagai tim KKN yang akan bertugas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Papua. Salah satunya adalah Tim KKN Raja Ampat Begisah yang akan bertugas di Kampung Samati dan Waim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Salah seorang anggota tim, Rizki Abdillah, selaku Koordinator unit dari Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan bahwa timnya mengusung sejumlah program unggulan berbasis potensi lokal masyarakat pesisir. "Kami akan mendampingi komunitas nelayan melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pengembangan pemasaran hasil perikanan, serta melanjutkan program pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan yang sebelumnya telah dirintis oleh tim KKN terdahulu," ujarnya. Selain itu, tim juga mengembangkan inovasi pemanfaatan mangrove melalui produksi teh mangrove sebagai produk ekonomi kreatif masyarakat. Di bidang lingkungan, mereka bekerja sama dengan perusahaan lingkungan internasional dan nasional untuk melakukan pengambilan sampel air guna menguji kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat. "Kami ingin memastikan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat karena sebagian sumber air masih terlihat keruh meskipun telah dimasak sebelum digunakan," jelas Rizki. Meski sempat menghadapi tantangan pendanaan karena tidak memperoleh hibah kompetitif, tim Raja Ampat Begisah berhasil memperoleh dukungan dari sejumlah mitra sehingga tetap dapat melaksanakan pengabdian di wilayah tujuan. Sementara itu, Tim KKN Biak Elok yang akan bertugas di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengusung program pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan ekonomi lokal, pariwisata partisipatif, dan infrastruktur hijau. Ketua tim, Sarasvati Baktiantoro dari Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan bahwa lokasi penugasan mereka merupakan wilayah baru yang belum pernah menjadi lokasi KKN UGM sebelumnya. "Kami akan fokus pada community empowerment melalui penguatan UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," ujarnya. Tim KKN Biak Elok telah mempersiapkan keberangkatan sejak September tahun lalu, termasuk membangun jejaring pendanaan dengan berbagai mitra dan perusahaan. Menurut Saras, pengalaman mengabdi di wilayah kepulauan Papua menjadi kesempatan berharga untuk berbagi ilmu sekaligus belajar langsung dari masyarakat. "Kami ingin membawa ilmu yang telah kami peroleh selama kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, kami juga ingin belajar dari pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat," tuturnya. Melalui penerjunan KKN-PPM Periode II Tahun 2026 ini, UGM berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan masyarakat. Lebih dari itu, program KKN diharapkan semakin memperkuat peran UGM sebagai universitas kerakyatan yang hadir dan bertumbuh bersama masyarakat Indonesia. "Kepada seluruh mahasiswa, berangkatlah dengan selamat dan pulanglah dengan selamat. Jaga diri, jaga teman, dan jaga persahabatan dengan masyarakat. Belajarlah bersama rakyat, karena di sanalah banyak pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas," pesan Arie Sudjito. Penulis : Jelita Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto dan Donnie

Selengkapnya

Charity Run MENEFEST 2026, Angkat Semangat Olarhraga dan Kepedulian Sosial

Charity run MENEFEST 2026 telah sukses diselenggarakan dengan meriah yang diikuti oleh 450 pelari dari berbagai kalangan pada Sabtu, (23/05/2026). Charity run ini merupakan salah satu rangkaian acara Management Festival (MENEFEST) 2026 yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Mahasiswa Manajemen (IKAMMA) Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM). Mengusung tema “Endorphins: Steps We Take, Light We Create”, acara ini diharapkan dapat membawa semangat, inspirasi, serta harapan melalui olahraga dan aksi sosial yang dilakukan bersama-sama. Ketua panitia MENEFEST 2026, Dhafa Novendra (Manajemen 2025), mengatakan bahwa charity run tahun ini menghadirkan 2 kategori, yakni 5K dan 10K. Kemudian, acara ini juga menghadirkan seorang guest star, yakni Sabian Tama, seorang influencer pelari di media sosial. Dalam kesempatan ini, Sabian turut berbagi pengalaman dan tips bagi para pelari pemula. Selain meramaikan hari ulang tahun Manajemen FEB UGM melalui perayaan olahraga, MENEFEST 2026 juga mengadakan aksi sosial dengan menyalurkan donasi dari hasil charity run tersebut. Dana yang terkumpul tersebut didonasikan kepada SD Negeri Karangwuni 1 di Depok, Sleman pada Jum'at (29/05/2026). “Hasil charity run ini kami sampaikan kepada pihak SD Negeri Karangwuni 1. Selain itu, kami juga memberikan edukasi gizi kepada para siswa di sana,” terang Dhafa. Melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya mendapatkan manfaat kesehatan dari olahraga, tetapi juga dapat turut berkontribusi dalam kegiatan sosial bagi masyarakat. “Harapannya, setiap orang yang ikut secara tidak langsung juga  berkontribusi kepada kegiatan charity-nya. Jadi, tidak hanya memberikan manfaat kesehatan, tetapi juga dapat memberikan dampak sosial bagi orang lain,” tutup Dhafa. Reportase: Najwa Anggi Namira Foto: Dokumentasi Panitia Menefest Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals    

Selengkapnya

Salurkan Hewan Kurban, UGM Ajak Warga Bungkus Daging dengan Daun Jati

Sebanyak 17 anak-anak dari dusun Wukirsari Imogiri Bantul mengikuti khitanan massal yang diadakan oleh tim pengabdian Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dalam rangka Kegiatan Bakti Sosial dan Penyembelihan Hewan Qurban pada Jumat (29/5) lalu. Selain melakukan khitanan massal, tim pengabdian FKK MK juga menyalurkan hewan kurban dan pemeriksaan gratis di Girimulyo Kulonprogo dan Playen Gunungkidul. Koordinator tim Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., menyampaikan kegiatan bakti sosial dan penyaluran hewan kurban kali ini dilaksanakan agenda tahunan FK-KMK UGM sebagai bagian dari penguatan nilai kepedulian sosial dan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahun ini, FK-KMK UGM menyalurkan tiga ekor sapi dan dua ekor kambing pada tiga kabupaten berbeda yaitu Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul. “Shohibul qurban tidak hanya dosen dan tenaga kependidikan tetapi juga mahasiswa, residen hingga alumni sebagai bentuk dari pengabdian masyarakat,” ucap Supriyati. Supriyati mengatakan bahwa selain penyembelihan hewan kurban juga terdapat kegiatan bakti sosial berupa edukasi dan penyuluhan kesehatan dengan fokus yang berbeda sesuai dengan kondisi masyarakat masing-masing wilayah. Di Kabupaten Bantul tepatnya di Sanggar Among Budoyo Kampung Pramuka, Wukirsari, Imogiri, FK-KMK UGM berkolaborasi dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Sahabat Pemerhati Difabel (LKS SAPADIFA). FK-KMK UGM menyalurkan satu ekor sapi dan satu ekor kambing. “Edukasinya mulai dari skrining reproduksi, USG, urologi, hingga pemeriksaan gigi dan mulut. Diadakan juga khitanan massal yang memiliki 17 orang pendaftar,” katanya. Selanjutnya di Kabupaten Kulon Progo, tepatnya di Mushola Al Mu’minun, Patihombo, Girimulyo disalurkan satu ekor sapi sekaligus memberikan edukasi dan penyuluhan terkait kesehatan mental anak dan gizi pada anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) setempat sekaligus mengajak warga memilih menggunakan daun jati sebagai pembungkus daging kurban yang ramah lingkungan. Hal serupa juga dilakukan di Gunung Kidul yang menggunakan daun jati sebagai pembungkus daging kurban. Berlokasi di PS Lentera Keluarga, Getas, Playen, Gunung Kidul,  FK-KMK UGM menyalurkan satu ekor sapi dan satu ekor kambing Edukasi yang dilakukan di wilayah ini yaitu pemeriksaan kesehatan seperti kolesterol, gula darah, dan asam urat pada lansia setempat. Melalui momentum idul adha seperti ini, Supriyati berharap kegiatan ini dapat mengasah kepedulian terhadap sesama dengan berbagi kebahagiaan dan ilmu yang dimiliki oleh dosen dan mahasiswa FK-KMK UGM. “Kegiatan ini merupakan salah satu cara dengan mengedepankan kebersihan daging qurban dan tetap ramah lingkungan dengan membungkus daging menggunakan daun jati dan besek. Hal ini sejalan dengan misi UGM sebagai kampus sehat yang berdampak kepada masyarakat sekitar,” katanya. Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes selaku ketua panitia kegiatan ini juga berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan kebahagiaan terhadap sesama dan meningkatkan inklusivitas melalui kolaborasi. “Mudah-mudahan adanya kurban ini dapat membahagiakan hati dan psikologis para penyandang difabel yang turut menghadiri kegiatan ini,” tuturnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok.Supriyati dan FK-KMK UGM

Selengkapnya

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

IMAGRO Selenggarakan GEMATI x Petani Mengajar 2026 untuk Kenalkan Pertanian kepada Anak Panti Asuhan

BANTUL – Ikatan Mahasiswa Agronomi (IMAGRO) menyelenggarakan kegiatan GEMATI (Gerakan Bantu Petani) x Petani Mengajar (PM) 2026 sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya mengenalkan dunia pertanian kepada anak-anak panti asuhan sejak dini. Kegiatan ini dilaksanakan pada Jumat (24/4/2026) di Panti Asuhan Mustika Tama. Kegiatan diawali dengan penyerahan donasi hasil penggalangan dana kepada pihak panti asuhan sebagai bentuk dukungan dan kepedulian sosial dari mahasiswa. Selain itu, panitia juga memberikan plakat sebagai kenang-kenangan kepada pihak panti asuhan atas kerja sama yang telah terjalin dalam kegiatan tersebut. Melalui program Petani Mengajar, anak-anak diajak mengenal dunia pertanian melalui penyampaian materi sederhana yang dikemas secara santai dan interaktif. Mahasiswa IMAGRO memperkenalkan pentingnya pertanian dalam kehidupan sehari-hari serta mengajak peserta untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan tanaman. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aktivitas kreatif berupa menghias pot menggunakan cat akrilik dan menanam tanaman sukulen bersama. Anak-anak tampak antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan, terlebih dengan adanya berbagai sesi ice breaking yang membuat suasana semakin hangat dan menyenangkan. Melalui kegiatan GEMATI x Petani Mengajar 2026, IMAGRO berharap anak-anak panti asuhan dapat memperoleh pengalaman baru yang edukatif dan menyenangkan, sekaligus menumbuhkan kreativitas, rasa peduli, dan ketertarikan terhadap dunia pertanian sejak usia dini. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui kegiatan edukasi interaktif, SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui lingkungan belajar yang positif dan menyenangkan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Penulis : Nurul Ahati Editor : Niken Nabilaputri Pranaasri, S.P., M.Agr. Foto : IMAGRO