BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Fakultas Farmasi UGM Berdayakan Srikandi Desa Kulon Progo melalui Pengembangan Produk Farmasi Berbasis Empon-Empon

Kulon Progo, 9 Mei 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Kulon Progo untuk Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol” di Kelurahan Hargotirto, Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Program EQUITY Community Development 2026 dari Universitas Gadjah Mada menghadirkan inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Hargotirto, Kulon Progo dalam Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol.” Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis riset aplikatif yang dilaksanakan dengan dukungan kolaborator internasional. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan perempuan desa, khususnya kelompok istri petani yang tergabung dalam Srikandi Desa, melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman, bermutu, dan bernilai ekonomi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Equity Universitas Gadjah Mada, sekaligus komitmen Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pengembangan kesehatan masyarakat berbasis potensi lokal sekaligus memperkuat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Istilah “Srikandi Desa Hargotirto” mencerminkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pemberdayaan di wilayah tersebut. Sejak tahun 2010, Desa Hargotirto dikembangkan sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, dengan salah satu fokus utama pada penguatan peran perempuan. Hingga kini, terdapat 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan produktif, bahkan salah satunya telah meraih prestasi Juara I tingkat kabupaten. Pengembangan produk berbasis empon-empon dipilih karena Kabupaten Kulon Progo dikenal sebagai salah satu sentra utama empon-empon di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi empon-empon di wilayah ini sangat dominan dibandingkan kabupaten/kota lainnya, terutama untuk komoditas jahe yang kontribusinya mendekati sebagian besar produksi daerah. Komoditas empon-empon yang dikembangkan antara lain jahe, kencur, kunyit, temu ireng, temu kunci, lengkuas, dan temulawak. Komoditas jahe dipilih karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku produk herbal. Namun demikian, pengelolaan pascapanen serta standardisasi mutu berbasis kandungan senyawa aktif masih menjadi tantangan di tingkat masyarakat. Salah satu fokus utama program ini adalah penetapan mutu jahe berbasis kandungan senyawa aktif. Jahe diketahui mengandung senyawa bioaktif penting seperti 6-shogaol dan 6-gingerol yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antidiabetik. Namun demikian, selama ini penilaian mutu jahe di tingkat masyarakat masih lebih banyak didasarkan pada aspek fisik, belum mengacu pada kandungan senyawa aktif sebagai parameter ilmiah. Melalui program ini, tim pengabdian memperkenalkan penetapan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol sebagai parameter ilmiah untuk menjamin kualitas produk olahan empon-empon. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 9 Mei 2026 meliputi sosialisasi program, pelatihan dan focus group discussion (FGD), serta workshop dan praktik langsung pengolahan jahe. Peserta memperoleh pendampingan terkait teknik pengolahan pascapanen, pembuatan sediaan herbal sederhana, hingga penerapan teknologi tepat guna skala rumah tangga untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Selain penguatan kapasitas teknis, program ini juga mendorong pembentukan kelompok kerja perempuan sebagai unit produksi berbasis masyarakat yang diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut diperkuat melalui kolaborasi internasional guna mendukung transfer pengetahuan, inovasi, serta keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Menurut Prof. Agung Endro Nugroho selaku Ketua Program EQUITY Pengabdian kepada Masyarakat Farmasi UGM 2026, pendekatan berbasis sains ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk empon-empon sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya kelompok perempuan di Desa Hargotirto. Melalui program ini, Fakultas Farmasi UGM menargetkan tercapainya peningkatan kapasitas minimal 20 peserta perempuan desa, tersusunnya panduan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol, serta dihasilkannya produk olahan jahe yang berkualitas dan memiliki nilai tambah ekonomi. Program ini sejalan dengan beberapa tujuan SDGs, di antaranya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman dan bermutu, SDG 5 (Gender Equality) melalui pemberdayaan perempuan desa sebagai aktor utama pengembangan produk herbal, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan ekonomi masyarakat desa, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan produksi herbal yang terstandar dan berkelanjutan. Penulis: Rizqi Vazrin | Editor: Fathul | Foto: Rizqi Vazrin

Lanjut Baca

Peringkat 1 di Indonesia, Bidang Ilmu Studi Pembangunan dan Ilmu Politik UGM Tembus 100 dan 200 Top Dunia

Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM kembali mencatatkan prestasi gemilang dalam pemeringkatan QS World University Ranking (WUR) by Subject 2026. Dua bidang ilmu di bawah naungan Fisipol berhasil menembus jajaran 100 dan 200 besar dunia. Bidang development studies mencatatkan kenaikan signifikan dengan masuk dalam peringkat 50-100 besar dunia. Sementara itu, bidang politics & international studies, tetap konsisten berada di jajaran 150-200 besar dunia. Untuk bidang ilmu Development Studies, UGM berada di peringkat 1 di Indonesia diikuti oleh UI yang berada di peringkat 2 dan 101-150 dunia. Sementara dari dalam bidang ilmu Politic and international studies, UGM berada di peringkat 1 di Indonesia, diikuti oleh UI, Unair dan Universitas Hasanudin. Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fisipol UGM, Prof. Poppy Sulistyaning Winanti menyatakan bahwa keberhasilan ini bukan semata-semata bertolak dari kerja satu program studi, melainkan hasil kolaborasi interdisipliner. “Pembagian QS by Subject tidak secara kaku sejalan dengan pembagian prodi di UGM. Sebagai contoh, development studies diisi oleh berbagai prodi dengan konsentrasi serupa. Ini bukti bahwa pendekatan interdisipliner dan multidispiliner di UGM relatif berhasil,” ujarnya, Selasa (7/4) Poppy menekankan bahwa kerangka berpikir kolaborasi harus terus ditingkatkan untuk memperkuat kontribusi dan reputasi akademik di tingkat global. Ia menjelaskan bahwa selama ini sejumlah langkah strategis untuk mendongkrak reputasi internasional dan berdampak langsung pada civitas terus dilakukan, misalnya kontribusi aktif Fisipol dalam Global Humanities Alliance (GHA). “Fisipol menjadi bagian dari aliansi studi-studi humaniora secara global yang melibatkan delapan universitas dari berbagai macam negara. Kami mengembangkan berbagai macam kerja sama, mulai dari menyelenggarakan seminar, bidding research grant, dan lain sebagainya,” terangnya. Lebih lanjut, Prof. Poppy menjelaskan bahwa melalui aliansi GHA, Fisipol turut mengembangkan riset yang selaras dengan topik utama penelitian fakultas. “Beberapa isu strategis yang menjadi fokus kajian bersama mitra internasional tersebut, meliputi sustainability, respons terhadap climate change, demokrasi, public humanities, hingga decolonizing knowledge,” jelasnya. Sementara itu, guna memperkuat ekosistem akademik di sisi internal, Fisipol juga rutin mengundang sejumlah pakar terkemuka dunia untuk menjadi dosen tamu. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jaringan riset sekaligus memperkenalkan keunggulan akademik fakultas. “Kehadiran pada visiting fellows ini menjadi instrumen penting bagi kami membangun reputasi akademik. Selain itu, kami juga terus mengembangkan berbagai program joint courses dengan mengundang pakar sebagai dosen tamu,” jelasnya. Lebih lanjut, mengamati hasil dari tiap subjek dalam penelitian, Poppy mengakui tantangan terbesar berada pada peningkatan H-index dan produktivitas publikasi internasional. Untuk mengatasinya, ia menjelaskan bahwa fakultas telah menjalankan skema hibah riset kompetitif selama lebih dari 10 tahun yang mewajibkan kolaborasi dengan peneliti atau dosen asing yang bereputasi. “Hasil dari riset kolaboratif itu nantinya akan meningkatkan H-indeks dosen-dosen Fisipol UGM,” tambahnya. Kemudian, dalam upaya menangkap semangat zaman, Fisipol UGM terus mempercepat transformasi digital, terutama dalam menghadirkan pakar internasional ke ruang kelas. Prof. Poppy menjelaskan bahwa sejak masa pandemi, Fisipol telah mengembangkan Learning Management System (LMS) mandiri yang bernama Focus. “Ketika dosen asing mengisi kelas, kita kelola juga secara online. Pemaparan tersebut kami digitalisasikan melalui Focus untuk kebutuhan perkuliahan yang tidak hanya saat itu, tetapi juga jangka panjang,” pungkasnya. Lebih dalam, meski terus memacu reputasi internasional, Fisipol UGM menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak boleh membuat universitas melupakan fungsi dasarnya. Poppy menekankan bahwa upaya meningkatkan peringkat global dan kontribusi nyata kepada masyarakat harus berjalan secara paralel. “Reputasi global itu penting. Akan tetapi, bukan berarti kita melupakan fungsi perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan konkret yang dihadapi masyarakat. Semua harus saling menopang sesuai dengan nilai tridharma,” pungkasnya. Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Humas UGM

Selengkapnya

Menerjang ‘Ombak’ Ketimpangan Pelayanan Kesehatan di Bumi Sumekar

Di ujung timur Pulau Madura, Kabupaten Sumenep yang meliputi ratusan kepulauan kecil, terdapat paradoks layanan kesehatan, terlebih pelayanan kesehatan gigi. Secara administratif bagian dari Propinsi Jawa Timur, namun secara realitas geografis dan akses layanan, menyerupai wilayah terpencil wilayah Indonesia timur. Dengan 126 pulau yang sebagian besarberpenghuni dan tersebar berjauhan, tantangan pelayanan kesehatan di Kabupaten Sumenep bukan sekadar soal fasilitas, tetapi juga tentang tekad & keberanian menembus deburan ombak menuju layanan kesehatan masyarakat yang memadai. Bentang Alam Menguji Integritas Bangsa Perjalanan menuju salah satu wilayah terluar seperti Masalembu bisa memakan waktu hingga 18 jam perjalanan laut. Bahkan dari pusat kabupaten ke rumah sakit di Pulau Kangayan, masih dibutuhkan waktu tambahan berjam-jam, baik melalui laut maupun udara yang terbatas frekuensinya.  Kondisi ini menciptakan realitas keras, akses terhadap layanan kesehatan bukan hanya soal biaya, tetapi soal jarak, cuaca, dan ketersediaan transportasi. Rabu, 1 April 2026 FKG UGM menerima kunjungan kemitraan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep yang diawaki oleh: Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep drg. Ellya Fardasah, M.Kes. Moh Nur Insan, S.Kep., M.Kes (Kepala Bidang-Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) Deddi Wahyono, S.Kep.Ners (Analisis Penanggulangan Krisis Kesehatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep),  Syarifa Ainun, S.K.M. (Pengelola Program dan Kegiatan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) drg. Azmi Fauzan Nurwansyah (Dokter Gigi Puskesmas Pasongsongan Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Sumenep) diterima oleh Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D, Wakil Dekan Bidang Kerja Sama, Pengabdian Masyarakat, & Riset, drg. Triana Wahyu Utami, MDSc, Ph.D) Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Dr. drg. Rosa Amalia, M.Kes. Wakil Dekan Bidang SDM, Keuangan, Aset. IT drg. Heribertus Dedy Kusuma Yulianto, M.Biotech., Ph.D, Kepala Unit Kerja Sama FKG UGM drg. Raras Ajeng Enggardipta, Sp.KG, PhD. Kepala Departemen Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Cahya Yustisia Hasan, Sp.B.M.M., Subsp. C.O.M.(K). Kaprodi Bedah Mulut & Maksilofasial drg. Pingky Krisna Arindra, Sp.B.M.M.Subsp.Ped.O.M.(K) beserta staf FKG UGM berlangsung dengan penuh antusias terkait ketimpangan kondisi khususnya pelayanan kesehatan gigi yang masih jauh dari harapan. Dalam situasi darurat, keterlambatan rujukan bukan pengecualian, melainkan risiko sistemik. Ketika gelombang tinggi menghambat kapal, bahkan suplai oksigen pun terancam terhenti, sebuah ironi di tengah komitmen Universal Health Coverage (UHC) yang telah dicanangkan pemerintah daerah. Krisis yang Lebih Dalam: Kelangkaan Dokter Spesialis Masalah utama bukan hanya infrastruktur, tetapi kekurangan akut tenaga medis spesialis, khususnya di bidang kedokteran gigi spesialistik seperti bedah mulut. Rumah Sakit Abuya yang melayani sekitar 100 ribu penduduk kepulauan tidak terdapat satu pun dokter gigi spesialis. Bahkan di wilayah daratan Sumenep, jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya, pasien dengan kasus kompleks harus dirujuk ke kota lain seperti Surabaya sebuah proses yang mahal, lama, dan berisiko tinggi. Padahal, secara kebijakan, layanan sudah “gratis” melalui BPJS. Namun dalam praktiknya, ketiadaan tenaga spesialis membuat jaminan kesehatan kehilangan makna substansinya. Ketika Regulasi Tidak Membaca Realitas Ironi semakin dalam ketika kebijakan pusat tidak sepenuhnya sinkron dengan kondisi daerah. Sumenep, meski memiliki karakteristik kepulauan ekstrem, tidak dikategorikan sebagai daerah terpencil secara administratif, sehingga tidak memenuhi syarat penempatan residen dokter. Akibatnya, skema distribusi tenaga medis berbasis pendidikan yang seharusnya menjadi solusi tidak dapat dimanfaatkan. Ini menunjukkan satu hal krusial: standar nasional sering kali gagal menangkap kompleksitas lokal, sehingga kebijakan menjadi kaku dan tidak adaptif. Strategi Bertahan: Dari Beasiswa hingga “Kontrak Moral” Menghadapi kebuntuan struktural, pemerintah daerah memilih jalur alternatif: Mengirim dokter untuk sekolah spesialis melalui beasiswa. Memberikan insentif tinggi (hingga puluhan juta rupiah) bagi tenaga medis yang bersedia bertugas di kepulauan. Merancang skema pendidikan bagi putra daerah dengan harapan mereka akan kembali mengabdi. Namun strategi ini tidak tanpa risiko. Pengalaman menunjukkan bahwa tidak semua dokter yang disekolahkan kembali ke daerah asal, meskipun telah menandatangani komitmen. Fenomena ini membuka dilema etis sekaligus struktural:Apakah cukup dengan kontrak formal untuk menjamin distribusi tenaga kesehatan?Ataukah diperlukan pendekatan yang lebih sistemik—mengikat secara sosial, ekonomi, dan profesional? Meretas Harapan Sinergitas Kampus dan Pemerintah Daerah Kerja sama dengan institusi pendidikan seperti UGM menjadi titik terang. Tidak hanya dalam bentuk pendidikan dokter spesialis, tetapi juga potensi: Pengiriman tenaga medis berbasis supervisi, program pengabdian Masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan model kolaborasi resiprokal di mana daerah tidak hanya menjadi “objek”, tetapi juga mitra aktif dalam sistem pendidikan kesehatan. Dimensi Sosial: Ketika Sakit adalah Urusan Kolektif Di tengah segala keterbatasan, masyarakat Sumenep memiliki kekuatan sosial yang unik. Dalam budaya lokal, ketika satu orang sakit, seluruh komunitas ikut terlibat, sebuah solidaritas yang menjadi penyangga di tengah lemahnya sistem formal. Namun solidaritas sosial tidak bisa menggantikan peran negara. Negara Harus Hadir Secara Nyata Kasus Sumenep mengungkap problem klasik pembangunan Indonesia, ketimpangan bukan hanya antar wilayah, tetapi juga antara kebijakan dan kenyataan. Beberapa poin kritis yang perlu dicermati: Reklasifikasi daerah terpencil harus berbasis realitas geografis, bukan administratif semata. Distribusi tenaga kesehatan perlu pendekatan insentif + kewajiban yang lebih kuat dan terukur . Desentralisasi kebijakan kesehatan harus memberi ruang adaptasi bagi daerah kepulauan . Investasi jangka panjang pada SDM lokal menjadi solusi paling berkelanjutan. Apakah keadilan kesehatan di Indonesia benar-benar merata? Sumenep bukan sekadar cerita tentang daerah pinggiran, hal ini adalah cermin dari pertanyaan besar. Di tengah gelombang laut dan keterbatasan akses, perjuangan tenaga kesehatan dan pemerintah daerah menjadi bukti bahwa harapan tetap ada. Namun tanpa reformasi kebijakan yang lebih adaptif dan berpihak, perjuangan itu akan terus berjalan di tempat. Dan bagi masyarakat di pulau-pulau kecil itu, waktu bukan sekadar angkamelainkan penentu antara hidup dan kehilangan. (Reporter & Fotografi: Andri Wicaksono)

Selengkapnya

MBA SA Care: Berbagi Kebahagiaan Ramadan Bersama Anak Panti Asuhan

Program Studi Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melalui MBA Student Association (MBA SA) menyelenggarakan kegiatan sosial “BERBAGI: Buka Bersama, bagi Kasih, Kebahagiaan, dan Kepedulian untuk Sesama”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 5 Maret 2026 di Leadership Hall MBA FEB UGM Yogyakarta sebagai bagian dari rangkaian kegiatan berbagi di bulan suci Ramadan. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara MBA Student Association (MBA SA) 20.0, FORKIS, dan KMK, yang bertujuan menghadirkan momen kebersamaan melalui acara buka puasa bersama dengan anak-anak dari Panti Asuhan Sayap Ibu. Melalui kegiatan ini, mahasiswa MBA FEB UGM tidak hanya berbagi hidangan berbuka, tetapi juga menghadirkan ruang kebersamaan yang penuh kehangatan, kebahagiaan, dan kepedulian. Menjelang pelaksanaan acara, panitia membuka periode donasi pada 22 Februari hingga 3 Maret 2026. Donasi dihimpun dari berbagai pihak yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan berbagi ini. Antusiasme para donatur cukup tinggi, tercermin dari 42 donatur yang berkontribusi, baik secara individu maupun kolektif. Dari proses penggalangan dana tersebut, panitia berhasil mengumpulkan total Rp11.500.000. Dalam kesempatan tersebut, Deputy Director of MBA FEB UGM Yogyakarta, Luluk Lusiantoro, S.E., M.Sc., Ph.D., turut menyampaikan sambutan sekaligus memberikan motivasi kepada anak-anak panti asuhan. Ia berharap anak-anak yang hadir tetap semangat belajar dan berani meraih cita-cita. Dalam sambutannya ia menyampaikan, “Siapa tahu nanti teman-teman bisa bergabung bersama kami, sekolah di sini. Aamiin ya. Mudah-mudahan kakak-kakak dan adik-adik semua di sini menjadi pemimpin yang bermanfaat dan juga bermanfaat untuk sesama,” ujar Luluk. Sementara itu, Muhammad Nadhif Daffa Priyansa, selaku CEO MBA SA 20.0, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas kehadiran anak-anak dari Panti Asuhan Sayap Ibu. Dalam sambutannya, ia berharap kegiatan kolaborasi ini dapat menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan serta menumbuhkan semangat berbagi di bulan Ramadan. “Senang sekali saya dapat berdiri di sini menyambut teman-teman, terutama dari Panti Sayap Ibu. Saya berharap melalui event kolaborasi ini kita dapat bersama-sama berdonasi, berbuka puasa bersama, dan merayakan kebahagiaan di bulan suci ini. Saya juga berharap kegiatan seperti ini dapat terus terjaga dan dilaksanakan di masa mendatang,” ujar Nadhif. Feri Rahmawan, M.A., selaku Kepala Panti 3 – Panti Disabilitas Kemandirian Terlantar Yayasan Sayap Ibu Cabang DIY, turut menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas undangan serta perhatian yang diberikan kepada anak-anak panti dalam kegiatan tersebut. “Saya mewakili Ketua Umum Panti Asuhan Sayap Ibu mengucapkan banyak terima kasih karena kami diundang pada kesempatan sore hari ini. Sekali lagi terima kasih, semoga anak-anakku semua tetap semangat mengikuti acaranya,” ujar Feri. Kegiatan MBA SA Care diisi dengan berbagai rangkaian acara yang menghadirkan suasana hangat dan penuh keceriaan seperti mengikuti beragam games seru yang melibatkan interaksi antara mahasiswa dan anak-anak panti asuhan, sehingga menciptakan momen kebersamaan yang dipenuhi tawa dan kegembiraan. Selain itu, juga ada pembacaan ayat suci Al-Quran. Acara ini juga turut dimeriahkan dengan tausiah dongeng inspiratif yang disampaikan oleh Mohammad Johari, S.Pd. Reporter : Fitrianti Rizqi A, Raina Satmika D Editor : Ayu Aprilia

Selengkapnya

Cerita Mahasiswa Jepang Ikut Mengabdi di Desa

Sebanyak 5 orang mahasiswa asal Jepang bersama 14 mahasiswa UGM berkolaborasi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat selama 10 hari di Imogiri, Bantul. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan sebagai wujud penguatan kolaborasi internasional serta pembelajaran berbasis pengabdian pada masyarakat melalui pembelajaran lintas budaya melalui Program pertukaran mahasiswa Six University Initiative Japan Indonesia - Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026. Kelima mahasiswa Jepang ini terdiri dari mahasiswa dari Ehime University, 1 mahasiswa dari Kagawa University, dan 1 mahasiswa dari Kochi University. Sedangkan 14 mahasiswa UGM dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Ryoma, mahasiswa asal Jepang dari Kagawa University, menyampaikan pengalamannya melihat perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia selama mengikuti kegiatan di Imogiri, Bantul. Menurut Ryoma, salah satu hal yang paling ia rasakan selama mengikuti program tersebut adalah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun dalam budaya makanan. Selain itu, ia menyampaikan terdapat pula tantangan yang ditemuinya berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat mengenai permasalahan pertanian, khususnya terkait hama pada tanaman padi. “Saya tertarik pada permasalahan padi di desa tersebut. Dari wawancara dengan beberapa warga, saya menemukan adanya perbedaan pendapat mengenai hama tanaman padi dan cara penanganannya, sehingga hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memahami kondisi yang sebenarnya,” tutup Ryoma dalam Closing Ceremony & Farewell Dinner yang digelar pada Kamis (5/3) di Operation Room, Gedung Unit I, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kegiatan penutupan ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama mengikuti program pengabdian masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul. Selama program berlangsung, mahasiswa melakukan observasi desa dan wawancara dengan warga untuk memahami kondisi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai kegiatan budaya bersama masyarakat seperti lokakarya eco-print, membuat makanan ringan Indonesia, belajar membatik, hingga memainkan gamelan. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi peternakan domba, serta mempelajari pembuatan jamu dan tempe bersama warga desa. Menanggapi presentasi mahasiswa, Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional UGM, Tyas Ikhsan Himawan, S.Si., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam program SUIJI-SLP 2026. Ia menambahkan bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi universitas. “Di UGM kami sangat menghargai program kolaborasi internasional karena kami menyadari bahwa dengan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang akan memberikan dampak yang lebih besar, tidak hanya di bidang akademik dan riset tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan pedesaan dan praktik pertanian melalui adanya kolaborasi lintas negara ini. Ia menilai bahwa interaksi mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Jepang selama kegiatan pengabdian merupakan langkah awal dalam mewujudkan berbagai gagasan dalam meningkatkan praktik pertanian dan kehidupan masyarakat desa. “Kalian belajar tidak hanya tentang pertanian tetapi juga kehidupan pedesaan serta hubungan sosial masyarakat desa, dan pada akhirnya kalian dapat bekerja sama untuk mengusulkan berbagai ide guna meningkatkan kehidupan masyarakat desa dan praktik pertanian di lapangan,” tuturnya. Assoc. Prof. Dr. Kazuya Masuda, selaku pendamping program SUIJI-SLP 2026 dari Kochi University, juga turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan selama program berlangsung. Ia berharap berjalannya program ini dapat menjadi momentum awal terjalin hubungan erat antara mahasiswa dari kedua negara dapat terus dipertahankan hingga setelah program berakhir. “Saya telah berpartisipasi dalam program ini sejak 2017. Setiap kali mengikuti program ini, saya selalu menemukan hal baru. Terima kasih banyak karena telah menerima kami dan juga atas dukungan yang baik serta keramahan yang hangat. Semoga kedepannya para mahasiswa dapat terus menjaga komunikasi dan persahabatan yang telah terjalin melalui program ini,” ujarnya. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dari Indonesia dan Jepang yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Ia menilai program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, serta berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi dan kepemimpinan global di masa depan. “Lebih dari sekadar kegiatan akademik. Program ini menjadi wadah pembelajaran lintas budaya dan saling memahami, di mana mahasiswa tidak hanya belajar dari ruang kelas tetapi juga langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, dan berbagai tantangan nyata terkait keberlanjutan,” tuturnya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine

Selengkapnya

Peneliti CHBP FK-KMK UGM Dorong Akses Air Minum Aman di Nusa Tenggara Timur

Komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals kembali diwujudkan melalui langkah nyata di wilayah timur Indonesia. Dr. Daniel, M.Sc., peneliti dari Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) memperoleh hibah internasional dari Kurita Water and Environment Foundation (KWEF) Jepang untuk melakukan penelitian terkait penggunaan Klorinasi untuk air minum aman pedesaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian ini bekerja sama dengan LSM Way Mitra Indonesia / WMI (disebut juga Water Mission) yang berasal dari Amerika Serikat.  Dalam rangkaian kegiatan penelitian, Dr. Daniel mengunjungi empat desa intervensi WMI di Kabupaten Kupang. Di lokasi tersebut, ia melakukan survei rumah tangga kepada para pengguna air minum berklorinasi untuk menggali persepsi dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan air yang telah melalui proses klorinasi. Pendekatan ini penting untuk memahami bahwa keberhasilan teknologi air bersih tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh faktor sosial dan perilaku. Selain survei kuantitatif, dilakukan pula wawancara mendalam dengan para pengelola sistem air di desa-desa tersebut. Sebagai pelengkap, tim Dr. Daniel juga melakukan kunjungan lapangan ke beberapa desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, untuk melihat penyediaan air bersih di wilayah-wilayah pelosok dan sulit air.  Rangkaian kegiatan penelitian ditutup dengan workshop dan diskusi kebijakan mengenai tata kelola serta pembiayaan layanan air minum di NTT yang melibatkan perwakilan pemerintah provinsi dan organisasi non-pemerintah. Workshop dibuka oleh Kepala Bapperida Provinsi NTT, Dr. Alfonsus Theodorus, S.T., M.T., dan ditutup oleh Direktur Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kementerian PPN/Bappenas, Mahatmi Parwitasari Saronto, ST, MSIE. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyinergikan temuan riset dengan perencanaan pembangunan daerah, sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada tataran akademik, melainkan terintegrasi dalam kebijakan publik. Secara substansial, kajian ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan keberlanjutan layanan air minum di wilayah-wilayah terpencil, khususnya di NTT. Upaya yang dilakukan selaras dengan SDG 6 yang menargetkan akses universal dan merata terhadap air minum yang aman dan terjangkau bagi semua. Lebih jauh, akses air minum yang layak juga beririsan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, dimana ketersediaan air bersih berperan penting dalam mencegah penyakit berbasis lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas sektor, riset yang dilakukan Dr. Daniel menjadi bukti bahwa penguatan sistem air minum pedesaan adalah fondasi penting bagi pembangunan kesehatan yang berkelanjutan. (Ragil Suciningsih/Nia Lestari Muqarohmah)

Selengkapnya

Sambut Ramadhan di Kampus, Rektor UGM dan Ustaz Wijayanto Ajak Perkuat Kepedulian Sosial

Ibadah puasa di bulan ramadhan, tidak sekedar hanya menahan haus dan lapar dari sejak sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam. Namun lebih dari itu, puasa mengajarkan umat muslim untuk melahirkan kepedulian sosial terhadap sesama.“Kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Begitu pula, bila kamu tidak ingin kelaparan, jangan biarkan orang lain kelaparan. Itulah esensi puasa, yakni melahirkan kepedulian sosial yang nyata,” papar Ustaz Drs. H. Wijayanto, M.A., dalam orasi syiar pada Grand Opening Ramadhan UGM 2026 yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, Selasa, (17/2). Wijayanto menegaskan bahwa Islam mengutamakan kesimbangan antara pemenuhan kebutuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Allah Swt. sehingga puasa bukan sekadar tentang menyiksa diri, melainkan mendidik diri. “Islam adalah adalah agama moderat. Puasa sejatinya bukan untuk membunuh nafsu, melainkan untuk mengendalikan nafsu sementara. Sejak saat itu, dilarang melakukan puasa wishal atau puasa sambung. Maka ketika berpuasa disegerakan berbuka dan akhirkanlah sahur,” ungkapnya. Dikatakan Wijayanto, bulan Ramadhan merupakan bulan mulia yang kedatangannya senantiasa dirindukan, sebagaimana tradisi para sahabat Nabi terdahulu. “Para sahabat bahkan telah memanjatkan doa selama enam bulan lamanya demi mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Hal ini karena Ramadhan adalah karim,” ujarnya. Lebih mendalam, Ustaz Wijayanto mengupas tuntas akar kata karim yang melekat pada bulan suci ini. Ustaz Wijayanto menjelaskan bahwa terminologi karim bukan sekadar label kemuliaan biasa, melainkan cerminan kekaguman yang luar biasa pada sebuah hal. Melengkapi dimensi historisnya, Ustaz Wijayanto menjelaskan bahwa pada bulan Syakban tahun kedua Hijriyah, turun empat perintah yang menjadi fondasi spiritual umat. Perintah-perintah tersebut antara lain mengenai peralihan arah kiblat, penetapan nisab zakat, anjuran bershalawat, serta tuntunan birrul walidain atau berbakti pada orang tua. Oleh karena itu, ia pun memberikan mengingatkan kaitan soal ibadah puasa dan adab kepada orang tua. “Gagal orang berpuasa, jika memiliki orang tua tapi tidak menjadikannya jalan untuk menuju surga. Jadikanlah orang tua sebagai wasilah menuju surga. Maka aneh jika seseorang berpuasa tapi puasanya tidak disempurnakan. Misalnya saja, zakatnya tidak jelas, shalawat pun tidak pernah, dan tidak memiliki hormat kepada orang tua,” tegas Wijayanto. Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan grand opening ramadhan sebagai pembuka rangkaian kegiatan Ramdhan di Kampus. Menurutnya, momen ramadhan ini adalah titik awal pembersihan jiwa dimana makin menguatkan karakter civitas akademika yang semakin inklusif dan berdampak. “Karakter inklusif dan berdampak yang menjadi frasa yang sering didengarkan dan diucapkan. Namun bagaimana pengejawantahan makanya dalam laku hidup keseharian, tentu menjadi bahan diskusi dan renungan kita bersama,” katanya. Ia mengajak para hadirin yang hadir untuk bersama-sama menyambut bulan Ramadhan yang penuh ampunan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amalan yang bisa berdampak bagi diri sendiri dan orang lain. “Mari kita sambut bulan penuh ampunan ini. Bulan yang selalu memberikan pembaruan iman dan benih-benih kesadaran dalam setiap amalan serta renungan yang kita jalankan selama hampir sebulan ke depan,” pungkasnya. Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Fristo

Selengkapnya

UGM Provides Free Health Checkups for Persons with Disabilities

A total of 170 people with disabilities took part in a free health checkup program held during a social service activity organized by the Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing of Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) on Sunday (Feb. 1) at Graha Agung, Bantul, Special Region of Yogyakarta. The activity was conducted as part of the 80th Anniversary and the 16th Lustrum of FK-KMK UGM under the theme “Compassion in Action, Empowering Lives,” in collaboration with UGM Academic Hospital (RSA UGM) and Sahabat dan Pemerhati Difabel dan ODGJ (Sapadifa). Dr. Supriyati, Coordinator of the FK-KMK UGM Community Service Team, stated that this community service activity reflects UGM’s commitment as an inclusive and health-promoting university to improve public health standards. To ensure the program’s success, the faculty collaborated with partners who have consistently contributed to the initiative over the past three years.  “This collaboration has been ongoing for three years, and we hope it will continue as a form of participation in supporting a healthier community,” Dr. Supriyati said in a statement released to the media on Tuesday (Feb. 3). Meanwhile, Ade Febrina Lestari, representing the board of directors of RSA UGM, welcomed the activity and expressed strong support, particularly for the provision of health services for children with disabilities. She emphasized that every child has the right to receive optimal support for growth and development.  “Disabilities should never be a reason for a child to be denied the same and equal services as other children. This is where the role of families and the surrounding environment becomes crucial in ensuring the fulfillment of children’s rights and access to facilities,” the paediatrician said. During the one-day health checkup, persons with disabilities attended the activity accompanied by their family members. In addition to free medical examinations, FK-KMK UGM also provided health education services and distributed basic food packages to persons with disabilities and their accompanying families.  “While waiting in line, participants were invited to attend educational sessions on superflu, allowing this social service activity to also serve as an informative space for health learning,” Dr. Supriyati explained. Sulis, one of the participants from Imogiri, Bantul, shared that she has lived with a disability since 2011 due to a chronic tuberculosis infection. She expressed her happiness at being able to participate in the free health checkup organized by UGM. According to her, the examination helped her better understand the development of her condition, especially as she continues to work despite relying on a wheelchair. “We are very happy. Through this checkup, we better understand our health issues and the steps we should take. Today’s services are also very complete, with special checkups for children as well as adults,” Sulis said. Dr. Supriyati emphasized that this activity further strengthens UGM’s role in implementing the Health-Promoting University (HPU) concept and consistently encourages healthy lifestyle adoption within the university and the wider Yogyakarta community. The entire series of activities also represents UGM’s tangible contribution to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in promoting inclusive and equitable health and reducing inequalities. Author: Ika Agustine Editor: Gusti Grehenson Post-editor: Zabrina Kumara Putri  Photographs: FK-KMK UGM

Selengkapnya

Komunitas Alumni UGM Pecinta Lari Salurkan Donasi Rp 500 Juta untuk Beasiswa dan Masyarakat Terdampak Bencana

Komunitas alumni UGM pecinta lari yang tergabung dalam KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB) menyerahkan donasi sebesar Rp. 500.202.576,00 yang kemudian diperuntukan untuk bantuan beasiswa UGM bagi mereka yang terdampak Bencana Sumatra, Program Beasiswa UGM Reguler, dan Dana Abadi UGM. Donasi ini dihimpun dari hasil penyelenggaraan kegiatan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada.Penyerahan dana donasi KAGAMA Lari Untuk Berbagi secara simbolis disampaikan Ketua Panitia UGM Trail Run 2025, Budi Susila dan diterima Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos. M.Si. Audiensi dan serah terima donasi berlangsung di ruang Rektor UGM, Kamis (22/1). Penyaluran dana donasi tersebut dipercayakan kepada Universitas Gadjah Mada melalui platform Sahabat UGM (www.sahabat.ugm.ac.id) yang merupakan platform filantropi resmi untuk memfasilitasi partisipasi sivitas akademika, alumni, mitra, dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Pemanfaatan platform ini sejalan dengan upaya penguatan budaya filantropi dan keberlanjutan pendanaan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Budi Susila mengaku pihaknya sangat bersyukur terlaksananya penyelenggaraan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka memeriahkan rangkaian Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada Tahun 2025. Kegiatan olahraga sambil berdonasi ini menurutnya para peminatnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Tahun kemarin kenaikan 3-4 kali liat dari tahun sebelumnya baik dari sisi terkumpulnya donasi maupun jumlah peserta lari,” ujarnya. Ia mengharapkan kolaborasi yang erat dengan pimpinan universitas agar terus menghimpun dana untuk membantu mahasiswa dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi. “Tanpa kolaborasi yang bagus tentunya ini tidak bisa kita lakukan event tersebut. Kita terus mengajak alumni dan masyarakat luas yang memiliki hobi lari untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya. Budi menyebutkan, saat awal kegiatan UGM Ultra Charity Run hanya diikuti peserta kurang dari  100 oang, namun tahun tahun 2025 lalu setiap event mencapai rata-rata ribuan peserta. Pun dari sisi donasi, tahun sebelumnya terkumpul 170 juta maka di penyelenggaraan tahun 2025 mencapai 500 juta rupiah. “Kita sungguh bersyukur karena dengan waktu yang mepet untuk persiapan tidak sampai sebulan, hanya sekitar 3 minggu. Mudah-mudahan di tahun 2026 kita bisa menyelenggarakan kembali dengan persiapan yang lebih panjang dan matang sehingga berharap nantinya bisa terkumpul dana Rp 1 miliar sebagaimana harapan kita bersama,” imbuhnya. Arie Sujito menyampaikan apresiasi kepada pengurus komunitas KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB). Menurutnya kontribusi alumni di komunitas berhasil membangun semangat kemitraan dan kemanusiaan. “Setelah saya mengikuti Kagama lari ini menemukan spiritnya adalah sehat namun sekaligus berbagi dana, dan kami bersyukur karena kali ini terkumpul Rp 500 juta,” katanya. Dikatakan Arie, UGM saat ini tengah membantu kelancaran studi para mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu maupun terdampak bencana. Bantuan tersebut diberikan tidak hanya dalam bentuk dana, namun juga peminjaman sepeda, laptop, dan para mahasiswa terdampak bencana Sumatra. “UGM terus bekerja keras mencarikan dana untuk UKT beberapa mahasiswa terkena bencana. Ada sekitar 200an mahasiswa terkena bencana dan kita mencarikan untuk meringankan mereka,” ujarnya. Ari menyatakan UGM siap mendukung untuk penyelenggaraan UGM Ultra Charity Run di tahun 2026 agar jangkauan penyelenggaraan lebih luas. “Kita siap membantu untuk perijinan, promosi kepada mahasiswa, kita siap membantu jika perlu sekretariat sementara bisa memakai salah satu ruang yang ada disini,” imbuhnya. Penulis : Agung Nugroho Foto : Donnie

Selengkapnya

Kembangkan Alat Deteksi Cepat untuk Keamanan dan Keaslian Pangan, Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional Hitachi Award

Persoalan keamanan dan keaslian pangan saat ini menjadi persoalan yang sering kita temukan di tengah masyarakat. Seperti kasus keracunan siswa yang menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis di sekolah kerap terjadi. Belum lagi banyak konsumen yang merasa dirugikan karena membeli produk pangan palsu yang beredar di pasaran maupun di e-commerce. Tidak banyak alat yang mampu mendeteksi tingkat keamanan dan keaslian pangan dalam waktu cepat. Umumnya sampel produk pangan yang akan diuji tingkat keamanan dan keasliannya memerlukan waktu uji laboratorium berhari-hari. Di tangan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., berhasil mengembangkan alat deteksi cepat tingkat keamanan, keaslian dan kualitas pangan dalam waktu cepat. Melalui riset “Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems,” Widiastuti mengembangkan metode analisis kimia inovatif yang mampu mengevaluasi keamanan pangan, keaslian produk, dan kualitas fungsional secara cepat dalam hitungan menit, bahkan detik dengan penggunaan bahan kimia yang sangat minimal atau bahkan tanpa bahan kimia sama sekali. Pendekatan ini menjadi terobosan penting sebagai alternatif metode konvensional yang umumnya memerlukan waktu analisis panjang hingga berhari-hari serta bergantung pada bahan kimia berbahaya yang berdampak negatif bagi lingkungan. Widi, demikian ia akrab disapa, menyampaikan Inovasi yang dikembangkan berfokus pada tiga pilar utama, yaitu food safety (keamanan pangan), authenticity (keaslian pangan), dan functional quality (kualitas fungsional). Pendekatan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan pengawasan pangan modern yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan keberlanjutan. Selain cepat dan akurat, metode yang dikembangkan juga ramah lingkungan. Widi menerapkan teknik ekstraksi tingkat lanjut seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction, yang membutuhkan pelarut dalam jumlah jauh lebih sedikit. “Metode ini lebih cepat dan menggunakan solvent lebih minimal, sehingga lebih ramah lingkungan. Karena itulah disebut green analytical method,” jelasnya saat diwawancarai pada kamis (21/1).  Proses analisis dan kuantifikasi juga dipercepat dengan pemanfaatan metode spektroskopi, yaitu teknik analisis yang memanfaatkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan materi untuk mengkaji sifat kimia dan fisika suatu senyawa. Dibandingkan metode kromatografi konvensional, spektroskopi memungkinkan analisis dilakukan tanpa tahap ekstraksi yang panjang, bahkan dalam beberapa kasus bersifat non-destruktif terhadap sampel. Meski demikian, Widi tetap mengembangkan metode kromatografi berkecepatan tinggi sebagai pembanding dan pelengkap. Pada kromatografi konvensional, proses analisis umumnya memerlukan waktu yang relatif lama. “Pada kromatografi konvensional, analisis bisa memakan waktu yang lama. Namun dengan Ultrahigh Performance Liquid Chromatography (UPLC), waktu analisis dapat dipangkas dari sekitar 30 menit menjadi hanya 3 menit,” jelasnya. Lebih lanjut, metode yang dikembangkan tidak hanya mampu mengidentifikasi dan mengkuantifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga mendeteksi berbagai senyawa berbahaya, seperti mikotoksin—termasuk aflatoksin dan okratoksin—serta NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) yang berpotensi disalahgunakan dalam produk pangan. Melalui pengembangan ini, Widiastuti berharap metode yang dihasilkan dapat diadopsi oleh BPOM dan institusi terkait guna memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan nasional. Selain aspek keamanan, riset ini juga mencakup evaluasi kualitas fungsional pangan, seperti potensi antidiabetes dan antidepresan, pada berbagai sistem pangan. Sejumlah riset yang telah ia lakukan meliputi pengujian aktivitas antidepresan pada edible flowers yang didukung hibah L’Oréal, pengujian senyawa antidiabetes pada bunga rosella melalui hibah Kalbe.  “Dalam proposal untuk Hitachi, saya mengusung konsep diverse food systems, artinya tidak terbatas pada satu jenis pangan. Edible flowers yang saya teliti juga sangat beragam, mulai dari bunga pisang, rosella, kecombrang, senggani, turi, hingga safflower,” jelasnya. Menariknya, Widiastuti juga telah mengembangkan aplikasi berbasis web untuk analisis makroalga dan kakao. Melalui platform ini, laboratorium yang memiliki data spektroskopi dapat langsung mengunggah data mereka untuk memperoleh hasil analisis berupa interpretasi kualitas sampel secara cepat dan akurat. Aplikasi ini dirancang agar dapat diakses secara global dan digunakan secara gratis. Menurut penuturannya, ia juga mengembangkan metode analisis yang dapat membedakan produk kopi dari luwak liar maupun yang sengaja ditangkar, serta metode deteksi adulterasi kokoa untuk dapat melihat apakah bubuknya murni/asli atau tidak, serta mengetahui makroalga jenis apa dan dari daerah Indonesia di bagian mana.   Tak hanya pada bahan baku, metode analisis yang dikembangkannya juga diaplikasikan pada produk pangan olahan, seperti penentuan kandungan resveratrol, senyawa antioksidan, pada kue kering dan selai. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan diverse food systems mencakup seluruh rantai pangan, dari bahan mentah hingga produk akhir. Ke depan, Widiastuti berharap hasil risetnya dapat diadopsi secara luas oleh industri, laboratorium pemerintah, kementerian terkait, Bea Cukai, serta BPOM, sekaligus berkontribusi dalam perumusan kebijakan dan regulasi keamanan pangan berbasis data ilmiah. “Harapannya, riset saya tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson