BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Fakultas Biologi Berikan Pelatihan Pembuatan Biofertilizer dan Biocontrol pada IRT Al Barokah dan PKK Desa Kedungpoh

Sabtu (27/6) Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi untuk Desa Kedungpoh menyelenggarakan Pelatihan Pembuatan Biofertilizer dan Biocontrol (Pengendalian Hayati) pada Bunga Krisan dengan peserta anggota IRT Al Barokah dan PKK Pokja-3 Desa Kedungpoh, Nglipar, Gunungkidul. Pelatihan ini dilaksanakan di Rumah Produksi Al Barokah yang diketuai oleh Tri Wahyuni. PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Pokja-3 Kedungpoh membidangi pangan, sandang, perumahan dan tata laksana rumah tangga. Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi kali ini diwakili oleh Dr. Dwi Umi Siswanti, S.Si.,M.Sc. dan Agil  Faiqotul Iqbaliyah, S.Si. Dwi Umi dan Agil merupakan bagian dari Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi yang mengusung tema “Eskalasi Nilai Ekonomi Limbah Organik IRT Al Barokah Kedungpoh Melalui Formulasi Probioik Dan Biopestisida Untuk Mewujudkan Konsumsi Dan Produksi yang Bertanggungjawab (SDG 12)”. [metaslider id="59278"] Dwi Umi yang mempunyai expertise di bidang formulasi biofertilizer menyampaikan materi tentang Produksi Biofertilizer untuk Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan. Biofertilizer ini berbahan urin ternak (sapi, kambing, domba atau kelinci) yang ditambahkan biang mikrobia kemudian difermentasi selama empat belas hari hingga tidak berbau urin.  Biofertilizer  mampu membantu pendegradasian bahan organik seperti serasah dan kotoran ternak serta meningkatkan kesuburan tanaman. Beberapa mikrobia yang digunakan diantaranya Azotobacter, Bacillus dan  Trichoderma. “Biofertilizer dapat digunakan sebagai pengganti pupuk NPK, AB Mix maupun dalam mempercepat pembuatan kompos dan pupuk kandang plus, karena perannya sebagai pendegradasi bahan organik”, ungkap Dwi Umi di sela pemaparan materinya. “ Limbah produksi dari IRT Al Barokah maupun dari rumah tangga dapat segera dimanfaatkan sebagai kompos dengan bantuan biofertilizer”, tambahnya. Selepas pemaparan dan tanya jawab peserta pelatihan, Dwi Umi dan Agil membawa peserta menuju greenhouse yang telah dibangun menggunakan dana Hibah Pengabdian Masyarakat Fakultas Biologi UGM tahun anggaran 2026. Peserta melakukan praktik langsung aplikasi pupuk dasar yang diperkaya biofertilizer di lahan greenhouse krisan. Pelatihan yang melibatkan akademisi untuk kelompok wanita pengusaha industri rumah tangga dan kelompok ibu-ibu PKK merupakan pangejawantahan dari Sustainable Development Goals-1 (Tanpa Kemiskinan), SDG-2 (Tanpa kelaparan), SDG-3 (Kehidupan sehat dan sejahtera), SDG-5 (Kesetaraan Gender),  SDG-12 (Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab), SDG-17 (Kemitraan untuk mencapai tujuan). (DUS)

Lanjut Baca

Masjid Kampus UGM Salurkan Beasiswa dan Bangun Semangat Kerelawanan

Masjid Kampus UGM atau dikenal dengan sebutan Maskam, bukan hanya menjadi tempat ibadah dan wadah kajian ilmu agama bagi umat muslim. Lebih dari itu, masjid kampus juga menjalankan perannya untuk membangun budaya kepedulian sosial untuk membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu yang tengah menempuh studi di kampus UGM. Melalui Rumah Zakat Infaq Sedekah (RZIS) Universitas Gadjah Mada, program yang dikelola Maskam UGM ini terus berkomitmen mendukung keberlanjutan studi mahasiswa melalui program beasiswa yang telah berjalan secara konsisten sejak tahun 2008. Tidak hanya memberikan bantuan biaya hidup, RZIS UGM juga membangun budaya kepedulian sosial dengan melibatkan para penerima beasiswa sebagai relawan di tengah masyarakat. Wakil Direktur sekaligus Manajer Operasional RZIS UGM, Taufikur Rahman, S.E., M.B.A., Ak., CA., menjelaskan bahwa program beasiswa menjadi salah satu program utama sejak lembaga tersebut didirikan. Kehadiran RZIS berawal dari kepedulian terhadap mahasiswa penerima Bidikmisi, kini KIP Kuliah, yang pada saat itu hanya memperoleh pembebasan biaya pendidikan tanpa dukungan biaya hidup. "Pada tahun 2008 banyak mahasiswa dari keluarga kurang mampu berhasil masuk UGM, tetapi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Dari situlah Rektor UGM saat itu, almarhum Prof. Dr. Sukadji, bersama Prof. Ainun Na'im menginisiasi pembentukan lembaga zakat di UGM," ujar Taufik, Senin (29/6). Bernaung di bawah Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, RZIS UGM menghimpun dana zakat dari dosen, tenaga kependidikan, alumni, hingga masyarakat umum, terutama jamaah Masjid Kampus UGM. Selama hampir dua dekade, program beasiswa tersebut tidak pernah terhenti. Menurut Taufik, setiap semester RZIS UGM rata-rata membantu sekitar 200 mahasiswa. Jumlah penerima tidak ditentukan dengan kuota tetap, melainkan disesuaikan dengan besarnya dana zakat yang berhasil dihimpun. "Semakin besar dana zakat yang terkumpul, semakin banyak mahasiswa yang dapat kami bantu," katanya. Persyaratan memperoleh beasiswa pun dibuat sederhana agar mudah diakses oleh mahasiswa yang membutuhkan. Calon penerima hanya diwajibkan berstatus sebagai mahasiswa aktif jenjang sarjana atau diploma empat di UGM serta berasal dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Tidak ada persyaratan mengenai indeks prestasi kumulatif maupun batas semester. "Kami tidak ingin mahasiswa hanya menjadi penerima manfaat. Mereka juga kami dorong menjadi relawan sehingga dapat memberi manfaat bagi masyarakat melalui tenaga, waktu, dan kepedulian yang mereka miliki," jelasnya. Selain beasiswa reguler, RZIS UGM juga memiliki Program Rescue bagi mahasiswa yang masa bantuan KIP Kuliahnya telah berakhir, tetapi belum menyelesaikan studi. Program ini menjadi bentuk pendampingan agar mahasiswa tetap dapat menuntaskan pendidikan meskipun menghadapi keterbatasan ekonomi. Besaran bantuan yang diberikan bervariasi. Mahasiswa penerima KIP Kuliah memperoleh tambahan biaya hidup sekitar Rp150.000 hingga Rp250.000 per bulan, sedangkan penerima beasiswa reguler menerima bantuan sekitar Rp350.000 hingga Rp500.000 per bulan selama satu semester. Perpanjangan bantuan dilakukan melalui evaluasi sederhana dengan mengunggah Kartu Hasil Studi (KHS) terbaru. Tidak hanya mendukung kebutuhan pendidikan, RZIS UGM juga memberikan bantuan bagi mahasiswa yang menghadapi kondisi darurat, seperti mengalami musibah, membutuhkan biaya pulang kampung, hingga terjerat pinjaman daring. Dalam perspektif syariat, mahasiswa dikategorikan sebagai fisabilillah, yakni pihak yang berjuang di jalan Allah melalui pendidikan. Salah satu ciri khas program RZIS UGM adalah keterlibatan aktif mahasiswa sebagai relawan. Para relawan melakukan kunjungan ke rumah-rumah keluarga penerima manfaat untuk menyerahkan bantuan sembako sekaligus memantau kondisi kesehatan dan kesejahteraan mereka. "Kami ingin mahasiswa belajar langsung memahami kondisi masyarakat. Kalau ditemukan kebutuhan khusus, misalnya kursi roda, alat bantu dengar, BPJS, atau rujukan ke Rumah Sakit Akademik UGM, relawan akan melaporkan kepada kami agar dapat ditindaklanjuti," tutur Taufik. RZIS UGM juga menerapkan pendekatan pemberdayaan ekonomi dalam penyaluran bantuan. Paket sembako tidak dibeli dari toko besar, melainkan dari warung atau toko kecil di sekitar tempat tinggal penerima manfaat sehingga dana zakat turut menggerakkan perekonomian lokal dan mendukung pelaku UMKM. Selain pengelolaan zakat, RZIS UGM tengah mempersiapkan pembentukan lembaga wakaf yang akan memperoleh legalitas dari Kementerian Agama dan Badan Wakaf Indonesia (BWI). Ke depan, aset wakaf akan dimanfaatkan untuk pembangunan asrama mahasiswa serta Rumah Al-Qur'an. Saat ini RZIS UGM juga telah mengelola tiga asrama mahasiswa di kawasan Pogung Dalangan, Pogung Kidul, dan Klebengan. Asrama tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan ekonomi dan membutuhkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan kampus. Menutup wawancara, Taufik berharap semakin banyak mahasiswa mengetahui keberadaan program beasiswa RZIS UGM sehingga tidak ada lagi mahasiswa yang terhambat menyelesaikan pendidikan karena kendala biaya. "Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan bantuan tetapi belum mengetahui informasi beasiswa ini. Karena itu kami berharap publikasi mengenai pembukaan beasiswa RZIS UGM dapat menjangkau lebih banyak mahasiswa agar kesempatan ini bisa dimanfaatkan secara optimal," pungkasnya. Penulis : Jelita Agustine Editor   : Gusti Grehenson Foto      : Dok. Humas UGM dan Masjid Kampus

Selengkapnya

Kisah Syahla, Putri Pengemudi Ojek Online Kuliah Gratis di UGM 

Tak hanya menjadi tempat tinggal bagi Syahla Nabilah Junita Wibawa (19) dan keluarganya, rumah sederhana yang berada di Nogotirto, Sleman, ini juga menjadi tempat sang ibu mencari nafkah melalui warung makan sederhana. Sang ibu, Nurjanah (42) berjualan makanan di warung nasi yang juga berlokasi di rumahnya. Sedangkan sang ayah, Tunggal Mei Lata (43) bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di tengah keterbatasan ekonomi dan penghasilan keluarga yang tak menentu, Syahla tumbuh dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat membuka peluang yang lebih luas. Keyakinan itu kini membawanya diterima di Program Studi Teknologi Industri Pertanian (TIP) Fakultas Teknologi Pertanian UGM dengan beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100% atau kuliah gratis di UGM. Keberhasilan Syahla diterima berkuliah di UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) bukanlah pencapaian yang ia raih secara instan. Sejak kelas 10 SMA, ia sudah menargetkan untuk menjadi siswa eligible agar memiliki peluang peluang lebih besar lolos ke perguruan tinggi impiannya, yakni UGM. Ia terus menjaga nilai rapor dan menyusun strategi pemilihan program studi yang sesuai dengan minat serta kemampuannya. “Saya memang dari awal sudah mengincar jalur SNBP. Jadi sejak kelas 10 SMA, saya berusaha menaikkan nilai dan memikirkan strategi supaya bisa lolos,” tuturnya, Rabu (24/6). Dalam menentukan pilihan program studinya, putri sulung dari empat bersaudara itu mengaku mempertimbangkan minatnya pada bidang pangan dan lingkungan. Meskipun sempat bercita-cita menjadi ahli gizi, ia akhirnya memilih program studi Teknologi Industri Pertanian UGM karena dinilai sesuai dengan kemampuan akademik serta bidang yang ingin ia tekuni di masa depan. “Saya tertarik dengan bidang pangan dan lingkungan. Saya ingin mengembangkan sesuatu yang bermanfaat, terutama terkait pengolahan sampah dan lingkungan,” katanya. Keberhasilannya diraih melalui proses belajar mandiri yang dijalani selama SMA. Meski sempat ditawari mengikuti bimbingan belajar, Syahla memilih memanfaatkan buku pelajaran dan aktif bertanya kepada guru ketika menemukan materi yang belum dipahami. Menurutnya, memahami konsep menjadi metode belajar yang paling efektif dibandingkan sekadar menghafal. “Kalau ada materi yang saya tidak paham, saya biasanya bertanya ke guru. Jadi saya lebih berusaha memahami daripada menghafal,” jelasnya. Di tengah kesibukannya, Syahla juga menyempatkan waktu untuk berjualan kue kering yang dititipkan di kantin sekolah. Bukan semata untuk mengisi waktu luang, melainkan sebagai upayanya untuk memiliki uang saku tambahan dan ingin senantiasa belajar mandiri sejak dini. Kesadaran akan jerih payah kedua orang tua untuk membiayainya sekaligus ketiga saudaranya membuatnya berusaha memenuhi sebagian kebutuhannya sendiri tanpa banyak meminta. “Jadi saya mau punya penghasilan sendiri, enggak mau bergantung terlalu sama orang tua,” ujarnya. Perjuangan kedua orang tuanya menjadi sumber semangat terbesar bagi Syahla untuk bercita-cita dapat menempuh pendidikan tinggi. Ia mengaku selalu teringat kerja keras ayah dan ibunya dalam memenuhi kebutuhan keluarga mendorongnya untuk memberikan hasil yang terbaik melalui prestasi akademik yang ia raih. “Saya tidak mau mengecewakan orang tua karena perjuangan mereka sampai saya bisa berada di titik ini. Itu yang memotivasi saya untuk terus belajar,” katanya. Nurjanah mengaku bersyukur atas keberhasilan putri sulungnya diterima di UGM. Menurutnya, semangat belajar Syahla sudah terlihat sejak masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Sebagai orang tua, ia berupaya mendukung cita-cita anaknya meski harus menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi. “Saya senang sekali anak saya punya semangat belajar yang tinggi dan punya cita-cita yang tinggi juga. Sebagai orang tua saya mendukung apa yang menjadi cita-cita anak saya,” terangnya. Ia berharap, pendidikan yang ditempuh putri sulungnya di UGM dapat menjadi bekal untuk meraih masa depan yang lebih baik, sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya. “Saya hanya ingin melihat anak saya sukses di dunia maupun di akhirat, itu saja,” pungkas Nurjanah. Penulis : Cynthia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine dan Dok.Syahla

Selengkapnya

Sosialisasi Perdana Hibah Pengabdian Masyarakat Desa Mitra Fakultas Biologi UGM: Pengenalan Sistem Reproduksi Ayam untuk Mendukung Pengembangan Budidaya Ayam Golden Kamper

Selasa, 16 Juni 2026, Tim Pengabdian Desa Mitra Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada dengan judul “Teknologi Budidaya Ayam Golden Kamper Melalui Penerapan Mesin Tetas Dual Input sebagai Upaya Pengembangan Inti-Plasma Mandiri Guna Mendukung Tanpa Kelaparan (SDG 2)” telah mengawali rangkaian kegiatan melalui sosialisasi perdana. Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan di Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat sasaran program yang terdiri dari anggota Kelompok Ternak Reka Amartani antusias mengikuti rangkaian sosialisasi mulai dari pembukaan, pematerian, hingga penutupan. Rangkaian kegiatan dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana hibah, yaitu Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. Pada sambutannya, beliau berharap kegiatan ini dapat bermanfaat untuk masyarakat sekitar melalui optimalisasi produktivitas ternak ayam. [metaslider id="59206"] Setelah sambutan ketua pelaksana, kegiatan dilanjutkan dengan pematerian bertema “Kenalan dengan Sistem Reproduksi Ayam: Rahasia Ayam Rajin Bertelur dan Banyak Anak” yang disampaikan oleh Ibu Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D. Penyampaian materi dirancang untuk memberikan pemahaman dasar kepada masyarakat mengenai sistem reproduksi ayam, faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas telur, serta pentingnya manajemen reproduksi dalam mendukung keberhasilan budidaya ayam. Dalam pemaparan materi, secara lebih detail juga dijelaskan bagaimana organ reproduksi ayam bekerja, proses pembentukan telur, hingga berbagai faktor yang dapat memengaruhi kemampuan ayam dalam menghasilkan telur yang berkualitas. Selain itu, masyarakat juga diajak memahami keterkaitan antara kesehatan ternak, nutrisi, lingkungan pemeliharaan, dan keberhasilan penetasan telur. Setelah pematerian selesai, dilakukan dokumentasi bersama antara tim pengabdian masyarakat dengan peserta kegiatan. Sosialisasi perdana ini menjadi langkah awal dalam rangkaian program pengabdian yang bertujuan memperkenalkan teknologi budidaya ayam Golden Kamper, termasuk penerapan mesin tetas dual input sebagai inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan kemandirian peternak. Program ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya sistem inti-plasma yang mandiri dan berkelanjutan sekaligus berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 2: Tanpa Kelaparan (Zero Hunger) melalui penguatan sektor peternakan masyarakat. Selanjutnya, berbagai kegiatan akan dilaksanakan mulai dari pendampingan budidaya hingga penerapan teknologi penetasan yang mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ayam di Desa Hargowilis. Melalui kolaborasi antara tim pelaksana, narasumber, serta masyarakat setempat, program ini diharapkan dapat membentuk peluang pengembangan usaha peternakan yang lebih produktif, mandiri, serta berkelanjutan bagi masyarakat Desa Hargowilis.

Selengkapnya

Dari Kandang Sederhana ke Kampus Impian: Perjuangan Ririn Menembus UGM Tanpa Biaya

Suara ayam dan bebek sudah menjadi bagian dari keseharian Ririn Dwi Nurtyani (17) sejak kecil. Di rumah sederhana miliknya di wilayah Terbah, Wates, Kulon Progo, gadis tersebut tumbuh dengan kebiasaan membantu orang tua merawat ternak peliharaan. Dari aktivitas sederhana itulah tumbuh mimpi besar yang kini membawanya menjadi mahasiswa baru di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Ririn resmi diterima di program studi S1 Ilmu dan Industri Peternakan UGM melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026. Tidak hanya itu, ia juga memperoleh Beasiswa Pendidikan Unggul Bersubsidi 100 persen atau UKT nol rupiah sehingga dapat menempuh pendidikan tanpa membayar biaya kuliah. Perjalanan Ririn menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Ayahnya, Sutiono (50), bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Ketika proyek bangunan sepi, penghasilan keluarga pun ikut berhenti. Sementara sang ibu, Nur (47), merupakan ibu rumah tangga yang fokus mengurus keluarga dan ketiga anaknya. Keterbatasan ekonomi sempat membuat keinginan Ririn untuk kuliah diragukan oleh sang ayah. Namun, tekadnya untuk mengubah masa depan keluarga membuatnya tetap berusaha meyakinkan orang tua agar memberikan izin melanjutkan pendidikan. “Saya ingin punya kehidupan yang lebih baik dan bisa membanggakan orang tua,” ungkap Ririn. Kecintaannya terhadap dunia peternakan menjadi alasan utama memilih program studi di bidang tersebut. Sehari-hari ia terbiasa merawat ayam, bebek, hingga burung bersama keluarganya. Baginya, peternakan bukan sekadar jurusan kuliah, melainkan sesuatu yang sudah dekat dengan kehidupannya sejak kecil. “Saya memang suka hewan ternak dan ingin belajar lebih jauh tentang peternakan,” katanya. Dukungan terbesar datang dari sang ibu yang memahami minat anaknya terhadap hewan. Nur menyebut Ririn sejak kecil dikenal rajin belajar dan memiliki banyak prestasi akademik maupun non-akademik. Saat SMA, Ririn juga aktif dalam kegiatan marching band SMAN 1 Wates dan ikut membawa timnya meraih prestasi tingkat provinsi. Menurut Nur, kedisiplinan menjadi nilai yang selalu ditanamkan kepada anak-anaknya. Ia berharap pendidikan dapat menjadi jalan bagi Ririn untuk memperbaiki masa depan keluarga. “Semoga Ririn bisa punya kehidupan yang lebih baik dan mengangkat derajat orang tua,” tutur Nur haru. Keberhasilan Ririn diterima di UGM menjadi bukti bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih pendidikan tinggi. Dari kandang ternak sederhana di rumahnya, kini langkah Ririn mengarah menuju dunia akademik yang lebih luas dengan harapan baru bagi masa depan keluarganya.   Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/hobi-merawat-ternak-anak-buruh-serabutan-diterima-kuliah-gratis-di-peternakan-ugm/ Editor: Satria Foto: Donie (Humas UGM)  

Selengkapnya

Mendobrak Stigma Disabilitas Taktampak: DMKP Bersama FKKMK UGM Dorong Inklusi dan Dukungan Terpadu bagi ODAPUS

Yogyakarta – Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik (DMKP) FISIPOL UGM berkolaborasi dengan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM serta komunitas Sahabat Cempluk, menyelenggarakan Talkshow bertajuk "Disabilitas Taktampak: Optimalisasi Dukungan Terpadu bagi Orang dengan Lupus (Odapus) melalui Edukasi, Inklusi, dan Advokasi". Acara yang berlangsung di Ruang Seminar MAP FISIPOL UGM ini dipandu secara langsung oleh Dr. Pradhikna Yunik Nurhayati, MPA., Ph.D., dosen DMKP FISIPOL UGM yang juga merupakan seorang penyintas lupus (Odapus) sejak tahun 2019. Sebagai moderator, ia mengawal jalannya diskusi interaktif ini untuk membongkar realitas bahwa tidak semua disabilitas tampak secara fisik, di mana individu yang tampak sehat dari luar sering kali harus berjuang menghadapi kondisi kesehatan kronis dan minimnya dukungan sosial di lingkungan sekitarnya. Diagnosis Medis dan Beban Taktampak "Penyakit Seribu Wajah" Pada sesi pemaparan medis, Dr. dr. Ayu Paramaiswari, Sp.P.D., Subsp. R. (K), menjelaskan lupus sebagai penyakit autoimun dengan manifestasi yang sangat beragam sehingga kerap disebut sebagai “penyakit seribu wajah”. Ia memaparkan bahwa lupus dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, paru-paru, darah, jantung, hingga sistem saraf, serta memunculkan keluhan yang kerap tidak tampak dari luar seperti kelelahan kronis, nyeri, demam, dan rambut rontok. Ia juga menekankan bahwa diagnosis lupus dapat memerlukan waktu panjang karena gejalanya fluktuatif dan tidak selalu terkonfirmasi oleh satu pemeriksaan tunggal. Dalam penjelasannya, dampak psikologis, sosial, dan finansial yang menyertai penyakit ini juga menjadi bagian dari beban yang sering luput terlihat. Realitas di Akar Rumput: Melawan Stigma dan Mengenali Kapasitas Diri Menguatkan perspektif medis dengan realitas empiris, Kak Yan Sofyan selaku Founder Komunitas Sahabat Cempluk, membagikan pengalaman nyata dari kacamata pasien. Ia menyoroti bahwa tantangan terbesar Odapus justru kerap berasal dari miskonsepsi masyarakat yang menganggap mereka pemalas atau melebih-lebihkan kondisi hanya karena gejalanya tidak kasat mata. "Pasien lupus itu bangun tidur, yang lain baterainya 100%, mereka 10% atau 20%," ungkapnya untuk menggambarkan betapa ekstremnya kelelahan yang membedakan Odapus dari individu tanpa penyakit kronis. Ia menekankan pentingnya penderita untuk mengenali kapasitas energinya sendiri (pacing) serta menyoroti peran esensial komunitas dalam memberikan pendampingan mental dan akses pengobatan. Tantangan Regulasi, Anggaran, dan Ekosistem Kerja Inklusif Dari perspektif ketenagakerjaan dan kebijakan publik, Aris Sujatmiko, S.E.T., M.I.P. menyoroti pentingnya kesadaran inklusif dan dukungan anggaran yang memadai bagi program-program disabilitas. Ia menyampaikan bahwa upaya yang telah diajukan setiap tahun, mulai dari sosialisasi bagi perusahaan pengguna disabilitas, pelatihan soft skill, hingga kewirausahaan bagi disabilitas, sering kali belum memperoleh ruang yang cukup dalam proses penganggaran. Lebih lanjut, ia juga mengusulkan gagasan inovatif berupa pemberian insentif pemotongan pajak (tax deduction) bagi perusahaan yang menyediakan akomodasi untuk mempekerjakan disabilitas, sebagai solusi nyata untuk menembus kebuntuan implementasi Undang-Undang Ketenagakerjaan. Mewujudkan Ekosistem Kampus yang Berkeadilan Sementara itu, Dr. Wuri Handayani dari Unit Layanan Disabilitas UGM menegaskan pentingnya ekosistem kampus yang inklusif dan mengundang peserta untuk memanfaatkan layanan ULD UGM sebagai ruang pendampingan dan dukungan bagi civitas akademika dengan kondisi disabilitas, termasuk disabilitas tak tampak. Ia memaparkan bahwa ULD berperan secara komprehensif mulai dari seleksi masuk hingga pengerjaan tugas akhir, dengan memberikan bentuk akomodasi yang layak (reasonable adjustment) seperti penyesuaian beban waktu evaluasi akademik, format ujian, hingga memfasilitasi dukungan sebaya (buddy system) bagi mahasiswa. Inisiatif ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam mempromosikan pendidikan berkualitas (SDG 4), memastikan akses yang inklusif dan setara terhadap pendidikan bagi semua, mengurangi ketimpangan (SDG 10), serta mendorong pekerjaan layak (SDG 8). Dengan suasana yang kondusif, acara ini diharapkan dapat menjadi forum interaktif bagi mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum untuk bertukar gagasan mengenai peran kebijakan dalam menghadapi tantangan inklusi sosial dan pemenuhan hak-hak dasar publik di era modern.

Selengkapnya

100 Mahasiswa UGM Terdampak Bencana Sumatra Dapat Bantuan Beasiswa 

Sebanyak 100 mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang keluarganya terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menerima bantuan dari program LPS Peduli berupa pembayaran UKT semester genap tahun akademik 2025/2026 sebanyak Rp1,2 miliar. Bantuan beasiswa ini berasal dari hasil penyelenggaraan Jogja Run-D City 2026 di GIK UGM. (24/5) lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Transmedia ini berhasil diikuti oleh 6000 peserta. Prosesi penyerahan bantuan dilaksanakan di ruang multimedia Gedung Pusat UGM, Jumat (19/6). Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si, M.Sc., menyampaikan ucapan terima kasih pada LPS, Transmedia, dan CNBC Indonesia yang telah membantu mahasiswa yang terkena dampak bencana Sumatra. Bagi Danang bantuan ini menjadi wujud perhatian publik yang menaruh harapan bagi kelancaran kuliah mahasiswa UGM di tengah keterbatasan tetap bisa kuliah dan bisa terus berprestasi.“Artinya mereka punya harapan bahwa anak-anak UGM ini akan menjadi calon pemimpin bangsa masa depan,” jelasnya K.M Nurudin, selaku PLT Direktur Eksekutif Kesekretariat dan Hubungan Lembaga LPS, menuturkan bantuan ini merupakan bagian dari komitmen LPS untuk memajukan dunia pendidikan dan membantu meringankan beban keluarga yang terdampak bencana Sumatra. Ia berharap  bantuan beasiswa ini bisa menjadi sarana edukasi bagi LPS untuk berbagi pengetahuan mengenai literasi keuangan dan stabilitas keuangan kepada masyarakat. “Kami juga berharap dengan adanya kerja sama yang baik dengan UGM, juga melalui pemberian bantuan ini, kami berharap juga menjadi sarana LPS untuk membagikan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya literasi keuangan,” ungkapnya. Harapan yang besar kepada mahasiswa UGM penerima bantuan juga disampaikan oleh Wahyu Daniel selaku CEO CNBC. Dalam sambutannya ia berharap adanya keberlanjutan kegiatan olahraga ini memiliki kebermanfaatan bagi mahasiswa UGM. “Semoga kegiatan ini bisa dilanjutkan mungkin ke depan. Bisa jadi acara tahunan karena ternyata kita juga cukup banyak antusiasme dari peserta di Jogja dan kita berharap bantuan ini bisa bermanfaat buat mahasiswa-mahasiswa UGM” jelasnya. Salah satu mahasiswa penerima bantuan, Fakultas Teknik UGM, Bunga Aya Lalangsa, dari Kota Langsa, Provinsi Aceh, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut membuat dirinya dan keluarganya sangat terbantu. Bantuan ini meringankan beban biaya pendidikan yang harus dibayar orang tuanya di tengah masa pemulihan pasca-bencana, sehingga ia bisa tetap fokus berkuliah. Ia menceritakan kembali bencana yang melanda kampung halamannya tempo hari sempat membuatnya tak bisa menghubungi keluarganya. Bahkan air banjir masuk ke rumahnya dan menyisakan lapisan lumpur yang tebal. Hal ini berdampak pada kondisi perekonomian keluarganya, karena mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk membersihkan rumah, memperbaiki kerusakan, serta mengganti barang-barang yang rusak akibat bencana. “Dengan adanya bantuan beasiswa pendidikan dari LPS, saya sangat terbantu dalam melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan oleh Bunga Bonatua Sinaga, mahasiswa Fakultas Pertanian UGM ini menceritakan bahwa keluarganya turut mengalami penurunan finansial akibat bencana banjir. Tak hanya pendapatan sang ayah sebagai petani jagung dan padi yang merosot, bencana banjir ini berdampak pada rusaknya rumah dan perabotan yang dimiliki Bonatua dan keluarga. Melalui bantuan dari LPS ini, Bonatua menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak terkait yang telah memberikan bantuan tersebut. Ia berharap pihak-pihak terkait dapat terus memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk mahasiswa UGM secara umum, tetapi lebih difokuskan kepada mahasiswa yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan tersebut. “Semoga saya dan teman-teman yang terkena bencana lainnya bisa melanjutkan studi, bisa menjadi seorang sarjana yang pantas dan layak,” harapnya Penulis : Fatihah Salwa Rasyid Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN Mengabdi ke Masyarakat

Universitas Gadjah Mada resmi menerjunkan sebanyak 8.178 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode II Tahun 2026. Upacara penerjunan yang digelar di Lapangan Pancasila UGM pada Jumat (19/6) menandai dimulainya pengabdian mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia selama 50 hari, mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Mahasiswa peserta KKN-PPM akan ditempatkan di 298 unit lokasi yang tersebar di 274 kecamatan, 132 kabupaten/kota, dan 32 provinsi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa didampingi oleh 324 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Koordinator Wilayah (Korwil), serta didukung oleh 199 mitra yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, organisasi masyarakat, dan jejaring alumni UGM. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar sekaligus ruang kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. "Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi wadah pemersatu semangat dan komitmen untuk membangun bangsa melalui pemberdayaan masyarakat. Selama kurang lebih 50 hari, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan belajar langsung dari masyarakat," ujarnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan, keselamatan, serta nama baik almamater selama menjalankan pengabdian di daerah penempatan masing-masing. "Saya yakin kalian akan melaksanakan berbagai program yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan membawa perubahan positif, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," katanya. Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, S.S., M.A., yang hadir dalam acara penerjunan, mengapresiasi konsistensi UGM dalam menjaga hubungan antara kampus dan masyarakat melalui KKN. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendukung agenda industrialisasi desa yang tengah didorong pemerintah. "Desa memiliki potensi besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun jaringan sosial. Namun potensi tersebut harus dirajut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif melalui industri. Saya berharap mahasiswa KKN UGM dapat memberikan ide, inovasi, dan kontribusi nyata untuk mengembangkan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah," ungkapnya. Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa KKN-PPM merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus sarana pembelajaran mahasiswa untuk memahami realitas sosial secara langsung. "KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan otentik untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu membangun empati sosial, menghadirkan solusi bersama masyarakat, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya. Tahun ini KKN-PPM UGM mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim melalui KKN-PPM UGM.” Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, pengelolaan lingkungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, penanganan stunting, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna dan digitalisasi masyarakat. Semangat pengabdian tersebut tercermin dari berbagai tim KKN yang akan bertugas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Papua. Salah satunya adalah Tim KKN Raja Ampat Begisah yang akan bertugas di Kampung Samati dan Waim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Salah seorang anggota tim, Rizki Abdillah, selaku Koordinator unit dari Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan bahwa timnya mengusung sejumlah program unggulan berbasis potensi lokal masyarakat pesisir. "Kami akan mendampingi komunitas nelayan melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pengembangan pemasaran hasil perikanan, serta melanjutkan program pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan yang sebelumnya telah dirintis oleh tim KKN terdahulu," ujarnya. Selain itu, tim juga mengembangkan inovasi pemanfaatan mangrove melalui produksi teh mangrove sebagai produk ekonomi kreatif masyarakat. Di bidang lingkungan, mereka bekerja sama dengan perusahaan lingkungan internasional dan nasional untuk melakukan pengambilan sampel air guna menguji kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat. "Kami ingin memastikan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat karena sebagian sumber air masih terlihat keruh meskipun telah dimasak sebelum digunakan," jelas Rizki. Meski sempat menghadapi tantangan pendanaan karena tidak memperoleh hibah kompetitif, tim Raja Ampat Begisah berhasil memperoleh dukungan dari sejumlah mitra sehingga tetap dapat melaksanakan pengabdian di wilayah tujuan. Sementara itu, Tim KKN Biak Elok yang akan bertugas di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengusung program pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan ekonomi lokal, pariwisata partisipatif, dan infrastruktur hijau. Ketua tim, Sarasvati Baktiantoro dari Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan bahwa lokasi penugasan mereka merupakan wilayah baru yang belum pernah menjadi lokasi KKN UGM sebelumnya. "Kami akan fokus pada community empowerment melalui penguatan UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," ujarnya. Tim KKN Biak Elok telah mempersiapkan keberangkatan sejak September tahun lalu, termasuk membangun jejaring pendanaan dengan berbagai mitra dan perusahaan. Menurut Saras, pengalaman mengabdi di wilayah kepulauan Papua menjadi kesempatan berharga untuk berbagi ilmu sekaligus belajar langsung dari masyarakat. "Kami ingin membawa ilmu yang telah kami peroleh selama kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, kami juga ingin belajar dari pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat," tuturnya. Melalui penerjunan KKN-PPM Periode II Tahun 2026 ini, UGM berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan masyarakat. Lebih dari itu, program KKN diharapkan semakin memperkuat peran UGM sebagai universitas kerakyatan yang hadir dan bertumbuh bersama masyarakat Indonesia. "Kepada seluruh mahasiswa, berangkatlah dengan selamat dan pulanglah dengan selamat. Jaga diri, jaga teman, dan jaga persahabatan dengan masyarakat. Belajarlah bersama rakyat, karena di sanalah banyak pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas," pesan Arie Sudjito. Penulis : Jelita Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto dan Donnie

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Program Pengabdian Masyarakat UGM Hadirkan Teknologi Evaporator dan Kristalisator bagi Produsen Gula Semut Banyumas

Banyumas, 31 Mei 2026 – Menjawab tantangan peningkatan mutu gula semut untuk pasar ekspor, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menerapkan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini bertujuan meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi gula semut melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar, sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Banyumas di pasar internasional. Program Community Development berbasis riset aplikatif dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan berjudul “Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas” ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, bersama tim dosen lintas bidang, yaitu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia. Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan survei, sosialisasi, pelatihan, dan penyusunan laporan. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah KOPIPO. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan gula semut sebagai pemanis alami di pasar domestik maupun internasional. Gula semut memiliki berbagai keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki umur simpan yang lebih panjang, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik. Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan terhadap gula semut terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. [caption id="attachment_15150" align="alignnone" width="1024"] Proses Pemasakan Nira Kelapa menjadi Semut secara Tradisional[/caption] Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan, menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia untuk komoditas tersebut. Salah satu sentra produksi utama gula semut nasional adalah Kabupaten Banyumas. Menurut data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada tahun 2024 dan berkontribusi sekitar 40–50 persen terhadap produksi gula kelapa nasional, sehingga menjadi salah satu wilayah terpenting dalam rantai pasok gula semut Indonesia. Meskipun memiliki potensi pasar yang besar, proses produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi berbagai kendala, seperti ketidakseragaman mutu produk, keterbatasan pengendalian proses, dan tingginya ketergantungan pada keterampilan operator. Proses evaporasi nira umumnya masih dilakukan secara konvensional, sementara proses kristalisasi masih banyak bergantung pada pengalaman produsen. Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional. Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator dirancang untuk mengentalkan nira hingga mencapai kondisi siap kristalisasi dengan suhu yang lebih terkendali. Sementara itu, kristalisator digunakan untuk membantu proses pembentukan kristal gula semut agar lebih cepat dan seragam. [caption id="attachment_15149" align="alignnone" width="1024"] Pelatihan pengoperasian evaporator gula semut[/caption] Dr. Sri Rahayoe menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. “Selama ini proses produksi gula semut masih sangat bergantung pada pengalaman operator sehingga kualitas produk sering kali tidak seragam. Melalui penerapan evaporator dan kristalisator tepat guna, kami berharap proses pengolahan menjadi lebih terukur, efisien, dan menghasilkan gula semut dengan mutu yang lebih konsisten sesuai kebutuhan pasar ekspor,” ujarnya. [caption id="attachment_15151" align="alignnone" width="1024"] Alat Kristalisator (kanan) dan Evaporator (kiri) Gula Semut yang dihibahkan kepada Petani Produsen Gula Semut[/caption] Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup serangkaian pelatihan dan transfer pengetahuan yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keahlian. Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc. menyampaikan materi mengenai penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) proses produksi dan standar mutu gula semut untuk mendukung konsistensi kualitas produk. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D. memaparkan inovasi rekayasa alat pendukung penderesan nira kelapa serta pengembangan (improvement) teknologi kristalisator dan evaporator gula semut guna meningkatkan efisiensi dan keamanan proses produksi. Sementara itu, mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin, berbagi pengalaman mengenai budidaya dan pemanfaatan tanaman kelapa di Malaysia sebagai bagian dari praktik terbaik pengembangan industri kelapa yang berkelanjutan. [caption id="attachment_15152" align="alignnone" width="1024"] Prof. Rosnah menjelaskan materi budidaya kelapa dan pemanfaatannya di Malaysia[/caption] Kegiatan juga mencakup pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, penanganan pascapanen nira kelapa, serta praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan oleh Tim Fakultas Teknologi Pertanian UGM. [caption id="attachment_15153" align="alignnone" width="1024"] Prof. Eni Harmayani memberikan pelatihan GMP dan HACCP guna menjaga kualitas gula semut[/caption] Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Dr. Sri Rahayoe beserta tim dalam mengembangkan program berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana hasil riset dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan desa. “Saya memberikan apresiasi kepada Bu Yayuk atas inisiatif kegiatan ini. Program ini sangat baik karena mempertemukan unsur akademisi, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem pengembangan yang saling mendukung. FTP UGM akan selalu mendukung upaya mewujudkan kemandirian pangan, di mana desa dapat menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Dari pelatihan ini kami berharap terjadi transfer teknologi dan penguatan jejaring yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan asli desa (PAD) serta kesejahteraan masyarakat,” ungkap Prof. Eni. Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Mario Ngensowidjaja, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC). Dalam wawancara daring, ia menilai kolaborasi antara UGM dan industri memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas dan konsistensi produksi gula semut di tingkat petani. “Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki UGM, kegiatan pelatihan ini sangat membantu dalam menjaga kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membuat kegiatan pascapanen menjadi lebih terukur. Kerja sama antara UGM dan IMC membantu petani memahami proses yang mereka kerjakan dengan lebih baik sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan lebih konsisten,” ujarnya. Mario menambahkan bahwa pihaknya berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Harapan kami, kerja sama ini dapat terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan membantu pengembangan produksi gula kelapa dengan mutu yang semakin baik serta volume yang semakin besar. Dengan demikian, Indonesia dapat semakin dikenal sebagai salah satu produsen gula kelapa berkualitas di dunia,” tambahnya. Salah satu petani peserta kegiatan, Bapak Mukamil, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari materi dan pelatihan yang diberikan selama program berlangsung. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai proses produksi gula semut, tetapi juga meningkatkan kesadaran para petani akan pentingnya menjaga mutu produk secara berkelanjutan. “Materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menyadarkan dan memberikan semangat kepada kami untuk bersama-sama menjaga kualitas nira dan gula semut yang kami produksi. Kami jadi lebih memahami bahwa kualitas yang baik merupakan kunci agar produk kami dapat terus diterima di pasar,” ujar Mukamil. Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, menyampaikan bahwa penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani. “Keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga mutu secara konsisten. Karena itu, selain menyediakan teknologi, kami juga memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyusunan SOP, dan pengendalian mutu agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar pasar global,” jelasnya. Program ini juga diarahkan untuk mendukung produksi gula semut yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan. Budidaya kelapa genjah menjadi salah satu bagian penting dalam program karena tanaman ini memiliki batang lebih rendah dibandingkan kelapa dalam, sehingga proses penderesan nira dapat dilakukan dengan lebih aman dan berpotensi membuka ruang keterlibatan yang lebih luas bagi perempuan dan generasi muda. [caption id="attachment_15148" align="alignnone" width="1024"] Gula Semut hasil pelatihan bersama para produsen gula semut[/caption] Luaran utama dari kegiatan ini meliputi terpasangnya unit evaporator dan kristalisator yang operasional, meningkatnya kompetensi petani dan operator dalam penggunaan alat, tersusunnya SOP produksi dan mutu, serta terlaksananya sistem pengendalian mutu internal di tingkat kelompok. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengolahan gula semut berbasis teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di wilayah sentra produksi gula semut lainnya. Melalui kegiatan ini, UGM berkomitmen untuk mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, memperkuat kapasitas petani, meningkatkan mutu produk lokal, serta mendukung daya saing gula semut Indonesia di pasar global.