BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Cerita Mahasiswa Jepang Ikut Mengabdi di Desa

Sebanyak 5 orang mahasiswa asal Jepang bersama 14 mahasiswa UGM berkolaborasi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat selama 10 hari di Imogiri, Bantul. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan sebagai wujud penguatan kolaborasi internasional serta pembelajaran berbasis pengabdian pada masyarakat melalui pembelajaran lintas budaya melalui Program pertukaran mahasiswa Six University Initiative Japan Indonesia - Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026. Kelima mahasiswa Jepang ini terdiri dari mahasiswa dari Ehime University, 1 mahasiswa dari Kagawa University, dan 1 mahasiswa dari Kochi University. Sedangkan 14 mahasiswa UGM dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Ryoma, mahasiswa asal Jepang dari Kagawa University, menyampaikan pengalamannya melihat perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia selama mengikuti kegiatan di Imogiri, Bantul. Menurut Ryoma, salah satu hal yang paling ia rasakan selama mengikuti program tersebut adalah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun dalam budaya makanan. Selain itu, ia menyampaikan terdapat pula tantangan yang ditemuinya berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat mengenai permasalahan pertanian, khususnya terkait hama pada tanaman padi. “Saya tertarik pada permasalahan padi di desa tersebut. Dari wawancara dengan beberapa warga, saya menemukan adanya perbedaan pendapat mengenai hama tanaman padi dan cara penanganannya, sehingga hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memahami kondisi yang sebenarnya,” tutup Ryoma dalam Closing Ceremony & Farewell Dinner yang digelar pada Kamis (5/3) di Operation Room, Gedung Unit I, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kegiatan penutupan ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama mengikuti program pengabdian masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul. Selama program berlangsung, mahasiswa melakukan observasi desa dan wawancara dengan warga untuk memahami kondisi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai kegiatan budaya bersama masyarakat seperti lokakarya eco-print, membuat makanan ringan Indonesia, belajar membatik, hingga memainkan gamelan. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi peternakan domba, serta mempelajari pembuatan jamu dan tempe bersama warga desa. Menanggapi presentasi mahasiswa, Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional UGM, Tyas Ikhsan Himawan, S.Si., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam program SUIJI-SLP 2026. Ia menambahkan bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi universitas. “Di UGM kami sangat menghargai program kolaborasi internasional karena kami menyadari bahwa dengan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang akan memberikan dampak yang lebih besar, tidak hanya di bidang akademik dan riset tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan pedesaan dan praktik pertanian melalui adanya kolaborasi lintas negara ini. Ia menilai bahwa interaksi mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Jepang selama kegiatan pengabdian merupakan langkah awal dalam mewujudkan berbagai gagasan dalam meningkatkan praktik pertanian dan kehidupan masyarakat desa. “Kalian belajar tidak hanya tentang pertanian tetapi juga kehidupan pedesaan serta hubungan sosial masyarakat desa, dan pada akhirnya kalian dapat bekerja sama untuk mengusulkan berbagai ide guna meningkatkan kehidupan masyarakat desa dan praktik pertanian di lapangan,” tuturnya. Assoc. Prof. Dr. Kazuya Masuda, selaku pendamping program SUIJI-SLP 2026 dari Kochi University, juga turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan selama program berlangsung. Ia berharap berjalannya program ini dapat menjadi momentum awal terjalin hubungan erat antara mahasiswa dari kedua negara dapat terus dipertahankan hingga setelah program berakhir. “Saya telah berpartisipasi dalam program ini sejak 2017. Setiap kali mengikuti program ini, saya selalu menemukan hal baru. Terima kasih banyak karena telah menerima kami dan juga atas dukungan yang baik serta keramahan yang hangat. Semoga kedepannya para mahasiswa dapat terus menjaga komunikasi dan persahabatan yang telah terjalin melalui program ini,” ujarnya. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dari Indonesia dan Jepang yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Ia menilai program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, serta berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi dan kepemimpinan global di masa depan. “Lebih dari sekadar kegiatan akademik. Program ini menjadi wadah pembelajaran lintas budaya dan saling memahami, di mana mahasiswa tidak hanya belajar dari ruang kelas tetapi juga langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, dan berbagai tantangan nyata terkait keberlanjutan,” tuturnya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine

Lanjut Baca

UGM Provides Free Health Checkups for Persons with Disabilities

A total of 170 people with disabilities took part in a free health checkup program held during a social service activity organized by the Faculty of Medicine, Public Health, and Nursing of Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) on Sunday (Feb. 1) at Graha Agung, Bantul, Special Region of Yogyakarta. The activity was conducted as part of the 80th Anniversary and the 16th Lustrum of FK-KMK UGM under the theme “Compassion in Action, Empowering Lives,” in collaboration with UGM Academic Hospital (RSA UGM) and Sahabat dan Pemerhati Difabel dan ODGJ (Sapadifa). Dr. Supriyati, Coordinator of the FK-KMK UGM Community Service Team, stated that this community service activity reflects UGM’s commitment as an inclusive and health-promoting university to improve public health standards. To ensure the program’s success, the faculty collaborated with partners who have consistently contributed to the initiative over the past three years.  “This collaboration has been ongoing for three years, and we hope it will continue as a form of participation in supporting a healthier community,” Dr. Supriyati said in a statement released to the media on Tuesday (Feb. 3). Meanwhile, Ade Febrina Lestari, representing the board of directors of RSA UGM, welcomed the activity and expressed strong support, particularly for the provision of health services for children with disabilities. She emphasized that every child has the right to receive optimal support for growth and development.  “Disabilities should never be a reason for a child to be denied the same and equal services as other children. This is where the role of families and the surrounding environment becomes crucial in ensuring the fulfillment of children’s rights and access to facilities,” the paediatrician said. During the one-day health checkup, persons with disabilities attended the activity accompanied by their family members. In addition to free medical examinations, FK-KMK UGM also provided health education services and distributed basic food packages to persons with disabilities and their accompanying families.  “While waiting in line, participants were invited to attend educational sessions on superflu, allowing this social service activity to also serve as an informative space for health learning,” Dr. Supriyati explained. Sulis, one of the participants from Imogiri, Bantul, shared that she has lived with a disability since 2011 due to a chronic tuberculosis infection. She expressed her happiness at being able to participate in the free health checkup organized by UGM. According to her, the examination helped her better understand the development of her condition, especially as she continues to work despite relying on a wheelchair. “We are very happy. Through this checkup, we better understand our health issues and the steps we should take. Today’s services are also very complete, with special checkups for children as well as adults,” Sulis said. Dr. Supriyati emphasized that this activity further strengthens UGM’s role in implementing the Health-Promoting University (HPU) concept and consistently encourages healthy lifestyle adoption within the university and the wider Yogyakarta community. The entire series of activities also represents UGM’s tangible contribution to achieving the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in promoting inclusive and equitable health and reducing inequalities. Author: Ika Agustine Editor: Gusti Grehenson Post-editor: Zabrina Kumara Putri  Photographs: FK-KMK UGM

Selengkapnya

BISI Serahkan Beasiswa Fast Track Pascasarjana di Fakultas Pertanian UGM: Dorong Inovasi dan Ketahanan Pertanian Masa Depan

Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (Faperta UGM) menyelenggarakan acara penyerahan beasiswa bagi mahasiswa pascasarjana Program Fast Track penerima KIPK, hasil kerja sama dengan PT BISI International Tbk, di bawah naungan Charoen Pokphand Foundation Indonesia (CPFI) pada Jumat, 23 Januari 2026. Bertempat di Ruang Venture, AGLC Lantai 6, kegiatan ini menjadi simbol komitmen dunia industri dalam mendukung pendidikan tinggi dan inovasi pertanian berkelanjutan. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Ir. Jaka Widada, M.P., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas dukungan beasiswa yang diberikan. “Terima kasih atas kontribusi BISI. Semoga beasiswa ini dapat membantu mahasiswa menyelesaikan dua jenjang pendidikan dalam lima tahun (Fast Track) dan memberikan manfaat nyata bagi pengembangan pertanian Indonesia,” ujarnya. Direktur Utama PT BISI International Tbk, Agus Saputra Wijaya, menjelaskan bahwa CPFI menaungi program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari Charoen Pokphand Group, termasuk BISI melalui dukungan terhadap pendidikan dan riset pertanian. BISI sendiri dikenal sebagai produsen benih jagung unggulan yang aktif mendorong transformasi teknologi pertanian. Dalam sesi diskusi, BISI memaparkan tantangan dan peluang pertanian Indonesia menuju tahun 2030. Musim tanam terbaik diperkirakan berlangsung antara Maret hingga Juni, namun perubahan iklim yang tidak menentu membuat prediksi menjadi semakin kompleks. “Satu jenis tanaman tidak bisa digeneralisasi hasil panennya, apalagi dengan kondisi geografis Indonesia yang sangat beragam. Dibutuhkan strategi dan teknologi untuk menyiasati tantangan ini,” jelas narasumber dari BISI. Pak Agus menyampaikan bahwa salah satu solusi yang bisa dikembangkan adalah pemanfaatan teknologi Control Atmosphere Storage (CAS) untuk menyimpan produk pertanian di luar musim panen, sehingga dapat menjaga stabilitas harga dan pasokan. Selain itu, BISI juga memperkenalkan metode Tabela (tanam benih langsung) berbasis penggunaan drone sebagai bagian dari pengembangan sistem pertanian terpadu. “Kami tidak hanya menawarkan benih, tetapi juga sistem dan teknologi yang mendukung seluruh rantai produksi pertanian,” tegasnya. Kegiatan ini turut mendukung pencapaian beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), antara lain SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Penulis: Beny Nabila Happy Fauziah Editor: Tantriani

Selengkapnya

Temu Alumni UGM di Kepulauan Riau: Bersinergi untuk Persiapkan Lingkungan Akademik yang Lebih Inklusif dan Berkualitas

UGM bekerja sama dengan KAGAMA Kepulauan Riau  menyelenggarakan kegiatan temu alumni pada Jumat (23/1) bertempat di Harris Hotel & Suites Nagoya, Batam. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 80 peserta serta sejumlah perwakilan dari UGM dan KAGAMA, di antaranya Prof. Dr. H. M. Soerya Respationo, S.H., M.H., M.M., selaku Ketua Pengurus Daerah (Pengda) KAGAMA Kepulauan Riau beserta jajaran Pengda Kepulauan Riau; Drs. H. Hartoyo Sirkoen, M.Si., selaku Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) KAGAMA Batam, serta jajaran Pengcab KAGAMA Batam. Dalam sambutan pembuka, Prof. Dr. H. M. Soerya Respationo, S.H., M.H., M.M., menyampaikan bahwa alumni UGM di Kepulauan Riau memiliki latar belakang profesi yang beragam dan telah berkiprah di berbagai sektor strategis. Ia menegaskan kesiapan KAGAMA Kepulauan Riau untuk terus berkolaborasi dengan UGM melalui berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan reputasi dan kualitas institusi. “Ayo kita berkolaborasi dengan tempat di mana kita bisa bertumbuh dan bersinergi, yang pada akhirnya akan membanggakan UGM maupun para KAGAMA,” ujarnya. Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., selaku Wakil Rektor bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni yang menekankan bahwa peran alumni di dunia profesional turut menentukan reputasi dan kualitas UGM. Ia juga mengapresiasi kontribusi alumni melalui berbagai inisiatif, termasuk penggalangan donasi untuk beasiswa dan penguatan dana abadi pendidikan. Ia juga menyampaikan keseriusan UGM dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif di tengah gempuran tekanan akademik yang dialami oleh para mahasiswa. “Dengan itu kami tertantang untuk terus-menerus melakukan peningkatan pendidikan dan pengajaran yang inklusif sebagai salah satu bagian nilai yang kita miliki sebagai bangsa Indonesia,” pungkasnya. Kegiatan temu alumni ini dilanjutkan dengan pemaparan informasi terkini mengenai UGM serta sesi Focus Group Discussion (FGD) yang membahas peran alumni dalam mendukung kemajuan UGM dan kontribusi alumni UGM di industri Batam. Melalui kegiatan ini, UGM bersama KAGAMA Batam dan KAGAMA Kepulauan Riau turut berkontribusi dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, melalui penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi dan jejaring alumni di daerah. [Kantor Alumni: Hansel, Foto: Dea]

Selengkapnya

UGM Bantu 500 Mahasiswa Kesulitan Bayar Biaya Kuliah

Universitas Gadjah Mada memberikan bantuan beasiswa dari internal kampus kepada mahasiswa angkatan 2025 yang berasal dari keluarga kurang mampu dan mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya kuliah. Selain itu, bantuan ini juga ditargetkan untuk sejumlah 503 mahasiswa baru angkatan 2025 dengan kategori KIP Kuliah non-eligible yang belum memperoleh pendanaan melalui skema KIP Kuliah Tahun 2025 karena keterbatasan kuota, sehingga memerlukan dukungan tambahan agar dapat melanjutkan studi dengan baik. Melalui kebijakan ini, UGM berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan mahasiswa dengan memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghambat bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik dan motivasi belajar yang tinggi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Ari Sujito, S.Sos., M.Si mengatakan sebagai wujud tanggung jawab institusional dan komitmen terhadap prinsip keadilan sosial, inklusivitas, serta keberlanjutan pendidikan, UGM menyiapkan berbagai langkah mitigasi terhadap mahasiswa KIP Kuliah non-eligible yang karenea keterbatasan kuota menjadi kesulitan dalam bayar biaya kuliah, diantaranya melalui pemanfaatan imbal hasil investasi Dana Abadi UGM sebesar Rp1,5 miliar yang digunakan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak, dan alokasi IPI 2025 sebesar 1,1 Milyar rupiah. Dijelaskannya pelaksanaan dan pengaturan teknis penyaluran bantuan ini dikoordinasikan oleh Direktorat Keuangan bersama Direktorat Kemahasiswaan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pendekatan mitigasi dilakukan UGM secara hati-hati, berbasis data, dan melalui mekanisme internal universitas. ”UGM ingin memastikan proses pembelajaran mahasiswa tidak terganggu dari sisi pembiayaan, dengan memberikan bantuan, talangan atau mengatasi terlebih dahulu dampak kebijakan seperti keterbatasan kuota atau penundaan pencairan KIP Kuliah,” ujarnya di UGM, Jumat (23/1). Selain lewat sumber Dana Abadi, UGM akan mengoptimalkan berbagai skema bantuan internal lainnya, seperti penyesuaian UKT, beasiswa internal, serta bentuk dukungan lain yang relevan dengan kondisi mahasiswa. Dengan demikian, mitigasi pendanaan tidak bertumpu pada satu sumber, melainkan disusun secara komprehensif dan berkelanjutan. Sementara dari sisi tata kelola keuangan, UGM memastikan pemanfaatan Dana Abadi dilakukan secara akuntabel, sesuai mekanisme yang berlaku, dan dikoordinasikan lintas unit sebagai bagian dari tanggung jawab sosial universitas. UGM menekankan bahwa tidak seluruh mahasiswa yang belum menerima KIP Kuliah otomatis memperoleh dana pengganti yang sama. ”Setiap mahasiswa ditangani secara individual berdasarkan pemetaan dan verifikasi data yang mencakup kondisi sosial ekonomi, status UKT, kemampuan finansial, serta rekam jejak dan progres akademik,” terangnya. Ari menyebutkan 503 mahasiswa yang terkendala ekonomi ini pada prinsipnya telah memenuhi kriteria kelayakan sebagai penerima KIP-K non eligible, namun karena keterbatasan kuota mereka sangat memerlukan bantuan pembiayaan untuk keberlanjutan studinya. “Karenanya UGM bertanggung jawab memastikan mahasiswa dapat belajar dengan nyaman dengan melindungi mereka dari beban kebijakan yang berpotensi mengganggu proses pembelajaran,” jelasnya. Ari kembali menandaskan UGM tetap menerapkan mekanisme seleksi dan verifikasi untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan berkeadilan. Proses evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, disertai koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, guna memastikan pemenuhan hak-hak mahasiswa dapat berjalan dengan baik. Melalui langkah-langkah tersebut, UGM bertekad agar tidak ada mahasiswa yang dibiarkan menghadapi risiko putus studi sendirian, dan terus berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan sesuai nilai keadilan sosial dan inklusivitas. Penulis: Agung Nugroho

Selengkapnya

Komunitas Alumni UGM Pecinta Lari Salurkan Donasi Rp 500 Juta untuk Beasiswa dan Masyarakat Terdampak Bencana

Komunitas alumni UGM pecinta lari yang tergabung dalam KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB) menyerahkan donasi sebesar Rp. 500.202.576,00 yang kemudian diperuntukan untuk bantuan beasiswa UGM bagi mereka yang terdampak Bencana Sumatra, Program Beasiswa UGM Reguler, dan Dana Abadi UGM. Donasi ini dihimpun dari hasil penyelenggaraan kegiatan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada.Penyerahan dana donasi KAGAMA Lari Untuk Berbagi secara simbolis disampaikan Ketua Panitia UGM Trail Run 2025, Budi Susila dan diterima Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos. M.Si. Audiensi dan serah terima donasi berlangsung di ruang Rektor UGM, Kamis (22/1). Penyaluran dana donasi tersebut dipercayakan kepada Universitas Gadjah Mada melalui platform Sahabat UGM (www.sahabat.ugm.ac.id) yang merupakan platform filantropi resmi untuk memfasilitasi partisipasi sivitas akademika, alumni, mitra, dan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Pemanfaatan platform ini sejalan dengan upaya penguatan budaya filantropi dan keberlanjutan pendanaan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada. Budi Susila mengaku pihaknya sangat bersyukur terlaksananya penyelenggaraan UGM Ultra 76K Charity Run 2025 dalam rangka memeriahkan rangkaian Dies Natalis Ke-76 Universitas Gadjah Mada Tahun 2025. Kegiatan olahraga sambil berdonasi ini menurutnya para peminatnya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. “Tahun kemarin kenaikan 3-4 kali liat dari tahun sebelumnya baik dari sisi terkumpulnya donasi maupun jumlah peserta lari,” ujarnya. Ia mengharapkan kolaborasi yang erat dengan pimpinan universitas agar terus menghimpun dana untuk membantu mahasiswa dari keluarga yang mengalami keterbatasan ekonomi. “Tanpa kolaborasi yang bagus tentunya ini tidak bisa kita lakukan event tersebut. Kita terus mengajak alumni dan masyarakat luas yang memiliki hobi lari untuk ikut berpartisipasi,” ujarnya. Budi menyebutkan, saat awal kegiatan UGM Ultra Charity Run hanya diikuti peserta kurang dari  100 oang, namun tahun tahun 2025 lalu setiap event mencapai rata-rata ribuan peserta. Pun dari sisi donasi, tahun sebelumnya terkumpul 170 juta maka di penyelenggaraan tahun 2025 mencapai 500 juta rupiah. “Kita sungguh bersyukur karena dengan waktu yang mepet untuk persiapan tidak sampai sebulan, hanya sekitar 3 minggu. Mudah-mudahan di tahun 2026 kita bisa menyelenggarakan kembali dengan persiapan yang lebih panjang dan matang sehingga berharap nantinya bisa terkumpul dana Rp 1 miliar sebagaimana harapan kita bersama,” imbuhnya. Arie Sujito menyampaikan apresiasi kepada pengurus komunitas KAGAMA Lari Untuk Berbagi (KLUB). Menurutnya kontribusi alumni di komunitas berhasil membangun semangat kemitraan dan kemanusiaan. “Setelah saya mengikuti Kagama lari ini menemukan spiritnya adalah sehat namun sekaligus berbagi dana, dan kami bersyukur karena kali ini terkumpul Rp 500 juta,” katanya. Dikatakan Arie, UGM saat ini tengah membantu kelancaran studi para mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu maupun terdampak bencana. Bantuan tersebut diberikan tidak hanya dalam bentuk dana, namun juga peminjaman sepeda, laptop, dan para mahasiswa terdampak bencana Sumatra. “UGM terus bekerja keras mencarikan dana untuk UKT beberapa mahasiswa terkena bencana. Ada sekitar 200an mahasiswa terkena bencana dan kita mencarikan untuk meringankan mereka,” ujarnya. Ari menyatakan UGM siap mendukung untuk penyelenggaraan UGM Ultra Charity Run di tahun 2026 agar jangkauan penyelenggaraan lebih luas. “Kita siap membantu untuk perijinan, promosi kepada mahasiswa, kita siap membantu jika perlu sekretariat sementara bisa memakai salah satu ruang yang ada disini,” imbuhnya. Penulis : Agung Nugroho Foto : Donnie

Selengkapnya

 UGM Bersama KLUB Wujudkan Kebermanfaatan akan Masyarakat Luas Melalui Penyerahan Donasi Kegiatan UUCR 2025 

UGM bersama KAGAMA Lari untuk Berbagi (KLUB) melaksanakan penyerahan dana donasi sebesar Rp500.202.576,00 yang terhimpun melalui kegiatan UGM Ultra 76K Charity Run (UUCR) 2025 dalam rangka Dies Natalis Ke-76 UGM Tahun 2025. Kegiatan penyerahan dana berlangsung pada Kamis (22/01) di Ruang Sidang Pimpinan, Gedung Pusat UGM, dan dihadiri oleh 12 peserta. Hadir pula dalam kegiatan tersebut Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, serta Budi Susilo selaku Ketua Panitia UUCR 2025. Dalam pemaparannya, Budi Susilo menjelaskan bahwa UUCR 2025 diikuti oleh 287 pelari dengan keterlibatan peserta dari berbagai latar belakang. Kegiatan yang dipersiapkan selama tiga bulan ini berhasil menghimpun dana donasi yang dialokasikan untuk berbagai program, antara lain bantuan beasiswa bagi mahasiswa terdampak bencana, program beasiswa reguler UGM, serta dana abadi UGM. Ia berharap pada pelaksanaan kegiatan selanjutnya, jumlah donasi dapat meningkat hingga mencapai target Rp1 miliar, seiring dengan peningkatan profesionalisme penyelenggaraan acara dan strategi penggalangan peserta serta donasi. “Diharapkan ke depan acara bisa lebih profesional dan terus di-improve. Meskipun pendaftarannya bersifat internal, upaya teman-teman dalam mengumpulkan peserta perlu diapresiasi dan terus ditingkatkan,” ujarnya. Apresiasi terhadap kegiatan ini disampaikan oleh Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si. Ia menegaskan bahwa KLUB merupakan komunitas alumni yang secara konsisten berkontribusi dalam kegiatan kemanusiaan sehingga UGM berkomitmen untuk terus mendukung berbagai inisiatif yang dilakukan oleh KLUB. Menurutnya, komunitas lari tidak hanya menjadi wadah aktivitas olahraga, tetapi juga ruang ekspresi, kolaborasi, dan inovasi yang dapat terus dikembangkan untuk memberikan dampak yang lebih luas. “Dalam komunitas lari ada banyak ekspresi yang bisa dikembangkan. Ke depan komunitas ini akan terus tumbuh, dan tentu masih banyak hal yang dapat diperbaiki dan ditingkatkan,” pungkasnya. Kegiatan penyerahan dana ini ditutup dengan sesi foto bersama serta diskusi terkait evaluasi dan rencana pengembangan kegiatan KLUB ke depan. Melalui kegiatan ini, UGM dan KLUB menegaskan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung penguatan kualitas pendidikan serta keberlanjutan program beasiswa bagi mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini turut berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan, melalui sinergi antara universitas dan KLUB dalam mendorong kebermanfaatan bagi masyarakat.   [Kantor Alumni: Hansel, Foto: Nandik]

Selengkapnya

Kembangkan Alat Deteksi Cepat untuk Keamanan dan Keaslian Pangan, Dosen UGM Raih Penghargaan Internasional Hitachi Award

Persoalan keamanan dan keaslian pangan saat ini menjadi persoalan yang sering kita temukan di tengah masyarakat. Seperti kasus keracunan siswa yang menyantap menu program Makanan Bergizi Gratis di sekolah kerap terjadi. Belum lagi banyak konsumen yang merasa dirugikan karena membeli produk pangan palsu yang beredar di pasaran maupun di e-commerce. Tidak banyak alat yang mampu mendeteksi tingkat keamanan dan keaslian pangan dalam waktu cepat. Umumnya sampel produk pangan yang akan diuji tingkat keamanan dan keasliannya memerlukan waktu uji laboratorium berhari-hari. Di tangan dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Dr. Widiastuti Setyaningsih, S.T.P., M.Sc., berhasil mengembangkan alat deteksi cepat tingkat keamanan, keaslian dan kualitas pangan dalam waktu cepat. Melalui riset “Green Analytical Method for Rapid Assessment of Food Safety, Authenticity, and Functional Quality in Diverse Food Systems,” Widiastuti mengembangkan metode analisis kimia inovatif yang mampu mengevaluasi keamanan pangan, keaslian produk, dan kualitas fungsional secara cepat dalam hitungan menit, bahkan detik dengan penggunaan bahan kimia yang sangat minimal atau bahkan tanpa bahan kimia sama sekali. Pendekatan ini menjadi terobosan penting sebagai alternatif metode konvensional yang umumnya memerlukan waktu analisis panjang hingga berhari-hari serta bergantung pada bahan kimia berbahaya yang berdampak negatif bagi lingkungan. Widi, demikian ia akrab disapa, menyampaikan Inovasi yang dikembangkan berfokus pada tiga pilar utama, yaitu food safety (keamanan pangan), authenticity (keaslian pangan), dan functional quality (kualitas fungsional). Pendekatan ini dinilai relevan untuk menjawab tantangan pengawasan pangan modern yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan keberlanjutan. Selain cepat dan akurat, metode yang dikembangkan juga ramah lingkungan. Widi menerapkan teknik ekstraksi tingkat lanjut seperti ultrasound-assisted extraction dan microwave-assisted extraction, yang membutuhkan pelarut dalam jumlah jauh lebih sedikit. “Metode ini lebih cepat dan menggunakan solvent lebih minimal, sehingga lebih ramah lingkungan. Karena itulah disebut green analytical method,” jelasnya saat diwawancarai pada kamis (21/1).  Proses analisis dan kuantifikasi juga dipercepat dengan pemanfaatan metode spektroskopi, yaitu teknik analisis yang memanfaatkan interaksi radiasi elektromagnetik dengan materi untuk mengkaji sifat kimia dan fisika suatu senyawa. Dibandingkan metode kromatografi konvensional, spektroskopi memungkinkan analisis dilakukan tanpa tahap ekstraksi yang panjang, bahkan dalam beberapa kasus bersifat non-destruktif terhadap sampel. Meski demikian, Widi tetap mengembangkan metode kromatografi berkecepatan tinggi sebagai pembanding dan pelengkap. Pada kromatografi konvensional, proses analisis umumnya memerlukan waktu yang relatif lama. “Pada kromatografi konvensional, analisis bisa memakan waktu yang lama. Namun dengan Ultrahigh Performance Liquid Chromatography (UPLC), waktu analisis dapat dipangkas dari sekitar 30 menit menjadi hanya 3 menit,” jelasnya. Lebih lanjut, metode yang dikembangkan tidak hanya mampu mengidentifikasi dan mengkuantifikasi senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga mendeteksi berbagai senyawa berbahaya, seperti mikotoksin—termasuk aflatoksin dan okratoksin—serta NAPZA (Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) yang berpotensi disalahgunakan dalam produk pangan. Melalui pengembangan ini, Widiastuti berharap metode yang dihasilkan dapat diadopsi oleh BPOM dan institusi terkait guna memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan nasional. Selain aspek keamanan, riset ini juga mencakup evaluasi kualitas fungsional pangan, seperti potensi antidiabetes dan antidepresan, pada berbagai sistem pangan. Sejumlah riset yang telah ia lakukan meliputi pengujian aktivitas antidepresan pada edible flowers yang didukung hibah L’Oréal, pengujian senyawa antidiabetes pada bunga rosella melalui hibah Kalbe.  “Dalam proposal untuk Hitachi, saya mengusung konsep diverse food systems, artinya tidak terbatas pada satu jenis pangan. Edible flowers yang saya teliti juga sangat beragam, mulai dari bunga pisang, rosella, kecombrang, senggani, turi, hingga safflower,” jelasnya. Menariknya, Widiastuti juga telah mengembangkan aplikasi berbasis web untuk analisis makroalga dan kakao. Melalui platform ini, laboratorium yang memiliki data spektroskopi dapat langsung mengunggah data mereka untuk memperoleh hasil analisis berupa interpretasi kualitas sampel secara cepat dan akurat. Aplikasi ini dirancang agar dapat diakses secara global dan digunakan secara gratis. Menurut penuturannya, ia juga mengembangkan metode analisis yang dapat membedakan produk kopi dari luwak liar maupun yang sengaja ditangkar, serta metode deteksi adulterasi kokoa untuk dapat melihat apakah bubuknya murni/asli atau tidak, serta mengetahui makroalga jenis apa dan dari daerah Indonesia di bagian mana.   Tak hanya pada bahan baku, metode analisis yang dikembangkannya juga diaplikasikan pada produk pangan olahan, seperti penentuan kandungan resveratrol, senyawa antioksidan, pada kue kering dan selai. Hal ini menegaskan bahwa pendekatan diverse food systems mencakup seluruh rantai pangan, dari bahan mentah hingga produk akhir. Ke depan, Widiastuti berharap hasil risetnya dapat diadopsi secara luas oleh industri, laboratorium pemerintah, kementerian terkait, Bea Cukai, serta BPOM, sekaligus berkontribusi dalam perumusan kebijakan dan regulasi keamanan pangan berbasis data ilmiah. “Harapannya, riset saya tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. Penulis : Leony Editor : Gusti Grehenson

Selengkapnya

78 Tahun FKG UGM ‘Meretas’ Air Hujan Menjadi Air Minum, Dorong Kampus Hijau Ramah Lingkungan

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (FKG UGM) menandai Dies Natalis ke-78 dengan langkah yang melampaui seremoni akademik. Pada perayaan tahun ini, FKG UGM meluncurkan sistem panen air hujan yang diolah menjadi air layak konsumsi, sebuah inovasi yang menggabungkan sains kesehatan, teknologi lingkungan, dan komitmen keberlanjutan kampus. Peresmian dilakukan dalam rangkaian pembukaan Dies Natalis yang dihadiri Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, S.H., M.M., Ph.D, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia (SDM)FKG UGM  drg. Margareta Rinastiti, M.Kes., Sp.KG. Subsp.KR(K)., Ph.D, sivitas akademika FKG UGM, mitra industri, serta perwakilan fakultas kluster kesehatan UGM. Dalam sambutannya, Dekan FKG UGM menegaskan bahwa usia 78 tahun bukan sekadar penanda historis, melainkan momentum refleksi atas peran fakultas dalam menjawab tantangan masa depan, khususnya krisis lingkungan dan efisiensi sumber daya air. DARI PENGELOLAAN SAMPAH KE PANEN AIR HUJAN FKG UGM sebelumnya dikenal sebagai salah satu fakultas yang konsisten mengelola sampah berbasis pemilahan dan daur ulang. Sampah anorganik seperti botol plastik dan kertas tidak hanya dipisahkan, tetapi juga dimanfaatkan untuk program donasi dan pengelolaan berkelanjutan. Tahun ini, pendekatan tersebut dikembangkan lebih jauh melalui pengelolaan air hujan. Air yang ditampung tidak langsung digunakan, melainkan melalui serangkaian proses teknologi: filtrasi, pengendapan, sterilisasi ultraviolet (UV), hingga reverse osmosis (RO). Hasil akhirnya adalah air dengan tingkat kemurnian tinggi yang aman untuk dikonsumsi serta berpotensi digunakan dalam kebutuhan klinik kedokteran gigi “Inovasi ini bukan sekadar memanen hujan lalu diminum. Ada tahapan ilmiah yang ketat agar air benar-benar steril dan aman,”, papar Dekan FKG UGM. “Keberadaan inovasi pemberdayaan air hujan ini, sebagai penanda komitmen terhadap inovasi serta keberlanjutan, hari ini juga kita kuatkan dengan agenda Peresmian Air Minum RO (Reverse Osmosis) dari air tadah hujan FKG UGM, sebagai langkah nyata menghadirkan kampus yang lebih sehat, adaptif, dan ramah lingkungan, ungkap Ketua Panitia Dies Natalis FKG UGM ke 78, Dr, drg. Bramasto Purbo Sejati, Sp.B.M.M., Subsp. T.M.T.M.J.(K), dalam sambutannya. Wakil Rektor UGM & Dekan FKG UGM mengamati instalasi air minum berbasis air hujan RELEVANSI MEDIS: AIR MURNI UNTUK PRAKTIK KEDOKTERAN GIGI Berbeda dari program lingkungan pada umumnya, sistem panen air hujan FKG UGM dirancang dengan orientasi medis. Air hasil RO memiliki konduktivitas listrik yang sangat rendah karena bebas dari partikel terlarut. Kondisi ini dinilai ideal untuk mendukung penggunaan alat-alat kedokteran gigi seperti bur dan ultrasonic scaler, karena dapat mengurangi risiko rasa ngilu pada pasien serta meningkatkan kenyamanan tindakan klinis Ke depan, fakultas berencana memanfaatkan menara penampungan air di area sekitar musala, Dental Learning Center, serta gedung OECF sebagai bagian dari sistem terpadu panen air hujan. JEJAK KARBON DAN BUDAYA INTROSPEKSI LINGKUNGAN Selain air, Dies Natalis ke-78 juga menjadi titik awal pengembangan penghitungan jejak karbon (carbon footprint) di lingkungan FKG UGM. Melalui indikator ini, setiap aktivitas sivitas akademika—mulai dari penggunaan kendaraan, listrik, hingga kebiasaan merokok akan dipetakan kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan. Pendekatan ini bertujuan membangun budaya introspeksi kolektif. Fakultas berharap kesadaran lingkungan tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam perubahan perilaku sehari-hari. APRESIASI UGM DAN HARAPAN REPLIKASI KE FAKULTAS LAIN Pimpinan universitas yang hadir menyebut FKG UGM sebagai contoh konkret bahwa inovasi lingkungan dapat lahir dari fakultas kesehatan, bukan hanya dari rumpun teknik atau sains murni. Inisiatif panen air hujan dan penghitungan jejak karbon dinilai berpotensi direplikasi oleh fakultas lain di UGM. “Acara besar tidak selalu identik dengan sampah berserakan. Apa yang dilakukan FKG UGM menunjukkan bahwa keberlanjutan bisa menjadi bagian dari budaya akademik,” ujar Wakil Rektor UGM Bidang Perencanaan, Aset & Sistem Informasi Arief Setiawan Budi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D. SIMBOL PERUBAHAN DI USIA 78 TAHUN Perayaan Dies Natalis ditutup dengan simbolisasi minum air hasil olahan hujan oleh pimpinan universitas dan fakultas. Aksi tersebut menegaskan pesan utama perayaan tahun ini: inovasi, keberanian ilmiah, dan tanggung jawab ekologis. Di usia ke-78, FKG UGM tidak hanya merayakan masa lalu sebagai salah satu cikal bakal UGM, tetapi juga menegaskan arah masa depan—menjadi institusi pendidikan kedokteran gigi yang unggul, berkelanjutan, dan relevan dengan tantangan global. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografi: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

Rayakan HPTT ke-80, FT UGM Perkuat Komitmen Lingkungan melalui Penanaman Pohon

Dalam semangat merayakan 80 tahun Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) melaksanakan kegiatan peduli lingkungan melalui penanaman pohon di kawasan Taman Raya, pada Jumat, 9 Januari 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Senat, Dekan, Wakil Dekan, Kepala Departemen, Ketua HPTT, tenaga pendidik, serta mahasiswa FT UGM. Kawasan Taman Raya sendiri berlokasi di kawasan lereng selatan lingkar FT UGM. Dalam kegiatan tersebut, FT UGM menanam berbagai varietas tanaman sebagai wujud komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan serta upaya mitigasi pemanasan global. Adapun tanaman yang ditanam meliputi pisang abaka (Musa textilis), tarum (Indigofera tinctoria), dan bambu petung (Dendrocalamus asper). Pisang abaka (Musa textilis) merupakan sumbangan dari Dekan Fakultas Pertanian UGM, Ir. Jaka Widada. Tanaman ini dikenal sebagai penghasil serat alami bernilai tinggi yang berpotensi mendukung pengembangan material ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta merupakan tanaman asli Filipina. Sementara itu, tarum (Indigofera tinctoria), yang disumbangkan oleh Prof. Edia Rahayu, merupakan tanaman penghasil pewarna alami indigo. Tanaman ini memiliki peran penting dalam pengembangan wastra Nusantara serta mendukung pertumbuhan industri kreatif berbasis bahan alam. Adapun bambu petung (Dendrocalamus asper), sumbangan dari Dr. Inggar Septhia, dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam penelitian bambu laminasi. Penelitian tersebut diarahkan untuk mengembangkan bambu petung sebagai material struktural alternatif yang kuat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Tanaman-tanaman yang ditanam diproyeksikan akan mulai tumbuh dan berbuah dalam jangka waktu sekitar tiga bulan. Untuk mendukung pertumbuhan yang optimal, tanaman diberi pupuk KATRILI yang merupakan sumbangan dari Dr. Pri Utami. KATRILI merupakan booster cair berbahan dasar silika dari panas bumi yang bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pupuk kandang, meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman, mengurangi bau pupuk kandang, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Sementara itu, sumber air untuk pengairan tanaman berasal dari Selokan Mataram yang dialirkan menggunakan teknologi elevasi, mengingat posisi elevasi Selokan Mataram lebih rendah dibandingkan lokasi Taman Raya. Kegiatan penanaman pohon ini ditutup dengan doa yang mencerminkan harapan akan kebermanfaatan lingkungan, “Segeralah subur tanamanku, segeralah bermanfaat untuk lingkunganku,” penanda berakhirnya kegiatan penanaman pohon (9/1/2025). (Humas FT: Radaeva/ Dokumentasi: Opal)