engembangan vaksin dalam penanggulangan penularan penyakit infeksi tidak berhenti pada keberhasilan menghasilkan produk, tetapi juga mencakup kemampuan melakukan uji klinis, memastikan kesiapan produksi dan regulasi, hingga memastikan vaksin dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, UGM mendorong upaya pengembangan kapasitas penelitian, membangun jejaring kolaborasi lintas negara, serta mendorong hasil riset dan inovasi vaksin agar dapat memberikan dampak bagi masyarakat perlu digalakkan.
Hal itu mengemuka dalam International Vaccine Symposium 2026, dan 5th Annual Meeting of ARISE (Academic Research Organisations Alliance for Southeast and East Asia) yang berlangsung pada 28 september hingga 3 oktober di ruang auditorium FK-KMK UGM.
Simposium internasional ini mempertemukan jejaring ARISE dan Asia-Pacific Vaccine Research Network (APVRN) dalam satu forum. Lebih dari 700 peserta dari 35 negara mengikuti kegiatan tersebut, baik secara langsung maupun daring. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kementerian dan lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, klinisi, tenaga kesehatan, industri, serta organisasi yang bergerak dalam bidang vaksin dan kesehatan masyarakat.

Namun yang tidak kalah penting menurutnya terkait kesiapsiagaan pemangku kepentingan dalam menghadapi dan mengantisipasi penyakit infeksi yang baru muncul. “Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi vaksin perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem kesehatan, kebijakan, distribusi, serta kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Dikatakan Thobari, dalam simposium kali ini, para peserta diajak melihat bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya vaksin. Akses terhadap layanan kesehatan, kapasitas penelitian dan produksi, kebijakan yang mendukung, serta kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat vaksin dapat dirasakan secara luas.

Bagi FK-KMK UGM, kata Thobari, penyelenggaraan rangkaian pertemuan internasional tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai penghubung antara komunitas penelitian Indonesia dengan jejaring riset regional dan internasional. “Kolaborasi yang dibangun tidak hanya diarahkan pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas dan penerjemahan hasil penelitian menjadi kebijakan serta program kesehatan,” ungkapnya.
Kolaborasi tersebut pada akhirnya diharapkan tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi berlanjut dalam bentuk penelitian bersama, penguatan kapasitas uji klinis, pengembangan inovasi, serta pemanfaatan bukti ilmiah untuk mendukung sistem imunisasi yang tangguh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik.

“Dalam ekosistem seperti ini, kita dapat menghubungkan penelitian lintas negara dengan produksi vaksin, kebijakan kesehatan, dan pemberian layanan kepada masyarakat. Tujuan bersama kita adalah melindungi setiap anak dan setiap masyarakat yang membutuhkan perlindungan,” ujar Yodi.
Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie Tristan

