BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Modal Rp500 Ribu dari Beasiswa, Mahasiswa UGM Berhasil Bangun Bisnis Ayam Petelur

Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan untuk berusaha. Hal ini dibuktikan oleh seorang mahasiswa UGM yang sukses membangun bisnis ayam petelur berbekal modal dari tabungan beasiswanya. Berbekal tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, ia merintis usaha tersebut di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga berkembang menjadi peternakan mandiri dengan ratusan ekor ayam. Memanfaatkan ilmu pemuliaan ternak yang dipelajari di bangku kuliah, Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, mengembangkan inovasi persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi melalui usaha peternakannya, Bejo Farm. Inovasi persilangan ini berangkat dari pemahaman Anjeli terhadap karakteristik masing-masing jenis ayam. Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur yang tinggi, sedangkan ayam Mardi memiliki postur tubuh lebih besar. Melalui persilangan keduanya, Anjeli berupaya menggabungkan potensi produksi telur dan pertumbuhan tubuh dalam satu keturunan ayam. “Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” tuturnya. Melalui teknik crossbreeding, Anjeli berharap dapat menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan tubuh yang baik untuk dimanfaatkan sebagai ayam potong, sementara ayam betinanya tetap memiliki potensi produksi telur. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pemuliaan ternak yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fapet UGM. Selain mengembangkan persilangan ayam Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. "Saat ini, BejoBejo Farm memproduksi telur sekitar 15–20 butir per hari, didukung puluhan indukan aktif dan anakan hasil penetasan sendiri," dalam keterangannya. Di tengah harga pakan pabrikan yang tengah melonjak, Anjeli memanfaatkan potensi limbah lokal untuk menekan biaya operasional. “Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari," ungkapnya. Tak hanya pakan ternak, Anjeli turut menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih dan daun pepaya. “Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan," jelasnya. Untuk sistem penjualan telurnya, Anjeli menggunakan sistem beli langsung di tempat dan menyediakan pesanan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook. Produk yang ia jual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Dari hasil penjualannya, Anjeli pun mengungkapkan, sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana penerapan ilmu peternakan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha untuk membangun peternakan yang mandiri. Perjalanan Bejo Farm tidak selalu berjalan mulus. Anjeli sempat mengalami kerugian akibat kematian anakan ayam ketika cuaca di Klaten mengalami perubahan ekstrem. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk mengevaluasi sanitasi kandang dan perawatan ternak agar usaha dapat terus berkembang. Anjeli mengungkapkan alasannya membangun usaha Bejo Farm ini. Hanya bermodalkan tabungan beasiswa yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan dana tabungannya untuk mengembangkan usaha dengan mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. “Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli. Bagaimana pun, Anjeli menuturkan tabungan sebagai modal awalnya tidak luput dari penerapan ilmu di Peternakan UGM. “Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” ungkapnya. Melalui Bejo Farm, Anjeli menunjukkan bahwa ilmu pemuliaan ternak dapat menjadi dasar pengembangan inovasi di bidang peternakan. Perpaduan pengetahuan akademik, percobaan persilangan, dan pengelolaan usaha membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi ternak sekaligus membangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Anjeli

Lanjut Baca

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

Rimawan Pradiptyo Bagikan Pengalaman Membangun Modal Sosial Lewat SONJO

Rimawan Pradiptyo, S.E., M.Sc., Ph.D., dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) membagikan pengalamannya menginisiasi Sambatan Jogja (SONJO) untuk menggalang solidaritas dan membantu warga rentan yang terdampak pandemi COVID-19 di Yogyakarta di hadapan peserta Global Summer Week 2026. Ia menjelaskan bagaimana teori permainan dan ekonomi eksperimental dapat digunakan untuk membangun modal sosial di tengah krisis selama pandemi COVID-19 di Yogyakarta. Rimawan menyoroti kondisi pemerintah pada awal pandemi yang dinilainya lamban merespons keseriusan situasi, termasuk keputusan mengundang figur publik untuk mempromosikan pariwisata. Di tengah kondisi tersebut, muncul pertanyaan mendasar yang menjadi titik tolak lahirnya SONJO. "Pilihannya adalah apakah kita mau bergerak dan mencoba menolong diri sendiri, atau kita hanya diam dan menunggu bantuan pemerintah," ujarnya pada Senin (20/7/2026) dalam rangkaian GSW 2026. SONJO resmi terbentuk pada 24 Maret 2020 dan sepenuhnya bergerak melalui 30 WhatsApp Group (WAG) dengan total 2.300 anggota, sementara pertemuan tatap muka pertamanya baru terlaksana dua tahun kemudian. Rimawan menjelaskan modal awal gerakan ini bukan berasal dari jejaring pribadinya, melainkan dari posisi UGM sebagai pusat keilmuan. Rimawan menegaskan SONJO tidak menerima pendanaan dalam bentuk apa pun sejak awal berdiri. Sebuah keputusan yang sempat mengejutkan sejumlah filantropis yang ingin membantu. Ia menjelaskan keputusan ini sengaja ia ambil untuk menghindari risiko hukum, mengingat status SONJO sebagai institusi informal yang tidak berwenang mengelola dana pihak ketiga. "Kami memang butuh sumber daya, tapi sumber daya itu tidak harus berupa uang. Waktu, WhatsApp, koneksi internet, itu semua sumber daya," katanya. Meski tanpa dana, SONJO berhasil mengoordinasikan program vaksinasi hingga 178.000 dosis, yang menurutnya diakui Kementerian Kesehatan sebagai salah satu program vaksinasi paling efisien secara nasional. Gerakan ini juga mengembangkan shelter yang menyediakan penampungan gratis selama 10 hari bagi pasien COVID-19 tanpa gejala. Salah satu tantangan terbesar yang diungkap Rimawan adalah bagaimana menjaga kepatuhan dan kerja sama antaranggota tanpa adanya kontrak formal. Menurutnya hal itu bertentangan dengan prinsip dasar mechanism design dalam teori ekonomi. "Sonjo bukan institusi formal. Pertanyaannya, bagaimana Anda bisa membuat orang mematuhi aturan kerja sama tanpa kontrak apa pun. Yang kami punya hanyalah kesepakatan di antara kami sendiri," ujarnya. Untuk mengatasi hal ini, Rimawan mengandalkan mekanisme self-selection bias. Ia meyakini hanya orang-orang yang benar-benar punya niat berkontribusi yang akan bertahan bergabung, sehingga risiko perilaku oportunistik dari anggota bisa ditekan secara alami. Pada tiga minggu pertama pembentukannya, Rimawan menerapkan sistem pengelolaan keluhan yang cukup sistematis. Setiap keluhan dan kecemasan anggota yang masuk sepanjang hari dirangkum menjadi semacam notulensi harian dan dipublikasikan setiap tengah malam. Rimawan juga mengombinasikan pendekatan budaya untuk meredam gesekan antar anggota yang sebagian besar tidak saling mengenal secara fisik, misalnya dengan menutup pernyataan berbahasa Indonesia menggunakan bahasa Jawa krama saat terjadi perbedaan pendapat. Pendekatan berbasis kearifan lokal inilah yang membuatnya menolak permintaan untuk membuka SONJO di kota lain seperti Jakarta. "SONJO pertama di Jakarta, atau modal sosial mana pun, akan optimal jika kita memahami budaya daerah tersebut. Tanpa memahami budaya masyarakat setempat, sangat sulit untuk mengoptimalkan peran modal sosial," katanya. Rimawan menjalankan kepemimpinan di SONJO tanpa dokumen atau jabatan resmi. Ia menyebut model kepemimpinan ini sebagai servant leadership, yakni kredibilitas seorang pemimpin dibangun dari kesediaannya bekerja lebih dulu dan lebih lama demi orang lain, bukan dari rekam jejak masa lalu. "Yang paling penting bukan performa atau kredibilitas kita di masa lalu. Tapi ketika membangun modal sosial, orang bisa melihat apakah kita benar-benar melakukannya demi kesejahteraan orang lain, atau hanya memikirkan diri sendiri," ujarnya. Rimawan mengutip dua rujukan yang menginspirasinya dalam membangun SONJO, yaitu prinsip mengenal diri sendiri dan lawan dari Sun Tzu, serta ucapan Jalaluddin Rumi bahwa jalan akan tampak begitu seseorang mulai melangkah. Baginya, filosofi itu bisa dirangkum dalam satu kata, yakni niat yang lebih penting dari sekadar sumber daya atau uang. Reportase: Dwi Zhafirah Meiliani Editor: Kurnia Ekaptiningrum Sustainable Development Goals         

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

BLC FH UGM dan RRI Pro 2 Jogja Dorong Literasi Legalitas UMKM melalui Siaran Penyuluhan Hukum Berbasis SDGs

Rabu (6/5/2026), Business Law Community (BLC) Fakultas Hukum UGM bekerja sama dengan RRI 2 Pro Jogja menyelenggarakan Siaran Penyuluhan Hukum bertajuk “UMKM Naik Kelas: Usaha Sah, Peluang Usaha Meluas” sebagai bentuk realisasi Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Pusat Konsultasi dan Bantuan Hukum UGM. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan literasi hukum masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta terkait pentingnya legalitas usaha dalam mendorong keberlanjutan dan daya saing bisnis. Program siaran ini menghadirkan dua narasumber dari Fakultas Hukum UGM. Skolastika Probo Citaningrum, S.H., LL.M., alumnus Pascasarjana, dan Afanin Fariq Fajriya, selaku mahasiswa aktif. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya pertumbuhan UMKM di Yogyakarta yang belum sepenuhnya diiringi dengan pemahaman terkait legalitas usaha. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan dan Riset DIY, jumlah UMKM di Yogyakarta terus mengalami peningkatan signifikan selama beberapa tahun terakhir, terutama pada sektor kuliner, ekonomi kreatif, perdagangan, dan jasa. Namun demikian, sebagian besar UMKM masih berada pada level mikro dan menghadapi tantangan dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dalam siaran tersebut dibahas berbagai persoalan yang sering dihadapi pelaku UMKM, mulai dari minimnya pemahaman mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikasi halal, perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), hingga akses terhadap pembiayaan dan peluang ekspor. Selain itu, narasumber juga menjelaskan transformasi sistem legalitas usaha melalui mekanisme Online Single Submission (OSS) yang saat ini dirancang untuk mempermudah pelaku usaha memperoleh legalitas secara cepat, mudah, dan tanpa biaya. Siaran ini juga mengangkat sejumlah studi kasus nyata yang menunjukkan risiko usaha tanpa legalitas. Salah satunya adalah kasus pelaku usaha frozen food di Sampit yang dijatuhi sanksi pidana akibat tidak memiliki izin edar dan label produk yang sesuai ketentuan. Selain itu, dibahas pula kasus UMKM keripik singkong di Malang yang gagal mengekspor produk ke Malaysia karena tidak memiliki Nomor Induk Berusaha. Kedua kasus tersebut menjadi gambaran konkret bahwa legalitas usaha tidak hanya berfungsi sebagai syarat administratif, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan hukum dan pintu masuk menuju pasar yang lebih luas. Melalui kegiatan ini, masyarakat memperoleh pemahaman bahwa legalitas usaha memiliki manfaat strategis bagi keberlanjutan bisnis UMKM. Legalitas memberikan perlindungan hukum terhadap pelaku usaha, meningkatkan kepercayaan konsumen, mempermudah akses pembiayaan dari lembaga keuangan, serta membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak. Di sisi lain, legalitas juga membantu UMKM memperoleh akses terhadap program pemerintah, termasuk pendampingan usaha, bantuan pembiayaan, dan fasilitasi pengembangan pasar. Diskusi interaktif selama siaran berlangsung menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap isu legalitas usaha. Banyak pelaku UMKM yang menyampaikan pertanyaan mengenai proses pembuatan NIB, perlindungan merek dagang, hingga prosedur sertifikasi halal dan izin edar. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap edukasi hukum bisnis masih sangat besar, khususnya di tengah pertumbuhan ekonomi kreatif dan transformasi digital yang semakin pesat. Kegiatan penyuluhan hukum ini juga memiliki relevansi yang kuat terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pertama, kegiatan ini mendukung SDG 8 mengenai Decent Work and Economic Growth melalui penguatan kapasitas UMKM agar mampu tumbuh secara berkelanjutan dan menciptakan lapangan kerja yang layak. Kedua, program ini mendukung SDG 9 mengenai Industry, Innovation, and Infrastructure melalui dorongan transformasi UMKM menuju sistem usaha yang lebih modern, legal, dan berbasis digital. Ketiga, kegiatan ini juga berkaitan dengan SDG 16 mengenai Peace, Justice, and Strong Institutions karena mendorong peningkatan kesadaran hukum, kepastian hukum, serta akses masyarakat terhadap sistem regulasi yang inklusif. Selain memberikan edukasi kepada masyarakat, kegiatan ini diharapkan mampu membangun sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, media publik, dan komunitas UMKM dalam menciptakan ekosistem usaha yang sehat dan berkelanjutan. RRI 2 Pro Jogja sebagai media publik memiliki peran strategis dalam menyebarluaskan informasi edukatif yang mudah diakses masyarakat luas. Sementara itu, FH UGM melalui BLC berupaya menghadirkan pengabdian masyarakat berbasis akademik yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui siaran ini, diharapkan pelaku UMKM di Yogyakarta semakin memahami bahwa legalitas bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi penting untuk meningkatkan daya saing usaha, memperluas pasar, dan memperkuat perlindungan hukum. Dengan meningkatnya kesadaran terhadap legalitas usaha, UMKM diharapkan mampu berkembang secara berkelanjutan dan menjadi salah satu pilar utama pembangunan ekonomi daerah maupun nasional. Penulis: Maytri Gestart Ignatius (BLC)

Selengkapnya

Fakultas Farmasi UGM Berdayakan Srikandi Desa Kulon Progo melalui Pengembangan Produk Farmasi Berbasis Empon-Empon

Kulon Progo, 9 Mei 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Kulon Progo untuk Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol” di Kelurahan Hargotirto, Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Program EQUITY Community Development 2026 dari Universitas Gadjah Mada menghadirkan inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Hargotirto, Kulon Progo dalam Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol.” Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis riset aplikatif yang dilaksanakan dengan dukungan kolaborator internasional. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan perempuan desa, khususnya kelompok istri petani yang tergabung dalam Srikandi Desa, melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman, bermutu, dan bernilai ekonomi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Equity Universitas Gadjah Mada, sekaligus komitmen Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pengembangan kesehatan masyarakat berbasis potensi lokal sekaligus memperkuat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Istilah “Srikandi Desa Hargotirto” mencerminkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pemberdayaan di wilayah tersebut. Sejak tahun 2010, Desa Hargotirto dikembangkan sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, dengan salah satu fokus utama pada penguatan peran perempuan. Hingga kini, terdapat 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan produktif, bahkan salah satunya telah meraih prestasi Juara I tingkat kabupaten. Pengembangan produk berbasis empon-empon dipilih karena Kabupaten Kulon Progo dikenal sebagai salah satu sentra utama empon-empon di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi empon-empon di wilayah ini sangat dominan dibandingkan kabupaten/kota lainnya, terutama untuk komoditas jahe yang kontribusinya mendekati sebagian besar produksi daerah. Komoditas empon-empon yang dikembangkan antara lain jahe, kencur, kunyit, temu ireng, temu kunci, lengkuas, dan temulawak. Komoditas jahe dipilih karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku produk herbal. Namun demikian, pengelolaan pascapanen serta standardisasi mutu berbasis kandungan senyawa aktif masih menjadi tantangan di tingkat masyarakat. Salah satu fokus utama program ini adalah penetapan mutu jahe berbasis kandungan senyawa aktif. Jahe diketahui mengandung senyawa bioaktif penting seperti 6-shogaol dan 6-gingerol yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antidiabetik. Namun demikian, selama ini penilaian mutu jahe di tingkat masyarakat masih lebih banyak didasarkan pada aspek fisik, belum mengacu pada kandungan senyawa aktif sebagai parameter ilmiah. Melalui program ini, tim pengabdian memperkenalkan penetapan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol sebagai parameter ilmiah untuk menjamin kualitas produk olahan empon-empon. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 9 Mei 2026 meliputi sosialisasi program, pelatihan dan focus group discussion (FGD), serta workshop dan praktik langsung pengolahan jahe. Peserta memperoleh pendampingan terkait teknik pengolahan pascapanen, pembuatan sediaan herbal sederhana, hingga penerapan teknologi tepat guna skala rumah tangga untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Selain penguatan kapasitas teknis, program ini juga mendorong pembentukan kelompok kerja perempuan sebagai unit produksi berbasis masyarakat yang diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut diperkuat melalui kolaborasi internasional guna mendukung transfer pengetahuan, inovasi, serta keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Menurut Prof. Agung Endro Nugroho selaku Ketua Program EQUITY Pengabdian kepada Masyarakat Farmasi UGM 2026, pendekatan berbasis sains ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk empon-empon sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya kelompok perempuan di Desa Hargotirto. Melalui program ini, Fakultas Farmasi UGM menargetkan tercapainya peningkatan kapasitas minimal 20 peserta perempuan desa, tersusunnya panduan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol, serta dihasilkannya produk olahan jahe yang berkualitas dan memiliki nilai tambah ekonomi. Program ini sejalan dengan beberapa tujuan SDGs, di antaranya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman dan bermutu, SDG 5 (Gender Equality) melalui pemberdayaan perempuan desa sebagai aktor utama pengembangan produk herbal, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan ekonomi masyarakat desa, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan produksi herbal yang terstandar dan berkelanjutan. Penulis: Rizqi Vazrin | Editor: Fathul | Foto: Rizqi Vazrin

Selengkapnya

UGM Apresiasi Mitra Penyedia Beasiswa dalam Mendukung Akses Pendidikan Mahasiswa

Universitas Gadjah Mada menggelar ‘Malam Apresiasi dan Inspirasi: Irama untuk Bangsa’ sebagai bentuk penghargaan kepada para mitra yang selama ini berkontribusi dalam penyediaan beasiswa bagi mahasiswa. Acara yang berlangsung pada Kamis malam (13/11) di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM tersebut diisi dengan apresiasi, pemaparan capaian beasiswa, serta penampilan musik yang menghadirkan suasana kebersamaan. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas komitmen mitra yang secara konsisten mendukung keberlanjutan akses pendidikan bagi mahasiswa UGM. “Malam ini merupakan ungkapan terima kasih kami kepada Bapak-Ibu sekalian atas kontribusi bermakna yang telah membantu membuka jalan bagi generasi muda untuk menempuh pendidikan tinggi,” ujarnya. Rektor menambahkan, dukungan para mitra memperkuat penyediaan beasiswa sekaligus menjadi landasan penting bagi upaya menciptakan kesempatan belajar yang lebih inklusif. Ia menyampaikan bahwa semangat kolaborasi yang terbangun selama ini menjadi modal utama dalam memperluas jangkauan penerima manfaat beasiswa. “Keteguhan dan kepedulian yang Bapak-Ibu berikan menjadi kekuatan bagi UGM dalam memastikan pendidikan dapat diakses oleh lebih banyak anak bangsa,” tuturnya. Acara kemudian dilanjutkan dengan pemaparan oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., yang memaparkan gambaran mengenai kondisi sosial-ekonomi mahasiswa dan tantangan pembiayaan pendidikan. Ia menjelaskan bahwa sekitar 30 persen mahasiswa UGM berasal dari keluarga berpenghasilan rendah, sementara sebagian lainnya berada pada kelompok yang rentan namun tidak tercakup dalam skema bantuan pendidikan. “Masih banyak mahasiswa yang membutuhkan pendampingan agar dapat menjalani studinya tanpa kendala finansial,” jelasnya. Wakil Rektor juga menyoroti berkurangnya kuota KIP Kuliah 2025 serta terbatasnya alternatif pendanaan yang berdampak pada kesinambungan dukungan bagi mahasiswa. Ia menegaskan bahwa kondisi ini menuntut penguatan kolaborasi antara UGM dan para mitra untuk menjaga stabilitas pendanaan beasiswa di tengah dinamika kebijakan nasional. “Oleh karena itu, kerja sama yang semakin solid menjadi kunci dalam memastikan setiap mahasiswa tetap dapat melanjutkan pendidikannya,” ungkapnya. Selain memaparkan tantangan, Arie turut menyampaikan arah solusi yang tengah dikembangkan UGM, mulai dari penguatan beasiswa, mentoring, konektivitas dengan dunia profesional, hingga dukungan khusus bagi mahasiswa disabilitas. Ia menekankan bahwa penyediaan akses pendidikan mencakup aspek finansial serta dukungan ekosistem pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa berkembang secara optimal. “Setiap bentuk dukungan merupakan investasi sosial yang akan memperkuat kualitas generasi mendatang,” katanya. Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor memaparkan perkembangan penghimpunan dan penyaluran beasiswa UGM yang selama ini didukung oleh pemerintah, BUMN, sektor swasta, yayasan, serta donatur individu. Ia memastikan bahwa seluruh dukungan tersebut dikelola melalui sistem yang kredibel dan transparan agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh mahasiswa. “Kepercayaan para mitra menunjukkan bahwa sistem pengelolaan beasiswa di UGM diterima dengan baik karena akuntabel dan berdampak,” ujarnya. Acara malam itu juga menghadirkan sesi talkshow yang menghadangkan dua alumni UGM, Onny Hendro Adhiaksono dan Nur Agis Aulia, yang selama ini aktif memberikan dukungan pendidikan bagi mahasiswa. Keduanya berbagi pengalaman tentang perjalanan karier, alasan mereka tergerak menjadi donatur, serta pandangan mengenai pentingnya keberlanjutan akses pendidikan bagi generasi muda. Melalui kisah dan refleksi para alumni tersebut, UGM menegaskan bahwa kolaborasi lintas generasi memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem beasiswa dan membangun solidaritas yang berdampak nyata bagi mahasiswa. Malam Apresiasi dan Inspirasi ditutup dengan pesan kolaborasi untuk memperluas akses pendidikan yang inklusif bagi seluruh anak bangsa. Melalui momentum ini, UGM dan para mitra menegaskan komitmen bersama untuk menjaga keberlanjutan dukungan bagi mahasiswa di berbagai lapisan sosial. “Dengan bergotong royong, kita memastikan setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk belajar dan berkontribusi bagi masyarakat,” pungkas Wakil Rektor. Penulis: Triya Andriyani Foto: Donnie