BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

SV UGM Latih Tenaga PMIK Kulon Progo Kuasai Kodifikasi Klinis Berbasis Kecerdasan Buatan

KULON PROGO (Kamis, 20 Agustus 2026) – Tim Pengabdian Masyarakat Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan (DLIKes) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) menggelar pelatihan Kodifikasi Klinis Berbasis Artificial Intelligence (AI) bagi Tenaga Perekam Medis dan Informasi Kesehatan (PMIK) se-Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Field Research Center (FRC) SV UGM, Kulon Progo ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan adaptabilitas para profesional rekam medis dalam menghadapi era digitalisasi kesehatan. Pelatihan ini dilatarbelakangi oleh pesatnya pemanfaatan kecerdasan buatan dalam pengelolaan data kesehatan. Meskipun integrasi AI mampu mempercepat proses otomatisasi, potensi kesalahan algoritma (algorithmic error) tetap menjadi risiko nyata yang dapat memengaruhi keselamatan pasien serta akurasi statistik medis. Oleh karena itu, pelatihan ini diselenggarakan guna membekali PMIK dengan keterampilan teknis penggunaan AI sekaligus pemahaman mendalam mengenai pentingnya verifikasi ketepatan data secara berkala. Rangkaian kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pembukaan resmi oleh pimpinan Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan SV UGM. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi integrasi AI, simulasi pengkodean klinis (hands-on practice), diskusi interaktif mengenai privasi data, hingga penutupan yang diisi dengan penyusunan rekomendasi tindak lanjut. Dalam sesi materi dan aktivitas utama, para peserta dibekali kemampuan praktis menavigasi perangkat lunak kodifikasi berbasis AI untuk penetapan kode diagnosis (ICD). Selain berlatih menggunakan instrumen digital, peserta diajak menganalisis Isu etika, transparansi algoritma, serta regulasi kerahasiaan data pasien. Pendekatan ini memastikan para PMIK tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga tanggap terhadap aspek etis dan hukum. Ketua Tim Program Pelatihan, Angga Eko Pramono, S.KM., M.Sc., menekankan bahwa peran manusia (human-in-the-loop) tetap menjadi kunci utama. "Selain mahir menggunakan AI untuk mendukung kodifikasi klinis, PMIK juga diharapkan mampu memitigasi potensi kesalahan AI. Oleh karena itu, aspek verifikasi ketepatan hasil kodifikasi klinis sangat diperlukan," tegasnya. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan praktis peserta dalam mengoperasikan serta mendeteksi potensi kekeliruan sistem otomatis. Dampaknya, para PMIK di Kabupaten Kulon Progo kini memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menjaga integritas, akurasi, dan keamanan data rekam medis di fasilitas pelayanan kesehatan masing-masing. Kegiatan ini secara langsung mendukung perwujudan Sustainable Development Goals (SDGs). Peningkatan kualitas data rekam medis berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dengan menjamin mutu pelayanan kesehatan. Pelatihan ini juga mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui peningkatan kapasitas SDM secara berkelanjutan, serta SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penerapan inovasi teknologi secara bijak di sektor kesehatan. Sebagai rencana tindak lanjut, Tim Pengabdian SV UGM berkomitmen untuk melakukan pendampingan berkala serta menyusun panduan standar operasional verifikasi AI. Sinergi berkelanjutan ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem digitalisasi kesehatan nasional yang aman, teruji, dan akuntabel.

Lanjut Baca

Menata Kota Sehat: Walikota Jogja Bicara Sampah, Stunting, dan Lansia

Dr. dr. Hasto Wardoyo,Sp.OG(K)  yang kini memimpin Kota Yogyakarta menyebut kesehatan sebagai kunci keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Ia memulainya dari tumpukan sampah dan pemberdayaan perempuan. Di hadapan mahasiswa kesehatan masyarakat Universitas Gadjah Mada, Rabu, 30 September 2026, Wali Kota Yogyakarta dr. Hasto Wardoyo membuka paparannya dengan sebuah pergeseran. Dulu, katanya, pembangunan bertumpu pada kekuatan pemimpin puncak. Kini yang menentukan adalah dukungan komunitas. Ia juga menambahkan bahwa semua itu bukan untuk mencari ketenaran. Diskusi yang dipandu Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, MA itu berlangsung dengan banyak pertanyaan dari mahasiswa. dr. Hasto Wardoyo, yang berlatar belakang dokter, memaparkan peta persoalan kota dengan gaya seorang klinisi: mencari titik yang paling menentukan. Daya Ungkit dan Enam Pilar Prinsip praktisnya, menurut Hasto, adalah orientasi geografis. Pemerintah tidak perlu menyentuh semua wilayah, cukup daerah yang bila diintervensi akan mendongkrak hasil secara signifikan. Dengan cara itu, angka bisa naik pesat tanpa harus mengintervensi semuanya. Transformasi enam pilar kesehatan, ujarnya, menjadi referensi yang tidak bisa ditinggalkan. Tujuan akhirnya adalah membangun sumber daya manusia yang sehat dan unggul untuk menuju negara maju. Di titik ini Hasto menaruh perhatian khusus pada perempuan. Perempuan yang sehat dan produktif, katanya, meringankan beban keluarga dan mempengaruhi kesehatan seluruh anggotanya. Populasi perempuan terus membesar, dan angka harapan hidup mereka lebih panjang daripada laki-laki. Jika perempuan tidak bekerja, mereka berisiko menjadi beban. Faktor penentu lain adalah remaja. Pernikahan usia dini, menurut dia, berujung pada sakit dan rasa tidak aman di usia tua, dengan beban yang berat tidak hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi. Indeks Modal Manusia dan Bonus Demografi Hasto lalu menyinggung indeks modal manusia (human capital index), yang komponennya sangat dipengaruhi kesehatan: partisipasi sekolah, stunting, angka kematian, dan risiko bertahan hidup pada usia produktif. Indonesia, katanya, berada di urutan ke-96, dan itu yang membuat Indonesia masih jauh dari negara maju. Di Pulau Jawa, struktur penduduk sudah bergerak menuju penuaan. Yogyakarta bahkan berada di peringkat pertama di antara sepuluh provinsi dengan proporsi penduduk tua tertinggi. Era bonus demografi, menurut Hasto, adalah kesempatan 20 tahun ke depan untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah. Bila kesempatan itu terlewat, Indonesia akan masuk ke fase penduduk menua yang lebih berat. Kuncinya: SDM yang sehat, terampil, dan berpendidikan baik. Stunting Turun, Kesehatan Jiwa Tidak Ada catatan yang membuat Hasto resah. Meski angka stunting turun, kesehatan mental masyarakat tidak membaik, bahkan naik. Ia menyebut perceraian meningkat pesat, mencapai 500 ribu kasus per tahun pada 2025, sementara angka pernikahan terus turun hingga tinggal sekitar 1,7 juta. Penyebab perceraian, menurut dia, adalah hubungan yang toxic. Provinsi DIY, ia menambahkan, termasuk tinggi dalam jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Ia juga mencatat pergeseran perilaku seksual. Pada 1994, kontak seksual pertama umumnya terjadi di awal usia 20-an. Kini terjadi sebelum usia 20 tahun. Untuk Kota Yogyakarta, Hasto menyebut sederet tantangan: stunting, tuberkulosis, gangguan jiwa, penyakit tidak menular yang mendominasi, air dan sanitasi, serta sampah. Menurut dia, 70 persen latar belakang stunting berasal dari kesehatan lingkungan. Pencegahannya harus dilakukan dalam 1.000 hari pertama kehidupan, karena "template manusia" selesai dibentuk pada usia 24 bulan. Karena itu pendekatannya menyentuh lingkungan. Pemerintah kota memasang penghalang sampah di sungai dengan harapan stunting dan TB ikut menurun. Rumah yang membelakangi sungai dihadapkan ke sungai, agar warga tak lagi menjadikannya tempat buang. Targetnya lingkungan bersih, sungai bersih, dan saluran air yang baik. Perang Melawan Tumpukan Sampah Ketika Indra dari KMPK menanyakan isu paling pelik di Yogyakarta, Hasto langsung menunjuk sampah. Saat awal menjabat, volume sampah kota 300 sampai 400 ton, dan 45 depo menumpuk bertahun-tahun hingga meluber ke pinggir jalan. Strateginya adalah quick win 100 hari kerja: mereduksi sampah di depo. Targetnya, kota tidak lagi bergantung pada Piyungan. Kini, katanya, tinggal 12 depo yang selalu bersih. Ia meminta para lurah berkomitmen pada perilaku hijau dan memilah sampah dengan baik agar tidak ada sampah di pinggir jalan. Untuk sungai, pemerintah kota tidak lagi mengandalkan cara lama. Mereka membeli perahu dan menurunkan alat berat. "Masalah sampah menjadi masalah yang serius di Kota Jogja," kata Hasto, dalam inti pernyataannya. Lansia, Stroke, dan Shelter untuk Pasien Jiwa Persoalan berikutnya adalah penuaan penduduk. Hasto bercerita, di posyandu kini banyak ditemui lansia berusia 60–70 tahun. Penyakit juara di rumah sakit adalah stroke. Pemerintah kota menyiapkan skrining lansia setiap tiga bulan, membangun surveilans bersama Fakultas Kedokteran UGM, dan membuka sekolah lansia untuk deteksi dini. Soal kesehatan mental, yang ditanyakan Maharani dari KMPK, Hasto menyebut isu itu sebagai prioritas, bahkan lebih dari prioritas. Rumah sakit Pratama memperbanyak psikolog di rumah sakit dan puskesmas. Pemerintah kota juga membangun sistem rujukan dari sekolah: guru bimbingan dan penyuluhan diminta mengidentifikasi siswa, dan yang tak teratasi dirujuk ke rumah sakit. Hasto juga menyoroti celah yang kerap luput: pasien yang keluar dari rumah sakit jiwa tanpa kepesertaan BPJS, sementara keluarga belum sanggup merawat di rumah. Untuk itu pemerintah kota sedang mengidentifikasi lokasi yang bisa dikembangkan menjadi shelter transisi. Belanja Kesehatan dan Gotong Royong Dari Emil, KMPK, muncul pertanyaan soal pembiayaan setelah mandatory spending dihapus dalam undang-undang kesehatan baru, serta insentif agar dokter spesialis mau bertugas di daerah terpencil. Hasto menjawab tidak ada kepala daerah yang berani memangkas anggaran kesehatan di bawah 10 persen, karena layanan kesehatan sangat sensitif. Di Yogyakarta, belanja kesehatan malah lebih dari 20 persen. Warga tanpa kartu BPJS dibantu, termasuk bantuan Rp5 juta untuk perawatan kelas 3, dan bila penuh kelas 3 bisa naik ke kelas 2 dengan skema berbagi biaya (cost sharing). Soal dokter, ia berpendapat sistemnya sederhana: dokter hanya butuh kepastian, yakni kepastian waktu, regulasi, dan pembayaran. Pertanyaan Mubasysyir tentang pembangunan rumah dijawab dengan terus terang. Anggaran memakai APBD, ada pula dana pinjaman, sebab masa jabatannya tinggal empat tahun anggaran. Karena status tanah sering tidak jelas, ia merencanakan 200 rumah dibangun sepenuhnya dengan gotong royong tanpa APBD maupun APBN. Bila ada yang menyumbang, wali kota akan datang membentuk panitia dan ikut bergotong royong. Penulis: Nanda Melania.      

Selengkapnya

Kolaborasi dengan Prodi Keperawatan, Klinik UGM 24 Jam Korpagama Dukung Pembelajaran Praktik Asuhan Keperawatan Komunitas

Yogyakarta, 7 Oktober 2026 — Klinik UGM 24 Jam Korpagama kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan kesehatan. Melalui kolaborasi dengan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, klinik ini menjadi lokasi pembelajaran praktik Asuhan Keperawatan Komunitas bagi mahasiswa, langsung di fasilitas pelayanan kesehatan. Kegiatan berlangsung pada Rabu, 7 Oktober 2026, pukul 08.00-12.00 WIB, dan diikuti 24 mahasiswa semester tujuh dengan pendampingan dosen pembimbing Dr. Akhmadi, S.Kp., M.Kes., M.Kep., Sp.Kep.Kom. Melalui kunjungan ini, mahasiswa memperoleh pengalaman dan kesempatan belajar dalam situasi nyata sesuai dengan konteks layanan asuhan keperawatan komunitas. Pemaparan Materi dari Petugas KlinikKegiatan diawali dengan orientasi dan pemaparan materi dari petugas Klinik UGM 24 Jam Korpagama. Dalam sesi ini, mahasiswa mengenal ruang lingkup layanan Klinik serta gambaran praktik asuhan keperawatan yang dijalankan di fasilitas tersebut. Mahasiswa juga berkesempatan berdiskusi langsung dengan petugas klinik. Mengunjungi Setiap Bagian KlinikSetelah pemaparan materi, mahasiswa diajak mengunjungi setiap bagian klinik untuk melihat langsung alur pelayanan dan peran perawat di masing-masing unit. Pengalaman ini membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari di kelas dengan praktik pelayanan kesehatan yang sesungguhnya. Mahasiswa terbagi dalam dua kelompok dengan fokus pembelajaran berbeda: Kelompok 9 mempelajari layanan homecare. Kelompok 10 mempelajari layanan klinik dan sistem rujukan. Harapan dari KolaborasiKolaborasi ini mencerminkan komitmen Klinik Korpagama dalam mendukung pembelajaran mahasiswa kesehatan. Dengan belajar langsung di klinik, mahasiswa diharapkan semakin siap menjadi tenaga keperawatan yang kompeten, adaptif, dan peka terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat.

Selengkapnya

Kembali ke Titik Koordinat, Alumni Geografi ‘96 Gelar Reuni 30 Tahun

Alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1996 menyelenggarakan reuni ke-30 tahun pada Sabtu (5/9/26) di Fakultas Geografi UGM. Sebanyak 50 peserta alumni mengikuti serangkaian kegiatan yang meliputi napak tilas, angkringan malam, hingga penyerahan tali asih dan bibit pohon buah. Sesuai dengan tema “Kembali ke Titik Koordinat”, reuni ke-30 ini menjadi wadah silaturahmi bagi alumni Fakultas Geografi UGM angkatan 1996, sekaligus momentum untuk mengenang masa kuliah, mempererat persaudaraan, serta memberikan kontribusi nyata kembali ke almamater. Reuni ke-30 dibuka melalui sambutan dari Ketua Angkatan Geografi UGM ‘96 dan Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., serta dihadiri oleh beberapa dosen Fakultas Geografi UGM. Dalam kesempatan tersebut, alumni angkatan ’96 menyerahkan donasi berupa dua unit smartphone (HP) yang ditujukan bagi mahasiswa aktif Fakultas Geografi yang membutuhkan bantuan. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis melalui Dekan Fakultas Geografi UGM. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan berkelanjutan, alumni Geografi ‘96 turut menyerahkan sejumlah pohon bibit buah yang nantinya akan ditanam di lingkungan Fakultas Geografi.  Acara reuni juga diisi dengan jalan santai menyusuri rute nostalgia di area kampus UGM. Perjalanan dimulai dari Fakultas Geografi, menuju Boulevard UGM, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Gedung Alumni, Graha Sabha Pramana, Gedung Pusat (Balairung), dan kembali ke Fakultas Geografi.  Sementara itu, kegiatan reuni ditutup dengan “Angkringan Malam” yang ditujukan untuk saling bercengkerama, bertukar cerita, dan mengenang masa perkuliahan dahulu. Selain menjadi momentum untuk kembali bertemu, mengenang perjalanan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan kepedulian kepada almamater serta sesama, Ketua Panitia Reuni, Wahyudi Ardianto, S.Si., S.T., M.T., berharap semangat kebersamaan alumni Geografi '96 dapat terus terjaga. “Semoga semangat “Sesarengan, Srawung, Saklawase” terus terjaga dan menjadi bagian dari perjalanan GE'96 di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Selengkapnya

Kelurahan Mungil di Pusat Kantor, Merajut Hidup Sehat dari Posyandu hingga Bank Sampah

Lurah Semaki, Yogyakarta, menceritakan bagaimana ia menerapkan teori determinan sosial yang dulu hanya ia bayangkan di bangku kuliah. Di Ruang Ismangun, lantai 3 Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada, Rabu pagi, 23 September 2026, pertanyaan pembuka itu meluncur dari mulut Markhistun Nadhiroh: siapa di wilayah Semaki yang paling sulit menjalani hidup sehat? Pertanyaan itu bukan retorika. Bagi Markhistun, Lurah Semaki yang bergelar Magister Kesehatan Masyarakat (MPH), jawabannya menentukan ke mana anggaran kelurahan yang terbatas harus diarahkan. Dalam diskusi hibrida yang berlangsung pukul 10.00–11.30 WIB itu, ia berbagi pengalaman memimpin kelurahan yang kecil tetapi persoalannya beragam. Kecil dan Padat Perkantoran Semaki hanya dihuni sekitar 1.100 kepala keluarga. Wilayahnya didominasi perkantoran, sehingga hunian warga hanya mengumpul di beberapa titik. Jarak kelurahan ke fasilitas kesehatan tidak jauh. Kelurahan juga punya mobil BKO dan ambulans yang bisa dipakai warga. Meski mungil, peta persoalannya tidak sederhana. Sekitar 10 persen penduduk Semaki adalah lansia. Karena itu kelurahan menguatkan partisipasi warga untuk mendorong para lansia tetap aktif, dan membentuk layanan lansia terintegrasi. Hipertensi dan diabetes melitus masih mendominasi penyakit warga. Menurut Markhistun, warga bahkan sudah hafal obat yang mereka minum, tanda penyakit kronis telah menjadi bagian keseharian. Kelompok rentan lain mendapat perhatian khusus. Semaki memiliki tujuh ibu hamil, dan program penurunan stunting menetapkan target tegas: tidak boleh ada kasus stunting baru. Ada pula satu pasangan tuna grahita yang masuk kategori berisiko, serta warga dengan gangguan jiwa (ODGJ). Untuk menjangkau mereka, kelurahan menggelar "sambang wilayah", yakni mendatangi langsung warga berisiko. Pagu dan Skala Prioritas Keterbatasan anggaran menjadi kenyataan yang tak terhindarkan. Anggaran kelurahan berpatokan pada pagu, sehingga masalah harus disusun berdasarkan skala prioritas. Ketika ditanya Cornelius, peserta diskusi, soal kiat memimpin, Markhistun menyinggung skema anggaran yang masih top down. Skema itu baru bisa ditingkatkan sampai tingkat kemantren, dan saat ini masih dalam proses reformasi. Karena dana terbatas, kelurahan bertumpu pada mitra. Markhistun menyebut lembaga kemasyarakatan kelurahan, wadah yang dibentuk warga sendiri, sebagai mitra utama. Salah satunya LPMK, yang namanya kini berganti menjadi Tuanggono. PKK dan Karang Taruna juga termasuk mitra, bersama posyandu, kelompok wanita tani (KWT), UMKM, kelompok tani, dan Rintisan Kelurahan Budaya (RKB). Tugas lurah, katanya, membina dan mendampingi. Dari sisi pencegahan, Markhistun berfokus pada balita berisiko stunting. Setiap akhir bulan ia berkoordinasi dengan kader untuk memantau posyandu. Kelurahan juga memberikan pemberian makanan tambahan (PMT) bagi balita, ibu hamil, dan lansia. Posyandu, kegiatan jumantik, dan kader Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) bernaung dalam kelurahan siaga. Kader PSM menjadi penghubung dengan dinas sosial dan dinas terkait. Sampah, Biopori, dan Sanksi yang Belum Ada Isu sampah sempat memanaskan sesi tanya jawab. Moderator, Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasan Basri, MA, menanyakan apakah kelurahan bisa membuat aturan beserta sanksinya. Menurut dia, regulasi sangat penting dalam kesehatan masyarakat karena persoalan yang tak dikelola akan membesar. Markhistun menjawab bahwa pengelolaan sampah berkelanjutan di Yogyakarta digerakkan lewat program Wali Kota bernama MAS JOS, yaitu memasifkan masyarakat Jogja mengolah sampah. Warga diminta memilah sampah, membawa sampah anorganik ke bank sampah sebulan sekali, mengolah sampah organik di rumah dengan biopori, menghabiskan makanan, serta memakai ulang atau mendaur ulang. Sampah organik yang kerap menimbulkan bau dan lalat didorong agar tidak sampai ke pembuangan akhir. Kota Yogyakarta, ia mengingatkan, sudah tidak boleh membuang sampah ke Piyungan. Namun, hingga kini pengelolaan sampah masih berupa gerakan ajakan. "Belum menerapkan sistem punishment," begitu inti jawabannya. Kelurahan memilih jalur insentif, yakni lomba MAS JOS antar-KK dan lomba kebersihan. Saat mahasiswa KIA bertanya bagaimana biopori bisa diterapkan di permukiman padat, Markhistun menyebut warga bisa membuat biopori kecil di rumah tangga, atau yang berukuran jumbo. Syaratnya, jaraknya minimal 10 meter dari sumur. Dari Bangku Kuliah ke Kantor Kelurahan Ami mahasiswa Gizi Kesehatan menanyakan apa yang baru dipahami Markhistun setelah menjadi lurah dengan bekal ilmu MPH. Ia mengaku baru benar-benar mengerti cara menerapkan determinan sosial kesehatan setelah menjabat. Di bangku kuliah, konsep itu masih berupa bayang-bayang. Soal melibatkan semua lapisan warga, ia menyebut kelurahan menyediakan forum anak, sebab banyak anak lebih memilih gawai dan fasilitas bermain berada cukup jauh dari rumah warga. Remaja punya GenRe dan Karang Taruna, orang dewasa punya PKK, dan lansia punya forum lansia. Pertanyaan soal insentif kader dari Meitri (KMPK) dijawab bahwa posyandu menjalankan enam standar pelayanan minimal (SPM), dan layanan bidang nonkesehatan akan terus berjalan. Jika ada hal yang perlu diperbaiki, lurah berkoordinasi dengan puskesmas. Program unggulan Semaki, menurut dia, adalah pendanaan kaderisasi. Markhistun menutup pemaparannya dengan kalimat singkat tentang pekerjaannya sehari-hari: pemberdayaan masyarakat adalah seni. Penulis: Nanda M.

Selengkapnya

Achmad Munjid, Ph.D. Raih Hibah Perjalanan Internasional untuk Penelitian Humaniora

Dalam sebuah perkembangan signifikan bagi keberagaman budaya dan pendidikan, Achmad Munjid, Ph.D., telah dianugerahi dana hibah perjalanan (travel grant) untuk melakukan penelitian tentang diaspora Indonesia di Amerika Serikat. Hibah sebesar $2.000 tersebut akan mendukung proyeknya yang berjudul “A Shade for Shadow Citizens: Religious Communities, Belonging, and Immigrant Resilience among the Indonesian Diaspora in the United States under the Trump Era” (Naungan bagi Warga Bayangan: Komunitas Keagamaan, Rasa Memiliki, dan Ketahanan Imigran di antara Diaspora Indonesia di Amerika Serikat pada Era Trump). Penelitian ini dijadwalkan berlangsung dari tanggal 13 hingga 31 Agustus 2026. Proyek ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman para imigran Indonesia, dengan fokus khusus pada komunitas keagamaan mereka dan rasa memiliki (sense of belonging) yang mereka tumbuhkan di negeri asing. Penelitian ini sangat relevan dalam konteks pemerintahan Trump, yang ditandai oleh perubahan kebijakan imigrasi yang signifikan dan peningkatan pengawasan terhadap komunitas imigran. Dengan meneliti dinamika ini, Dr. Munjid berharap dapat memberikan pencerahan mengenai ketahanan komunitas-komunitas ini di tengah berbagai tantangan. Karya Dr. Munjid sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa, khususnya dalam mempromosikan keberagaman budaya dan membina kemitraan global. Dengan memahami pengalaman imigran Indonesia, penelitian ini bertujuan untuk berkontribusi pada dialog yang lebih luas tentang pentingnya inklusivitas dan penerimaan di negara-negara berkembang dan sekitarnya. Temuan dari penelitian ini dapat menjadi sumber daya yang berharga bagi para pembuat kebijakan maupun pendidik. Dana hibah perjalanan ini akan memungkinkan Dr. Munjid untuk terlibat langsung dengan diaspora Indonesia, melakukan wawancara, dan mengumpulkan data kualitatif yang akan memperkaya penelitiannya. Pendekatan langsung ini sangat penting untuk memahami pengalaman kompleks dari individu-individu yang sering kali berada di "bayang-bayang" masyarakat. Wawasan yang diperoleh tidak hanya akan bermanfaat bagi wacana akademik, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis untuk meningkatkan sistem dukungan komunitas. Selain implikasi akademis, penelitian Dr. Munjid menegaskan pentingnya pendidikan dalam memupuk pemahaman dan empati di antara kelompok budaya yang beragam. Dengan menyoroti kisah-kisah imigran Indonesia, beliau bertujuan untuk mengedukasi audiens yang lebih luas tentang tantangan yang mereka hadapi dan kontribusi yang mereka berikan kepada masyarakat Amerika. Hal ini sejalan dengan penekanan SDGs pada pendidikan berkualitas dan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang. Dukungan dari hibah perjalanan ini mencerminkan peningkatan pengakuan akan perlunya kemitraan global dalam mengatasi kompleksitas migrasi dan integrasi budaya. Seiring negara-negara berkembang terus bergelut dengan dampak globalisasi, penelitian seperti yang dilakukan oleh Dr. Munjid sangat krusial dalam menginformasikan kebijakan yang mempromosikan kohesi sosial dan pemahaman lintas budaya. Selain itu, proyek ini juga akan mengeksplorasi peran komunitas keagamaan dalam memberikan dukungan dan memupuk ketahanan di antara para imigran. Komunitas-komunitas ini sering kali berfungsi sebagai jaringan vital yang membantu individu menghadapi tantangan hidup di negara baru. Dengan memeriksa dinamika ini, Dr. Munjid berharap dapat menyoroti dampak positif dari organisasi berbasis keagamaan dalam mempromosikan integrasi sosial. Di tengah dunia yang semakin terhubung, pentingnya memahami keberagaman budaya tidak dapat dikesampingkan. Penelitian Dr. Munjid akan berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana komunitas imigran beradaptasi dan berkembang di lingkungan baru mereka. Hal ini menjadi sangat penting dalam konteks meningkatnya nasionalisme dan sentimen anti-imigran di berbagai belahan dunia. Sebagai kesimpulan, hibah perjalanan yang dianugerahkan kepada Achmad Munjid, Ph.D., mewakili langkah signifikan menuju kemajuan penelitian tentang diaspora Indonesia di Amerika Serikat. Proyeknya berjanji untuk memberikan wawasan berharga tentang pengalaman komunitas imigran, dengan menekankan pentingnya keberagaman budaya, pendidikan, dan kemitraan global dalam membina masyarakat yang lebih inklusif.

Selengkapnya

Akselerasi Hilirisasi Vaksin, UGM Perkuat Jejaring Global 

Pengembangan vaksin dalam penanggulangan penularan penyakit infeksi tidak berhenti pada keberhasilan menghasilkan produk, tetapi juga mencakup kemampuan melakukan uji klinis, memastikan kesiapan produksi dan regulasi, hingga memastikan vaksin dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, UGM mendorong upaya pengembangan kapasitas penelitian, membangun jejaring kolaborasi lintas negara, serta mendorong hasil riset dan inovasi vaksin agar dapat memberikan dampak bagi masyarakat perlu digalakkan. Hal itu mengemuka dalam International Vaccine Symposium 2026, dan 5th Annual Meeting of ARISE (Academic Research Organisations Alliance for Southeast and East Asia) yang berlangsung pada 28 september hingga 3 oktober di ruang auditorium FK-KMK UGM. Simposium internasional ini mempertemukan jejaring ARISE dan Asia-Pacific Vaccine Research Network (APVRN) dalam satu forum. Lebih dari 700 peserta dari 35 negara mengikuti kegiatan tersebut, baik secara langsung maupun daring. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kementerian dan lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, klinisi, tenaga kesehatan, industri, serta organisasi yang bergerak dalam bidang vaksin dan kesehatan masyarakat. Guru Besar Bidang Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM sekaligus koordinator pelaksana simposium internasional, Prof. Jarir At Thobari, mengatakan keberhasilan inovasi vaksin seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak vaksin yang berhasil dikembangkan, tetapi juga dari berapa banyak uji klinis yang dapat dilakukan dan berapa banyak vaksin yang benar-benar dapat diberikan kepada masyarakat. Namun yang tidak kalah penting menurutnya terkait kesiapsiagaan pemangku kepentingan dalam menghadapi dan mengantisipasi penyakit infeksi yang baru muncul. “Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi vaksin perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem kesehatan, kebijakan, distribusi, serta kepercayaan masyarakat,” tegasnya. Dikatakan Thobari, dalam simposium kali ini, para peserta diajak melihat bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya vaksin. Akses terhadap layanan kesehatan, kapasitas penelitian dan produksi, kebijakan yang mendukung, serta kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat vaksin dapat dirasakan secara luas. Melalui diskusi, studi kasus, dan pertukaran pengalaman antarnegara, peserta membahas sejumlah tantangan dalam program imunisasi, termasuk surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, kesiapsiagaan pandemi, zero-dose children, pemerataan akses imunisasi, ekonomi kesehatan vaksin, serta pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung kebijakan. Bagi FK-KMK UGM, kata Thobari, penyelenggaraan rangkaian pertemuan internasional tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai penghubung antara komunitas penelitian Indonesia dengan jejaring riset regional dan internasional. “Kolaborasi yang dibangun tidak hanya diarahkan pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas dan penerjemahan hasil penelitian menjadi kebijakan serta program kesehatan,” ungkapnya. Kolaborasi tersebut pada akhirnya diharapkan tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi berlanjut dalam bentuk penelitian bersama, penguatan kapasitas uji klinis, pengembangan inovasi, serta pemanfaatan bukti ilmiah untuk mendukung sistem imunisasi yang tangguh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik. Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan ekosistem vaksin tidak dapat dilakukan oleh satu institusi atau sektor saja. Menurutnya, keberhasilan inovasi vaksin sangat bergantung pada hubungan antara peneliti, regulator, produsen, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sebagai penerima manfaat. “Dalam ekosistem seperti ini, kita dapat menghubungkan penelitian lintas negara dengan produksi vaksin, kebijakan kesehatan, dan pemberian layanan kepada masyarakat. Tujuan bersama kita adalah melindungi setiap anak dan setiap masyarakat yang membutuhkan perlindungan,” ujar Yodi. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie Tristan

Selengkapnya

8 Dokter Muda Palestina Program SHEMIND FK-KMK UGM Ucap Janji Koas untuk Jalankan Misi Kemanusiaan

FK-KMK UGM. Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui program Scholarship for Health and Medical Development by Indonesian AID (SHEMIND) melaksanakan medical student oath atau janji koas di Grha Wiyata FK-KMK UGM. Berlangsung pada Jumat (02/10), janji koas ini diikuti oleh delapan dokter muda dari Al-Azhar University Gaza yang akan menjalani studi profesi di Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.  Dalam sambutannya, dr. Ahmad Hamim Sadewa., Ph.D selaku Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM mengucapkan selamat kepada delapan mahasiswa yang sebelumnya menempuh studi di Gaza tersebut. Menurutnya, janji koas ini merupakan persiapan tahap akhir setelah mereka mendapatkan pengetahuan dan keterampilan klinis di FK-KMK UGM selama beberapa bulan. “Hari ini kita mencapai akhir dari program persiapan tersebut. Anda harus melangkah maju ke tempat profesi di rumah sakit,” ujar dr. Hamim. Sementara itu, Kepala Bagian Akademik dan Riset RSA UGM, dr. Nurwestu Rusetiyanti, M.Kes., Sp.D.V.E, Subsp.Ven., mengatakan bahwa janji koas SHEMIND bukan sekadar pendidikan keterampilan klinis semata. Upacara ini ditujukan agar kedelapan mahasiswa memiliki empati, integritas, dan rasa profesionalisme sebagai dokter. Sebab, menurut dr. Nurwestu, mereka tengah menjalankan misi yang berakar pada solidaritas global dan martabat kemanusiaan. “Di rumah sakit, Anda akan menemui pasien pada momen-momen paling rentan mereka,” ujarnya. Sejalan dengan misi tersebut, dr. Mohammad Zughbur selaku Dekan Faculty of Medicine Al Azhar University Gaza menasehati kedelapan mahasiswa agar menjalankan pendidikan profesi dengan rasa kemanusiaan. Terlebih, bekal ilmu kesehatan ini akan sangat berguna bagi korban terdampak genosida di Gaza, Palestina. “Kami berharap suatu hari nanti kalian kembali untuk melayani rakyat kalian dan berkontribusi dalam membangun kembali sistem pelayanan kesehatan di Gaza,” tuturnya. Janji koas SHEMIND menjadi bukti komitmen kelembagaan FK-KMK UGM terhadap misi kemanusiaan global. “Melalui program kolaboratif ini, UGM menegaskan kembali komitmennya terhadap etika kedokteran, layanan kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial dalam skala internasional,” ujar dr. Nurwestu. Oleh sebab itu, agenda ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) berupa SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4: Pendidikan Berkualitas, SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, serta SDG 17: Kemitraan untuk mencapai tujuan. (Reporter: Aghits Azka)

Selengkapnya

UGM Raih Peringkat Pertama Komersialisasi Paten Tertinggi di Indonesia 

Universitas Gadjah Mada terus mendorong pemanfaatan hasil riset melalui penguatan perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual. Upaya tersebut salah satunya tercermin dari capaian UGM yang menempati peringkat pertama perguruan tinggi dengan jumlah komersialisasi paten tertinggi di Indonesia, yakni sebanyak 35 paten dengan nilai royalti sebesar Rp15 miliar. Posisi tersebut kemudian disusul Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan 32 paten dengan nilai royalti Rp12,4 miliar dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 30 paten dengan nilai royalti Rp10,8 miliar, yang masing-masing menempati peringkat kedua dan ketiga. Capaian tersebut disampaikan oleh Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Dr. Andreansjah, S.T., S.H., M.M., selaku keynote speaker dalam acara UGM IP Forum 2026 yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Kamis (1/10). Dalam forum yang mempertemukan regulator, akademisi, dan praktisi industri ini, Andreansjah mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan indikator berkembangnya pengelolaan kekayaan intelektual di UGM. Selaras dengan tema “Bridging IP Protection to Market Integration”, ia menilai bahwa keberadaan paten tidak seharusnya berhenti pada perolehan sertifikat, tetapi mesti dilanjutkan dengan pemanfaatan agar dapat memberikan nilai ekonomi. “Yang terpenting di sini bukan lagi soal apakah inovasi kita sudah dipatenkan, tapi bagaimana setelah dipatenkan kemudian bisa dimanfaatkan,” ungkapnya. Ia mengibaratkan sertifikat paten seperti sertifikat tanah yang tidak akan memberikan hasil optimal atau nilai manfaat jika hanya disimpan. Baginya, paten mesti dimanfaatkan melalui pengembangan usaha, lisensi, maupun bentuk komersialisasi lainnya demi menghasilkan nilai guna atau manfaat bagi inventor dan masyarakat. “Paten yang ada, ya itu harus menjadi nilai ekonomi,” sambungnya. Menanggapi efektivitas pemanfaatan paten di lingkup perguruan tinggi,  Andreansjah menyebut bahwa UGM sendiri memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan komersialisasi paten melalui ekosistem pengelolaan kekayaan intelektual yang telah dibangun. Keberadaan Intellectual Property Management Office (IPMO), dikatakan olehnya, merupakan salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem pemanfaatan paten, mulai dari proses kreasi, perlindungan, hingga utilisasi kekayaan intelektual. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menegaskan bahwa diperolehnya sertifikat paten bukanlah akhir dari proses inovasi. Danang berpendapat bahwa patent granted justru menjadi awal dari pekerjaan besar untuk membawa hasil riset menuju hilirisasi dan pasar. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan UGM IP Forum 2026, yakni untuk mengakselerasi proses hilirisasi riset UGM dengan mentransformasikan perlindungan paten menuju integrasi pasar. “Sebisa mungkin bagaimana paten ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan hilirisasi dan bagaimana produk yang Bapak-Ibu bangun itu bisa masuk ke market secara luas,” jelasnya. Lebih lanjut, Danang mengingatkan bahwa penguatan perlindungan kekayaan intelektual juga harus dilakukan sedari awal proses penelitian. Berdasarkan pengamatannya, ia menyoroti masih adanya peneliti yang telah menghasilkan produk, menemukan mitra, bahkan menjalin kerja sama, tetapi belum mengurus perlindungan patennya. Selain perlindungan, Danang juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, industri, praktisi bisnis, dan masyarakat. Menurut pandangannya, perguruan tinggi memiliki kekuatan pada aspek riset dan pengembangan, sementara proses manufaktur dan pengembangan produk hingga masuk ke pasar membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan industri. “Tidak mungkin UGM bekerja sendiri untuk melakukan manufaktur. Karena memang bukan dunianya akademik, kita (UGM) kan melakukan penelitian dan pengembangan,” pungkasnya. Senada dengan hal tersebut, Ketua Intellectual Property Management Office (IPMO) UGM, Prof. Ir. Sang Kompiang Wirawan, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa UGM senantiasa membangun kolaborasi dalam pengembangan kekayaan intelektual. Pada 2026, IPMO mencatat capaian paten yang melibatkan inventor dari berbagai fakultas dan klaster keilmuan di UGM. Dalam paparannya, Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) masih menjadi yang teratas sebagai penyumbang paten. Bersama IPMO UGM, ia menuturkan bahwa pengelolaan kekayaan intelektual di UGM tidak hanya berfokus pada perlindungan paten, tapi juga diarahkan untuk mendukung proses hilirisasi. Hal tersebut, kata Kompiang, dilakukan melalui penguatan fungsi IPMO yang mencakup regulasi, fasilitasi, hukum, kurasi, edukasi, dan data. Di akhir, Kompiang menambahkan bahwa penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat mempertemukan hasil invensi dari sivitas akademika dengan kebutuhan dunia usaha. Dengan demikian, paten tidak berhenti sebagai dokumen perlindungan, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan memberikan nilai ekonomi. “Semangat kita bersama untuk kita terus berkarya. Kita lanjutkan bahwa invensi itu bisa kita hilirisasi,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto

Selengkapnya

Kolaborasi UGM dan Industri Hasilkan Inovasi Sensor Gempa Bawah Air

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Innovation, dan PT Elnusa Tbk. sukses melaksanakan uji coba pengembangan sensor seismik bawah laut atau sensor gempa bawah air di Waduk Saguling, Jawa Barat, pada 28–29 September lalu. Teknologi yang dikembangkan dalam bentuk shallow water ocean bottom seismometer (OBS) tersebut diberi nama Prameya (Perangkat Rekam Aktivitas Mikroseismik dan Ekspedisi Yudha Akuatik), merupakan sensor getaran yang dirancang untuk ditempatkan di dasar perairan guna merekam aktivitas seismik, dengan target kemampuan operasi hingga kedalaman maksimum 100 meter. Dosen FMIPA UGM sekaligus Ketua proyek pengembangan Prameya, Dr. Wiwit Suryanto, mengatakan bahwa pengembangan sensor bawah laut tersebut merupakan kelanjutan dari riset sensor gempa darat yang sebelumnya dikembangkan UGM melalui Gamadu. “Ini sebetulnya kelanjutan dari sensor yang dulu kita buat, Gamadu dulu. Itu sensor gempa, tapi di darat,” ujar Wiwit dalam wawancara, Jumat (2/10). Pengembangan sensor tadi kemudian dilanjutkan ke lingkungan bawah air, mengingat Indonesia didominasi oleh wilayah perairan sehingga membutuhkan teknologi untuk memantau aktivitas seismik di laut. Wiwit menjelaskan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sensor gempa bawah laut yang dapat dipasang dan digunakan secara terus-menerus. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim melanjutkan pengembangan sensor hingga menghasilkan Prameya. “Kita belum punya sensor gempa bawah laut yang bisa dipasang terus-menerus. Jadi, kita mencoba mengembangkan sendiri supaya bisa memantau aktivitas gempa di bawah laut,” ungkapnya. Uji coba pertama dipasang selama satu malam dengan tujuan menguji ketahanan dan kekedapan alat ketika berada di dalam air. Pengujian ini dilakukan pada kedalaman sekitar 30 meter, sementara kedalaman waduk dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 80 meter. Tahap tersebut dipilih sebagai pengujian awal sebelum perangkat dibawa ke lingkungan laut yang membutuhkan persiapan lebih kompleks.“Jadi itu kita pasang semalam untuk melihat kedepannya karena memang ternyata tidak mudah untuk membuat alat yang kedap di bawah laut,” kata Wiwit. Menurutnya, kemampuan bertahan di dalam air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan Prameya. Versi sebelumnya baru diuji hingga kedalaman sekitar 10 meter, sedangkan pada versi terbaru tim mulai mengujinya hingga 30 meter. Selain sistem kedap air, tim juga mengembangkan sistem buoy agar perangkat dapat ditenggelamkan dan nantinya diangkat kembali. Hasil pengujian awal menunjukkan kinerja Prameya cukup baik ketika dibandingkan dengan alat standar. Meski demikian, masih terdapat satu komponen sensor horizontal yang perlu diperbaiki. Prameya memiliki tiga komponen sensor untuk merekam getaran, tetapi salah satunya masih menunjukkan kendala sehingga saat ini masih dalam proses penyempurnaan.“Waktu di darat sebenarnya hasilnya cukup baik dibandingkan dengan alat standar. Tapi memang masih ada sedikit masalah di komponen horizontal. Itu kan ada tiga komponen sensor yang kita pasang. Nah, yang satu komponennya masih bermasalah, tapi ini kita sedang perbaiki lagi,” ujar Wiwit. Dari sisi teknologi, Prameya memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan OBS pada umumnya, yakni merekam getaran dari dasar perairan. Namun, tim UGM mengembangkan Prameya dengan spesifikasi yang lebih lengkap. Perangkat ini dilengkapi webcam dan lampu yang memungkinkan tim melihat posisi sensor ketika berada di dasar perairan, termasuk kondisi lingkungan di sekitar perangkat. “Sebetulnya secara prinsip hampir sama, cuma memang kemarin kami ingin yang spesifikasi lengkap. Jadi di situ ada webcam-nya, ada monitor kameranya untuk melihat posisi dari sensor itu di dalam air,” jelas Wiwit. Kamera tersebut juga membantu tim mengetahui kondisi dasar perairan yang tidak selalu datar dan dapat dipenuhi lumpur. Dalam kondisi air keruh, jarak pandang kamera hanya sekitar 20–30 sentimeter, sedangkan pada air yang lebih jernih, posisi perangkat dapat terlihat lebih jauh. Keberadaan kamera dan lampu menjadi bagian dari upaya tim untuk membuat perangkat tidak hanya berfungsi merekam data seismik, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi alat ketika berada di dasar perairan. Wiwit mengatakan pengembangan dengan spesifikasi lengkap tersebut merupakan strategi tim untuk membangun kemampuan teknologi secara bertahap. Dengan mengembangkan perangkat pada spesifikasi yang lebih tinggi terlebih dahulu, teknologi tersebut nantinya dapat disederhanakan sesuai kebutuhan pengguna.“Kita yang cari yang paling spek tertinggi dulu. Kalau itu bisa, nanti spesifikasi yang lebih rendah kita pasti lebih bisa,” katanya. Setelah pengujian di Waduk Saguling, Prameya akan memasuki tahap pengujian berikutnya di laut lepas pada November 2026. Pengujian direncanakan berlangsung di lapangan laut Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan dukungan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa. Tahap ini akan menjadi pengujian yang lebih kompleks karena perangkat harus diturunkan dari kapal dan memiliki bobot sekitar 70 kilogram sehingga membutuhkan crane. “November itu di Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PHKT. Jadi mereka punya lapangan di laut. Nah, kita dengan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa,” ujar Wiwit. Dalam skema pengembangan tersebut, Pertamina berperan sebagai pihak yang membiayai riset di FMIPA UGM. Setelah teknologi dikembangkan menjadi produk, Elnusa akan mengambil peran dalam pengoperasian dan hilirisasi perangkat. Pengujian di laut diharapkan menjadi langkah penting untuk melihat kesiapan Prameya sebelum digunakan untuk kebutuhan yang lebih luas. Prameya sendiri tidak hanya ditujukan untuk pemantauan gempa bawah laut. Karena pada dasarnya merupakan sensor getaran, perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi serta panas bumi, mitigasi bencana, pemantauan aktivitas gunung api bawah laut, hingga deteksi aktivitas kapal. “Inovasi ini  bisa menjadi salah satu alat untuk monitoring gunung api bawah laut. Tapi untuk kebutuhan eksplorasi juga digunakan juga. Ini sensor sebenarnya sensor getar, jadi aplikasinya macam-macam. Bisa untuk eksplorasi, bisa untuk mitigasi bencana, untuk monitoring gempa. Monitoring kapal pun bisa, ada aktivitas kapal itu kelihatan,” jelas Wiwit. Wiwit berharap Prameya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi oleh perusahaan di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu, perangkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh BMKG untuk memantau aktivitas gempa di wilayah laut dalam yang hingga kini masih belum banyak terpantau. “Kalau ini nanti berhasil, bisa dimanfaatkan untuk support eksplorasi di perusahaan eksplorasi di Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, kami juga ingin agar nanti BMKG memanfaatkannya untuk monitoring gempa di bawah laut. Karena laut-laut dalam kita belum dieksplorasi itu, sementara sebetulnya potensinya sangat besar,” pungkas Wiwit. Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim Peneliti