BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Pantau Bencana dan Salurkan Bantuan, Drone GAMAFORCE UGM Raih Juara 3 Piala Panglima TNI

Tim Akasmatika Wijaya, salah satu subtim Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil menempati peringkat ketiga kategori Drone Militer, SAR & Bantuan Kebencanaan. Kejuaraan itu adalah Open Tournament Pengembangan Drone Piala Panglima TNI dan Festival Drone Nusantara 2026, yang digelar Kodiklat TNI di Kompleks Kodiklat TNI pada 22–26 September 2026. Sekitar 30 tim dari kampus dan industri drone dalam negeri ikut serta. Setiap peserta merancang drone sesuai gagasan dan kebutuhan misi yang mereka ajukan sendiri. Rancangan itu dipaparkan dalam sesi pitch deck, lalu dibuktikan lewat demonstrasi terbang yang memperlihatkan cara kerja teknologinya. Akasmatika Wijaya membawa Podocarpus D-13, drone quadcopter untuk pemantauan dan penanganan bencana. Drone ini membawa kamera untuk memetakan area dan membantu menemukan korban. Sistem komputasi di dalamnya mendukung live stitching dan computer vision. Live stitching menyatukan sejumlah gambar dari kamera secara real-time sehingga terbentuk citra area yang lebih luas. Fitur ini membantu pemantauan wilayah terdampak dan pencarian korban, terutama di tempat yang sulit didatangi petugas secara langsung. Podocarpus D-13 juga bisa menjatuhkan logistik dan obat-obatan ke titik tertentu. Kemampuan ini diharapkan membantu penyaluran bantuan ketika jalur darat atau jalur distribusi biasa terputus akibat bencana. Saat demonstrasi terbang, Podocarpus D-13 menyelesaikan misinya sesuai kemampuan yang dipaparkan dalam presentasi. Bagi tim, uji terbang ini menjadi kesempatan memperlihatkan hasil pengembangan teknologi mereka sekaligus membuktikan bahwa fiturnya bekerja dalam misi nyata. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa S1 aktif UGM. Lewat kompetisi yang diikuti akademisi dan pelaku industri ini, mereka bisa menguji hasil riset dan rancangan di tingkat nasional. Bertemu peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda juga membantu tim menilai kembali teknologi yang sudah mereka kembangkan. Ke depan, Akasmatika Wijaya berkomitmen terus mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) yang kompetitif dan bisa benar-benar diterapkan. Fokusnya pada kebutuhan penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), serta misi kemanusiaan. Tim berharap inovasinya terus disempurnakan hingga layak diproduksi secara industri dan dipakai dalam operasi SAR di dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memperlihatkan kesungguhan GAMAFORCE UGM mengembangkan wahana udara tanpa awak lewat riset, perancangan, dan uji coba langsung. Bagi Akasmatika Wijaya, gelar juara ini juga menjadi bagian dari proses mematangkan teknologi UAV agar makin sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Lanjut Baca

Teliti Senyawa Kunyit, Mahasiswa UGM Ungkap Potensi Kurkumin Tangani Depresi

Tim Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) meneliti potensi kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa), sebagai kandidat pengembangan antidepresan melalui pendekatan komputasi biologi. Adapun hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin memiliki potensi interaksi dengan reseptor serotonin 5-HT2C, yakni protein yang berperan dalam mengatur suasana hati. Penelitian yang dilakukan oleh tim Hibah Kreativitas Mahasiswa Psikologi UGM ini menggunakan pendekatan in silico melalui metode network pharmacology dan molecular docking. Adapun penelitian yang beranggotakan Calista Gracianauli (Psikologi 2024), Jevan Nathaniel Malau (Biologi 2024), Nirvana Sabathani (Farmasi 2024), dan Feodora Davina Aloysia Christy (Teknologi Industri Pertanian 2024) ini dilatarbelakangi oleh penggunaan antidepresan konvensional sebagai salah satu penanganan klinis depresi yang seringkali menimbulkan efek samping, seperti disfungsi seksual dan perubahan berat badan. Menanggapi hal tersebut, tim mencoba untuk mengeksplorasi senyawa lain yang berpotensi dikembangkan sebagai kandidat antidepresan, salah satunya ialah kurkumin, senyawa bioaktif dalam kunyit (Curcuma longa). Tak hanya itu, tim juga kemudian menelusuri potensi kurkumin melalui kajian hubungan mikrobioma usus dengan mekanisme molekuler yang berkaitan dengan depresi. Dalam penelitian ini, tim menelaah hubungan antara mikrobioma usus dan depresi. Mikrobioma usus merupakan kumpulan mikroorganisme yang hidup di dalam saluran pencernaan dan dapat berkomunikasi dengan sistem saraf pusat melalui berbagai jalur biologis. Mengutip dari berbagai artikel ilmiah, tim menyebut bahwa sejumlah metabolit yang dihasilkan mikrobiota usus, termasuk short-chain fatty acids (SCFA), diketahui berperan dalam proses biologis yang berkaitan dengan fungsi saraf. “Kombinasi antara bukti manfaat bagi kesehatan otak, kepopuleran budaya yang tinggi, serta dukungan data pasar yang kuat menjadi dasar utama untuk meneliti kurkumin dan potensinya dalam perawatan depresi lebih lanjut,” ujar Calista Gracenauli, dalam keterangan yang dikirim, Jumat (16/10). Untuk mengidentifikasi target molekuler yang potensial, tim juga memetakan hubungan antara kurkumin, metabolit mikrobiota usus, dan gen yang berkaitan dengan depresi. Analisis jaringan protein kemudian dilakukan dengan menggunakan perangkat STRING dan Cytoscape. Melalui analisis tersebut, reseptor serotonin 5-HT2C teridentifikasi sebagai salah satu protein yang berpotensi menjadi target interaksi kurkumin. Lebih lanjut, tim menggunakan metode molecular docking untuk memprediksi interaksi kurkumin dengan reseptor tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa kurkumin memperoleh skor docking sebesar −7,26 kcal/mol, lebih negatif dibandingkan amitriptilin, salah satu antidepresan konvensional, yang memperoleh skor −6,08 kcal/mol. Sementara itu, serotonin, sebagai molekul alami yang berinteraksi dengan reseptor tersebut, memperoleh skor −5,02 kcal/mol. Adapun skor yang lebih negatif menunjukkan interaksi yang lebih menguntungkan menurut fungsi penilaian komputasi yang digunakan. Meski begitu, hasil tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kurkumin lebih efektif dalam mengatasi depresi ketimbang amitriptilin. Molecular docking hanya memprediksi kemungkinan posisi dan interaksi molekul dengan protein, bukan mengukur efektivitas pengobatan pada manusia. Analisis interaksi molekuler juga menemukan kesamaan residu asam amino Val354 yang berinteraksi dengan kurkumin, amitriptilin, dan serotonin. Temuan tersebut menunjukkan adanya kemiripan dalam pola interaksi ketiga molekul dengan reseptor 5-HT2C. Akan tetapi, kesamaan ini belum dapat memastikan bahwa kurkumin memiliki mekanisme kerja farmakologis yang sama dengan kedua senyawa pembanding. Dalam penelitian ini, tim juga menelaah jalur biologis yang berkaitan dengan reseptor serotonin melalui analisis pathway enrichment menggunakan Kyoto Encyclopedia of Genes and Genomes (KEGG). Analisis ini digunakan untuk memahami keterkaitan target molekuler yang ditemukan dengan jalur pensinyalan sel. Meski memberikan petunjuk mengenai mekanisme biologis yang mungkin terlibat, hasil analisis komputasi tersebut masih memerlukan pembuktian lebih lanjut melalui pengujian eksperimental. Dengan demikian, penelitian ini memberikan gambaran awal mengenai potensi kurkumin sebagai kandidat untuk penelitian pengembangan antidepresan. Tim mengakui bahwa tetap diperlukan pengujian lanjutan guna memastikan aktivitas kurkumin terhadap reseptor 5-HT2C, mekanisme farmakologisnya, serta keamanan dan efektivitasnya sebelum dapat dipertimbangkan untuk penggunaan klinis. “Metode ini belum dapat menentukan apakah kurkumin bekerja sebagai pengaktif (agonis) atau penghambat (antagonis) reseptor, sehingga efek farmakologisnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian laboratorium,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Tim PKM

Selengkapnya

17 Peneliti UGM Masuk Daftar Top 2% Ilmuwan Berpengaruh Dunia

Sebanyak 17 peneliti Universitas Gadjah Mada masuk dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2026. Pengakuan ini mencerminkan kontribusi peneliti UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui berbagai bidang keilmuan. Seperti diketahui, Top 2% World Scientists merupakan daftar yang dikeluarkan oleh peneliti dari Stanford University dengan data penerbit ilmiah Elsevier. Ketujuhbelas peneliti UGM masuk dalam daftar tersebut adalah Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D.; Prof. dr. Indah Kartika Murni, M.Kes., Sp.A(K)., Ph.D.; dan dr. Sumadi Lukman Anwar, M.Sc., Ph.D., Sp.B., Subsp.Onk. (K), dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan. Dari Fakultas Kehutanan, terdapat Prof. Dr. Ir. Ragil Widyorini, S.T., M.T., IPU., dan Prof. Dr. Ahmad Maryudi, S.Hut., M.For. Berikutnya, Dr. Yehezkiel Steven Kurniawan, S.Si., M.Eng.; Prof. Dra. Wega Trisunaryanti, M.S., Ph.D. Eng.; Prof. Dr.Eng. Edi Suharyadi, S.Si., M.Eng.; Prof. Dr. Eng. Kuwat Triyana, M.Si.; serta Prof. Drs. Jumina, Ph.D., dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dari Fakultas Farmasi, terdapat apt. Eka Noviana, Ph.D., dan Prof. Dr. apt. Abdul Rohman, S.F., M.Si. Selain itu, Muhammad Akhsin Muflikhun, S.T., MSME., Ph.D., dan Prof. Dr. Ir. Kusmono, S.T., M.T., IPM., ASEAN Eng., berasal dari Fakultas Teknik. Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D., berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi, sedangkan Prof. Dr. Pramaditya Wicaksono, S.Si., M.Sc., dan Prof. Dr.rer.nat. Muh Aris berasal dari Fakultas Geografi. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengapresiasi prestasi dan inovasi yang dilakukan 17 peneliti UGM yang berhasil masuk dalam daftar Top 2% ilmuwan berpengaruh dunia. Ova meyakini capaian tersebut adalah salah satu tanda atas kualitas pendidikan, riset, dan publikasi yang dilakukan peneliti dalam beberapa tahun terakhir. “Segenap capaian ini senantiasa akan menjadi inspirasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi di masa depan,” ungkapnya, Jumat (16/10). Dari 17 daftar peneliti UGM yang masuk daftar ilmuwan berpengaruh di dunia tersebut, umumnya mengembangkan penelitian dengan fokus yang beragam, mulai dari pemanfaatan material ramah lingkungan dan pemetaan ekosistem pesisir hingga peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak. Biokomposit Ramah Lingkungan Ragil Widyorini merupakan salah satu dari 17 peneliti UGM yang masuk dalam daftar telah lama mengembangkan penelitian di bidang teknologi hasil hutan, khususnya produk komposit ramah lingkungan dengan memanfaatkan serat alam, kayu berkualitas rendah, serta limbah pertanian dan kehutanan. Penelitiannya juga berfokus pada penggunaan bahan perekat alami yang bebas formaldehida untuk menghasilkan material alternatif yang berpotensi diaplikasikan dalam berbagai kebutuhan. Salah satu kontribusi ilmiahnya ialah pengembangan biokomposit dari limbah pertanian dan kehutanan, baik tanpa perekat (binderless board) maupun menggunakan bahan pengikat alami. Menurut Ragil, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan untuk memperluas penerapan teknologi komposit. “Riset mengenai komposit mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan dan diaplikasikan. Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam, yang bisa membuka peluang riset komposit yang lebih luas, baik untuk aplikasi struktural maupun non-struktural,” jelasnya. Pemanfaatan material alternatif tersebut diharapkan dapat membantu mengatasi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah produk kehutanan. Salah satu contohnya ialah penelitian pemanfaatan limbah kotoran gajah menjadi produk komposit sebagai alternatif penanganan limbah. Ragil juga mengembangkan penelitian pemanfaatan kayu hasil penjarangan menjadi komposit laminasi untuk aplikasi struktural. Dalam perjalanan risetnya, Ragil menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya, pendanaan, dan waktu, termasuk menjaga konsistensi dalam menghasilkan penelitian berkualitas. Untuk mengatasinya, ia membangun kolaborasi dengan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat. “Dalam menghadapi tantangan tersebut, saya berusaha terus membangun kolaborasi dengan berbagai pihak,meningkatkan kompetensi, serta terbuka terhadap pendekatan dan gagasan baru agar riset dapat semakin berdampak kepada masyarakat,” ungkapnya. Pemetaan Ekosistem Pesisir Sementara Pramaditya Wicaksono, peneliti dari fakultas Geografi ini  lebih banyak menekuni bidang coastal biodiversity remote sensing atau penginderaan jauh biodiversitas pesisir, terutama untuk memetakan padang lamun, terumbu karang, dan habitat bentik. Penelitiannya berfokus pada evaluasi dan pengembangan metode serta model pemetaan yang dapat menghasilkan informasi mengenai kondisi ekosistem pesisir. Hasil penelitian ini menjadi referensi ilmiah bagi pengembangan berbagai metode pemetaan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Kontribusi tersebut turut mendukung pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil melalui penyediaan data yang dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun organisasi nonpemerintah. Salah satu contohnya ialah keterlibatan Pramaditya bersama Indonesian Seagrass Mapping Partnership, yang terdiri atas UGM, BRIN, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Universitas Hasanuddin, dalam menghasilkan peta nasional terumbu karang dan padang lamun Indonesia yang pertama kali diluncurkan oleh Menteri KKP pada 2025. Peta tersebut menjadi dasar penghitungan luas padang lamun nasional sekaligus menyediakan data referensi untuk pengelolaan kawasan pesisir, ocean accounting, dan penghitungan karbon biru. Pengembangannya didukung oleh pendanaan David and Lucile Packard Foundation, dengan dukungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) pada fase akhir. Selain itu, bersama mitra nasional, Pramaditya turut mengembangkan profil karbon biru padang lamun untuk ASEAN beserta panduan pemetaan dan pengukurannya. Ia juga bekerja sama dengan Auriga Nusantara dalam mengembangkan peta nasional persentase tutupan padang lamun. Di tingkat global, Pramaditya berperan sebagai global data harmonization science lead dalam inisiatif seagrass mapping blueprint, yang bertujuan mendukung pemetaan padang lamun secara global melalui harmonisasi data. Berbagai inisiatif tersebut memperlihatkan bagaimana pengembangan metode pemetaan dapat menghasilkan data yang dibutuhkan untuk memahami ekosistem pesisir dan mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaannya. Dalam perjalanan penelitiannya, Pramaditya menghadapi keterbatasan anggaran, sementara penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil membutuhkan biaya besar. Ia mengatasi tantangan tersebut melalui kolaborasi dengan berbagai institusi, baik di tingkat nasional maupun internasional. “Tantangan terbesar awalnya adalah budget riset yang terbatas, sedangkan biaya untuk penelitian di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tinggi. Mengatasi dengan kolaborasi riset antar institusi, baik nasional maupun internasional,” paparnya. Menurut Pramaditya, tantangan lainnya ialah perhatian terhadap ekosistem padang lamun yang sebelumnya belum sebesar perhatian terhadap ekosistem pesisir lainnya. Namun, meningkatnya perhatian terhadap karbon biru dan ekonomi biru turut membuka peluang pendanaan serta mendorong perkembangan penelitian padang lamun. Deteksi Dini Penyakit Anak Usaha peningkatan kualitas pelayanan kesehatan anak, mencegah penyakit, serta menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan anak menjadi lokus penelitian Indah Kartika Murni. Ruang lingkup risetnya mencakup pencegahan infeksi terkait pelayanan kesehatan, penggunaan antibiotik secara rasional, kardiologi anak, dan surveilans penyakit infeksi berbasis air limbah. Salah satu kontribusi pentingnya ialah penelitian mengenai keterlambatan diagnosis penyakit jantung bawaan. Dalam penelitian terhadap sekitar 850 anak, timnya menemukan bahwa sekitar 60 persen mengalami keterlambatan diagnosis. Pada kelompok dengan penyakit jantung bawaan berat atau kritis, proporsinya mencapai lebih dari 85 persen. Temuan ini mendorong penelitian mengenai skrining menggunakan pulse oximeter, alat pengukur saturasi oksigen yang dapat membantu mendeteksi penyakit jantung bawaan kritis pada bayi baru lahir. Penelitian di empat rumah sakit di Yogyakarta melibatkan sekitar 1.450 bayi dan mengidentifikasi delapan bayi dengan penyakit jantung bawaan kritis melalui pemeriksaan lanjutan. Hasil penelitian tersebut turut memperkuat bukti ilmiah bagi kebijakan nasional mengenai skrining pulse oximeter pada bayi baru lahir. Indah menjelaskan, penelitian kesehatan perlu menghasilkan bukti yang relevan dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia, termasuk intervensi yang dapat diterapkan dengan sumber daya terbatas. “Salah satu kontribusi terpenting dari penelitian saya adalah yang tentu saja kami lakukan bersama tim, yaitu menghasilkan bukti ilmiah yang relevan dengan kondisi negara berkembang seperti Indonesia mengenai bagaimana intervensi yang berbasis bukti, yang relatif sederhana dan terjangkau, dapat meningkatkan keselamatan pasien dan juga kualitas pelayanan kesehatan,” jelas Indah. Selain itu, Indah bersama tim multidisiplin mengembangkan surveilans berbasis air limbah untuk memantau sirkulasi patogen di masyarakat. Penelitian ini digunakan untuk mendeteksi SARS-CoV-2 selama pandemi dan dikembangkan untuk memantau Salmonella typhi, bakteri penyebab demam tifoid, serta patogen lain yang berpotensi menimbulkan pandemi. Pendekatan ini dapat melengkapi data epidemiologi konvensional karena tidak semua orang yang terinfeksi datang ke fasilitas kesehatan. Meski demikian, Indah menilai tantangan utama penelitian kesehatan terletak pada penerapan hasilnya secara konsisten. Keterbatasan fasilitas, pendanaan, beban kerja tenaga kesehatan, serta kebutuhan koordinasi antarfasilitas dapat memengaruhi keberhasilan implementasi. “Salah satu tantangan terbesar adalah menjembatani kesenjangan antara bukti ilmiah dan implementasinya dalam pelayanan kesehatan sehari-hari. Kita mungkin mengetahui intervensi yang efektif, tetapi menerapkannya secara konsisten mungkin tidak mudah karena keterbatasan sumber daya, fasilitas, pendanaan, beban kerja, dan juga tantangan perubahan perilaku,” ungkapnya. Untuk menghadapinya, Indah membangun kolaborasi dengan tenaga kesehatan, peneliti multidisiplin, institusi nasional dan internasional, serta pemangku kebijakan. Ia juga melibatkan mahasiswa, residen, dan peneliti muda dalam pengembangan penelitian. Masuknya Ragil Widyorini, Pramaditya Wicaksono, dan Indah Kartika Murni dalam daftar World’s Top 2% Scientists 2025 menunjukkan beragam kontribusi penelitian UGM dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian Ragil menawarkan alternatif pemanfaatan limbah menjadi material bernilai guna, Pramaditya menyediakan data untuk mendukung pengelolaan ekosistem pesisir, sedangkan Indah mengembangkan bukti ilmiah bagi peningkatan pelayanan kesehatan. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Humas UGM dan Dok. Direktorat penelitian

Selengkapnya

Sambangi PIAT UGM, Mentan Amran Puji Riset Padi Gamagora dan Kedelai Lokal

Universitas Gadjah Mada dan Kementerian Pertanian bekerja sama untuk mendukung program ketahan pangan di Indonesia. Tahun ini, bantuan anggaran yang diberikan oleh Kementan untuk bentuk kerja sama tersebut senilai Rp 7.717.750.000. Kerja sama yang dilakukan dalam bentuk pengembangan, penyediaan, dan penyaluran benih Kedelai lokal, Padi Gamagora 7, dan Kakao. Hal itu mengemuka dalam peninjauan Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P., ke pusat pengembangan benih yang ada di Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) UGM, Berbah, Kalitirto, Sleman, Kamis (15/10). Mentan Andi Amran Sulaiman, menyampaikan apresiasi dan rasa bangga terhadap pihak UGM atas kerja kerasnya dalam membantu ketahanan pangan di Indonesia. Ia terus memberikan dukungan penuh sehingga kedepannya dapat berkontribusi lebih banyak baik dalam anggaran, alat, dan lainnya. Pengembangan benih yang telah dilakukan UGM akan langsung dibeli sehingga dapat menyebar ke seluruh Indonesia. “Kami apresiasi teman-teman UGM atas kerja kerasnya serta komitmen yang diberikan. Kami akan melanjutkan kerjasama ini dan terus dikawal karena sesuai dengan perintah Bapak Presiden,” ungkapnya. Dekan Fakultas Pertanian, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D., menyampaikan bahwa penyediaan dan distribusi benih padi Gamagora 7 bertujuan untuk memperluas pemanfaatan varietas unggul di berbagai daerah sesuai dengan kebutuhan dan potensi pengembangan. Hingga saat ini, distribusi benih Gamagora 7 sudah mencapai Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, D.I Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan. Gamagora 7 memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 7,95 ton/hektar dengan potensi maksimal 9,80 ton/hektar. “Hingga saat ini, penyediaan benih Gamagora 7 sudah mencapai 170 ton dengan harga 2,7 miliar,” ujarnya. Selanjutnya, untuk rencana Penyediaan Bibit Kakao Unggul, UGM, PT Pagilaran, dan Kementerian Pertanian merencanakan untuk menyalurkannya pada akhir tahun 2026. Tiga varietas yang akan disalurkan yaitu Klon Sulawesi 02, Klon MCC 02, dan Hibrida ICCRI 08 H untuk tiga kabupaten yaitu Brebes, Cilacap, dan Batang. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM sekaligus pengembangan varietas kedelai, Dr. Atris Suyantohadi, S.T.P., MT., menyampaikan pengembangsn kedelai lokal dengan platform Saekedelai ditujukan untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas petani lokal dengan teknologi, mulai dari penelusuran produk dan mutu sampai ke hasil panen yang menghubungkan dengan mitra industri. “Melalui Saekedelai, petani kedelai menanam itu sudah jelas dari hasil panennya dan juga hasil penjualan yang dia akan terima nantinya,” tuturnya. Atris juga mengatakan bahwa UGM telah menjangkau petani lokal di 8 Kabupaten di daerah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kedelai yang diproduksi merupakan varietas Grobogan dengan potensi produktivitas 3,4-3,6 ton/hektar. Melalui program Saekedelai, Ia berharap bisa meningkatkan ketahanan pangan dalam negeri yang sebelumnya masih bergantung dengan kedelai luar negeri. Selain itu, kami dari perguruan tinggi dapat memberikan dorongan teknologi yang berdampak dan memberikan kemanfaatan untuk masyarakat. “Semoga pengembangan kedelai lokal yang jenisnya alami murni non-GMO ini dapat mendukung ketahanan pangan nasional, serta dapat memenuhi kebutuhan tempe dan tahu dalam negeri sehingga memberikan kesejahteraan para petani,” harapnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Firsto

Selengkapnya

Juara Greenovate 2026, Tim UGM Kembangkan Limbah TKKS Menjadi Material Elektroda Inovatif

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM kembali meraih prestasi, kali ini dalam event Greenovate 2026 yang diadakan di Senayan, DKI Jakarta pada 3-5 Agustus 2026. Dalam kompetisi yang diadakan oleh TBS Foundation ini, Tim UGM dengan nama ”Powerhart” beranggotakan 2 Pratiwi Putri Hasibuan (Teknik Industri 2024), Arsi Cahyani (Teknik Kimia 2024), dan Hayya Majida Amani (Teknik Kimia 2024) meraih juara 3.  Sebagai latar belakang, Tim Powerhart mengangkat permasalahan melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang pemanfaatannya saat ini masih didominasi oleh aplikasi bernilai tambah relatif rendah, seperti mulsa dan pembenah tanah. ”Berdasarkan permasalahan tersebut, kami mengusulkan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku material elektroda karbon hibrida untuk superkapasitor,” tutur Putri. Ide yang diusulkan tim berupa inovasi material berbasis tandan kosong kelapa sawit sebagai alternatif material berbasis karbon untuk elektroda superkapasitor, dengan penambahan katalis feldspar sebagai salah satu bagian dari proses rekayasa material. Inovasi ini menargetkan pemanfaatan limbah TKKS yang belum optimal sekaligus mengurangi ketergantungan pada material karbon bernilai tinggi seperti grafena. ”Dengan demikian, gagasan kami tidak hanya berfokus pada pengembangan material baru, tetapi juga menghubungkan aspek teknologi, pemanfaatan limbah, dan keberlanjutan,” jelas Putri. Putri menjelaskan bahwa kebaruan gagasan tersebut terletak pada rekayasa material secara bertahap, dimulai dari karbonisasi TKKS dengan penambahan Fe dan feldspar untuk membantu menghasilkan struktur karbon yang lebih grafitik dan konduktif, kemudian mengombinasikannya dengan MnO₂ dan PANI. Karbon TKKS berperan menyimpan muatan pada permukaannya, sementara MnO₂ dan PANI memberikan tambahan penyimpanan muatan melalui reaksi elektrokimia. “Dengan pendekatan ini, kami tidak hanya mengubah limbah TKKS menjadi karbon, tetapi juga merancangnya menjadi material elektroda bernilai tambah tinggi yang berpotensi meningkatkan performa elektrokimia sekaligus mendukung pemanfaatan limbah dan pengembangan teknologi penyimpanan energi yang lebih berkelanjutan,” ujar Putri. Karya Powerhart tersebut memukau dewan juri yang terdiri dari Roderick Purwana (Managing Partner, East Ventures); Gita Sjahrir (Managing Director for Investor Relations, TBS); dan Iwan Syahril (Former Director General of Education, Indonesia) sehingga dinilai pantas untuk menjadi salah satu juara. Pada seleksi awal, tim Powerhart mengumpulkan ide yang mencakup identifikasi masalah, solusi yang ditawarkan, serta aspek kelayakan finansial dalam bentuk presentasi PPT. Setelah lolos ke babak final, Powerhart mengikuti sesi mentoring bersama Triana Krisandini, SVP Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk., untuk mempersiapkan presentasi. ”Selama mentoring, kami mendapatkan banyak masukan, terutama dalam membangun storytelling yang kuat dan menyampaikan data secara lebih menarik bagi audiens. Salah satu contohnya adalah bagaimana mengubah data emisi yang berupa angka menjadi perbandingan atau gambaran yang lebih mudah dibayangkan, sehingga dampak dari permasalahan yang kami angkat dapat lebih dirasakan oleh audiens,” papar Putri.  Dalam proses meraih juara, tantangan utama yang dihadapi Powerhart adalah penerjemahan gagasan yang cukup teknis menjadi konsep yang mudah dipahami sekaligus menarik dari sisi bisnis. ”Kami perlu menjelaskan proses rekayasa material dan keunggulan elektroda tanpa membuat materi terlalu kompleks bagi audiens,” tutur Putri. Lebih jelas lagi, tim harus memastikan bahwa gagasan yang ditawarkan tidak hanya memiliki potensi keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan yang jelas melalui pemanfaatan limbah TKKS dan pengembangan material untuk teknologi penyimpanan energi. Seluruh aspek tersebut, mulai dari permasalahan, solusi, kebaruan, potensi bisnis, hingga aspek keberlanjutan, harus disampaikan dalam durasi presentasi yang hanya 7 menit. ”Oleh karena itu, kami perlu menyusun materi secara ringkas, terstruktur, dan didukung oleh storytelling yang kuat,” tutur Putri.  Dari kompetisi Greenovate 2026, Putri menyatakan mereka belajar bahwa sebuah ide tidak hanya harus menarik, tetapi juga harus bisa menjawab masalah yang ada dan punya nilai dari sisi teknologi, bisnis, maupun keberlanjutan. Kami juga belajar bagaimana menyampaikan ide yang cukup teknis dengan cara yang lebih sederhana dan menarik melalui storytelling,” tutur Putri. Selain itu, tambah Putri, lomba ini memberikan pengalaman bekerja dalam tim dengan latar belakang yang berbeda, menerima masukan, dan lebih percaya diri dalam menyampaikan serta mempertahankan ide di depan juri. Dr. Akmal Irfan Majid sebagai perwakilan DTMI yang turut menghadiri penyerahan juara menyatakan bahwa kompetisi ini merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa karena kasus yang diangkat oleh Greenovate layak untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis dan memperoleh bimbingan dari para prominent figures perusahaan-perusahaan terbaik. “Hal ini tentu mengasah soft skill dan kemampuan analisis untuk mendekatkan mata kuliah di kampus dengan solusi praktis dari industri yang prominent,” tuturnya.

Selengkapnya

Akselerasi Hilirisasi Vaksin, UGM Perkuat Jejaring Global 

Pengembangan vaksin dalam penanggulangan penularan penyakit infeksi tidak berhenti pada keberhasilan menghasilkan produk, tetapi juga mencakup kemampuan melakukan uji klinis, memastikan kesiapan produksi dan regulasi, hingga memastikan vaksin dapat diterima dan digunakan oleh masyarakat. Oleh karena itu, UGM mendorong upaya pengembangan kapasitas penelitian, membangun jejaring kolaborasi lintas negara, serta mendorong hasil riset dan inovasi vaksin agar dapat memberikan dampak bagi masyarakat perlu digalakkan. Hal itu mengemuka dalam International Vaccine Symposium 2026, dan 5th Annual Meeting of ARISE (Academic Research Organisations Alliance for Southeast and East Asia) yang berlangsung pada 28 september hingga 3 oktober di ruang auditorium FK-KMK UGM. Simposium internasional ini mempertemukan jejaring ARISE dan Asia-Pacific Vaccine Research Network (APVRN) dalam satu forum. Lebih dari 700 peserta dari 35 negara mengikuti kegiatan tersebut, baik secara langsung maupun daring. Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk kementerian dan lembaga pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, klinisi, tenaga kesehatan, industri, serta organisasi yang bergerak dalam bidang vaksin dan kesehatan masyarakat. Guru Besar Bidang Farmakologi dan Terapi FK-KMK UGM sekaligus koordinator pelaksana simposium internasional, Prof. Jarir At Thobari, mengatakan keberhasilan inovasi vaksin seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak vaksin yang berhasil dikembangkan, tetapi juga dari berapa banyak uji klinis yang dapat dilakukan dan berapa banyak vaksin yang benar-benar dapat diberikan kepada masyarakat. Namun yang tidak kalah penting menurutnya terkait kesiapsiagaan pemangku kepentingan dalam menghadapi dan mengantisipasi penyakit infeksi yang baru muncul. “Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi vaksin perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem kesehatan, kebijakan, distribusi, serta kepercayaan masyarakat,” tegasnya. Dikatakan Thobari, dalam simposium kali ini, para peserta diajak melihat bahwa keberhasilan vaksinasi tidak hanya ditentukan oleh tersedianya vaksin. Akses terhadap layanan kesehatan, kapasitas penelitian dan produksi, kebijakan yang mendukung, serta kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam memastikan manfaat vaksin dapat dirasakan secara luas. Melalui diskusi, studi kasus, dan pertukaran pengalaman antarnegara, peserta membahas sejumlah tantangan dalam program imunisasi, termasuk surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, kesiapsiagaan pandemi, zero-dose children, pemerataan akses imunisasi, ekonomi kesehatan vaksin, serta pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung kebijakan. Bagi FK-KMK UGM, kata Thobari, penyelenggaraan rangkaian pertemuan internasional tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai penghubung antara komunitas penelitian Indonesia dengan jejaring riset regional dan internasional. “Kolaborasi yang dibangun tidak hanya diarahkan pada pertukaran pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas dan penerjemahan hasil penelitian menjadi kebijakan serta program kesehatan,” ungkapnya. Kolaborasi tersebut pada akhirnya diharapkan tidak berhenti pada forum pertemuan, tetapi berlanjut dalam bentuk penelitian bersama, penguatan kapasitas uji klinis, pengembangan inovasi, serta pemanfaatan bukti ilmiah untuk mendukung sistem imunisasi yang tangguh dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik. Dekan FK-KMK UGM, Prof. dr. Yodi Mahendradhata, M.Sc., Ph.D., FRSPH, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penguatan ekosistem vaksin tidak dapat dilakukan oleh satu institusi atau sektor saja. Menurutnya, keberhasilan inovasi vaksin sangat bergantung pada hubungan antara peneliti, regulator, produsen, tenaga kesehatan, hingga masyarakat sebagai penerima manfaat. “Dalam ekosistem seperti ini, kita dapat menghubungkan penelitian lintas negara dengan produksi vaksin, kebijakan kesehatan, dan pemberian layanan kepada masyarakat. Tujuan bersama kita adalah melindungi setiap anak dan setiap masyarakat yang membutuhkan perlindungan,” ujar Yodi. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie Tristan

Selengkapnya

UGM Raih Peringkat Pertama Komersialisasi Paten Tertinggi di Indonesia 

Universitas Gadjah Mada terus mendorong pemanfaatan hasil riset melalui penguatan perlindungan dan komersialisasi kekayaan intelektual. Upaya tersebut salah satunya tercermin dari capaian UGM yang menempati peringkat pertama perguruan tinggi dengan jumlah komersialisasi paten tertinggi di Indonesia, yakni sebanyak 35 paten dengan nilai royalti sebesar Rp15 miliar. Posisi tersebut kemudian disusul Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan 32 paten dengan nilai royalti Rp12,4 miliar dan Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan 30 paten dengan nilai royalti Rp10,8 miliar, yang masing-masing menempati peringkat kedua dan ketiga. Capaian tersebut disampaikan oleh Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Dr. Andreansjah, S.T., S.H., M.M., selaku keynote speaker dalam acara UGM IP Forum 2026 yang berlangsung di Ruang Multimedia Lantai 3, Gedung Pusat UGM, Kamis (1/10). Dalam forum yang mempertemukan regulator, akademisi, dan praktisi industri ini, Andreansjah mengatakan bahwa capaian tersebut merupakan indikator berkembangnya pengelolaan kekayaan intelektual di UGM. Selaras dengan tema “Bridging IP Protection to Market Integration”, ia menilai bahwa keberadaan paten tidak seharusnya berhenti pada perolehan sertifikat, tetapi mesti dilanjutkan dengan pemanfaatan agar dapat memberikan nilai ekonomi. “Yang terpenting di sini bukan lagi soal apakah inovasi kita sudah dipatenkan, tapi bagaimana setelah dipatenkan kemudian bisa dimanfaatkan,” ungkapnya. Ia mengibaratkan sertifikat paten seperti sertifikat tanah yang tidak akan memberikan hasil optimal atau nilai manfaat jika hanya disimpan. Baginya, paten mesti dimanfaatkan melalui pengembangan usaha, lisensi, maupun bentuk komersialisasi lainnya demi menghasilkan nilai guna atau manfaat bagi inventor dan masyarakat. “Paten yang ada, ya itu harus menjadi nilai ekonomi,” sambungnya. Menanggapi efektivitas pemanfaatan paten di lingkup perguruan tinggi,  Andreansjah menyebut bahwa UGM sendiri memiliki modal yang cukup kuat untuk mengembangkan komersialisasi paten melalui ekosistem pengelolaan kekayaan intelektual yang telah dibangun. Keberadaan Intellectual Property Management Office (IPMO), dikatakan olehnya, merupakan salah satu bagian penting dalam membangun ekosistem pemanfaatan paten, mulai dari proses kreasi, perlindungan, hingga utilisasi kekayaan intelektual. Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menegaskan bahwa diperolehnya sertifikat paten bukanlah akhir dari proses inovasi. Danang berpendapat bahwa patent granted justru menjadi awal dari pekerjaan besar untuk membawa hasil riset menuju hilirisasi dan pasar. Hal tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan UGM IP Forum 2026, yakni untuk mengakselerasi proses hilirisasi riset UGM dengan mentransformasikan perlindungan paten menuju integrasi pasar. “Sebisa mungkin bagaimana paten ini bisa kita manfaatkan untuk melakukan hilirisasi dan bagaimana produk yang Bapak-Ibu bangun itu bisa masuk ke market secara luas,” jelasnya. Lebih lanjut, Danang mengingatkan bahwa penguatan perlindungan kekayaan intelektual juga harus dilakukan sedari awal proses penelitian. Berdasarkan pengamatannya, ia menyoroti masih adanya peneliti yang telah menghasilkan produk, menemukan mitra, bahkan menjalin kerja sama, tetapi belum mengurus perlindungan patennya. Selain perlindungan, Danang juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, regulator, industri, praktisi bisnis, dan masyarakat. Menurut pandangannya, perguruan tinggi memiliki kekuatan pada aspek riset dan pengembangan, sementara proses manufaktur dan pengembangan produk hingga masuk ke pasar membutuhkan keterlibatan dunia usaha dan industri. “Tidak mungkin UGM bekerja sendiri untuk melakukan manufaktur. Karena memang bukan dunianya akademik, kita (UGM) kan melakukan penelitian dan pengembangan,” pungkasnya. Senada dengan hal tersebut, Ketua Intellectual Property Management Office (IPMO) UGM, Prof. Ir. Sang Kompiang Wirawan, S.T., M.T., Ph.D., menyampaikan bahwa UGM senantiasa membangun kolaborasi dalam pengembangan kekayaan intelektual. Pada 2026, IPMO mencatat capaian paten yang melibatkan inventor dari berbagai fakultas dan klaster keilmuan di UGM. Dalam paparannya, Fakultas Teknik dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) masih menjadi yang teratas sebagai penyumbang paten. Bersama IPMO UGM, ia menuturkan bahwa pengelolaan kekayaan intelektual di UGM tidak hanya berfokus pada perlindungan paten, tapi juga diarahkan untuk mendukung proses hilirisasi. Hal tersebut, kata Kompiang, dilakukan melalui penguatan fungsi IPMO yang mencakup regulasi, fasilitasi, hukum, kurasi, edukasi, dan data. Di akhir, Kompiang menambahkan bahwa penguatan ekosistem tersebut diharapkan dapat mempertemukan hasil invensi dari sivitas akademika dengan kebutuhan dunia usaha. Dengan demikian, paten tidak berhenti sebagai dokumen perlindungan, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi inovasi yang dimanfaatkan masyarakat dan memberikan nilai ekonomi. “Semangat kita bersama untuk kita terus berkarya. Kita lanjutkan bahwa invensi itu bisa kita hilirisasi,” tutupnya. Penulis : Agito Sitepu Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto

Selengkapnya

Kolaborasi UGM dan Industri Hasilkan Inovasi Sensor Gempa Bawah Air

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Innovation, dan PT Elnusa Tbk. sukses melaksanakan uji coba pengembangan sensor seismik bawah laut atau sensor gempa bawah air di Waduk Saguling, Jawa Barat, pada 28–29 September lalu. Teknologi yang dikembangkan dalam bentuk shallow water ocean bottom seismometer (OBS) tersebut diberi nama Prameya (Perangkat Rekam Aktivitas Mikroseismik dan Ekspedisi Yudha Akuatik), merupakan sensor getaran yang dirancang untuk ditempatkan di dasar perairan guna merekam aktivitas seismik, dengan target kemampuan operasi hingga kedalaman maksimum 100 meter. Dosen FMIPA UGM sekaligus Ketua proyek pengembangan Prameya, Dr. Wiwit Suryanto, mengatakan bahwa pengembangan sensor bawah laut tersebut merupakan kelanjutan dari riset sensor gempa darat yang sebelumnya dikembangkan UGM melalui Gamadu. “Ini sebetulnya kelanjutan dari sensor yang dulu kita buat, Gamadu dulu. Itu sensor gempa, tapi di darat,” ujar Wiwit dalam wawancara, Jumat (2/10). Pengembangan sensor tadi kemudian dilanjutkan ke lingkungan bawah air, mengingat Indonesia didominasi oleh wilayah perairan sehingga membutuhkan teknologi untuk memantau aktivitas seismik di laut. Wiwit menjelaskan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sensor gempa bawah laut yang dapat dipasang dan digunakan secara terus-menerus. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim melanjutkan pengembangan sensor hingga menghasilkan Prameya. “Kita belum punya sensor gempa bawah laut yang bisa dipasang terus-menerus. Jadi, kita mencoba mengembangkan sendiri supaya bisa memantau aktivitas gempa di bawah laut,” ungkapnya. Uji coba pertama dipasang selama satu malam dengan tujuan menguji ketahanan dan kekedapan alat ketika berada di dalam air. Pengujian ini dilakukan pada kedalaman sekitar 30 meter, sementara kedalaman waduk dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 80 meter. Tahap tersebut dipilih sebagai pengujian awal sebelum perangkat dibawa ke lingkungan laut yang membutuhkan persiapan lebih kompleks.“Jadi itu kita pasang semalam untuk melihat kedepannya karena memang ternyata tidak mudah untuk membuat alat yang kedap di bawah laut,” kata Wiwit. Menurutnya, kemampuan bertahan di dalam air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan Prameya. Versi sebelumnya baru diuji hingga kedalaman sekitar 10 meter, sedangkan pada versi terbaru tim mulai mengujinya hingga 30 meter. Selain sistem kedap air, tim juga mengembangkan sistem buoy agar perangkat dapat ditenggelamkan dan nantinya diangkat kembali. Hasil pengujian awal menunjukkan kinerja Prameya cukup baik ketika dibandingkan dengan alat standar. Meski demikian, masih terdapat satu komponen sensor horizontal yang perlu diperbaiki. Prameya memiliki tiga komponen sensor untuk merekam getaran, tetapi salah satunya masih menunjukkan kendala sehingga saat ini masih dalam proses penyempurnaan.“Waktu di darat sebenarnya hasilnya cukup baik dibandingkan dengan alat standar. Tapi memang masih ada sedikit masalah di komponen horizontal. Itu kan ada tiga komponen sensor yang kita pasang. Nah, yang satu komponennya masih bermasalah, tapi ini kita sedang perbaiki lagi,” ujar Wiwit. Dari sisi teknologi, Prameya memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan OBS pada umumnya, yakni merekam getaran dari dasar perairan. Namun, tim UGM mengembangkan Prameya dengan spesifikasi yang lebih lengkap. Perangkat ini dilengkapi webcam dan lampu yang memungkinkan tim melihat posisi sensor ketika berada di dasar perairan, termasuk kondisi lingkungan di sekitar perangkat. “Sebetulnya secara prinsip hampir sama, cuma memang kemarin kami ingin yang spesifikasi lengkap. Jadi di situ ada webcam-nya, ada monitor kameranya untuk melihat posisi dari sensor itu di dalam air,” jelas Wiwit. Kamera tersebut juga membantu tim mengetahui kondisi dasar perairan yang tidak selalu datar dan dapat dipenuhi lumpur. Dalam kondisi air keruh, jarak pandang kamera hanya sekitar 20–30 sentimeter, sedangkan pada air yang lebih jernih, posisi perangkat dapat terlihat lebih jauh. Keberadaan kamera dan lampu menjadi bagian dari upaya tim untuk membuat perangkat tidak hanya berfungsi merekam data seismik, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi alat ketika berada di dasar perairan. Wiwit mengatakan pengembangan dengan spesifikasi lengkap tersebut merupakan strategi tim untuk membangun kemampuan teknologi secara bertahap. Dengan mengembangkan perangkat pada spesifikasi yang lebih tinggi terlebih dahulu, teknologi tersebut nantinya dapat disederhanakan sesuai kebutuhan pengguna.“Kita yang cari yang paling spek tertinggi dulu. Kalau itu bisa, nanti spesifikasi yang lebih rendah kita pasti lebih bisa,” katanya. Setelah pengujian di Waduk Saguling, Prameya akan memasuki tahap pengujian berikutnya di laut lepas pada November 2026. Pengujian direncanakan berlangsung di lapangan laut Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan dukungan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa. Tahap ini akan menjadi pengujian yang lebih kompleks karena perangkat harus diturunkan dari kapal dan memiliki bobot sekitar 70 kilogram sehingga membutuhkan crane. “November itu di Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PHKT. Jadi mereka punya lapangan di laut. Nah, kita dengan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa,” ujar Wiwit. Dalam skema pengembangan tersebut, Pertamina berperan sebagai pihak yang membiayai riset di FMIPA UGM. Setelah teknologi dikembangkan menjadi produk, Elnusa akan mengambil peran dalam pengoperasian dan hilirisasi perangkat. Pengujian di laut diharapkan menjadi langkah penting untuk melihat kesiapan Prameya sebelum digunakan untuk kebutuhan yang lebih luas. Prameya sendiri tidak hanya ditujukan untuk pemantauan gempa bawah laut. Karena pada dasarnya merupakan sensor getaran, perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi serta panas bumi, mitigasi bencana, pemantauan aktivitas gunung api bawah laut, hingga deteksi aktivitas kapal. “Inovasi ini  bisa menjadi salah satu alat untuk monitoring gunung api bawah laut. Tapi untuk kebutuhan eksplorasi juga digunakan juga. Ini sensor sebenarnya sensor getar, jadi aplikasinya macam-macam. Bisa untuk eksplorasi, bisa untuk mitigasi bencana, untuk monitoring gempa. Monitoring kapal pun bisa, ada aktivitas kapal itu kelihatan,” jelas Wiwit. Wiwit berharap Prameya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi oleh perusahaan di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu, perangkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh BMKG untuk memantau aktivitas gempa di wilayah laut dalam yang hingga kini masih belum banyak terpantau. “Kalau ini nanti berhasil, bisa dimanfaatkan untuk support eksplorasi di perusahaan eksplorasi di Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, kami juga ingin agar nanti BMKG memanfaatkannya untuk monitoring gempa di bawah laut. Karena laut-laut dalam kita belum dieksplorasi itu, sementara sebetulnya potensinya sangat besar,” pungkas Wiwit. Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim Peneliti