BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Inovasi Sistem Rumah Pintar Berbasis Photovoltaic, IoT, dan Artificial Intelligence dalam Mendukung Pencapaian SDG 7 dan SDG 9

Upaya akselerasi transisi energi terbarukan dan pembangunan infrastruktur berkelanjutan terus didorong melalui kolaborasi strategis antara institusi pendidikan tinggi dan sektor industri. Tim peneliti dari Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan prototipe Smart-Home Kit berdaya mandiri berbasis teknologi Photovoltaic (PV) yang terintegrasi dengan pemantauan real-time berbasis Internet of Things (IoT) serta analisis data berorientasi Machine Learning. Riset yang dipimpin oleh Dr. Ir. Atikah Surriani, S.T., M.Eng, SMIEEE dan Tim yang terdiri dari Dr. Ir. Fahmizal, S.T., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., SMIEEE, Dr. Ir. Jimmy Trio Putra, S.T., M.Eng., IPM., SMIEEE, Adlan Bagus Pradana, S.T., M.Sc., Ph.D., Ir. Ma’un Budiyanto, S.T., M.T., IPU dan Ir. Ahmad Adhiim Muthahhari, S.T., M.Eng., IPM., ini berfokus pada efisiensi konsumsi energi skala domestik guna mendukung target Sustainable Development Goals (SDG), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim). Arsitektur Teknis dan Mekanisme Kerja Prototipe Prototipe yang dikembangkan menggunakan simulasi maket rumah tinggal berkonstruksi atap miring untuk mengoptimalkan sudut tangkap (tilt angle) terhadap radiasi sinar matahari. Sistem daya utama bertumpu pada panel surya polikristalin bertegangan nominal 5 Volt. Energi listrik hasil konversi dialirkan melalui modul pengisi daya (solar charger controller) menuju unit penyimpanan energi. Arsitektur elektronik sistem mengintegrasikan mikrokontroler ESP32 sebagai unit pemroses pusat dan pengirim data. Mikrokontroler ini terhubung dengan modul relai empat kanal yang bertindak sebagai sakelar elektronik untuk mendistribusikan daya ke beban domestic rumah tangga. Guna menjamin akurasi pemantauan parameter listrik, instrumen berupa modul sensor arus dan tegangan INA219 ditempatkan pada dua titik krusial: lini keluaran panel surya dan lini baterai. Data arus, tegangan, serta daya listrik yang terekam dikirimkan secara nirkabel melalui protokol komunikasi data menuju dasbor IoT berbasis web. Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem memiliki sensitivitas tinggi dalam merekam fluktuasi daya secara dinamis sesuai pergeseran intensitas radiasi matahari harian. Integrasi Artificial Intelligence untuk Prediksi Energi Selain berfungsi sebagai penyedia daya mandiri (self-powered system), inovasi ini menonjolkan pemanfaatan data lingkungan (environmental telemetry). Parameter suhu, kelembapan udara, dan tingkat intensitas cahaya yang dikumpulkan oleh sistem dimanfaatkan sebagai set data latih (training dataset) bagi algoritma Machine Learning. Model kecerdasan buatan tersebut dilatih untuk melakukan estimasi dan prediksi produksi energi harian secara presisi. Kapabilitas prediktif ini penting dalam manajemen beban listrik (demand-side management), sehingga efisiensi energi pada hunian dapat dioptimalkan secara otomatis berdasarkan estimasi pasokan daya yang tersedia. Analisis Komparatif Teknologi Photovoltaic Penerapan panel jenis polikristalin pada prototipe Smart-home Kit mencerminkan pertimbangan teknis dan ekonomis dalam implementasi teknologi PV. Dalam lanskap material semikonduktor, teknologi konversi fotolistrik terbagi dalam beberapa karakteristik utama: Polycrystalline Silicon (Poly-Si): Diproduksi dari leburan beberapa kristal silikon. Memiliki ciri visual berwarna biru dengan tingkat efisiensi rata-rata 13% hingga 17%. Karakteristik fabrikasinya menjadikan varian ini berbiaya lebih rendah, sehingga ideal untuk aplikasi skala prototipe dan domestik berbiaya terjangkau. Monocrystalline Silicon (Mono-Si): Berbahan dasar kristal silikon tunggal bers purity tinggi dengan tampilan warna hitam gelap. Varian ini menawarkan efisiensi tertinggi (melebihi 20%), ketahanan terhadap suhu tinggi, dan usia pakai (lifespan) hingga 25 tahun, sangat direkomendasikan untuk instalasi dengan keterbatasan luas area atap. Thin Film Solar Cell: Terbuat dari lapisan tipis material semikonduktor seperti silikon amorf, CdTe, atau CIGS pada substrat fleksibel. Memiliki keunggulan dalam bobot yang ringan dan fleksibilitas bentuk, meskipun dengan efisiensi konversi yang lebih rendah, yaitu sekitar 8% hingga 11%. Compound Thin Film Triple Junction: Merupakan struktur multi-lapisan (multi-junction) berteknologi tinggi yang mampu mencapai efisiensi konversi ekstrem hingga 45%. Mengingat kompleksitas dan biaya produksinya, penerapan material ini dikhususkan untuk aplikasi keantariksaan dan satelit. Sinergi antara pemahaman karakteristik material photovoltaic dan penerapan sistem kendali cerdas berbasis IoT/AI ini menegaskan kontribusi sektor akademis dan industri nasional dalam menciptakan solusi energi terbarukan yang terukur, efisien, dan siap diimplementasikan secara luas. Referensi: Green, M. A., Dunlop, E. D., Hohl-Ebinger, J., Yoshita, M., Kopidakis, N., & Hao, X. (2023). Solar cell efficiency tables (Version 61). Progress in Photovoltaics: Research and Applications, 31(1), 3-16 Saga, T. (2010). Advances in crystalline silicon solar cell technology for industrial mass production. NPG Asia Materials, 2(3), 96-102. Luque, A., & Hegedus, S. (Eds.). (2011). Handbook of Photovoltaic Science and Engineering (2nd ed.). John Wiley & Sons

Lanjut Baca

Pantau Bencana dan Salurkan Bantuan, Drone GAMAFORCE UGM Raih Juara 3 Piala Panglima TNI

Tim Akasmatika Wijaya, salah satu subtim Gadjah Mada Flying Object Research Center (GAMAFORCE) Universitas Gadjah Mada (UGM), berhasil menempati peringkat ketiga kategori Drone Militer, SAR & Bantuan Kebencanaan. Kejuaraan itu adalah Open Tournament Pengembangan Drone Piala Panglima TNI dan Festival Drone Nusantara 2026, yang digelar Kodiklat TNI di Kompleks Kodiklat TNI pada 22–26 September 2026. Sekitar 30 tim dari kampus dan industri drone dalam negeri ikut serta. Setiap peserta merancang drone sesuai gagasan dan kebutuhan misi yang mereka ajukan sendiri. Rancangan itu dipaparkan dalam sesi pitch deck, lalu dibuktikan lewat demonstrasi terbang yang memperlihatkan cara kerja teknologinya. Akasmatika Wijaya membawa Podocarpus D-13, drone quadcopter untuk pemantauan dan penanganan bencana. Drone ini membawa kamera untuk memetakan area dan membantu menemukan korban. Sistem komputasi di dalamnya mendukung live stitching dan computer vision. Live stitching menyatukan sejumlah gambar dari kamera secara real-time sehingga terbentuk citra area yang lebih luas. Fitur ini membantu pemantauan wilayah terdampak dan pencarian korban, terutama di tempat yang sulit didatangi petugas secara langsung. Podocarpus D-13 juga bisa menjatuhkan logistik dan obat-obatan ke titik tertentu. Kemampuan ini diharapkan membantu penyaluran bantuan ketika jalur darat atau jalur distribusi biasa terputus akibat bencana. Saat demonstrasi terbang, Podocarpus D-13 menyelesaikan misinya sesuai kemampuan yang dipaparkan dalam presentasi. Bagi tim, uji terbang ini menjadi kesempatan memperlihatkan hasil pengembangan teknologi mereka sekaligus membuktikan bahwa fiturnya bekerja dalam misi nyata. Tim ini beranggotakan lima mahasiswa S1 aktif UGM. Lewat kompetisi yang diikuti akademisi dan pelaku industri ini, mereka bisa menguji hasil riset dan rancangan di tingkat nasional. Bertemu peserta dengan latar belakang dan pengalaman berbeda juga membantu tim menilai kembali teknologi yang sudah mereka kembangkan. Ke depan, Akasmatika Wijaya berkomitmen terus mengembangkan teknologi unmanned aerial vehicle (UAV) yang kompetitif dan bisa benar-benar diterapkan. Fokusnya pada kebutuhan penanggulangan bencana, pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR), serta misi kemanusiaan. Tim berharap inovasinya terus disempurnakan hingga layak diproduksi secara industri dan dipakai dalam operasi SAR di dalam maupun luar negeri. Pencapaian ini memperlihatkan kesungguhan GAMAFORCE UGM mengembangkan wahana udara tanpa awak lewat riset, perancangan, dan uji coba langsung. Bagi Akasmatika Wijaya, gelar juara ini juga menjadi bagian dari proses mematangkan teknologi UAV agar makin sesuai dengan kebutuhan operasional di lapangan.

Selengkapnya

Aksi Waste Management pada Jalan Sehat dan Kumpul Rimbawan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63

Yogyakarta, 16 Oktober 2026 – Sampah menjadi isu internasional yang terkenal menyumbang pencemaran udara dan sumber penyebaran penyakit. Sebuah kajian mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik 3,2 juta ton dan 1,29 juta ton berakhir di laut. Di Yogyakarta sendiri, masalah terbesar ada pada pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknik open dumping. Teknik tersebut dilakukan di TPA Piyungan seluas 16 hektare dengan timbunan sampah mencapai 600–800 ton perhari. Hal ini tentunya berdampak pada lingkungan dan kesehatan seperti pencemaran air sumur, penyebaran penyakit lewat lalat, dan polusi lewat emisi metana serta air lindi. Menanggapi kondisi ini, Fakultas Kehutanan UGM melalui tim “Rumeksa” menyelenggarakan program waste management yang dilakukan pada kegiatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63. Kegiatan ini dilakukan pada acara Jalan Sehat dan Malam Puncak sebagai upaya mengelola dan mengatasi masalah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini menjadi aksi iklim mengatasi masalah sampah dari sumbernya dengan tidak hanya memilah sampah dari hulu untuk mengurangi beban di hilir, tetapi juga memaksimalkan nilai material dari sampah tersebut. Dalam mekanisme pelaksanaannya, tim waste management membagi sampah menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sampah organik yang berupa sisa makanan dan sisa buah, sampah daur ulang seperti dupleks, plastik (thinwall dan botol), karton, sendok, dan sedotan, dan sampah residu seperti tisu, gelas/mangkok kertas, dan mika. Selain ketiga sampah tersebut, terdapat juga daftar sampah yang dihindari, seperti sterofoam, piring mika, kertas minyak, dan papercup. Adanya mekanisme pemilahan dan pengurangan sampah ini tentunya menunjang keberhasilan dari tujuan awal waste management yaitu mengurangi timbunan dan memaksimalkan potensi sampah. Edukasi ini juga disampaikan melalui poster yang disebar ke dalam 8 titik di area ‘kritis’ sampah dan kumpulan orang dalam bentuk berikut. Selain mekanisme operasional, kegiatan ini juga didukung oleh tim volunteer yang telah membantu dan mendukung jalannya waste management dalam Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Para volunteer berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, mulai dari mahasiswa S1 dari berbagai angkatan dan mahasiswa S2. Harapannya, dengan memberikan kesempatan volunteer, relawan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, baik dari segi konsep maupun praktiknya. Kegiatan waste management dilakukan secara operasional di lapangan pada tanggal 4 dan 9 Oktober 2026, yaitu ketika acara Jalan Sehat dan Malam Puncak Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Secara teknis, kelancaran program ini juga didukung oleh beberapa pihak, khususnya adalah para relawan waste ranger yang cekatan dan tanggap dalam mengedukasi dan memilah sampah yang dihasilkan dari acara tersebut. [caption id="attachment_11710" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Jalan Sehat[/caption] “Saya senang teman-teman rangers antusias dalam inisiasi ini. Harapan saya, inisiasi ini bisa menjadi pemantik untuk pengelolaan sampah yang lebih baik kedepannya, baik di”, ucap Maulida Muhadini sebagai salah satu inisiator kegiatan ini. [caption id="attachment_11711" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Malam Puncak Dies Natalis ke-63[/caption] Beberapa kendala yang dialami oleh tim waste ranger antara lain adalah sosialisasi aturan pemilahan sebelum acara perlu diperkuat, partisipasi peserta dalam memilah sampah masih perlu didorong, dan beberapa tenant yang meninggalkan sampah tercampur, sehingga berdampak pada timbunan sampah yang banyak. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan langkah adaptif tim waste management dan para volunteer yang cekatan dan dengan semangat memilah sampah dan mengedukasi peserta. [caption id="attachment_11712" align="aligncenter" width="1920"] Hasil Timbulan Sampah pada dua kegiatan[/caption] Berdasarkan grafik timbulan sampah yang dihimpun selama rangkaian acara, terdapat perbedaan komposisi yang signifikan antara Jalan Sehat dan Malam Puncak. Pada acara Jalan Sehat, sampah didominasi oleh jenis Residu sebesar 15,20 kg (41,6%), diikuti oleh sampah Recycle sebesar 14,20 kg (38,9%), dan Organik sebesar 7,10 kg (19,5%). Sementara itu, pada acara Malam Puncak, komposisi sampah yang tertimbang mayoritas adalah sampah Organik yang mencapai 122,50 kg (75,5%) dan sampah Recycle sebesar 39,80 kg (24,5%). Sebagai catatan penting, data sampah residu pada Malam Puncak tidak dapat dihitung atau ditimbang secara pasti akibat jumlah dan volumenya yang terlalu besar, ditambah dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh tim di lapangan pada saat penutupan maupun pasca acara. Dengan adanya kendala tersebut, ke depannya, dapat dilakukan penegasan kepada tenant terkait material yang dihindari agar mengurangi timbunan sampah residu. Selanjutnya, diharapkan bahwa seluruh pihak, mulai dari panitia dan seluruh tim, diharapkan juga lebih menjaga kebersihan dan berkontribusi dalam kebersihan acara. Meskipun mengalami beberapa kendala, program ini diharapkan juga tetap berkelanjutan sehingga dapat terus mengedukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kualitas lingkungan Fakultas Kehutanan UGM.   Penulis: Rizky Lanang Rangga Kumara, Maulida Muhadini Dokumentasi: Jiil Apriliyani, Thoriq Muhamad Akbar Yusuf

Selengkapnya

Kolaborasi Riset DEB SV UGM dan Pemerintah Kabupaten Sikka Ungkap Keterkaitan Risiko Bencana dengan Nilai Tanah di Kabupaten Sikka

Lokasi yang strategis dan kemudahan akses jalan sering menjadi pertimbangan dalam menentukan nilai tanah. Namun, tahukah Anda bahwa ancaman bencana alam juga dapat berkaitan dengan tinggi rendahnya nilai tanah di suatu wilayah? Hal tersebut menjadi perhatian dalam penelitian yang dilakukan oleh kolaborasi tim peneliti antar fakultas yang terdiri dari Fatima Putri Prativi, S.T., M.Ec.Dev, Bagaskara, S.E., M.Ec.Dev, dan Diego Bagus Pratama, Yanuba Hana Latifah, E. F Anugrah Putra peneliti dari Departemen Ekonomika dan Bisnis (DEB) Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM); Dr. Sudaryatno, M.Si peneliti dari Fakultas Geografi UGM; Wayan Hari Premananda, S.E., M.Ec.Dev peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana, dan Margaretha Movaldes De Maga Bapa, S.T., M.Eng selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kab. Sikka.  Melalui penelitian di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Tim Peneliti mengkaji hubungan antara ancaman bencana alam dan nilai tanah dengan memanfaatkan 127.566 data perpajakan serta peta kondisi geografis wilayah. Kabupaten Sikka dipilih karena memiliki kondisi geografis yang beragam dan menghadapi sejumlah ancaman bencana, seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan banjir. Kondisi tersebut menjadikan Sikka sebagai wilayah yang menarik untuk diteliti, terutama dalam memahami bagaimana ancaman bencana berkaitan dengan nilai ekonomi tanah. Ancaman Bencana dan Nilai Tanah Penelitian ini menggunakan data Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) dan informasi geografis dari 151 desa di Kabupaten Sikka. Data tersebut kemudian dianalisis dengan mempertimbangkan berbagai faktor, seperti jarak menuju pusat kegiatan ekonomi, akses jalan, perkembangan kawasan, dan tingkat ancaman bencana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat ancaman bencana yang lebih tinggi cenderung memiliki nilai tanah yang lebih rendah. Meski demikian, nilai tanah tidak hanya dipengaruhi oleh ancaman bencana, tetapi juga oleh kondisi lingkungan dan perkembangan wilayah di sekitarnya. Peneliti juga menemukan bahwa nilai tanah di suatu desa memiliki keterkaitan dengan nilai tanah di wilayah sekitarnya. Artinya, perkembangan infrastruktur dan aktivitas ekonomi di suatu kawasan dapat berkaitan dengan kondisi nilai tanah di kawasan lain yang berdekatan. Melalui perhitungan menggunakan model statistik OLS, SAR, SEM, and SDM, penelitian ini juga menghasilkan perkiraan perbedaan nilai tanah sebesar 37 persen sebagai nilai tengah dari perbandingan antara kondisi ancaman bencana yang ada dan kondisi simulasi tanpa ancaman bencana tinggi. Angka tersebut bukan berarti harga tanah di Kabupaten Sikka telah turun sebesar 37 persen. Angka ini merupakan hasil simulasi penelitian untuk menggambarkan bagaimana ancaman bencana dapat diperhitungkan dalam penilaian tanah. Mendukung Perencanaan Wilayah yang Lebih Aman Temuan penelitian ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan informasi kebencanaan dalam perencanaan pembangunan dan pengelolaan wilayah. Dengan menggabungkan data nilai tanah dan peta ancaman bencana, pemerintah daerah berpotensi memperoleh informasi tambahan untuk membantu menentukan kawasan yang memerlukan perhatian lebih lanjut dalam perencanaan pembangunan maupun peninjauan nilai tanah. Penelitian ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Tujuan 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam mendorong pembangunan kawasan yang lebih aman dan tangguh menghadapi bencana. Selain itu, penelitian ini turut mendukung SDGs Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim, khususnya melalui pemanfaatan informasi ancaman lingkungan dan bencana terkait iklim untuk mendukung perencanaan wilayah yang lebih baik. Melalui penelitian yang didukung oleh pendanaan Dana Masyarakat Sekolah Vokasi UGM ini, DEB SV UGM terus berkontribusi dalam menghasilkan kajian yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pembangunan, sehingga pemanfaatan tanah tidak hanya memperhatikan nilai ekonominya, tetapi juga mempertimbangkan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan. [Red. Fatima Putri Prativi]

Selengkapnya

Dukung Pertanian Berkelanjutan, UGM Serahkan Bantuan Alsintan di Bantul

BANTUL – Universitas Gadjah Mada (UGM) melaui kerja sama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan Center for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) dan Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa chopper dan thresher di Dusun Japuhan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (2/10/2026). Penyerahan alsintan kepada Kelompok Ternak "Lembu Suro" dan Kelompok Wanita Tani (KWT) ini menjadi langkah nyata UGM dalam mendukung modernisasi pertanian ramah lingkungan serta mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan yang merupakan bagian dari program "Scaling Crop Residue Management Through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia" ini selaras dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan (peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan), SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (pengelolaan limbah tanaman/ekonomi sirkular), SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multisektor antara akademisi UGM, pemerintah daerah melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan kelompok masyarakat. Acara serah terima tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM Dr. Arifin Dwi Saputro, Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM Prof. Lilik Sutiarso, anggota tim Dr. Radi dan Dr. Sri Markumningsih, serta teknisi Marheri. Turut hadir Penyuluh Pertanian BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., serta Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM, Prof. Lilik Sutiarso, mengapresiasi komitmen para petani dan peternak di Dusun Japuhan yang dinilai sangat aktif dan maksimal dalam memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian. "Lokasi Japuhan ini bahkan akan kita jadikan salah satu daerah percontohan bagi laporan di skala nasional dan internasional. Saya berharap alat ini dapat dimaksimalkan melalui berbagai skema kerja sama yang ada agar kegiatan pertanian dan peternakan di Dusun Japuhan dapat terus berkelanjutan (sustainable)," ujar Prof. Lilik. Ketua DTPB UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, menambahkan bahwa keaktifan kelompok tani lokal yang mampu mengoperasikan hingga 90 persen hibah peralatan dari program sebelumnya menjadi alasan kuat UGM untuk terus memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan. "Harapan kami setelah serah terima ini tidak berhenti di sini. Kami di departemen memiliki laboratorium khusus yang menangani alat dan mesin pertanian, sehingga apabila Bapak dan Ibu mengalami kendala atau hendak melakukan modifikasi alat yang kami hibahkan, dapat berkunjung ke laboratorium kami," kata Dr. Arifin. Perwakilan dari BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian UGM terhadap kemajuan sektor pertanian di wilayahnya. Ia mengimbau para penerima manfaat untuk terus merawat alsintan yang diberikan agar dapat menyokong perekonomian dan kesejahteraan warga Desa Sidomulyo. Rasa syukur turut dirasakan oleh Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ia mengungkapkan bahwa pendampingan dari DTPB FTP UGM yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu memberikan dampak nyata bagi efisiensi kerja kelompoknya. "Terima kasih atas perhatian UGM kepada kelompok kami. Ini menjadi 'Jumat Berkah' bagi kami karena bantuan alat dan mesin ini akan sangat membantu serta mempermudah aktivitas sehari-hari anggota kelompok ternak," tutur Paijo. Melalui program pendampingan dan modernisasi alsintan ini, DTPB FTP UGM menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan tata kelola pertanian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat desa.

Selengkapnya

Kembali ke Titik Koordinat, Alumni Geografi ‘96 Gelar Reuni 30 Tahun

Alumni Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM) Angkatan 1996 menyelenggarakan reuni ke-30 tahun pada Sabtu (5/9/26) di Fakultas Geografi UGM. Sebanyak 50 peserta alumni mengikuti serangkaian kegiatan yang meliputi napak tilas, angkringan malam, hingga penyerahan tali asih dan bibit pohon buah. Sesuai dengan tema “Kembali ke Titik Koordinat”, reuni ke-30 ini menjadi wadah silaturahmi bagi alumni Fakultas Geografi UGM angkatan 1996, sekaligus momentum untuk mengenang masa kuliah, mempererat persaudaraan, serta memberikan kontribusi nyata kembali ke almamater. Reuni ke-30 dibuka melalui sambutan dari Ketua Angkatan Geografi UGM ‘96 dan Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof. Muhammad Kamal, S.Si., M.GIS., Ph.D., serta dihadiri oleh beberapa dosen Fakultas Geografi UGM. Dalam kesempatan tersebut, alumni angkatan ’96 menyerahkan donasi berupa dua unit smartphone (HP) yang ditujukan bagi mahasiswa aktif Fakultas Geografi yang membutuhkan bantuan. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis melalui Dekan Fakultas Geografi UGM. Selain itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan berkelanjutan, alumni Geografi ‘96 turut menyerahkan sejumlah pohon bibit buah yang nantinya akan ditanam di lingkungan Fakultas Geografi.  Acara reuni juga diisi dengan jalan santai menyusuri rute nostalgia di area kampus UGM. Perjalanan dimulai dari Fakultas Geografi, menuju Boulevard UGM, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, Gedung Alumni, Graha Sabha Pramana, Gedung Pusat (Balairung), dan kembali ke Fakultas Geografi.  Sementara itu, kegiatan reuni ditutup dengan “Angkringan Malam” yang ditujukan untuk saling bercengkerama, bertukar cerita, dan mengenang masa perkuliahan dahulu. Selain menjadi momentum untuk kembali bertemu, mengenang perjalanan, mempererat persaudaraan, dan meneguhkan kepedulian kepada almamater serta sesama, Ketua Panitia Reuni, Wahyudi Ardianto, S.Si., S.T., M.T., berharap semangat kebersamaan alumni Geografi '96 dapat terus terjaga. “Semoga semangat “Sesarengan, Srawung, Saklawase” terus terjaga dan menjadi bagian dari perjalanan GE'96 di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Selengkapnya

DTETI UGM Gelar Sosialisasi dan Pelatihan PLTS bagi Warga Terban

Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) bagi warga binaan Desa Terban, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah KONEKSI bertajuk reNEWable Energy for Remote Island Sustainability and Economic LivElihoodS (NEWER-ISLES). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan dalam pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas, khususnya untuk mendukung keberlanjutan dan kemandirian energi di wilayah terpencil. Pelatihan dilaksanakan dalam beberapa sesi sejak Rabu (8/4) lalu hingga Sabtu (18/4), yang dibagi ke dalam enam kelompok warga. Nantinya, kegiatan khusus bersama Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak akan dijadwalkan pada Selasa (21/4) mendatang, bertempat di Ruang Sidang Laboratorium Teknik Tenaga Listrik (TTL) DTETI UGM. Materi pelatihan yang diberikan meliputi pengenalan dasar energi terbarukan, penggunaan teknologi pembuat es berbasis energi surya, penyampaian materi melalui media visual dan video, serta praktik langsung pengoperasian alat. Melalui pendekatan ini, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis, tetapi juga pengalaman praktis dalam memanfaatkan teknologi energi terbarukan. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen DTETI UGM dalam mendorong pemanfaatan energi bersih yang inklusif dan berbasis masyarakat. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat dapat mengembangkan keterampilan baru yang tidak hanya mendukung kebutuhan energi sehari-hari, tetapi juga membuka peluang ekonomi melalui pemanfaatan teknologi ramah lingkungan. (RAS)

Selengkapnya

Rayakan HPTT ke-80, FT UGM Perkuat Komitmen Lingkungan melalui Penanaman Pohon

Dalam semangat merayakan 80 tahun Hari Pendidikan Tinggi Teknik (HPTT), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) melaksanakan kegiatan peduli lingkungan melalui penanaman pohon di kawasan Taman Raya, pada Jumat, 9 Januari 2025. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Senat, Dekan, Wakil Dekan, Kepala Departemen, Ketua HPTT, tenaga pendidik, serta mahasiswa FT UGM. Kawasan Taman Raya sendiri berlokasi di kawasan lereng selatan lingkar FT UGM. Dalam kegiatan tersebut, FT UGM menanam berbagai varietas tanaman sebagai wujud komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan serta upaya mitigasi pemanasan global. Adapun tanaman yang ditanam meliputi pisang abaka (Musa textilis), tarum (Indigofera tinctoria), dan bambu petung (Dendrocalamus asper). Pisang abaka (Musa textilis) merupakan sumbangan dari Dekan Fakultas Pertanian UGM, Ir. Jaka Widada. Tanaman ini dikenal sebagai penghasil serat alami bernilai tinggi yang berpotensi mendukung pengembangan material ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta merupakan tanaman asli Filipina. Sementara itu, tarum (Indigofera tinctoria), yang disumbangkan oleh Prof. Edia Rahayu, merupakan tanaman penghasil pewarna alami indigo. Tanaman ini memiliki peran penting dalam pengembangan wastra Nusantara serta mendukung pertumbuhan industri kreatif berbasis bahan alam. Adapun bambu petung (Dendrocalamus asper), sumbangan dari Dr. Inggar Septhia, dimanfaatkan sebagai bahan dasar dalam penelitian bambu laminasi. Penelitian tersebut diarahkan untuk mengembangkan bambu petung sebagai material struktural alternatif yang kuat, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Tanaman-tanaman yang ditanam diproyeksikan akan mulai tumbuh dan berbuah dalam jangka waktu sekitar tiga bulan. Untuk mendukung pertumbuhan yang optimal, tanaman diberi pupuk KATRILI yang merupakan sumbangan dari Dr. Pri Utami. KATRILI merupakan booster cair berbahan dasar silika dari panas bumi yang bermanfaat untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pupuk kandang, meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman, mengurangi bau pupuk kandang, serta mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Sementara itu, sumber air untuk pengairan tanaman berasal dari Selokan Mataram yang dialirkan menggunakan teknologi elevasi, mengingat posisi elevasi Selokan Mataram lebih rendah dibandingkan lokasi Taman Raya. Kegiatan penanaman pohon ini ditutup dengan doa yang mencerminkan harapan akan kebermanfaatan lingkungan, “Segeralah subur tanamanku, segeralah bermanfaat untuk lingkunganku,” penanda berakhirnya kegiatan penanaman pohon (9/1/2025). (Humas FT: Radaeva/ Dokumentasi: Opal)