BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM Kembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being

Tim Hibah Penelitian Fakultas Psikologi UGM tengah mengembangkan Modul Intervensi Digital Well-Being (DWB). Modul ini berisi panduan intervensi berbasis regulasi diri digital dan optimalisasi aktivitas digital berkualitas. Penyusunan modul bertujuan untuk meningkatkan kesadaran individu terhadap pola penggunaan digital serta mengidentifikasi perilaku maladaptif, seperti distraksi dan penggunaan impulsif.  Tim Hibah Penelitian ini merupakan kolaborasi dua universitas, yaitu Universitas Gadjah Mada dan Universitas Muhammadiyah Lampung. Dari Fakultas Psikologi UGM, yaitu Prof. Dr. Avin Fadilla Helmi, M.Si., Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., Lusiana Yashinta Ellysa Putri, S.Psi., M.Sc. Dari Fakultas Psikologi UML, Dr. Sovi Septania, M.Psi., Psikolog. Selain itu, mahasiswa S-3, S-2, dan alumni S-1 Fakultas Psikologi UGM juga turut terlibat dalam pengembangan modul ini. Anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UML, Sovi, menjelaskan bahwa pengembangan Modul Intervensi DWB dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko permasalahan psikologis yang turut timbul akibat penggunaan teknologi maladaptif. Risiko ini muncul seiring perkembangan teknologi digital yang mengubah kehidupan sehari-hari seorang individu. Menurut Sovi, modul Intervensi DWB berfokus pada pemberian intervensi dengan pendekatan psikologis yang menyeluruh.  “Meskipun berbagai inisiatif digital well-being telah berkembang, sebagian besar masih berfokus pada pembatasan penggunaan teknologi dan belum didasarkan pada model psikologis yang komprehensif. Oleh karena itu, modul digital wellbeing ini disusun untuk intervensi psikologis preventif dan promotif untuk meningkatkan kesejahteraan digital pada dewasa muda,” ujar Sovi.  Pengembangan Modul Intervensi DWB bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kualitas modul dengan model konseptual. Model ini memandang kesejahteraan digital muncul melalui interaksi antara mekanisme protektif antara regulasi diri digital dan mekanisme promotif berupa optimalisasi aktivitas digital. Selain itu, pengembangan modul ini diharapkan berkontribusi pada pengembangan intervensi berbasis hasil riset psikologi di era digital.  Sementara itu, anggota tim sekaligus dosen Fakultas Psikologi UGM, Lusi, berharap pengembangan modul ini dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat dan produktif. “Kami berharap hasil pengembangan Modul Intervensi DWB ini ke depannya dapat diakses sesuai dengan kebutuhan masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna,” ucap Lusi. Kegiatan pengembangan Modul Intervensi DWB meliputi analisis konseptual dan penurunan indikator intervensi; penyusunan kerangka dan alur sesi modul; pengembangan konten modul intervensi; validasi isi modul (content validity); dan uji coba terbatas (pilot study).  Pengenalan modul telah dilakukan pada 26 Juni, dan diikuti oleh 22 peserta berusia 17-34 tahun. Kegiatan ini memberikan gambaran mengenai alur pelaksanaan modul yang terdiri atas lima sesi dan disusun secara bertahap.  Pada sesi pertama yang bertema “Kesadaran Pola Digitalmu”, tim mengawali kegiatan dengan pembukaan, penyusunan kontrak kegiatan, dan pengenalan pola penggunaan digital. Sesi kedua, yaitu “Pelajari Cara Tetap Sejahtera di Era Digital”, berfokus pada pemahaman peserta terhadap konsep digital well-being. Aktivitas dilanjutkan dengan sesi ketiga dan keempat, yaitu “Kendalikan Dirimu di Dunia Digital” dan “Gunakan secara Berkualitas”. Kedua sesi tersebut mengarahkan peserta untuk memahami dan mengembangkan kemampuan regulasi diri digital serta mengoptimalisasikan aktivitas digital yang berkualitas. Sesi kelima, “Rancang Hidup Seimbang Digital”, menutup kegiatan pengenalan modul dengan mengajak peserta mengintegrasikan pemahaman dan keterampilan yang telah diperoleh dari sesi-sesi sebelumnya.  Antusiasme peserta terlihat dari komitmen mereka dalam mengikuti dan menyelesaikan seluruh sesi pada Modul Intervensi DWB. Peserta terlibat dalam kegiatan dan menunjukkan kesungguhan dalam memahami materi. Ke depannya, hasil pengisian modul dapat menjadi sumber informasi penting bagi tim peneliti untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dalam mendukung kesejahteraan digital peserta.  Melalui pengembangan ini, tim peneliti berharap Modul Intervensi DWB yang berbentuk intervensi mandiri dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat luas sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing. Modul Intervensi DWB juga diharapkan dapat menjadi sarana preventif untuk membangun kebiasaan digital yang lebih sehat, seimbang, produktif, dan bermakna.  Penulis: Kayla Anindya SashikiranaEditor: Erna Tri Nofiyana

Lanjut Baca

Modal Rp500 Ribu dari Beasiswa, Mahasiswa UGM Berhasil Bangun Bisnis Ayam Petelur

Tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan untuk berusaha. Hal ini dibuktikan oleh seorang mahasiswa UGM yang sukses membangun bisnis ayam petelur berbekal modal dari tabungan beasiswanya. Berbekal tabungan beasiswa sebesar Rp500.000, ia merintis usaha tersebut di Desa Karangpakel, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga berkembang menjadi peternakan mandiri dengan ratusan ekor ayam. Memanfaatkan ilmu pemuliaan ternak yang dipelajari di bangku kuliah, Anjeli Astriani, mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) angkatan 2023, mengembangkan inovasi persilangan atau crossbreeding ayam Elba dan Mardi melalui usaha peternakannya, Bejo Farm. Inovasi persilangan ini berangkat dari pemahaman Anjeli terhadap karakteristik masing-masing jenis ayam. Ayam Elba dikenal memiliki produktivitas telur yang tinggi, sedangkan ayam Mardi memiliki postur tubuh lebih besar. Melalui persilangan keduanya, Anjeli berupaya menggabungkan potensi produksi telur dan pertumbuhan tubuh dalam satu keturunan ayam. “Ayam Elba itu rajin bertelur hingga 280–300 butir setahun, tapi postur tubuhnya kecil. Sebaliknya, ayam Mardi berbadan bongsor tetapi produksi telurnya standar,” tuturnya. Melalui teknik crossbreeding, Anjeli berharap dapat menghasilkan keturunan dengan pertumbuhan tubuh yang baik untuk dimanfaatkan sebagai ayam potong, sementara ayam betinanya tetap memiliki potensi produksi telur. Pendekatan ini menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu pemuliaan ternak yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fapet UGM. Selain mengembangkan persilangan ayam Elba dan Mardi, Bejo Farm juga membudidayakan ayam KUB dan Kuntara 4. "Saat ini, BejoBejo Farm memproduksi telur sekitar 15–20 butir per hari, didukung puluhan indukan aktif dan anakan hasil penetasan sendiri," dalam keterangannya. Di tengah harga pakan pabrikan yang tengah melonjak, Anjeli memanfaatkan potensi limbah lokal untuk menekan biaya operasional. “Karena harga pakan pabrikan sedang mahal, Saya meracik pakan dari bekatul, sisa makanan hajatan yang masih layak untuk ternak, dan buah musiman seperti mangga dan jambu air yang dipotong-potong. Pakannya diberikan dua kali sehari, pada pagi dan sore hari," ungkapnya. Tak hanya pakan ternak, Anjeli turut menerapkan perawatan menggunakan bahan alami, seperti bawang putih dan daun pepaya. “Bawang putih ini bermanfaat sebagai antibiotik alami sehingga dapat meningkatkan imun dan mengatasi ayam yang menyendiri/lemas. Untuk dosisnya, saya berikan ½ siung untuk ayam dewasa dan ¼ siung untuk ayam muda yang dilolohkan langsung atau dicampur ke pakan saat musim pancaroba. Daun pepaya segar juga saya gunakan sebagai obat cacing dengan cara dicincang dan dicampur ke pakan basah 1–2 kali seminggu untuk membasmi cacing sekaligus meningkatkan nafsu makan," jelasnya. Untuk sistem penjualan telurnya, Anjeli menggunakan sistem beli langsung di tempat dan menyediakan pesanan secara online melalui aplikasi Whatsapp dan Facebook. Produk yang ia jual mencakup telur harian, bibit Day Old Chick (DOC), hingga ayam kampung hidup. Dari hasil penjualannya, Anjeli pun mengungkapkan, sudah mampu menutup seluruh biaya operasional dan pakan harian. Sementara itu, keuntungan bersih (profit) diperoleh dari sisa penjualan bibit DOC dan ayam kampung hidup. Capaian tersebut memperlihatkan bagaimana penerapan ilmu peternakan dapat berjalan beriringan dengan pengelolaan usaha untuk membangun peternakan yang mandiri. Perjalanan Bejo Farm tidak selalu berjalan mulus. Anjeli sempat mengalami kerugian akibat kematian anakan ayam ketika cuaca di Klaten mengalami perubahan ekstrem. Pengalaman tersebut justru mendorongnya untuk mengevaluasi sanitasi kandang dan perawatan ternak agar usaha dapat terus berkembang. Anjeli mengungkapkan alasannya membangun usaha Bejo Farm ini. Hanya bermodalkan tabungan beasiswa yang dimilikinya, ia memilih memanfaatkan dana tabungannya untuk mengembangkan usaha dengan mengandalkan pengetahuan yang diperoleh selama kuliah. “Kalau uang beasiswa ini habis terbuang sia-sia atau cuma FOMO ngikutin tren, apa gunanya? Mending dimanfaatkan jadi hal yang berguna seperti membangun peternakan sendiri,” ungkap Anjeli. Bagaimana pun, Anjeli menuturkan tabungan sebagai modal awalnya tidak luput dari penerapan ilmu di Peternakan UGM. “Pencapaian Bejo Farm ini tidak terlepas dari disiplin dalam mengelola keuangan dan penerapan ilmu yang saya dapatkan selama kuliah di Fapet UGM,” ungkapnya. Melalui Bejo Farm, Anjeli menunjukkan bahwa ilmu pemuliaan ternak dapat menjadi dasar pengembangan inovasi di bidang peternakan. Perpaduan pengetahuan akademik, percobaan persilangan, dan pengelolaan usaha membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi ternak sekaligus membangun kemandirian ekonomi sejak di bangku kuliah. Reportase : Satria/Humas Fapet Penulis : M. Aidil Syahputra Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Anjeli

Selengkapnya

GAMA Rain Filter sebagai Solusi Alternatif Air di Gunungkidul: Menelusuri Dampaknya terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga

[caption id="attachment_24193" align="aligncenter" width="1024"] Sumber foto: Dokumentasi Penulis 2026[/caption] Keterbatasan akses air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi geografis yang membuat air sulit tersimpan di permukaan maupun di dalam tanah menyebabkan sejumlah wilayah menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari, terutama ketika musim kemarau. Situasi tersebut turut dirasakan oleh masyarakat Padukuhan Banyumanik dan Padukuhan Piyuyon, Kalurahan Pacarejo, yang bergantung pada air hujan dan pasokan air dari truk tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Salah satu upaya yang telah diterapkan untuk menghadapi persoalan tersebut adalah Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) GAMA Rain Filter. Teknologi ini dirancang untuk menampung dan menyaring air hujan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif. Penerapannya di Kalurahan Pacarejo sejak 2023 membuka peluang untuk meningkatkan ketahanan air rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pembelian air dari luar wilayah. Namun, keberadaan teknologi pemanenan air hujan tidak serta-merta menjelaskan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Selain ketersediaan air, penerapan teknologi ini perlu ditinjau dari sisi sosial dan ekonomi, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air, pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan air, serta peluang pemanfaatan air bagi kegiatan produktif. Berangkat dari persoalan tersebut, Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si dari Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada mengkaji dampak sosial ekonomi penerapan GAMA Rain Filter di Kalurahan Pacarejo. Penelitian ini diarahkan untuk memahami apakah pemanfaatan teknologi tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi rumah tangga, baik dalam memenuhi kebutuhan dasar maupun dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Kajian ini juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Ketersediaan air yang memadai merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penelitian ini berkaitan dengan SDG 6, yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak, yang menekankan pentingnya akses air serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Melalui kajian ini, penerapan GAMA Rain Filter diharapkan dapat dipahami bukan hanya sebagai inovasi teknologi untuk menampung air hujan, tetapi juga sebagai upaya yang perlu dievaluasi berdasarkan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemahaman tersebut penting untuk mendukung pengembangan program penyediaan air yang sesuai dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air. Referensi: Campisano, A., Butler, D., Ward, S., Burns, M. J., Friedler, E., DeBusk, K., Fisher-Jeffes, L. N., Ghisi, E., Rahman, A., Furumai, H., & Han, M. (2017). Urban rainwater harvesting systems: Research, implementation and future perspectives. Water Research, 115, 195–209. https://doi.org/10.1016/j.watres.2017.02.056 Leonard, D., & Gato-Trinidad, S. (2021). Effect of rainwater harvesting on residential water use: Empirical case study. Journal of Water Resources Planning and Management, 147(4). https://doi.org/10.1061/(ASCE)WR.1943-5452.0001354 Maryono, A., Nuranto, S., Sembada, P. T. S., & Petrus, H. T. B. M. (2022). GAMA-RainFilter: A modified rainwater harvesting technique to meet the demand of clean water in Indonesia. International Journal of Hydrology Science and Technology, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.1504/IJHST.2022.119272 [Red. Ike yuli Andjani]

Selengkapnya

Fornas XVI JKKI 2026 Dorong Revisi UU SJSN dan UU BPJS demi Penguatan Pendanaan Kesehatan

FK-KMK UGM. Transformasi sistem kesehatan membutuhkan napas panjang, tetapi di lapangan banyak pelaku layanan kesehatan justru merasa sesak. Gambaran itu mengemuka dalam Press Conference Forum Nasional (Fornas) XVI Jaringan Kebijakan Kesehatan Indonesia (JKKI) Tahun 2026 di Common Room, Gedung Penelitian dan Pengembangan FK-KMK UGM, Selasa (20/10). Kegiatan bersama Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM ini menjadi pembuka sebelum forum utama digelar pada 21 hingga 22 Oktober 2026. Sumber kesesakan itu adalah pendanaan. Belanja kesehatan pemerintah dan swasta Indonesia masih sekitar 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), tertinggal dari Malaysia yang berkisar 4,5 persen dan China yang mendekati 5 persen. Pengeluaran kesehatan per kapita pun baru sekitar 150 dolar AS, sedangkan Malaysia mencapai 480 dolar AS. Akibatnya, pelayanan terhambat, pendapatan tenaga kesehatan belum sebanding dengan tanggung jawabnya, dan mutu layanan ikut menurun. Tekanan serupa dirasakan pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc, PhD, Guru Besar FK-KMK UGM, mengungkapkan bahwa usulan perbaikan regulasi sebenarnya telah dirumuskan sejak 2019, tetapi terhenti oleh pandemi COVID-19. Kala itu, dana Pemulihan Ekonomi Nasional sempat menghadirkan surplus bagi BPJS Kesehatan dan rumah sakit. “Setelah COVID selesai, … defisit mulai muncul lagi. Jadi ini penyakit lama,” ujarnya. Menurut Prof. Laksono, dampaknya pertama kali terasa di rumah sakit karena pembayaran klaim menjadi lebih lambat. Jika mutu layanan turun, masyarakat yang akhirnya menanggung akibatnya, termasuk harus membayar langsung dari kantong sendiri. “Mutu pelayanan jangan turun,” tegasnya. Ia juga menyoroti manfaat JKN yang lebih banyak dinikmati warga Jawa dan kota besar, sementara daerah terpencil masih kekurangan dokter dan rumah sakit. Di tengah tekanan anggaran negara, masyarakat yang mampu pun perlu didorong membeli asuransi swasta agar beban kesehatan tidak bertumpu pada satu sumber. Berangkat dari persoalan tersebut, Fornas XVI mengusung penguatan kebijakan pendanaan kesehatan dan JKN, termasuk dorongan merevisi UU SJSN dan UU BPJS 2011. Selain Prof. Laksono, press conference ini menghadirkan Prof. Dr. drg. Yulita Hendrartini, M.Kes., dr. M. Lutfan Lazuardi, M.Kes., Ph.D., dan Muhamad Faozi Kurniawan, S.E., MPH. sebagai narasumber. Penyelenggara menargetkan belanja kesehatan naik menjadi 4 hingga 5 persen PDB dalam 10 tahun. Prof. Laksono menyadari peran perguruan tinggi memiliki batas. “Kalau kita perguruan tinggi, kita hanya bisa memberikan data, analisis,” katanya, sehingga organisasi profesi, asosiasi rumah sakit, dan media diajak ikut bersuara. Revisi tersebut diharapkan mulai masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) pada 2027. Upaya memperkuat pendanaan ini sejalan dengan SDG 3 kehidupan sehat dan sejahtera, khususnya jaminan kesehatan semesta. Pemerataan manfaat JKN bagi daerah terpencil berkaitan dengan SDG 10 tentang berkurangnya kesenjangan, serta SDG 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. (Reporter: Balanca Qolta).  

Selengkapnya

Aksi Waste Management pada Jalan Sehat dan Kumpul Rimbawan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63

Yogyakarta, 16 Oktober 2026 – Sampah menjadi isu internasional yang terkenal menyumbang pencemaran udara dan sumber penyebaran penyakit. Sebuah kajian mengungkapkan bahwa pada tahun 2010, Indonesia menghasilkan sampah plastik 3,2 juta ton dan 1,29 juta ton berakhir di laut. Di Yogyakarta sendiri, masalah terbesar ada pada pengelolaan sampah yang masih bertumpu pada teknik open dumping. Teknik tersebut dilakukan di TPA Piyungan seluas 16 hektare dengan timbunan sampah mencapai 600–800 ton perhari. Hal ini tentunya berdampak pada lingkungan dan kesehatan seperti pencemaran air sumur, penyebaran penyakit lewat lalat, dan polusi lewat emisi metana serta air lindi. Menanggapi kondisi ini, Fakultas Kehutanan UGM melalui tim “Rumeksa” menyelenggarakan program waste management yang dilakukan pada kegiatan Dies Natalis Fakultas Kehutanan UGM ke-63. Kegiatan ini dilakukan pada acara Jalan Sehat dan Malam Puncak sebagai upaya mengelola dan mengatasi masalah pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini menjadi aksi iklim mengatasi masalah sampah dari sumbernya dengan tidak hanya memilah sampah dari hulu untuk mengurangi beban di hilir, tetapi juga memaksimalkan nilai material dari sampah tersebut. Dalam mekanisme pelaksanaannya, tim waste management membagi sampah menjadi tiga kategori. Ketiga kategori tersebut adalah sampah organik yang berupa sisa makanan dan sisa buah, sampah daur ulang seperti dupleks, plastik (thinwall dan botol), karton, sendok, dan sedotan, dan sampah residu seperti tisu, gelas/mangkok kertas, dan mika. Selain ketiga sampah tersebut, terdapat juga daftar sampah yang dihindari, seperti sterofoam, piring mika, kertas minyak, dan papercup. Adanya mekanisme pemilahan dan pengurangan sampah ini tentunya menunjang keberhasilan dari tujuan awal waste management yaitu mengurangi timbunan dan memaksimalkan potensi sampah. Edukasi ini juga disampaikan melalui poster yang disebar ke dalam 8 titik di area ‘kritis’ sampah dan kumpulan orang dalam bentuk berikut. Selain mekanisme operasional, kegiatan ini juga didukung oleh tim volunteer yang telah membantu dan mendukung jalannya waste management dalam Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Para volunteer berasal dari mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, mulai dari mahasiswa S1 dari berbagai angkatan dan mahasiswa S2. Harapannya, dengan memberikan kesempatan volunteer, relawan dapat memperoleh pengalaman dan pengetahuan dalam pengelolaan sampah, baik dari segi konsep maupun praktiknya. Kegiatan waste management dilakukan secara operasional di lapangan pada tanggal 4 dan 9 Oktober 2026, yaitu ketika acara Jalan Sehat dan Malam Puncak Dies Natalis Fakultas Kehutanan ke-63. Secara teknis, kelancaran program ini juga didukung oleh beberapa pihak, khususnya adalah para relawan waste ranger yang cekatan dan tanggap dalam mengedukasi dan memilah sampah yang dihasilkan dari acara tersebut. [caption id="attachment_11710" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Jalan Sehat[/caption] “Saya senang teman-teman rangers antusias dalam inisiasi ini. Harapan saya, inisiasi ini bisa menjadi pemantik untuk pengelolaan sampah yang lebih baik kedepannya, baik di”, ucap Maulida Muhadini sebagai salah satu inisiator kegiatan ini. [caption id="attachment_11711" align="aligncenter" width="1920"] Waste Ranger saat di Malam Puncak Dies Natalis ke-63[/caption] Beberapa kendala yang dialami oleh tim waste ranger antara lain adalah sosialisasi aturan pemilahan sebelum acara perlu diperkuat, partisipasi peserta dalam memilah sampah masih perlu didorong, dan beberapa tenant yang meninggalkan sampah tercampur, sehingga berdampak pada timbunan sampah yang banyak. Akan tetapi, hal ini dapat diatasi dengan langkah adaptif tim waste management dan para volunteer yang cekatan dan dengan semangat memilah sampah dan mengedukasi peserta. [caption id="attachment_11712" align="aligncenter" width="1920"] Hasil Timbulan Sampah pada dua kegiatan[/caption] Berdasarkan grafik timbulan sampah yang dihimpun selama rangkaian acara, terdapat perbedaan komposisi yang signifikan antara Jalan Sehat dan Malam Puncak. Pada acara Jalan Sehat, sampah didominasi oleh jenis Residu sebesar 15,20 kg (41,6%), diikuti oleh sampah Recycle sebesar 14,20 kg (38,9%), dan Organik sebesar 7,10 kg (19,5%). Sementara itu, pada acara Malam Puncak, komposisi sampah yang tertimbang mayoritas adalah sampah Organik yang mencapai 122,50 kg (75,5%) dan sampah Recycle sebesar 39,80 kg (24,5%). Sebagai catatan penting, data sampah residu pada Malam Puncak tidak dapat dihitung atau ditimbang secara pasti akibat jumlah dan volumenya yang terlalu besar, ditambah dengan adanya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan waktu yang dimiliki oleh tim di lapangan pada saat penutupan maupun pasca acara. Dengan adanya kendala tersebut, ke depannya, dapat dilakukan penegasan kepada tenant terkait material yang dihindari agar mengurangi timbunan sampah residu. Selanjutnya, diharapkan bahwa seluruh pihak, mulai dari panitia dan seluruh tim, diharapkan juga lebih menjaga kebersihan dan berkontribusi dalam kebersihan acara. Meskipun mengalami beberapa kendala, program ini diharapkan juga tetap berkelanjutan sehingga dapat terus mengedukasi tentang pengelolaan sampah dan menjaga kualitas lingkungan Fakultas Kehutanan UGM.   Penulis: Rizky Lanang Rangga Kumara, Maulida Muhadini Dokumentasi: Jiil Apriliyani, Thoriq Muhamad Akbar Yusuf

Selengkapnya

PkM Desa Mitra 2026 Fakultas Biologi UGM Perkenalkan Tanaman Obat Keluarga kepada Siswa SD Negeri Kiyaran 1 untuk Mendukung Pendidikan Berkualitas #4

Sleman, 16 Oktober 2026 – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Desa Mitra Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melaksanakan kegiatan edukasi biologi bagi siswa sekolah dasar di SD Negeri Kiyaran 1, Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Kegiatan kali ini mengangkat pengenalan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) melalui penyampaian materi dan permainan interaktif untuk meningkatkan pengetahuan siswa mengenai keanekaragaman tumbuhan obat serta pemanfaatannya dalam kehidupan sehari-hari. [metaslider id="62000"] Kegiatan dipandu oleh Sidiq Permana Putra, S.Si., M.Sc. sebagai moderator,  dengan menampilkan 2 pemateri yaitu Dr. Wiko Arif Wibowo, S.Si. dan Dr. Maryani, M.Sc. Isi dari presentasi narasumber adalah penyampaian materi mengenai berbagai tanaman obat yang mudah dijumpai di lingkungan sekitar rumah siswa. Para siswa diajak mengenali tanaman yang tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan pengobatan tradisional, tetapi juga digunakan sebagai bumbu masakan dan bahan minuman sehari-hari. Melalui pengenalan ini, siswa diharapkan semakin menyadari bahwa tumbuhan di sekitar mereka memiliki beragam manfaat. Berbagai tanaman obat yang diulas  antara lain jahe, kunyit, kencur, lidah buaya, daun sirih, bawang putih, bawang merah, sereh, ketumbar, pala, kemangi, jeruk nipis, temulawak, kayu manis, cengkeh, lada, daun salam, temu kunci, laos, dan seledri. Dalam penyampaian materi, bagian dari organ tanaman yang dimanfaatkan sebagai obat diperlihatkan dan dibagikan secara langsung kepada siswa untuk diamati. Siswa diajak mengenali karakteristiknya masing-masing melalui pengamatan bentuk, warna, serta mencium aromanya. Pengalaman belajar secara langsung ini membantu siswa membedakan berbagai jenis tanaman obat yang diperkenalkan sekaligus mengenali ciri khasnya melalui pancaindra. Untuk memperkuat pemahaman siswa, kegiatan dilanjutkan dengan permainan tebak tanaman obat melalui responsi interaktif menggunakan sistem tokser (ketok, geser). Dalam sesi ini, siswa diminta menuliskan nama tanaman yang ada di setiap meja yang mereka lalui. Siswa tampak antusias sekaligus tegang saat berusaha mengenali dan mengingat kembali nama dari ciri-ciri tanaman obat yang telah dipelajari.   Selama pelaksanaan, anggota tim dosen Fakultas Biologi UGM, yaitu Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D. Dr. Utaminingsih, S.Si., M.Sc., Dr. Aprilia Sufi Subiastuti, S.Si., Dr. Siti Nurbaiti, S.Si., Novita Yustinadiar, S.Si., M.Si., serta dua mahasiswa (Rosya Irbah Mahdiyyah, NIM 23/515258/BI/11221 dan Nazwa Nur Sahara, NIM 23/514177/BI/11190) turut membantu kelancaran kegiatan. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong siswa untuk memahami materi yang dipelajari. Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan hasil belajar siswa, tim pengabdian memberikan penghargaan kepada dua siswa terbaik dari setiap kelas (kelas 4, 5 dan 6). Pembagian hadiah disambut dengan antusias oleh para peserta dan menjadi penutup rangkaian pembelajaran interaktif pada kegiatan tersebut.   Pengenalan tanaman obat dan manfaatnya ini merupakan kegiatan terakhir kegiatan pengabdian tim kami di SD Negeri Kiyaran 1.  Setelah kegiatan ini  berakhir, acara dilanjutkan dengan penutupan oleh Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D. selaku ketua tim pengabdian. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan pengabdian di sekolah mitra telah terlaksana melalui empat pertemuan dengan beragam topik pembelajaran. Beliau menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah atas dukungan dan kerja sama yang telah diberikan selama pelaksanaan program. Beliau mengharapkan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat bagi siswa dan memperkaya pengalaman belajar mereka.   Kepala sekolah, Ibu Kristiana Widi Rahayu, S.Pd., turut menyampaikan apresiasi kepada Tim PkM Desa Mitra Fakultas Biologi UGM atas pelaksanaan rangkaian edukasi yang telah mencakup berbagai topik, mulai dari ikan, pengelolaan sampah, budidaya tanaman, hingga pengenalan tanaman obat dan manfaatnya. Beliau berharap pengetahuan yang diperoleh dapat bermanfaat bagi anak-anak, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari. Dukungan dan kolaborasi antara pihak sekolah dan Fakultas Biologi UGM diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi pendidikan siswa. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama antara tim pengabdian, pihak sekolah, dan para siswa sebagai penanda berakhirnya rangkaian kegiatan.   Melalui kegiatan ini, Fakultas Biologi UGM turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi sains dan pembelajaran kontekstual sejak dini. Pengenalan tanaman obat juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan pengetahuan dasar mengenai tanaman yang berkaitan dengan kesehatan. Melalui program Desa Mitra Wukirsari, Fakultas Biologi UGM berharap pengenalan keanekaragaman hayati dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian terhadap tumbuhan, serta apresiasi siswa terhadap potensi hayati di lingkungan sekitar.

Selengkapnya

Tim Sekolah Vokasi UGM Kembangkan PathoCODE, Bantu Calon Perekam Medis Hindari Salah Kode Klaim JKN

(SLEMAN) Tim peneliti Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM mengembangkan PathoCODE, media pembelajaran digital untuk kodifikasi penyakit pernapasan dan penetapan severity level dalam sistem Indonesian Case Base Groups (INA-CBG). Pengembangan dilakukan pada April hingga Oktober 2026 di Program Studi Sarjana Terapan Manajemen Informasi Kesehatan (MIK), Departemen Layanan dan Informasi Kesehatan, Sekolah Vokasi UGM, melalui Hibah Riset dan Pembuatan Artikel Publikasi Sekolah Vokasi UGM Tahun 2026 skema kompetitif. Penelitian diketuai oleh Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH dan beranggotakan Dr. Savitri Citra Budi, S.KM., M.P.H., Nuryati, S.Far., M.P.H., dan Sugeng, S.KM., M.M. dari Sekolah Vokasi UGM, Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc. dari Departemen Parasitologi FK-KMK UGM, serta tiga mahasiswa MIK, yaitu Khodijah Aulia, Nasywa Natania Ramadhani, dan Rifka Aulia Rizki. Pembangunan platform dilakukan bersama mitra PT Lentera Amartha Berdaya. [caption id="attachment_1762" align="alignnone" width="600"] Infografis riset PathoCODE: permasalahan kodifikasi, enam modul belajar, hasil uji coba pada 48 mahasiswa, dan kolaborasi pengembangan. (Foto: Dok. Tim Peneliti PathoCODE)[/caption] Ketepatan kodifikasi diagnosis dan tindakan menjadi kunci dalam pembayaran rumah sakit pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dalam sistem INA-CBG, setiap episode rawat inap dikelompokkan berdasarkan diagnosis utama, diagnosis sekunder, dan tindakan. Kode diagnosis sekunder yang tergolong komorbiditas atau komplikasi menentukan severity level 1, 2, atau 3 beserta besaran tarifnya. Studi di Malaysia mencatat 89,4 persen rekam medis yang diaudit memuat setidaknya satu kesalahan kode, dan diagnosis sekunder menjadi unsur yang paling sering keliru. Kondisi serupa dilaporkan di sejumlah rumah sakit di Indonesia. Pengembangan PathoCODE bertujuan menyediakan media yang memadukan materi klinis, kodifikasi, dan simulasi severity level dalam satu tempat, sehingga mahasiswa dapat berlatih penalaran koding sebelum terjun ke rumah sakit. Pengembangan PathoCODE mengikuti model ADDIE yang terdiri atas tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Pada tahap analisis, tim mengkaji capaian pembelajaran mata kuliah kodifikasi dan pedoman INA-CBG dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 26 Tahun 2021. Tahap desain dan pengembangan dikerjakan bersama PT Lentera Amartha Berdaya dan menghasilkan lima versi aplikasi yang ditelaah secara internal oleh tim. Seluruh kode diselaraskan dengan ICD-10 versi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan INA-CBG, bukan versi modifikasi klinis Amerika Serikat (ICD-10-CM). Tahap implementasi dan evaluasi dilaksanakan melalui uji coba kepada mahasiswa MIK pada September–Oktober 2026. PathoCODE memiliki enam modul utama. Modul anatomi–patologi menampilkan sepuluh area saluran napas yang dapat diklik dan memetakan 57 kode penyakit J00–J18. Modul triase gejala membantu menelusuri kemungkinan diagnosis beserta kodenya. Modul alur pembelajaran tujuh langkah membahas sepuluh penyakit utama, mulai dari anatomi hingga INA-CBG. Simulator severity level memperlihatkan perubahan tingkat keparahan secara langsung ketika kode CC atau MCC ditambahkan. Aplikasi juga dilengkapi bank soal kasus serta referensi berupa tabel 145 kode ICD-10, panduan INA-CBG, dan glosarium 32 istilah. Aplikasi dapat diakses melalui peramban di laptop maupun ponsel pada alamat https://pathocode.jasoet.co. “Kolaborasi lintas bidang ilmu membuat materi klinis dan materi kodifikasi dapat disusun secara utuh. Mahasiswa dapat melihat letak penyakit, perjalanan klinisnya, hingga dampaknya pada pengelompokan kasus," ujar Rizqiani Amalia Kusumasari, S.Si., M.Sc., dosen Departemen Parasitologi FK-KMK UGM. "Kesalahan koding yang tidak terlihat dapat berdampak pada klaim rumah sakit. Melalui PathoCODE, kami ingin mahasiswa terbiasa mengode apa yang terdokumentasi dan mendokumentasikan apa yang dikerjakan," tutur Dr. Rita Dian Pratiwi, S.Kep., MPH. Penelitian ini menghasilkan beberapa luaran. Luaran pertama adalah aplikasi PathoCODE yang telah diuji coba oleh 48 mahasiswa, dengan penilaian kelayakan media sebesar 81,4 persen atau kategori sangat layak. Luaran kedua adalah instrumen evaluasi yang mengukur kompetensi kodifikasi, kegunaan, dan kualitas media. Luaran berikutnya adalah naskah artikel ilmiah yang sedang disiapkan untuk jurnal internasional, serta rencana pendaftaran hak cipta atas aplikasi. Hasil uji coba juga memetakan bagian yang masih perlu diperkuat, terutama pemahaman mahasiswa dalam membedakan kode CC dan MCC. Riset ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target cakupan kesehatan semesta, melalui penguatan kompetensi tenaga pengelola informasi kesehatan yang menopang ketepatan pembiayaan JKN. Riset ini juga mendukung SDG ke-4, Pendidikan Berkualitas, melalui media pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja, serta SDG ke-17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi lintas fakultas dan kemitraan dengan PT Lentera Amartha Berdaya. Ke depan, tim peneliti akan menyempurnakan PathoCODE berdasarkan masukan pengguna dan telaah ahli koding, termasuk validasi oleh koder praktisi rumah sakit dengan target skor validasi minimal 80 persen serta pencocokan dengan aplikasi grouper INA-CBG resmi. Tim juga merencanakan perluasan materi ke bab ICD-10 lainnya serta persiapan menghadapi penerapan ICD-11. PathoCODE diharapkan dapat menjadi sumber belajar pendamping bagi mahasiswa perekam medis dan informasi kesehatan, sekaligus mendukung upaya peningkatan mutu data klinis di fasilitas pelayanan kesehatan. Akses PathoCODE: https://pathocode.jasoet.co (dapat dibuka melalui peramban di laptop maupun ponsel)

Selengkapnya

Dukung Program Pendampingan Ibu Hamil, Dosen HBES FK-KMK UGM Bekali Mahasiswa Kebidanan dengan Teknik Konseling

Yogyakarta, 21 Agustus 2026 — Kemampuan berkomunikasi menjadi bagian penting dalam pendampingan ibu hamil di Daerah istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menyampaikan informasi kesehatan, tenaga pendamping juga perlu membangun hubungan saling percaya agar ibu hamil mampu memahami kondisi dan mengambil keputusan terkait kesehatannya secara mandiri. Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes. dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM), dalam kegiatan Pembekalan Pendampingan Ibu Hamil yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan pembekalan dilaksanakan pada 18–21 Agustus 2026 di Gedung Radya Suyoso BAPPERIDA dan Gedung Wisanggeni/Unit 8 Biro Umum, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Dinas Kesehatan DIY dengan institusi pendidikan kebidanan di DIY untuk mempersiapkan mahasiswa sebelum terlibat dalam pendampingan ibu hamil, nifas, dan bayi baru lahir. Dalam sesi bertajuk “Teknik Konseling dengan Komunikasi Antar Pribadi (KAP)”, Bu Supriyati membekali peserta dengan pemahaman dan keterampilan dasar konseling yang dapat diterapkan dalam interaksi dengan ibu hamil. Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman peserta mengenai konseling, meningkatkan keterampilan melakukan konseling, sekaligus membangun self-efficacy dalam memberikan pendampingan. Bu Supriyati menekankan bahwa konseling ibu hamil bukan sekadar memberikan nasihat. Konseling merupakan proses membangun hubungan saling percaya sehingga ibu hamil dapat lebih mandiri dalam mengambil keputusan terkait kesehatannya. Pendekatan komunikasi antar pribadi juga perlu berpusat pada kebutuhan ibu hamil, menjaga kerahasiaan, tidak menghakimi, serta menghargai nilai sosial dan budaya yang dianut. Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai keterampilan komunikasi, seperti membuka diri, mendengarkan, bertanya, memperhatikan komunikasi nonverbal, serta melakukan konfirmasi atau feedback. Keterampilan tersebut menjadi dasar untuk menciptakan komunikasi yang efektif dan membantu ibu hamil merasa nyaman dalam menyampaikan kebutuhan maupun permasalahannya. Untuk memperkuat pemahaman, pembekalan dilanjutkan dengan praktik Komunikasi Antar Pribadi (KAP). Mahasiswa berlatih melalui sejumlah studi kasus, mulai dari ibu hamil dengan keluhan mual muntah, perencanaan persalinan, hingga keraguan dalam memberikan ASI eksklusif. Melalui praktik tersebut, mahasiswa tidak hanya mempelajari cara menyampaikan informasi, tetapi juga berlatih memvalidasi emosi, menggali kebutuhan, menguraikan pilihan, serta membantu ibu hamil mengambil keputusan. Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya Dinas Kesehatan DIY untuk memperkuat pendampingan ibu hamil sebagai strategi penurunan kematian ibu dan bayi. Pendampingan yang dilakukan secara intensif diharapkan dapat mendukung deteksi dini faktor risiko, pemantauan kepatuhan terhadap pengobatan, pendampingan psikososial, edukasi kesehatan, serta penguatan dukungan keluarga. Pembekalan ini juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being yang menekankan pentingnya peningkatan kesehatan ibu dan anak serta akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Penguatan kemampuan komunikasi dan konseling bagi calon pendamping diharapkan dapat mendukung upaya promotif dan preventif, deteksi dini faktor risiko, serta peningkatan kualitas pendampingan selama kehamilan hingga masa setelah persalinan. Selain itu, kegiatan ini turut mendukung SDG 4: Quality Education melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan praktis mahasiswa agar memiliki kompetensi yang relevan dalam memberikan pendampingan kesehatan berbasis kebutuhan masyarakat.  Melalui penguatan keterampilan konseling dan komunikasi antar pribadi, mahasiswa diharapkan memiliki bekal yang lebih komprehensif untuk menjalankan peran pendamping. Pendekatan yang komunikatif, empatik, dan berpusat pada ibu hamil diharapkan dapat mendukung terciptanya pendampingan yang berkualitas, berkesinambungan, dan sesuai dengan kebutuhan ibu serta keluarganya. Penulis : Zilfani Fuadiyah Haq Editor : Ari Prayogo Pribadi  

Selengkapnya

130 Peserta Ramaikan Tenis Kagama Cup, Jadi Ajang Reuni sekaligus Unjuk Kebolehan

Sebanyak 130 peserta mengikuti Turnamen Tenis Kagama Cup di GOR Lembah Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 17–18 Oktober, turnamen tahunan yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama) ini memasuki penyelenggaraan ke-XIX dan menjadi ajang silaturahmi bagi alumni UGM melalui olahraga tenis. Dalam pembukaannya, turut dihadiri oleh Ketua Senat Akademik UGM, Prof. Dr. Wahyudi Kumorotomo, M.P.P., dan Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof. Ir. Panut Mulyono, M.Eng., D.Eng. Seremoni pembukaan turnamen ini turut dibuka oleh Direktur Kemahasiswaan UGM, Dr. Hempri Suyatna, dan Ketua Dies Natalis ke-77 UGM, Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum. Wikan Sakarinto, S.T., M.Sc., Ph.D., selaku ketua panitia, mengatakan bahwa kompetisi ini berawal dari keinginan alumni untuk berkumpul dan bermain tenis bersama. Kemudian, dikembangkan menjadi sebuah kompetisi agar lebih menarik dan meriah. “Kalau konteksnya pasti selalu reuni. Reuninya (dibarengi dengan) main tenis. Kalau cuma reuni main tenis, itu kurang gayeng, maka diadakanlah turnamen,” ujar Wikan. Wikan menjelaskan turnamen ini bukan sekadar kompetisi yang menghasilkan pemenang sampai podium saja, melainkan tim yang menang akan menjadi delegasi tim tenis dari Kagama untuk berkompetisi antarikatan/keluarga alumni universitas di Indonesia. “Kalau jajaran pemenang, biasanya kita masukkan ke tim Kagama yang bertanding melawan keluarga alumni kampus lain. Jadi, kompetisi itu memang ada setiap tahun. Ini (KAGAMA CUP) tiap tahun, yang itu juga tiap tahun,” ungkapnya. Direktur Kemahasiswaan Hempri Suyatna menyampaikan turnamen Tenis Kagama Cup merupakan salah satu bentuk kolaborasi antara UGM dan keluarga alumni. Menurutnya, kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan olahraga, tetapi juga berkembang menjadi kerja sama dalam berbagai kegiatan lainnya. “Saya kira kolaborasi ini tidak hanya berhenti di lapangan tenis, tetapi juga dalam berbagai bentuk kegiatan yang lain,” ujar Hempri saat membuka KAGAMA Tennis Cup 2026. Ketua Panitia Die Natalis UGM, Siti Murtiningsih juga menyampaikan ucapan selamat bertanding kepada para peserta dan harapan agar turnamen ini dapat terus diselenggarakan dan menjadi ajang silaturahmi. “Menurut saya, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi yang harus terus kita jaga dan rawat. Pertandingan hari ini bukan semata-mata tentang menang atau kalah, melainkan menjadi ruang untuk menjalin silaturahmi dan mempererat persaudaraan,” tuturnya. Wira, selaku Bendahara Tenis Kagama Cup 2026, menjelaskan bahwa turnamen tahun ini mempertandingkan tiga kategori, yakni kelompok usia 65 tahun ke atas (KU 65), 55 tahun ke atas (KU 55), serta kategori jumlah usia pasangan 85 tahun (KU 85). Ia mengatakan, turnamen berlangsung selama dua hari dengan sistem pertandingan yang berbeda pada setiap harinya.“Jadi, kita sistemnya hari pertama itu sistem grup. Satu pemain bisa main tiga sampai empat kali. Baru di hari kedua kita mulai masuk 16 besar. Nah, itu kita baru mulai masuk sistem gugur,” jelas Wira. Dalam pelaksanaannya, panitia menggunakan empat lapangan outdoor di UGM dan empat lapangan indoor di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) untuk mengakomodasi jumlah pertandingan. Sementara itu, pertandingan semifinal dan final dari ketiga kategori dijadwalkan berlangsung di GOR Lembah UGM pada hari kedua turnamen. Wira juga mengungkapkan bahwa penyelenggaraan tahun ini menghadapi tantangan dalam mencari sponsor di tengah kondisi ekonomi yang belum kondusif. Meski demikian, dukungan dan semangat kebersamaan para peserta membantu turnamen tetap terlaksana.“Tantangan untuk tahun ini memang cukup tricky untuk mencari sponsor karena kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tetapi, dengan keguyuban peserta dan semboyan kami, ‘dari peserta untuk peserta’, kami mencoba bersama-sama. Ada yang mendukung bola, konsumsi, pertandingan, dan sebagainya,” ungkapnya. Manfaat Kagama Tennis Cup juga dirasakan langsung oleh peserta. Ringgo, anggota Kagama sekaligus mahasiswa Magister Manajemen UGM angkatan 2021, mengatakan bahwa turnamen ini menjadi salah satu agenda yang dinantikan setiap tahun karena mempertemukan alumni dengan latar belakang dan profesi yang beragam. “Event tahunan ini salah satunya untuk bersilaturahmi, khususnya insan tenis alumni UGM. Alumni-alumni yang bekerja di Jakarta maupun di luar Jawa bisa berkumpul setahun sekali untuk acara tenis. Namun, tidak hanya tenis saja, kita juga menyambung silaturahmi,” ujar Ringgo. Baginya, nilai utama turnamen ini bukan terletak pada besarnya hadiah atau kemeriahan acara, melainkan pada kesempatan untuk menjaga hubungan antar alumnus. Pertemuan tersebut bahkan dapat membuka peluang baru melalui pertukaran informasi dan pengalaman. “Kita tidak berharap hadiahnya lebih besar atau hospitality-nya seperti apa. Konsep utamanya adalah untuk menyambung silaturahmi,” tuturnya. Ringgo berharap turnamen antar alumni UGM dapat terus diselenggarakan pada tahun-tahun mendatang. “Keberlanjutan kegiatan ini penting agar para alumni tetap memiliki ruang untuk bertemu, berolahraga, dan memperkuat jejaring,” pungkasnya. Disela kegiatan turnamen, Akhdiyat Duta Modjo, vokalis band Sheila on 7 sempat hadir menyaksikan langsung. Meski tidak ikut bertanding, Duta, demikian ia akrab disapa, sengaja menyaksikan sahabatnya yang merupakan teman satu angkatan saat kuliah di FTP UGM ikut bertanding. Apalagi belakangan ini Duta memiliki hobi main tenis lapangan dengan jadwal rutin latihan dua kali seminggu. Penulis    : M. Aidil Syahputra Editor      : Gusti Grehenson foto       : Aidil, Dok. Komunitas Tenis UGM

Selengkapnya

Tingkatkan Produktivitas Petani Samigaluh, UGM dan FT Rewulu Serahkan 500 Bibit Kopi Robusta dan Mesin Giling

Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (SV UGM) bersama PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal (FT) Rewulu menyerahkan 500 bibit kopi robusta dan dua unit mesin giling kopi kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Taruna Tani Astabrata di Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Senin (5/10). Bantuan ini diberikan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan pengolahan kopi masyarakat sekaligus mendukung pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal. Penyerahan bantuan berlangsung di Pendopo Rumah Produksi Kopi Trajumas, Padukuhan Kalinongko. Kegiatan ini merupakan tahap kedua program pengabdian bertajuk “Membangun Resiliensi Petani Kopi menuju Green Economy: Penguatan Kapasitas KTH Taruna Tani Astabrata dalam Produksi Bibit Berkualitas melalui Smart Nursery”. Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat DPkM UGM, Dr. Djoko Santosa, mengatakan bantuan bibit dan peralatan tersebut diharapkan dapat memperkuat sarana produksi kelompok tani, mulai dari penanaman hingga pengolahan hasil panen. Bibit kopi robusta dapat dimanfaatkan untuk menambah tanaman produktif, sedangkan mesin giling mendukung pengolahan kopi agar kelompok memiliki sarana yang lebih memadai untuk mengembangkan usahanya. “Kita harapkan dengan bantuan ini, produktivitas petani kopi semakin meningkat,” kata Djarot dalam terangan yang dikirim Jumat (16/10) Sementara Ketua Tim Pengabdian SV UGM, Ir. Denni Susanto, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPM., mengatakan penyerahan bantuan ini melanjutkan rangkaian kegiatan yang sebelumnya dilakukan tim pengabdian bersama mitra. Kegiatan tersebut meliputi koordinasi lapangan, sosialisasi program, pelatihan teknis pembibitan melalui metode sambung pucuk (grafting) dan okulasi, serta pemetaan calon lokasi persemaian menggunakan pesawat nirawak atau drone.” Rangkaian kegiatan ini diarahkan untuk mendukung pengembangan sistem pembibitan kopi yang lebih terencana,” jelasnya. Melalui program pengabdian ini, kata Denni, UGM bersama mitra berharap penguatan kapasitas petani dan penyediaan sarana produksi dapat menjadi langkah berkelanjutan dalam mengembangkan potensi kopi di Kalurahan Pagerharjo. Upaya tersebut sekaligus diharapkan mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat yang selaras dengan prinsip green economy di Kabupaten Kulon Progo. Salah satu anggota KTH Taruna Tani Astabrata, Agustinus Sulistyo, menyampaikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh UGM dan Pertamina. Ia berharap bibit yang diterima dapat tumbuh dengan baik dan memberikan manfaat bagi para petani di Pagerharjo.“Terima kasih pada UGM dan Pertamina yang telah menyerahkan bantuan bibit kopi. Saya sebagai anggota Taruna Tani merasa senang dan bahagia. Sekali lagi terima kasih sekali,” katnya. Agustinus juga berharap bantuan tersebut dapat disertai pendampingan berkelanjutan agar anggota kelompok mampu merawat bibit dan memanfaatkan peralatan secara optimal. Selain memperkuat kapasitas budidaya, program penyerahan bantuan bibit kopi dan mesin giling ini mampu mendorong pengelolaan hutan rakyat dengan memanfaatkan potensi lokal. Pengembangan tanaman kopi diharapkan dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat, sementara peningkatan kapasitas pengolahan membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan usaha kopi secara berkelanjutan. Penulis : Adinda Putri Rahma Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. SV UGM