BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

FMIPA UGM Salurkan 10 Tangki Air Bersih untuk Bantu Warga Kamal Hadapi Kekeringan

Pengabdian Laboratorium Kimia Organik menghubungkan kepedulian terhadap kebutuhan dasar warga dengan penguatan pengetahuan pertanian di Gunungkidul. Gunungkidul, 24 Oktober 2026 — Laboratorium Kimia Organik, Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (FMIPA UGM), menyalurkan bantuan 10 tangki air bersih bagi warga Padukuhan Kamal, Kalurahan Wunung, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (24/10). Bantuan tersebut ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih sekitar 150 kepala keluarga atau kurang lebih 500 jiwa yang menghadapi keterbatasan pasokan air pada musim kemarau. Penyaluran bantuan menjadi bagian dari rangkaian pengabdian kepada masyarakat Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM di Kalurahan Wunung, Duwet, dan Mulo. Melalui kegiatan ini, dosen dan tenaga kependidikan merespons kebutuhan mendesak masyarakat sekaligus memperkuat hubungan perguruan tinggi dengan warga di wilayah pendampingan. Membantu Memenuhi Kebutuhan Dasar Warga Ketersediaan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang memengaruhi berbagai kegiatan rumah tangga. Bagi warga yang mengalami keterbatasan sumber air selama kemarau, tambahan pasokan diharapkan dapat meringankan beban dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Prof. Tutik Dwi Wahyuningsih, M.Si., Dr. Yehezkiel Steven K., M.Eng., dan Dr. Sugeng Triono, M.Si., yang mewakili tim dosen dan tenaga kependidikan Laboratorium Kimia Organik FMIPA UGM. Kegiatan tersebut menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari pelaksanaan pengabdian perguruan tinggi. Kehadiran tim di tengah warga menjadi kesempatan untuk memahami bahwa kebutuhan masyarakat perlu menjadi pertimbangan penting dalam menentukan bentuk kontribusi kampus. Bantuan air bersih ini merupakan respons terhadap kebutuhan saat ini. Keberlanjutan akses air tetap menjadi persoalan yang memerlukan perhatian bersama, sehingga manfaat bantuan perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih luas dalam mendukung ketahanan masyarakat menghadapi musim kemarau. Pengabdian yang Menjangkau Air Bersih dan Pertanian Pada hari yang sama, tim Laboratorium Kimia Organik juga menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Hama dan Penyakit pada Tanaman Pangan dan Hortikultura di Balai Kalurahan Wunung. Kegiatan tersebut memberikan pembekalan bagi petani dan pekebun dari Wunung, Duwet, dan Mulo untuk mengenali gangguan tanaman serta memahami langkah pengendalian yang sesuai. Kedua kegiatan menjangkau kebutuhan masyarakat yang saling berkaitan. Pasokan air membantu kebutuhan dasar rumah tangga, sementara pembelajaran pertanian diharapkan memperkuat kemampuan warga dalam menjaga tanaman dan mengurangi risiko kehilangan hasil panen. Dalam rangkaian pengabdian ini, FMIPA UGM menghubungkan kepedulian sosial dengan pemanfaatan kepakaran. Bantuan air diberikan sesuai kebutuhan warga, sedangkan pengetahuan ilmiah dihadirkan melalui pembekalan teknis pertanian yang relevan dengan kondisi setempat. Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Penyaluran bantuan air bersih sejalan dengan SDGs Poin 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, khususnya aspek akses terhadap air bersih. Kontribusi kegiatan ini terletak pada penyediaan tambahan pasokan bagi warga yang membutuhkan, tanpa menyamakan bantuan sementara dengan penyelesaian menyeluruh persoalan akses air. Sementara itu, bimbingan teknis pertanian mendukung SDGs Poin 2: Tanpa Kelaparan melalui penguatan pengetahuan untuk menjaga produktivitas pangan. Materi pengelolaan gangguan tanaman secara berkelanjutan juga berkaitan dengan SDGs Poin 15: Ekosistem Daratan. Memperkuat Budaya Akademik yang Peduli Keterlibatan dosen dan tenaga kependidikan memperlihatkan bahwa kontribusi kampus dapat hadir melalui kepakaran maupun tindakan sosial. Bagi alumni, kegiatan ini menjadi ruang untuk melihat keberlanjutan peran almamater di masyarakat. Bagi calon mahasiswa, pengabdian tersebut menunjukkan kesempatan untuk belajar memahami persoalan kehidupan melalui keterlibatan langsung. Ke depan, hubungan yang berkelanjutan dengan masyarakat dapat menjadi landasan pengembangan kolaborasi bersama mitra. Dengan mendengarkan kebutuhan warga dan mengevaluasi manfaat kegiatan, FMIPA UGM dapat terus memperluas kontribusi pengabdian yang relevan, terarah, dan mendukung pencapaian tujuan pembangunan global dari tingkat lokal. Penulis : Deni Pranowo Editor: Robby Noor Cahyono Foto : Yehezkiel Steven Kurniawan Tags:SDGs SDG 2: Tanpa Kelaparan SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak SDG 15: Ekosistem Daratan

Lanjut Baca

GAMA Rain Filter sebagai Solusi Alternatif Air di Gunungkidul: Menelusuri Dampaknya terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga

[caption id="attachment_24193" align="aligncenter" width="1024"] Sumber foto: Dokumentasi Penulis 2026[/caption] Keterbatasan akses air bersih masih menjadi tantangan bagi masyarakat di kawasan karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi geografis yang membuat air sulit tersimpan di permukaan maupun di dalam tanah menyebabkan sejumlah wilayah menghadapi kendala dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari, terutama ketika musim kemarau. Situasi tersebut turut dirasakan oleh masyarakat Padukuhan Banyumanik dan Padukuhan Piyuyon, Kalurahan Pacarejo, yang bergantung pada air hujan dan pasokan air dari truk tangki untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Salah satu upaya yang telah diterapkan untuk menghadapi persoalan tersebut adalah Instalasi Pemanenan Air Hujan (IPAH) GAMA Rain Filter. Teknologi ini dirancang untuk menampung dan menyaring air hujan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber air alternatif. Penerapannya di Kalurahan Pacarejo sejak 2023 membuka peluang untuk meningkatkan ketahanan air rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pembelian air dari luar wilayah. Namun, keberadaan teknologi pemanenan air hujan tidak serta-merta menjelaskan seberapa besar manfaat yang dirasakan masyarakat. Selain ketersediaan air, penerapan teknologi ini perlu ditinjau dari sisi sosial dan ekonomi, termasuk waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh air, pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan air, serta peluang pemanfaatan air bagi kegiatan produktif. Berangkat dari persoalan tersebut, Dra. Ike Yuli Andjani, M.Si dari Departemen Ekonomika dan Bisnis, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada mengkaji dampak sosial ekonomi penerapan GAMA Rain Filter di Kalurahan Pacarejo. Penelitian ini diarahkan untuk memahami apakah pemanfaatan teknologi tersebut berkaitan dengan perubahan kondisi rumah tangga, baik dalam memenuhi kebutuhan dasar maupun dalam mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Kajian ini juga memiliki relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Ketersediaan air yang memadai merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, penelitian ini berkaitan dengan SDG 6, yaitu Air Bersih dan Sanitasi Layak, yang menekankan pentingnya akses air serta pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Melalui kajian ini, penerapan GAMA Rain Filter diharapkan dapat dipahami bukan hanya sebagai inovasi teknologi untuk menampung air hujan, tetapi juga sebagai upaya yang perlu dievaluasi berdasarkan manfaat nyata bagi masyarakat. Pemahaman tersebut penting untuk mendukung pengembangan program penyediaan air yang sesuai dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air. Referensi: Campisano, A., Butler, D., Ward, S., Burns, M. J., Friedler, E., DeBusk, K., Fisher-Jeffes, L. N., Ghisi, E., Rahman, A., Furumai, H., & Han, M. (2017). Urban rainwater harvesting systems: Research, implementation and future perspectives. Water Research, 115, 195–209. https://doi.org/10.1016/j.watres.2017.02.056 Leonard, D., & Gato-Trinidad, S. (2021). Effect of rainwater harvesting on residential water use: Empirical case study. Journal of Water Resources Planning and Management, 147(4). https://doi.org/10.1061/(ASCE)WR.1943-5452.0001354 Maryono, A., Nuranto, S., Sembada, P. T. S., & Petrus, H. T. B. M. (2022). GAMA-RainFilter: A modified rainwater harvesting technique to meet the demand of clean water in Indonesia. International Journal of Hydrology Science and Technology, 13(1), 1–22. https://doi.org/10.1504/IJHST.2022.119272 [Red. Ike yuli Andjani]

Selengkapnya

Tanggap Bencana Kekeringan, Mahasiswa UGM Kirim 250 Ribu Liter Air Bersih ke Gunungkidul

Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (HMP UGM) menyalurkan bantuan 50 tangki air bersih dengan total volume sekitar 250.000 liter kepada masyarakat terdampak kekeringan di Kalurahan Terbah, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Minggu, (11/10). Norol Latifah, Ketua Umum HMP UGM, menyampaikan rasa prihatin atas kondisi yang dialami warga Gunungkidul saat musim kemarau ini. Bahkan beberapa dari mereka harus menjual hasil pertanian seperti singkong untuk mendapatkan air bersih. Ia berharap adanya bantuan yang disalurkan dapat memberikan sedikit keringanan di tengah kesulitan yang dihadapi. “Mungkin bantuan ini belum dapat menyelesaikan seluruh persoalan yang ada, tetapi kami berharap bisa sedikit meringankan beban masyarakat. Kami juga berharap musim hujan segera tiba sehingga kekeringan ini berangsur berakhir dan warga lebih mudah mendapatkan air bersih,” ujarnya, Selasa (13/10). Ia menyampaikan dari total bantuan yang disiapkan, 175.000 liter air bersih disalurkan pada tahap awal untuk masyarakat Padukuhan Karang dan Kayugrit. Sementara 75.000 liter sisanya direncanakan untuk disalurkan ke wilayah terdampak lainnya. Penyaluran dilakukan secara bertahap menggunakan armada tangki air menuju titik-titik penerima, termasuk pemukiman warga, tempat ibadah, dan fasilitas pendidikan, dengan rata-rata empat hingga lima tangki setiap harinya bergantung pada kapasitas tampung yang tersedia di masing-masing titik. “Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Kemahasiswaan UGM yang telah memfasilitasi anggaran, kemudian CSR Bimasakti, Pemerintah Kalurahan Terbah, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan penyaluran bantuan,” ungkap Norol. Lurah Terbah, Giyanto, menjelaskan bahwa kekeringan merupakan persoalan yang berulang di wilayahnya setiap musim kemarau. Dari enam padukuhan yang ada di Kalurahan Terbah, sejumlah wilayah mengalami dampak kekeringan yang cukup serius, sementara upaya penyediaan air melalui sumur bor yang telah dilakukan sebelumnya belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan warga ketika musim kemarau tiba. “Selama musim penghujan, ketersediaan air masih cukup. Namun, ketika musim kemarau, air yang tersedia tidak lagi mencukupi kebutuhan masyarakat,” tuturnya. Giyanto juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu. Ia berharap kedepannya dari berbagai pihak dapat melanjutkan kerja sama ini untuk mengatasi persoalan kekeringan sehingga masyarakat tidak bergantung pada bantuan air tangki setiap kemarau datang. “Kami mengucapkan terima kasih kepada HMP UGM dan seluruh pihak yang telah membantu warga kami. Semoga bantuan ini bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat dan menjadi berkah bagi semua,” harapnya. Selain penyaluran air bersih, HMP UGM berharap kegiatan ini menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan dengan pemerintah setempat dan berbagai pihak terkait. Salah satu rencana tindak lanjutnya dengan penghijauan melalui penanaman pohon, termasuk pohon beringin, sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mendukung kemampuan kawasan dalam menyimpan air untuk jangka panjang. Melalui kegiatan ini, HMP UGM menegaskan bahwa kepedulian mahasiswa pascasarjana UGM tidak hanya terwujud dalam pencapaian akademik, tetapi juga dalam aksi nyata yang merespons kebutuhan masyarakat paling mendasar yaitu ketersediaan air bersih yang layak bagi setiap warga. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok.HMP UGM

Selengkapnya

Cerita Mahasiswa Jepang Ikut Mengabdi di Desa

Sebanyak 5 orang mahasiswa asal Jepang bersama 14 mahasiswa UGM berkolaborasi melakukan kegiatan pengabdian masyarakat selama 10 hari di Imogiri, Bantul. Kegiatan pengabdian ini diselenggarakan sebagai wujud penguatan kolaborasi internasional serta pembelajaran berbasis pengabdian pada masyarakat melalui pembelajaran lintas budaya melalui Program pertukaran mahasiswa Six University Initiative Japan Indonesia - Service Learning Program (SUIJI-SLP) 2026. Kelima mahasiswa Jepang ini terdiri dari mahasiswa dari Ehime University, 1 mahasiswa dari Kagawa University, dan 1 mahasiswa dari Kochi University. Sedangkan 14 mahasiswa UGM dari Fakultas Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, dan Fakultas Peternakan. Ryoma, mahasiswa asal Jepang dari Kagawa University, menyampaikan pengalamannya melihat perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia selama mengikuti kegiatan di Imogiri, Bantul. Menurut Ryoma, salah satu hal yang paling ia rasakan selama mengikuti program tersebut adalah perbedaan budaya antara Jepang dan Indonesia, baik dalam kebiasaan sehari-hari maupun dalam budaya makanan. Selain itu, ia menyampaikan terdapat pula tantangan yang ditemuinya berkaitan dengan perbedaan pandangan masyarakat mengenai permasalahan pertanian, khususnya terkait hama pada tanaman padi. “Saya tertarik pada permasalahan padi di desa tersebut. Dari wawancara dengan beberapa warga, saya menemukan adanya perbedaan pendapat mengenai hama tanaman padi dan cara penanganannya, sehingga hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk memahami kondisi yang sebenarnya,” tutup Ryoma dalam Closing Ceremony & Farewell Dinner yang digelar pada Kamis (5/3) di Operation Room, Gedung Unit I, Fakultas Teknologi Pertanian UGM. Dalam kegiatan penutupan ini, para mahasiswa mempresentasikan hasil kegiatan yang telah dilakukan selama mengikuti program pengabdian masyarakat di wilayah Imogiri, Bantul. Selama program berlangsung, mahasiswa melakukan observasi desa dan wawancara dengan warga untuk memahami kondisi pertanian dan kehidupan masyarakat setempat. Mahasiswa juga mengikuti berbagai kegiatan budaya bersama masyarakat seperti lokakarya eco-print, membuat makanan ringan Indonesia, belajar membatik, hingga memainkan gamelan. Selain itu, mahasiswa juga mengunjungi peternakan domba, serta mempelajari pembuatan jamu dan tempe bersama warga desa. Menanggapi presentasi mahasiswa, Kepala Subdirektorat Kerjasama Internasional UGM, Tyas Ikhsan Himawan, S.Si., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang terjalin dalam program SUIJI-SLP 2026. Ia menambahkan bahwa kerja sama internasional menjadi salah satu hal yang sangat penting bagi universitas. “Di UGM kami sangat menghargai program kolaborasi internasional karena kami menyadari bahwa dengan memperkuat kerja sama antara Indonesia dan Jepang akan memberikan dampak yang lebih besar, tidak hanya di bidang akademik dan riset tetapi juga dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerjasama Fakultas Pertanian UGM, Prof. Subejo, S.P., M.Sc., Ph.D.,  menyampaikan bahwa program ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami kehidupan pedesaan dan praktik pertanian melalui adanya kolaborasi lintas negara ini. Ia menilai bahwa interaksi mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa Jepang selama kegiatan pengabdian merupakan langkah awal dalam mewujudkan berbagai gagasan dalam meningkatkan praktik pertanian dan kehidupan masyarakat desa. “Kalian belajar tidak hanya tentang pertanian tetapi juga kehidupan pedesaan serta hubungan sosial masyarakat desa, dan pada akhirnya kalian dapat bekerja sama untuk mengusulkan berbagai ide guna meningkatkan kehidupan masyarakat desa dan praktik pertanian di lapangan,” tuturnya. Assoc. Prof. Dr. Kazuya Masuda, selaku pendamping program SUIJI-SLP 2026 dari Kochi University, juga turut menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan selama program berlangsung. Ia berharap berjalannya program ini dapat menjadi momentum awal terjalin hubungan erat antara mahasiswa dari kedua negara dapat terus dipertahankan hingga setelah program berakhir. “Saya telah berpartisipasi dalam program ini sejak 2017. Setiap kali mengikuti program ini, saya selalu menemukan hal baru. Terima kasih banyak karena telah menerima kami dan juga atas dukungan yang baik serta keramahan yang hangat. Semoga kedepannya para mahasiswa dapat terus menjaga komunikasi dan persahabatan yang telah terjalin melalui program ini,” ujarnya. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dari Indonesia dan Jepang yang telah mengikuti program pengabdian masyarakat tersebut. Ia menilai program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi juga ruang pembelajaran lintas budaya yang memungkinkan mahasiswa belajar langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, serta berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di lapangan. Ia juga berharap pengalaman yang diperoleh selama program dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memperkuat kolaborasi dan kepemimpinan global di masa depan. “Lebih dari sekadar kegiatan akademik. Program ini menjadi wadah pembelajaran lintas budaya dan saling memahami, di mana mahasiswa tidak hanya belajar dari ruang kelas tetapi juga langsung dari kehidupan masyarakat, budaya lokal, dan berbagai tantangan nyata terkait keberlanjutan,” tuturnya. Penulis : Cyntia Noviana Editor : Gusti Grehenson Foto : Ika Agustine

Selengkapnya

Peneliti CHBP FK-KMK UGM Dorong Akses Air Minum Aman di Nusa Tenggara Timur

Komitmen terhadap pencapaian Sustainable Development Goals kembali diwujudkan melalui langkah nyata di wilayah timur Indonesia. Dr. Daniel, M.Sc., peneliti dari Pusat Perilaku dan Promosi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) memperoleh hibah internasional dari Kurita Water and Environment Foundation (KWEF) Jepang untuk melakukan penelitian terkait penggunaan Klorinasi untuk air minum aman pedesaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Penelitian ini bekerja sama dengan LSM Way Mitra Indonesia / WMI (disebut juga Water Mission) yang berasal dari Amerika Serikat.  Dalam rangkaian kegiatan penelitian, Dr. Daniel mengunjungi empat desa intervensi WMI di Kabupaten Kupang. Di lokasi tersebut, ia melakukan survei rumah tangga kepada para pengguna air minum berklorinasi untuk menggali persepsi dan perilaku masyarakat terhadap penggunaan air yang telah melalui proses klorinasi. Pendekatan ini penting untuk memahami bahwa keberhasilan teknologi air bersih tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh faktor sosial dan perilaku. Selain survei kuantitatif, dilakukan pula wawancara mendalam dengan para pengelola sistem air di desa-desa tersebut. Sebagai pelengkap, tim Dr. Daniel juga melakukan kunjungan lapangan ke beberapa desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan, untuk melihat penyediaan air bersih di wilayah-wilayah pelosok dan sulit air.  Rangkaian kegiatan penelitian ditutup dengan workshop dan diskusi kebijakan mengenai tata kelola serta pembiayaan layanan air minum di NTT yang melibatkan perwakilan pemerintah provinsi dan organisasi non-pemerintah. Workshop dibuka oleh Kepala Bapperida Provinsi NTT, Dr. Alfonsus Theodorus, S.T., M.T., dan ditutup oleh Direktur Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Kementerian PPN/Bappenas, Mahatmi Parwitasari Saronto, ST, MSIE. Forum ini menjadi ruang strategis untuk menyinergikan temuan riset dengan perencanaan pembangunan daerah, sehingga hasil penelitian tidak berhenti pada tataran akademik, melainkan terintegrasi dalam kebijakan publik. Secara substansial, kajian ini diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kualitas dan keberlanjutan layanan air minum di wilayah-wilayah terpencil, khususnya di NTT. Upaya yang dilakukan selaras dengan SDG 6 yang menargetkan akses universal dan merata terhadap air minum yang aman dan terjangkau bagi semua. Lebih jauh, akses air minum yang layak juga beririsan dengan SDG 3 tentang kehidupan sehat dan sejahtera, dimana ketersediaan air bersih berperan penting dalam mencegah penyakit berbasis lingkungan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas sektor, riset yang dilakukan Dr. Daniel menjadi bukti bahwa penguatan sistem air minum pedesaan adalah fondasi penting bagi pembangunan kesehatan yang berkelanjutan. (Ragil Suciningsih/Nia Lestari Muqarohmah)

Selengkapnya

MBA SA Care 7.0: Kolaborasi Mahasiswa MBA FEB UGM untuk Menguatkan Kepedulian Sosial

Mahasiswa Master of Business Administration Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (MBA FEB UGM) melaksanakan kegiatan sosial MBA SA Care Collaboration Charity 7.0 pada Sabtu, 15 November 2025, di Rumah Pengasuhan Anak Terlantar Wiloso, Jetis, Yogyakarta. Kegiatan bertema “CFC: Collab for Care, Melangkah Bersama untuk Sesama” ini merupakan bentuk kolaborasi antara MBA SA 19.0, KMK, dan FORKIS yang berupaya menghadirkan nilai solidaritas, kepedulian, dan toleransi di lingkungan mahasiswa. MBA SA Care 7.0 bertujuan menumbuhkan kepedulian sosial, memperkuat empati, dan mendorong semangat berbagi sebagai bagian dari pembelajaran karakter kepemimpinan. “Saya sangat senang karena kegiatan ini tidak hanya berfokus pada agenda akademik, tetapi juga memberi ruang untuk berbagi dengan teman-teman yang membutuhkan. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan menghadirkan lebih banyak kebaikan,” ujar Andreas, selaku Ketua KMK sekaligus panitia kegiatan. Sebagai wujud kepedulian, mahasiswa menyerahkan bantuan sembako dan donasi kepada anak-anak panti. Kegiatan ini disambut baik oleh pihak pengurus panti. “Kami sangat berterima kasih atas kunjungan dan kepedulian mahasiswa. Kegiatan ini membawa manfaat positif bagi lembaga dan anak-anak di sini. Semoga empati dan kebaikan ini terus berlanjut,” ungkap Anissusilohadi, S.P, selaku Kepala Sub Bagian DUUPT Rumah Pengasuhan Anak Wilosoprojo. Sementara itu, salah satu peserta sekaligus anak panti, Kristia Arsi (16 tahun) juga menyampaikan kesan positifnya. “Acara ini sangat menyenangkan dan panitianya kompak. Semoga ke depan kegiatan seperti ini terus ada dan semakin baik dalam memberikan pengalaman bagi anak-anak panti,” tuturnya. Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pengembangan kepemimpinan mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui proses akademik, tetapi juga melalui kontribusi nyata kepada masyarakat. Melalui MBA SA Care 7.0, mahasiswa diharapkan terus termotivasi menguatkan nilai kemanusiaan, rasa saling peduli, dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial. Reporter: Daniswara Rafi R Editor: Ayu Aprilia

Selengkapnya

Bupati Purworejo Resmikan Sumur Bor Bantuan SPs UGM

[metaslider id="1520314"] Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (SPs UGM) kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi dan mendukung terwujudnya kampus yang berdampak bagi masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat berupa penyelidikan sumber air dan pembangunan enam sumur bor untuk irigasi serta kebutuhan air bersih di Kabupaten Purworejo. Adapun enam sumur bor tersebut tersebar di Desa Girimulyo (Kecamatan Kemiri), Desa Mendiro (Kecamatan Ngombol), Desa Purwodadi (Kecamatan Purwodadi), serta Desa Bagelen (Kecamatan Bagelen). Dalam sambutannya, Bupati Purworejo menyampaikan apresiasi atas kontribusi SPs UGM. Menurutnya, program ini sangat membantu pemerintah daerah dalam penyediaan sumber daya air bersih sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat. “Program ini bukan hanya menyediakan air, tetapi juga mendukung peningkatan hasil pertanian seperti padi dan cabai, sehingga berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan. Kami titipkan agar sumur bor ini dirawat dengan baik agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ujarnya saat meresmikan ke-6 sumur bor di Balai Desa Purwodadi, Jumat (31/10). Sementara itu, Dekan SPs UGM menyampaikan bahwa program ini memiliki nilai khusus karena melibatkan berbagai pihak. “Program ini sangat unik karena merupakan kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, pemerintah daerah, hingga mitra luar negeri. Namun, kolaborasi ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, yaitu bagaimana memastikan penggunaan air secara bijaksana dan menjaga keberlanjutan program,” ungkapnya. Ia berharap sinergi ini dapat terus berjalan pada tahun-tahun mendatang. Program ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat SPs UGM yang dipimpin oleh Dr. Sudaryatno dan telah berjalan sejak tahun 2022. Dalam perjalanannya, program ini berhasil menggandeng berbagai mitra strategis seperti Pemerintah Jepang, PDAM Purworejo, PP KAGAMA, Alumni Muda Ganesha (SMAN 1 Purworejo), dan Alumni SMP 8 Purworejo. Kolaborasi lintas lembaga ini didedikasikan untuk mendorong pemberdayaan masyarakat melalui penyediaan akses air bersih yang lebih baik. (Suronokarti)