BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

100 Mahasiswa UGM Terdampak Bencana Sumatra Dapat Bantuan Beasiswa 

Sebanyak 100 mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang keluarganya terdampak bencana Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menerima bantuan dari program LPS Peduli berupa pembayaran UKT semester genap tahun akademik 2025/2026 sebanyak Rp1,2 miliar. Bantuan beasiswa ini berasal dari hasil penyelenggaraan Jogja Run-D City 2026 di GIK UGM. (24/5) lalu. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Transmedia ini berhasil diikuti oleh 6000 peserta. Prosesi penyerahan bantuan dilaksanakan di ruang multimedia Gedung Pusat UGM, Jumat (19/6). Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si, M.Sc., menyampaikan ucapan terima kasih pada LPS, Transmedia, dan CNBC Indonesia yang telah membantu mahasiswa yang terkena dampak bencana Sumatra. Bagi Danang bantuan ini menjadi wujud perhatian publik yang menaruh harapan bagi kelancaran kuliah mahasiswa UGM di tengah keterbatasan tetap bisa kuliah dan bisa terus berprestasi.“Artinya mereka punya harapan bahwa anak-anak UGM ini akan menjadi calon pemimpin bangsa masa depan,” jelasnya K.M Nurudin, selaku PLT Direktur Eksekutif Kesekretariat dan Hubungan Lembaga LPS, menuturkan bantuan ini merupakan bagian dari komitmen LPS untuk memajukan dunia pendidikan dan membantu meringankan beban keluarga yang terdampak bencana Sumatra. Ia berharap  bantuan beasiswa ini bisa menjadi sarana edukasi bagi LPS untuk berbagi pengetahuan mengenai literasi keuangan dan stabilitas keuangan kepada masyarakat. “Kami juga berharap dengan adanya kerja sama yang baik dengan UGM, juga melalui pemberian bantuan ini, kami berharap juga menjadi sarana LPS untuk membagikan pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya literasi keuangan,” ungkapnya. Harapan yang besar kepada mahasiswa UGM penerima bantuan juga disampaikan oleh Wahyu Daniel selaku CEO CNBC. Dalam sambutannya ia berharap adanya keberlanjutan kegiatan olahraga ini memiliki kebermanfaatan bagi mahasiswa UGM. “Semoga kegiatan ini bisa dilanjutkan mungkin ke depan. Bisa jadi acara tahunan karena ternyata kita juga cukup banyak antusiasme dari peserta di Jogja dan kita berharap bantuan ini bisa bermanfaat buat mahasiswa-mahasiswa UGM” jelasnya. Salah satu mahasiswa penerima bantuan, Fakultas Teknik UGM, Bunga Aya Lalangsa, dari Kota Langsa, Provinsi Aceh, mengungkapkan bahwa bantuan tersebut membuat dirinya dan keluarganya sangat terbantu. Bantuan ini meringankan beban biaya pendidikan yang harus dibayar orang tuanya di tengah masa pemulihan pasca-bencana, sehingga ia bisa tetap fokus berkuliah. Ia menceritakan kembali bencana yang melanda kampung halamannya tempo hari sempat membuatnya tak bisa menghubungi keluarganya. Bahkan air banjir masuk ke rumahnya dan menyisakan lapisan lumpur yang tebal. Hal ini berdampak pada kondisi perekonomian keluarganya, karena mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk membersihkan rumah, memperbaiki kerusakan, serta mengganti barang-barang yang rusak akibat bencana. “Dengan adanya bantuan beasiswa pendidikan dari LPS, saya sangat terbantu dalam melanjutkan studi di Universitas Gadjah Mada,” ungkapnya. Hal senada juga disampaikan oleh Bunga Bonatua Sinaga, mahasiswa Fakultas Pertanian UGM ini menceritakan bahwa keluarganya turut mengalami penurunan finansial akibat bencana banjir. Tak hanya pendapatan sang ayah sebagai petani jagung dan padi yang merosot, bencana banjir ini berdampak pada rusaknya rumah dan perabotan yang dimiliki Bonatua dan keluarga. Melalui bantuan dari LPS ini, Bonatua menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak terkait yang telah memberikan bantuan tersebut. Ia berharap pihak-pihak terkait dapat terus memberikan yang terbaik, tidak hanya untuk mahasiswa UGM secara umum, tetapi lebih difokuskan kepada mahasiswa yang benar-benar sangat membutuhkan bantuan tersebut. “Semoga saya dan teman-teman yang terkena bencana lainnya bisa melanjutkan studi, bisa menjadi seorang sarjana yang pantas dan layak,” harapnya Penulis : Fatihah Salwa Rasyid Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Lanjut Baca

UGM Terjunkan 8.178 Mahasiswa KKN Mengabdi ke Masyarakat

Universitas Gadjah Mada resmi menerjunkan sebanyak 8.178 mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Periode II Tahun 2026. Upacara penerjunan yang digelar di Lapangan Pancasila UGM pada Jumat (19/6) menandai dimulainya pengabdian mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia selama 50 hari, mulai 20 Juni hingga 8 Agustus 2026. Mahasiswa peserta KKN-PPM akan ditempatkan di 298 unit lokasi yang tersebar di 274 kecamatan, 132 kabupaten/kota, dan 32 provinsi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa didampingi oleh 324 Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan Koordinator Wilayah (Korwil), serta didukung oleh 199 mitra yang berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, industri, organisasi masyarakat, dan jejaring alumni UGM. Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., menegaskan bahwa KKN merupakan ruang belajar sekaligus ruang kontribusi nyata mahasiswa kepada masyarakat. "Acara ini bukan sekadar seremoni pelepasan, tetapi wadah pemersatu semangat dan komitmen untuk membangun bangsa melalui pemberdayaan masyarakat. Selama kurang lebih 50 hari, mahasiswa akan tinggal bersama masyarakat, bekerja bersama masyarakat, dan belajar langsung dari masyarakat," ujarnya. Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk menjaga kesehatan, keselamatan, serta nama baik almamater selama menjalankan pengabdian di daerah penempatan masing-masing. "Saya yakin kalian akan melaksanakan berbagai program yang mampu menjawab persoalan masyarakat dan membawa perubahan positif, khususnya dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," katanya. Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Faisol Riza, S.S., M.A., yang hadir dalam acara penerjunan, mengapresiasi konsistensi UGM dalam menjaga hubungan antara kampus dan masyarakat melalui KKN. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mendukung agenda industrialisasi desa yang tengah didorong pemerintah. "Desa memiliki potensi besar, baik sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun jaringan sosial. Namun potensi tersebut harus dirajut menjadi kekuatan ekonomi yang produktif melalui industri. Saya berharap mahasiswa KKN UGM dapat memberikan ide, inovasi, dan kontribusi nyata untuk mengembangkan sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di berbagai daerah," ungkapnya. Sementara Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sudjito, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa KKN-PPM merupakan bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus sarana pembelajaran mahasiswa untuk memahami realitas sosial secara langsung. "KKN bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan kesempatan otentik untuk belajar dari masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu membangun empati sosial, menghadirkan solusi bersama masyarakat, serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan," ujarnya. Tahun ini KKN-PPM UGM mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan dan Menghadapi Perubahan Iklim melalui KKN-PPM UGM.” Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, mulai dari penguatan ketahanan pangan, pengembangan UMKM, pengelolaan lingkungan, pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, penanganan stunting, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna dan digitalisasi masyarakat. Semangat pengabdian tersebut tercermin dari berbagai tim KKN yang akan bertugas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), termasuk di Papua. Salah satunya adalah Tim KKN Raja Ampat Begisah yang akan bertugas di Kampung Samati dan Waim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Salah seorang anggota tim, Rizki Abdillah, selaku Koordinator unit dari Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan bahwa timnya mengusung sejumlah program unggulan berbasis potensi lokal masyarakat pesisir. "Kami akan mendampingi komunitas nelayan melalui pelatihan pencatatan keuangan sederhana, pengembangan pemasaran hasil perikanan, serta melanjutkan program pengolahan ikan menjadi produk bernilai tambah seperti nugget ikan yang sebelumnya telah dirintis oleh tim KKN terdahulu," ujarnya. Selain itu, tim juga mengembangkan inovasi pemanfaatan mangrove melalui produksi teh mangrove sebagai produk ekonomi kreatif masyarakat. Di bidang lingkungan, mereka bekerja sama dengan perusahaan lingkungan internasional dan nasional untuk melakukan pengambilan sampel air guna menguji kualitas air yang selama ini digunakan masyarakat. "Kami ingin memastikan kualitas air yang dikonsumsi masyarakat karena sebagian sumber air masih terlihat keruh meskipun telah dimasak sebelum digunakan," jelas Rizki. Meski sempat menghadapi tantangan pendanaan karena tidak memperoleh hibah kompetitif, tim Raja Ampat Begisah berhasil memperoleh dukungan dari sejumlah mitra sehingga tetap dapat melaksanakan pengabdian di wilayah tujuan. Sementara itu, Tim KKN Biak Elok yang akan bertugas di Kampung Saribra, Pulau Bromsi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor, Papua, mengusung program pemberdayaan masyarakat berbasis penguatan ekonomi lokal, pariwisata partisipatif, dan infrastruktur hijau. Ketua tim, Sarasvati Baktiantoro dari Program Studi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya UGM, mengatakan bahwa lokasi penugasan mereka merupakan wilayah baru yang belum pernah menjadi lokasi KKN UGM sebelumnya. "Kami akan fokus pada community empowerment melalui penguatan UMKM, pariwisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas masyarakat pesisir yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan," ujarnya. Tim KKN Biak Elok telah mempersiapkan keberangkatan sejak September tahun lalu, termasuk membangun jejaring pendanaan dengan berbagai mitra dan perusahaan. Menurut Saras, pengalaman mengabdi di wilayah kepulauan Papua menjadi kesempatan berharga untuk berbagi ilmu sekaligus belajar langsung dari masyarakat. "Kami ingin membawa ilmu yang telah kami peroleh selama kuliah untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Di saat yang sama, kami juga ingin belajar dari pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang dimiliki masyarakat setempat," tuturnya. Melalui penerjunan KKN-PPM Periode II Tahun 2026 ini, UGM berharap mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi dalam menjawab tantangan pembangunan masyarakat. Lebih dari itu, program KKN diharapkan semakin memperkuat peran UGM sebagai universitas kerakyatan yang hadir dan bertumbuh bersama masyarakat Indonesia. "Kepada seluruh mahasiswa, berangkatlah dengan selamat dan pulanglah dengan selamat. Jaga diri, jaga teman, dan jaga persahabatan dengan masyarakat. Belajarlah bersama rakyat, karena di sanalah banyak pengetahuan yang tidak selalu dapat ditemukan di ruang kelas," pesan Arie Sudjito. Penulis : Jelita Agustine Editor : Gusti Grehenson Foto : Firsto dan Donnie

Selengkapnya

Alumni FEB UGM Dorong Pendidikan Berkelanjutan Melalui Program Beasiswa dari Mataram City

Kesuksesan alumni tidak hanya tercermin dari capaian profesional, tetapi juga dari kontribusi yang mereka berikan untuk membuka kesempatan bagi generasi berikutnya. Semangat itulah yang ditunjukkan oleh alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM), Bogat Agus Riyono, melalui inisiatif beasiswa yang terintegrasi dengan pengembangan kawasan Mataram City di Yogyakarta. Bogat merupakan alumni Jurusan Akuntansi FEB UGM angkatan 1983 yang kini menjabat sebagai Direktur Utama PT Saraswanti Indoland Development Tbk (SWID). Bersama CEO Saraswanti Group Hari Hardono alumni Fakultas Pertanian angkatan 1981, ia mengembangkan Mataram City sebagai kawasan hunian vertikal dan hospitality yang menjadi salah satu pusat pertumbuhan baru di Yogyakarta. Namun di balik pengembangan bisnis tersebut, terdapat komitmen untuk menghadirkan dampak sosial yang berkelanjutan melalui dukungan terhadap pendidikan tinggi. Melalui kerja sama antara SWID dan Universitas Gadjah Mada, perusahaan berkomitmen mengalokasikan dana beasiswa sebesar 1 persen dari setiap transaksi pembelian unit properti serta penggunaan fasilitas MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) di jaringan hotel milik SWID yang dilakukan oleh sivitas akademika UGM. “Sebagai bentuk nyata kontribusi terhadap dunia pendidikan, kerja sama ini menghadirkan skema timbal balik yang inovatif melalui program beasiswa. Dana yang terkumpul akan diakumulasikan dan disalurkan secara resmi setiap tahun untuk mendukung mahasiswa UGM,” ungkapnya, saat dihubungi Kamis (4/6/2026). Selain program beasiswa, kerja sama tersebut juga memberikan berbagai manfaat bagi sivitas akademika UGM, mulai dari mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, keluarga inti, hingga jaringan alumni. Sivitas UGM memperoleh diskon khusus untuk pemesanan kamar hotel serta harga spesial untuk kepemilikan unit apartemen dan villa yang dikembangkan SWID. “Bagi kami, bekerja sama dengan UGM adalah bentuk bakti nyata kepada almamater. UGM memberikan banyak sekali bekal kehidupan dalam bentuk ilmu pengetahuan, keterampilan, dan sikap mental untuk dapat bersaing di dunia usaha dan kehidupan pada umumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa UGM merupakan pengubah nasib kami menjadi manusia yang berdaya dan berguna. Kini, saatnya kami kembali untuk memberikan sumbangsih,” papar Bogat yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum KAFEGAMA. Bagi Bogat, inisiatif tersebut bukan sekadar bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan, melainkan bentuk bakti kepada almamater yang telah memberikan fondasi penting dalam kehidupannya. Ia mengungkapkan bahwa kontribusi ini adalah sebuah panggilan jiwa. Komitmen tersebut berakar dari pengalaman pribadinya selama menempuh pendidikan di UGM. Menghabiskan masa kuliah yang kala itu masih bertempat di Gedung Pusat UGM, Bogat mengenang bagaimana ekosistem kampus membentuk karakternya. Menurutnya, masa studi yang saat itu relatif panjang justru menciptakan ikatan persaudaraan yang kuat. Para mahasiswa tidak hanya mengenal teman seangkatan, tetapi juga memiliki kedekatan dengan mahasiswa dari berbagai angkatan lainnya. Pengalaman tersebut melahirkan rasa kebersamaan yang tetap terjaga hingga puluhan tahun setelah lulus. “Dulu masa kuliah terhitung cukup panjang, sekitar lima hingga delapan tahun. Namun durasi itulah yang justru membuat ikatan persaudaraan di antara kami terjalin sangat erat. Bayangkan saja, kami bahkan bisa saling mengenal hingga lima atau enam angkatan sekaligus,” kenangnya. Keterikatan emosional yang kuat dengan almamater tersebut menjadi inspirasi lahirnya program beasiswa yang kini dijalankan melalui SWID. Baginya, keberhasilan yang diraih alumni tidak terlepas dari peran pendidikan dan lingkungan kampus yang telah memberikan kesempatan untuk berkembang. Program ini sekaligus menunjukkan bagaimana kolaborasi antara dunia usaha dan perguruan tinggi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Setiap transaksi bisnis tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi langsung pada peningkatan akses pendidikan bagi mahasiswa. Saat ditanya mengenai pentingnya menjaga solidaritas terhadap almamater, Bogat menitipkan pesan kepada seluruh alumni UGM agar terus memelihara semangat kebersamaan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga besar UGM. “Teruslah menjaga semangat untuk saling guyub, hidup rukun, dan senantiasa migunani (red:membawa manfaat) bagi sesama serta almamater tercinta,” pesannya. Semangat Guyub, Rukun, Migunani yang diusung dalam kerja sama ini memperlihatkan bahwa kontribusi alumni dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui model filantropi yang terintegrasi dengan aktivitas bisnis. Melalui langkah tersebut, alumni FEB UGM tidak hanya berkontribusi pada pembangunan ekonomi, tetapi juga membantu membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang memperoleh kesempatan pendidikan lebih baik. Inisiatif yang digagas Bogat Agus Riyono menjadi contoh bagaimana hubungan antara alumni dan almamater dapat terus menghasilkan dampak nyata. Ketika keberhasilan profesional dipadukan dengan kepedulian terhadap pendidikan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh kampus, tetapi juga oleh masyarakat luas dan generasi masa depan. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Foto: Dok. SWID Sustainable Development Goals      

Selengkapnya

Program Pengabdian Masyarakat UGM Hadirkan Teknologi Evaporator dan Kristalisator bagi Produsen Gula Semut Banyumas

Banyumas, 31 Mei 2026 – Menjawab tantangan peningkatan mutu gula semut untuk pasar ekspor, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menerapkan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini bertujuan meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi gula semut melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar, sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Banyumas di pasar internasional. Program Community Development berbasis riset aplikatif dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan berjudul “Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas” ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, bersama tim dosen lintas bidang, yaitu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia. Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan survei, sosialisasi, pelatihan, dan penyusunan laporan. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah KOPIPO. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan gula semut sebagai pemanis alami di pasar domestik maupun internasional. Gula semut memiliki berbagai keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki umur simpan yang lebih panjang, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik. Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan terhadap gula semut terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. [caption id="attachment_15150" align="alignnone" width="1024"] Proses Pemasakan Nira Kelapa menjadi Semut secara Tradisional[/caption] Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan, menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia untuk komoditas tersebut. Salah satu sentra produksi utama gula semut nasional adalah Kabupaten Banyumas. Menurut data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada tahun 2024 dan berkontribusi sekitar 40–50 persen terhadap produksi gula kelapa nasional, sehingga menjadi salah satu wilayah terpenting dalam rantai pasok gula semut Indonesia. Meskipun memiliki potensi pasar yang besar, proses produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi berbagai kendala, seperti ketidakseragaman mutu produk, keterbatasan pengendalian proses, dan tingginya ketergantungan pada keterampilan operator. Proses evaporasi nira umumnya masih dilakukan secara konvensional, sementara proses kristalisasi masih banyak bergantung pada pengalaman produsen. Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional. Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator dirancang untuk mengentalkan nira hingga mencapai kondisi siap kristalisasi dengan suhu yang lebih terkendali. Sementara itu, kristalisator digunakan untuk membantu proses pembentukan kristal gula semut agar lebih cepat dan seragam. [caption id="attachment_15149" align="alignnone" width="1024"] Pelatihan pengoperasian evaporator gula semut[/caption] Dr. Sri Rahayoe menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. “Selama ini proses produksi gula semut masih sangat bergantung pada pengalaman operator sehingga kualitas produk sering kali tidak seragam. Melalui penerapan evaporator dan kristalisator tepat guna, kami berharap proses pengolahan menjadi lebih terukur, efisien, dan menghasilkan gula semut dengan mutu yang lebih konsisten sesuai kebutuhan pasar ekspor,” ujarnya. [caption id="attachment_15151" align="alignnone" width="1024"] Alat Kristalisator (kanan) dan Evaporator (kiri) Gula Semut yang dihibahkan kepada Petani Produsen Gula Semut[/caption] Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup serangkaian pelatihan dan transfer pengetahuan yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keahlian. Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc. menyampaikan materi mengenai penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) proses produksi dan standar mutu gula semut untuk mendukung konsistensi kualitas produk. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D. memaparkan inovasi rekayasa alat pendukung penderesan nira kelapa serta pengembangan (improvement) teknologi kristalisator dan evaporator gula semut guna meningkatkan efisiensi dan keamanan proses produksi. Sementara itu, mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin, berbagi pengalaman mengenai budidaya dan pemanfaatan tanaman kelapa di Malaysia sebagai bagian dari praktik terbaik pengembangan industri kelapa yang berkelanjutan. [caption id="attachment_15152" align="alignnone" width="1024"] Prof. Rosnah menjelaskan materi budidaya kelapa dan pemanfaatannya di Malaysia[/caption] Kegiatan juga mencakup pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, penanganan pascapanen nira kelapa, serta praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan oleh Tim Fakultas Teknologi Pertanian UGM. [caption id="attachment_15153" align="alignnone" width="1024"] Prof. Eni Harmayani memberikan pelatihan GMP dan HACCP guna menjaga kualitas gula semut[/caption] Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Dr. Sri Rahayoe beserta tim dalam mengembangkan program berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana hasil riset dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan desa. “Saya memberikan apresiasi kepada Bu Yayuk atas inisiatif kegiatan ini. Program ini sangat baik karena mempertemukan unsur akademisi, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem pengembangan yang saling mendukung. FTP UGM akan selalu mendukung upaya mewujudkan kemandirian pangan, di mana desa dapat menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Dari pelatihan ini kami berharap terjadi transfer teknologi dan penguatan jejaring yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan asli desa (PAD) serta kesejahteraan masyarakat,” ungkap Prof. Eni. Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Mario Ngensowidjaja, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC). Dalam wawancara daring, ia menilai kolaborasi antara UGM dan industri memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas dan konsistensi produksi gula semut di tingkat petani. “Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki UGM, kegiatan pelatihan ini sangat membantu dalam menjaga kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membuat kegiatan pascapanen menjadi lebih terukur. Kerja sama antara UGM dan IMC membantu petani memahami proses yang mereka kerjakan dengan lebih baik sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan lebih konsisten,” ujarnya. Mario menambahkan bahwa pihaknya berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Harapan kami, kerja sama ini dapat terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan membantu pengembangan produksi gula kelapa dengan mutu yang semakin baik serta volume yang semakin besar. Dengan demikian, Indonesia dapat semakin dikenal sebagai salah satu produsen gula kelapa berkualitas di dunia,” tambahnya. Salah satu petani peserta kegiatan, Bapak Mukamil, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari materi dan pelatihan yang diberikan selama program berlangsung. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai proses produksi gula semut, tetapi juga meningkatkan kesadaran para petani akan pentingnya menjaga mutu produk secara berkelanjutan. “Materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menyadarkan dan memberikan semangat kepada kami untuk bersama-sama menjaga kualitas nira dan gula semut yang kami produksi. Kami jadi lebih memahami bahwa kualitas yang baik merupakan kunci agar produk kami dapat terus diterima di pasar,” ujar Mukamil. Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, menyampaikan bahwa penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani. “Keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga mutu secara konsisten. Karena itu, selain menyediakan teknologi, kami juga memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyusunan SOP, dan pengendalian mutu agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar pasar global,” jelasnya. Program ini juga diarahkan untuk mendukung produksi gula semut yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan. Budidaya kelapa genjah menjadi salah satu bagian penting dalam program karena tanaman ini memiliki batang lebih rendah dibandingkan kelapa dalam, sehingga proses penderesan nira dapat dilakukan dengan lebih aman dan berpotensi membuka ruang keterlibatan yang lebih luas bagi perempuan dan generasi muda. [caption id="attachment_15148" align="alignnone" width="1024"] Gula Semut hasil pelatihan bersama para produsen gula semut[/caption] Luaran utama dari kegiatan ini meliputi terpasangnya unit evaporator dan kristalisator yang operasional, meningkatnya kompetensi petani dan operator dalam penggunaan alat, tersusunnya SOP produksi dan mutu, serta terlaksananya sistem pengendalian mutu internal di tingkat kelompok. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengolahan gula semut berbasis teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di wilayah sentra produksi gula semut lainnya. Melalui kegiatan ini, UGM berkomitmen untuk mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, memperkuat kapasitas petani, meningkatkan mutu produk lokal, serta mendukung daya saing gula semut Indonesia di pasar global.

Selengkapnya

Beasiswa Dentes, Merajut Asa Koas FKG UGM Menjadi Dokter Gigi

Seragam mahasiswa koas profesi dokter gigi, menyimpan perjuangan panjang yang acap kali tak terlihat. Bukan hanya tentang belajar merawat pasien, menyelesaikan requirement klinik, atau mengejar target kelulusan, namun juga perjuangan ‘memikirkan’ biaya pendidikan yang tidak sedikit, hingga bertahan secara mental sebagai perantau jauh dari keluarga. Di tengah realitas itulah, program beasiswa Dentes hadir untuk mahasiswa koas Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada, bukan sekadar sebagai bantuan finansial, tetapi juga sebagai penguat harapan. Program ini kembali disalurkan pada gelombang kedua tahun 2026 kepada 3 mahasiswa profesi dokter gigi yang dinilai membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan studi bagi Devita, Naomi, & Putri. Bantuan tersebut disampaikan oleh Ian Pasani, S.Kom selaku Deputy Director Klinik Gigi Dentes menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dari salah satu alumni FKG UGM angkatan 1984 yang juga pendiri Dentes, drg. Handoko Setiawan Susilo, Sp.Ort mampu menjembatani perjuangan generasi penerus di dunia pendidikan kedokteran gigi, ditengah tingginya kebutuhan persebaran dokter gigi di Indonesia Dekan FKG UGM Prof. drg. Suryono, SH, MM, Ph.D menyatakan bahwa beasiswa ini memiliki makna besar karena menyentuh langsung kebutuhan mahasiswa profesi yang selama ini menghadapi tekanan finansial yang cukup berat, hadirnya beasiswa Dentes sebagai salah satu bentuk sinergitas ekosistem Kedokteran Gigi yang siklikal & berkelanjutan. “Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi itu tidak semuanya berasal dari keluarga mampu. Banyak juga yang berada di kelompok UKT bawah. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti untuk mendukung mereka menyelesaikan pendidikan,” ungkap drg. Triana Wahyu Utami, MD.Sc, Ph.D selaku Wakil Dekan FKG UGM Bidang Kerja Sama, Riset & Pengabdian Masyarakat, yang turut hadir dalam kegiatan penyerahan beasiswa. Ia menjelaskan, proses seleksi penerima beasiswa dilakukan secara bertahap dan berlapis, dimulai dari organisasi mahasiswa profesi hingga tingkat program studi, kemudian fakultas kemudian memverifikasi seluruh administrasi dan kelayakan penerima. Dukungan alumni melalui Dentes juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau SDGs, terutama dalam aspek pemerataan pendidikan dan pengurangan kesenjangan. “Ini murni bantuan pendidikan. Tidak ada ikatan apa pun. Semangatnya adalah membantu mahasiswa agar bisa menyelesaikan koas dan menjadi dokter gigi,” kata drg. Trianna. Selama dua tahun terakhir, total program tersebut telah menyalurkan tujuh puluh dua juta rupiah untuk membantu mahasiswa profesi dokter gigi. Kali ini, bantuan yang diberikan sebesar tiga puluh enam juta rupiah Namun di balik angka-angka itu, terdapat kisah-kisah perjuangan yang jauh menyentuh. Salah satu penerima beasiswa, Devita Wijayakusuma, mahasiswa koas angkatan 87 asal Yogyakarta, mengaku bantuan tersebut sangat membantu dirinya menghadapi kebutuhan selama menjalani pendidikan profesi. “Kebutuhan koas itu besar, terutama untuk pasien. Karena pasien masih kita tanggung sendiri biayanya. Dengan adanya bantuan ini, saya merasa sangat terbantu,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa profesi bukan hanya menyelesaikan requirement klinik, tetapi juga mencari pasien yang sesuai kebutuhan kasus. “Kadang pasien ada, tapi requirement yang dibutuhkan sudah selesai. Sementara ada requirement lain yang pasiennya sulit dicari,” katanya. Sepotong cerita menyentuh juga datang dari Naomi Elizabeth mahasiswa koas angkatan 84 asal Samarinda. Dengan suara tertahan haru, ia menceritakan bagaimana perjuangan kuliahnya berubah setelah sang ayah meninggal dunia akibat kanker. “Dulu ayah saya masih bisa membiayai. Tapi setelah beliau wafat, otomatis tidak ada lagi yang bekerja. Banyak tabungan habis untuk pengobatan dan pemakaman,” tuturnya. Naomi mengaku selama ini harus terus mengajukan keringanan UKT agar tetap bisa bertahan kuliah. Di sisi lain, ia juga harus memikirkan biaya pasien, alat bahan, dan kebutuhan hidup sehari-hari sebagai mahasiswa rantau. “Kadang kalau sudah waktunya bayar UKT itu rasanya berat sekali untuk bicara ke keluarga. Takut membebani,” katanya lirih. Sebagai anak tunggal yang merantau jauh dari keluarga, Naomi juga menghadapi tekanan mental yang tidak ringan. Ia mengaku sering merasa kesepian ketika harus menjalani koas sambil mencari pasien dan bertahan secara finansial. Sementara itu, Putri Amali Arin, mahasiswa profesi angkatan 90 asal Pekanbaru, Riau, mengungkapkan bahwa biaya pendidikan profesi menjadi tantangan besar bagi keluarganya, terlebih ia memiliki beberapa adik yang juga masih sekolah. “Semakin semester atas, kebutuhan pendidikan makin besar. Kadang tidak enak minta ke orang tua untuk bayar UKT yang jumlahnya tidak kecil,” ujarnya. Meski demikian, Putri tetap berusaha mandiri dengan menjadi asisten praktikum untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengatakan, pesan orang tua selalu sederhana namun membekas kuat dalam dirinya adalah segera selesaikan pendidikan agar bisa membantu keluarga. Di ruang-ruang klinik pendidikan, para mahasiswa koas memang belajar menjadi dokter gigi. Namun lebih dari itu, mereka juga sedang belajar tentang ketangguhan, pengorbanan, dan arti bertahan hidup. Beasiswa Dentes mungkin tidak seketika menghapus seluruh kesulitan mereka. Tetapi setidaknya, bantuan itu menghadirkan satu hal yang sangat dibutuhkan mahasiswa profesi, keyakinan bahwa perjuangan mereka dilihat, didengar, dan dijalani dengan penuh semangat. Di tengah tuntutan akademik yang tidak mudah, hadirnya dukungan beasiswa mampu menjadi penguat mahasiswa untuk terus melangkah menyesaikan studi hingga lulus. (Reporter: Andri Wicaksono, Fotografer: Fajar Budi Harsakti)

Selengkapnya

Sambut Ramadan, Wanagama Hadirkan Pasar Murah dan Bazar Sembako untuk Masyarakat Sekitar

Gunungkidul – Hutan Pendidikan dan Pelatihan Wanagama I kembali menggelar acara tahunan Bazar Ramadan dan Pasar Murah pada hari ini, Sabtu, 7 Maret 2026, di Gedung Serbaguna Wanagama. Kegiatan yang telah sukses diselenggarakan sejak tiga tahun terakhir ini bertujuan untuk mengenalkan Wanagama kepada masyarakat luas, memperkuat peran Wanagama sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan edukasi lingkungan, serta mempererat tali silaturahmi antara masyarakat sekitar dengan KHDTK Wanagama I. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam melestarikan Hutan Wanagama, dan memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari dengan harga yang jauh lebih terjangkau di bulan Ramadan ini. Bazar Ramadan dan Pasar Murah tahun ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan menarik, di antaranya: Stand Pakaian Bekas Layak Pakai (Thrifting): Menawarkan pakaian bekas layak pakai dengan harga terjangkau. Pasar Murah Sembako: Menyediakan paket sembako yang berisi kebutuhan pokok seperti beras 2,5 kg, gula 1 kg, dan minyak 1 liter. Setiap paket sembako dijual dengan harga Rp 50.000. Tahun ini, Wanagama menyiapkan 300 paket sembako untuk masyarakat sekitar kawasan. Bazar Sembako Diskon: Menyediakan beras 2,5 kg, gula 1 kg, minyak 1 liter, kopi giling, hingga sirup yang di diskon hingga 50% dengan jumlah terbatas. Antusiasme masyarakat sekitar tetap tinggi. Hal ini terlihat dari mengularnya antrian masyarakat yang hendak menukarkan kupon miliknya sejak satu jam sebelum bazar dimulai.  Salah seorang warga Kelurahan Banaran, Nur, mengatakan bahwa adanya Bazar Sembako Murah yang diselenggarakan Wanagama ini selalu dinilai sangat membantu warga dalam menyambut Ramadan. “Kami merasa terbantu dengan adanya bazar sembako yang diselenggarakan Wanagama” ujarnya. Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan berbagai pihak, yakni Fakultas Kehutanan, Yayasan Oemi Hani’in, Zoomia Coffee, hingga  para Sahabat Wanagama. Wanagama melalui kegiatan Bazar Ramadan dan Pasar Murah diharapkan dapat terus memberikan manfaat yang besar secara berkelanjutan bagi masyarakat sekitar dan memperkuat peran Wanagama sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Penulis dan Dokumentasi : Zulva Ulin – Wanagama [gallery size="large" columns="1" ids="9069,9070,9071,9072"]

Selengkapnya

Sambut Ramadhan di Kampus, Rektor UGM dan Ustaz Wijayanto Ajak Perkuat Kepedulian Sosial

Ibadah puasa di bulan ramadhan, tidak sekedar hanya menahan haus dan lapar dari sejak sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam. Namun lebih dari itu, puasa mengajarkan umat muslim untuk melahirkan kepedulian sosial terhadap sesama.“Kalau kamu tidak mau disakiti, jangan menyakiti. Begitu pula, bila kamu tidak ingin kelaparan, jangan biarkan orang lain kelaparan. Itulah esensi puasa, yakni melahirkan kepedulian sosial yang nyata,” papar Ustaz Drs. H. Wijayanto, M.A., dalam orasi syiar pada Grand Opening Ramadhan UGM 2026 yang berlangsung di Grha Sabha Pramana, Selasa, (17/2). Wijayanto menegaskan bahwa Islam mengutamakan kesimbangan antara pemenuhan kebutuhan fitrah manusia dan ketaatan kepada Allah Swt. sehingga puasa bukan sekadar tentang menyiksa diri, melainkan mendidik diri. “Islam adalah adalah agama moderat. Puasa sejatinya bukan untuk membunuh nafsu, melainkan untuk mengendalikan nafsu sementara. Sejak saat itu, dilarang melakukan puasa wishal atau puasa sambung. Maka ketika berpuasa disegerakan berbuka dan akhirkanlah sahur,” ungkapnya. Dikatakan Wijayanto, bulan Ramadhan merupakan bulan mulia yang kedatangannya senantiasa dirindukan, sebagaimana tradisi para sahabat Nabi terdahulu. “Para sahabat bahkan telah memanjatkan doa selama enam bulan lamanya demi mempersiapkan diri menyambut Ramadhan. Hal ini karena Ramadhan adalah karim,” ujarnya. Lebih mendalam, Ustaz Wijayanto mengupas tuntas akar kata karim yang melekat pada bulan suci ini. Ustaz Wijayanto menjelaskan bahwa terminologi karim bukan sekadar label kemuliaan biasa, melainkan cerminan kekaguman yang luar biasa pada sebuah hal. Melengkapi dimensi historisnya, Ustaz Wijayanto menjelaskan bahwa pada bulan Syakban tahun kedua Hijriyah, turun empat perintah yang menjadi fondasi spiritual umat. Perintah-perintah tersebut antara lain mengenai peralihan arah kiblat, penetapan nisab zakat, anjuran bershalawat, serta tuntunan birrul walidain atau berbakti pada orang tua. Oleh karena itu, ia pun memberikan mengingatkan kaitan soal ibadah puasa dan adab kepada orang tua. “Gagal orang berpuasa, jika memiliki orang tua tapi tidak menjadikannya jalan untuk menuju surga. Jadikanlah orang tua sebagai wasilah menuju surga. Maka aneh jika seseorang berpuasa tapi puasanya tidak disempurnakan. Misalnya saja, zakatnya tidak jelas, shalawat pun tidak pernah, dan tidak memiliki hormat kepada orang tua,” tegas Wijayanto. Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan grand opening ramadhan sebagai pembuka rangkaian kegiatan Ramdhan di Kampus. Menurutnya, momen ramadhan ini adalah titik awal pembersihan jiwa dimana makin menguatkan karakter civitas akademika yang semakin inklusif dan berdampak. “Karakter inklusif dan berdampak yang menjadi frasa yang sering didengarkan dan diucapkan. Namun bagaimana pengejawantahan makanya dalam laku hidup keseharian, tentu menjadi bahan diskusi dan renungan kita bersama,” katanya. Ia mengajak para hadirin yang hadir untuk bersama-sama menyambut bulan Ramadhan yang penuh ampunan dengan berbagai kegiatan ibadah dan amalan yang bisa berdampak bagi diri sendiri dan orang lain. “Mari kita sambut bulan penuh ampunan ini. Bulan yang selalu memberikan pembaruan iman dan benih-benih kesadaran dalam setiap amalan serta renungan yang kita jalankan selama hampir sebulan ke depan,” pungkasnya. Penulis : Aldi Firmansyah Editor : Gusti Grehenson Foto : Fristo

Selengkapnya

UGM Bantu 500 Mahasiswa Kesulitan Bayar Biaya Kuliah

Universitas Gadjah Mada memberikan bantuan beasiswa dari internal kampus kepada mahasiswa angkatan 2025 yang berasal dari keluarga kurang mampu dan mengalami kesulitan dalam memenuhi biaya kuliah. Selain itu, bantuan ini juga ditargetkan untuk sejumlah 503 mahasiswa baru angkatan 2025 dengan kategori KIP Kuliah non-eligible yang belum memperoleh pendanaan melalui skema KIP Kuliah Tahun 2025 karena keterbatasan kuota, sehingga memerlukan dukungan tambahan agar dapat melanjutkan studi dengan baik. Melalui kebijakan ini, UGM berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan mahasiswa dengan memastikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak menjadi penghambat bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik dan motivasi belajar yang tinggi. Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Ari Sujito, S.Sos., M.Si mengatakan sebagai wujud tanggung jawab institusional dan komitmen terhadap prinsip keadilan sosial, inklusivitas, serta keberlanjutan pendidikan, UGM menyiapkan berbagai langkah mitigasi terhadap mahasiswa KIP Kuliah non-eligible yang karenea keterbatasan kuota menjadi kesulitan dalam bayar biaya kuliah, diantaranya melalui pemanfaatan imbal hasil investasi Dana Abadi UGM sebesar Rp1,5 miliar yang digunakan untuk mendukung keberlanjutan pendidikan mahasiswa terdampak, dan alokasi IPI 2025 sebesar 1,1 Milyar rupiah. Dijelaskannya pelaksanaan dan pengaturan teknis penyaluran bantuan ini dikoordinasikan oleh Direktorat Keuangan bersama Direktorat Kemahasiswaan. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pendekatan mitigasi dilakukan UGM secara hati-hati, berbasis data, dan melalui mekanisme internal universitas. ”UGM ingin memastikan proses pembelajaran mahasiswa tidak terganggu dari sisi pembiayaan, dengan memberikan bantuan, talangan atau mengatasi terlebih dahulu dampak kebijakan seperti keterbatasan kuota atau penundaan pencairan KIP Kuliah,” ujarnya di UGM, Jumat (23/1). Selain lewat sumber Dana Abadi, UGM akan mengoptimalkan berbagai skema bantuan internal lainnya, seperti penyesuaian UKT, beasiswa internal, serta bentuk dukungan lain yang relevan dengan kondisi mahasiswa. Dengan demikian, mitigasi pendanaan tidak bertumpu pada satu sumber, melainkan disusun secara komprehensif dan berkelanjutan. Sementara dari sisi tata kelola keuangan, UGM memastikan pemanfaatan Dana Abadi dilakukan secara akuntabel, sesuai mekanisme yang berlaku, dan dikoordinasikan lintas unit sebagai bagian dari tanggung jawab sosial universitas. UGM menekankan bahwa tidak seluruh mahasiswa yang belum menerima KIP Kuliah otomatis memperoleh dana pengganti yang sama. ”Setiap mahasiswa ditangani secara individual berdasarkan pemetaan dan verifikasi data yang mencakup kondisi sosial ekonomi, status UKT, kemampuan finansial, serta rekam jejak dan progres akademik,” terangnya. Ari menyebutkan 503 mahasiswa yang terkendala ekonomi ini pada prinsipnya telah memenuhi kriteria kelayakan sebagai penerima KIP-K non eligible, namun karena keterbatasan kuota mereka sangat memerlukan bantuan pembiayaan untuk keberlanjutan studinya. “Karenanya UGM bertanggung jawab memastikan mahasiswa dapat belajar dengan nyaman dengan melindungi mereka dari beban kebijakan yang berpotensi mengganggu proses pembelajaran,” jelasnya. Ari kembali menandaskan UGM tetap menerapkan mekanisme seleksi dan verifikasi untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan berkeadilan. Proses evaluasi dilakukan secara berkelanjutan, disertai koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, guna memastikan pemenuhan hak-hak mahasiswa dapat berjalan dengan baik. Melalui langkah-langkah tersebut, UGM bertekad agar tidak ada mahasiswa yang dibiarkan menghadapi risiko putus studi sendirian, dan terus berkomitmen menjaga keberlanjutan pendidikan sesuai nilai keadilan sosial dan inklusivitas. Penulis: Agung Nugroho

Selengkapnya

Peduli Bencana Sumatra, KAFEGAMA-FEB UGM Gelar Konser Amal

Galang dana beasiswa sekaligus dana untuk kemanusian bagi korban bencana di Sumatra, Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) bersama FEB UGM menggelar Konser Amal. Konser amal berlangsung di Grand Pacific Hotel, Yogyakarta, Sabtu malam (6/12) menghadirkan Sheila on 7 dan Jikustik. Pada konser amal, ini KAFEGAMA menyerahkan donasi beasiswa sebesar Rp 250 juta ke FEB UGM. Secara simbolis, penyerahan dilakukan oleh Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., kepada Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA. Sementara upaya penggalangan lain untuk kemanusiaan yang dibuka sejak 1 Desember 2025 telah berhasil menghimpun Rp 525.800.000, dan penggalangan ini akan terus dibuka hingga 10 Desember 2025. Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., menjelaskan konser amal yang digelar KAFEGAMA dan FEB UGM menjadi seruan untuk berempati dan bertindak nyata membantu masyarakat yang tertimpa musibah di wilayah Sumatra.  Ia pun tak henti-hentinya mengajak seluruh keluarga besar FEB UGM untuk bisa berdonasi guna meringankan beban para korban bencana banjir dan longsor, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. “Acara ini tidak memiliki arti, apabila kita tidak berempati atas apa yang terjadi kepada Saudara kita yang sedang dilanda bencana. Mari kita berdoa agar proses pemulihan pasca bencana berjalan aman dan lancar, serta masyarakat di wilayah terdampak senantiasa dilimpahkan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan,” ujar Kiki, sapaan akrab Friderica. Menurut Kiki, aksi kemanusiaan nyata sebagai dampak dari penyelenggaraan konser amal menjadi bukti komitmen KAFEGAMA menjadi organisasi yang “Migunani” atau bermanfaat. Dampak kemanfaatan yang bisa dirasakan, kata Kiki, berupa aksi kemanusiaan para alumni dengan menyalurkan bantuan senilai Rp80 juta kepada 400 penerima manfaat melalui  sinergi aktif dengan tujuh cabang Pengurus Daerah KAFEGAMA. KAFEGAMA juga menyalurkan bantuan beasiswa sebesar Rp250 juta untuk mahasiswa FEB UGM. “Tentu saja upaya ini menjadi investasi alumni untuk memastikan bibit-bibit unggul masa depan tidak terhalang oleh kendala finansial dalam meraih prestasi, dan acara ini merupakan realisasi dari motto organisasi “Guyub Rukun Migunani”. Di usia ke-10, KAFEGAMA membutuhkan energi, gagasan, dan kontribusi dari kita semua untuk melangkah menuju dekade berikutnya,” jelasnya. Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., menyampaikan ucapan terima kasih atas kontribusi para alumni dalam mendukung mahasiswa FEB UGM melalui program beasiswa. Dukungan alumni, disebutnya, berperan penting dalam menjaga keberlanjutan studi mahasiswa FEB UGM. Sementara kolaborasi antara fakultas dan alumni menjadi pilar penting dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan. “Terima kasih atas dukungan dari alumni selama ini baik melalui program beasiswa maupun magang bagi mahasiswa,” ucapnya. Konser Amal KAFEGAMA ini, kata Didi, tidak hanya menjadi sarana penggalangan dana beasiswa namun sebagai bentuk kepedulian bersama untuk membantu korban bencana di Sumatera. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara alumni dan institusi dapat menghadirkan manfaat luas, baik bagi dunia pendidikan maupun masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Iapun berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang terus memperkuat jaringan alumni agar bisa memperluas impak sosial FEB UGM. Ketua Panitia Konser Amal KAFEGAMA, Tur Nastiti, M.Si., Ph.D., menyampaikan konser yang menghadirkan Sheila on 7 dan Jikustik ini menjadi salah satu upaya untuk menggalang dana. Dana yang diperoleh digunakan untuk beasiswa bagi mahasiswa FEB UGM dan disalurkan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. “Seluruh dana donasi dialokasikan sepenuhnya untuk mahasiswa dan Saudara-saudara kita yang dilanda musibah di Sumatera,” jelasnya. Konser amal yang dihadiri lebih dari 3.000 penonton sekaligus sebagai rangkaian penutupan Dies Natalis ke-70 dan Lustrum XIV FEB UGM. Konser digelar secara gratis untuk keluarga besar FEB UGM, termasuk alumni lintas angkatan, dosen, staf profesional, mahasiswa, dan pengurus KAFEGAMA, serta  memfasilitasi kebutuhan peserta disabilitas. Dalam penyelenggaraannya, konser ini turut melibatkan 16 UMKM dari Yogyakarta dan Malang serta mahasiswa sebagai bagian dari panitia dan pelaksanaan acara. Sebelumnya, setiap Pengurus Daerah (Pengda) KAFEGAMA di berbagai daerah juga telah mengadakan kegiatan bakti sosial di wilayah masing-masing guna memperkuat semangat berbagi. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum/ Humas FEB UGM Penulis : Agung Nugroho Foto : Dok. FEB UGM

Selengkapnya

KAFEGAMA Gelar Konser Amal untuk Bantu Korban Bencana Sumatra dan Beasiswa Mahasiswa FEB

Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (KAFEGAMA) dan FEB UGM menyelenggarakan Konser Amal KAFEGAMA untuk penggalangan dana beasiswa sekaligus dana kemanusian bagi korban bencana di Sumatra. Konser berlangsung Sabtu malam, 6 Desember 2025 di Grand Pacific Hotel, Yogyakarta.  Pada momen tersebut, KAFEGAMA menyerahkan donasi beasiswa sebesar Rp 250 juta  ke FEB UGM. Penyerahan dilakukan secara simbolis oleh Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., kepada Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA.  Sementara itu, penggalangan dana kemanusiaan untuk masyarakat terdampak bencana di Sumatera yang telah dibuka sejak 1 Desember 2025 telah berhasil menghimpun Rp 525.800.000. Adapun donasi masih terus dibuka hingga 10 Desember 2025.  Ketua Pengurus Pusat KAFEGAMA, Dr. Friderica Widyasari Dewi, S.E., M.B.A., menjelaskan bahwa konser amal ini menjadi seruan untuk berempati dan bertindak nyata membantu masyarakat yang tertimpa musibah di wilayah Sumatra.  Ia pun secara khusus mengajak seluruh keluarga besar FEB UGM untuk berdonasi guna meringankan beban para korban bencana banjir dan longsor, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.  "Acara ini tidak memiliki arti apabila kita tidak berempati atas apa yang terjadi kepada Saudara kita yang sedang dilanda bencana. Mari kita berdoa agar proses pemulihan pasca bencana berjalan aman dan lancar, serta masyarakat di wilayah terdampak senantiasa dilimpahkan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan," ujar Kiki, sapaan akrab Friderica. Bukti aksi kemanusiaan dan dampak nyata konser amal ini menegaskan komitmen KAFEGAMA untuk menjadi organisasi yang "Migunani" atau bermanfaat. Kiki mengungkapkan dampak kemanfaatan yang telah dihasilkan alumni yaitu aksi kemanusiaan dengan menyalurkan bantuan senilai Rp80 juta kepada 400 penerima manfaat melalui  sinergi aktif dengan tujuh cabang Pengurus Daerah KAFEGAMA. Lalu, KAFEGAMA menyalurkan bantuan beasiswa sebesar Rp250 juta untuk mahasiswa FEB UGM. Upaya ini menjadi investasi alumni untuk memastikan bibit-bibit unggul masa depan tidak terhalang oleh kendala finansial dalam meraih prestasi. “Acara ini merupakan realisasi dari motto organisasi "Guyub Rukun Migunani". Di usia ke-10, KAFEGAMA membutuhkan energi, gagasan, dan kontribusi dari kita semua untuk melangkah menuju dekade berikutnya," jelas  Kiki.  Dekan FEB UGM, Prof. Dr. Didi Achjari, M.Com., Ak., CA., mengucapkan terima kasih atas kontribusi alumni dalam mendukung mahasiswa FEB UGM melalui program beasiswa. Ia menegaskan bahwa dukungan alumni berperan penting dalam menjaga keberlanjutan studi mahasiswa FEB UGM. Menurutnya, kolaborasi antara fakultas dan alumni merupakan pilar penting dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif dan berkelanjutan. “Terima kasih atas dukungan dari alumni selama ini baik melalui program beasiswa maupun magang bagi mahasiswa,” ucapnya. Didi menambahkan bahwa Konser Amal KAFEGAMA ini tidak hanya menjadi sarana penggalangan dana beasiswa, tetapi juga bentuk kepedulian bersama untuk membantu korban bencana di Sumatera. Menurutnya, inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara alumni dan institusi dapat menghadirkan manfaat luas, baik bagi dunia pendidikan maupun masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang terus memperkuat jaringan alumni sekaligus memperluas impak sosial FEB UGM. Ketua Panitia Konser Amal KAFEGAMA, Tur Nastiti, M.Si., Ph.D., menyampaikan konser yang menghadirkan Sheila on 7 dan Jikustik ini menjadi salah satu upaya untuk menggalang dana. Dana yang diperoleh digunakan untuk beasiswa bagi mahasiswa FEB UGM dan disalurkan untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. “Seluruh dana donasi dialokasikan sepenuhnya untuk mahasiswa dan Saudara-saudara kita yang dilanda musibah di Sumatera,” jelasnya. Acara yang dihadiri lebih dari 3.000 peserta merupakan  perayaan Dies Natalis rangkaian penutup perayaan Dies Natalis ke-70, Lustrum XIV FEB UGM dan Satu Dekade KAFEGAMA,. Konser digelar secara gratis untuk keluarga besar FEB UGM, termasuk alumni lintas angkatan, dosen, staf profesional, mahasiswa, dan pengurus KAFEGAMA, serta  memfasilitasi kebutuhan peserta disabilitas. Dalam penyelenggaraannya, konser ini turut melibatkan 16 UMKM dari Yogyakarta dan Malang serta mahasiswa sebagai bagian dari panitia dan pelaksanaan acara. Sebelumnya, setiap Pengurus Daerah (Pengda) KAFEGAMA di berbagai daerah juga telah mengadakan kegiatan bakti sosial di wilayah masing-masing guna memperkuat semangat berbagi. Reportase: Kurnia Ekaptiningrum Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)