BERITA

Cerita Berdampak

Kisah nyata dan inspiratif kegiatan kemanusiaan telah mengubah kehidupan individu, komunitas & lingkungan

Lanjut Baca

Lanjutkan Pemetaan Komoditas Endemik, Departemen Tanah Bersama Tim Ekspedisi Patriot Dorong Penguatan Kelembagaan dan Hilirisasi Teh Sarang Semut

Merauke, 17 Oktober 2026 – Melanjutkan Focus Group Discussion (FGD) tahap pertama tentang pemetaan partisipatif tumbuhan endemik, masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kab. Merauke bersama Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 menggelar kegiatan lanjutan bertajuk "Seminar Hasil Pemetaan Peran dan Hilirisasi Produk Olahan Komoditas Endemik: Penguatan Kelembagaan Kelompok Usaha dan Motivasi Masyarakat". Acara berlangsung pada Sabtu, 17 Oktober 2026, di Balai Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Kegiatan pendampingan TEP 2026 ini merupakan program kolaborasi strategis Kementerian Transmigrasi dengan sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM). Tim PS017, yang mengusung tema "Ekonomi Hijau Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Kawasan Transmigrasi Muting", diketuai oleh Dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM, Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., dan beranggotakan Rio Aji Pradana, S.Tr.P., M.Sc., Petra Ihsan Wicaksana, S.Hut., Noor Izzani Salsabila Zukhrufa Jannah, S.P., Irvan Ariefqy Putra, S.T., dan Amat Sugiyanto, S.E., M.E. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 30 peserta dari tiga kampung lokal yakni Kampung Tanas, Kampung Kweel dan Bupul Kampung mencakup masyarakat eks-transmigran. Hadir pula perwakilan Distrik Elikobel, Kepala Kampung Tanas, Tuan Dusun, Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam), Kelompok MIR, pelaku UMKM komoditas endemik, pemandu lokal, serta Tim PS015 yang membawa tema Ekonomi Hijau dan Tim PS010 dengan tema sumber daya manusia. Sebelumnya, pada 10 September 2026, TEP 2026 bersama masyarakat Kampung Tanas menggelar FGD tahap pertama. Dari lebih 30 jenis tumbuhan asli yang didata tim di Kawasan Transmigrasi Muting (Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting), masyarakat diajak menentukan komoditas unggulan secara partisipatif berdasarkan kemudahan budidaya, manfaat harian, nilai jual, dan dampaknya terhadap kelestarian hutan adat. Hasil FGD ini menetapkan tumbuhan sarang semut yang merupakan tumbuhan endemik papua dan menetapkan Kelompok MIR Kampung Tanas sebagai kolaborator pengembangan produk turunan sarang semut, sekaligus pionir kemandirian kawasan transmigrasi berbasis sumber daya lokal. Pemerintah Kampung Tanas dan Distrik Elikobel menyatakan dukungannya terhadap pilot project ini. Sebagai tindak lanjut, FGD tahap kedua berfokus pada penguatan kelembagaan Kelompok MIR dan hilirisasi teh sarang semut dengan menghadirkan dua narasumber yang berpengalaman di bidang sarang semut. Sesi 1: Motivasi Kelembagaan dan Historis Pengembangan Teh Sarang Semut Sesi ini menghadirkan Bapak Dominggus Bakap, Ketua Kelompok Ndungger dari Kampung Wasur. Ia menceritakan perjalanan kelompoknya yang berdiri pada 2020 dengan lima anggota dan kini berkembang menjadi 25 orang. Ia memaparkan alur produksi teh sarang semut, mulai dari panen bahan baku, pengolahan, pengeringan, penggilingan, pengemasan, hingga pemasaran. Menurutnya, panen harus berkelanjutan. Sarang semut yang dipanen berukuran 20–30 cm agar populasinya tetap lestari. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan administrasi, modal dan kas kelompok, pembagian tugas anggota, serta ketepatan waktu pengiriman dan ketersediaan bahan baku untuk menjaga kepercayaan pelanggan. Untuk menjaga komitmen, mengatasi kendala kemasan, dan menyelaraskan perbedaan pendapat, Kelompok Ndungger rutin mengadakan rapat bulanan. Ia mendorong Kelompok MIR untuk berinovasi, misalnya dengan varian aroma jahe atau melati, memperkuat kerja sama dengan mitra, dan terus belajar bersama dengan semangat pantang menyerah. Sesi 2: Penguatan Kelembagaan dan Peran Pendampingan Stakeholder Sesi kedua dibawakan oleh Bapak Candra Agus Wahyudi, S.E., M.M., Ketua Tim Pengabdian Universitas Musamus (UNMUS). Ia menekankan bahwa kelembagaan Kelompok MIR perlu diperkuat melalui pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, tertib administrasi, pendataan anggota, pencatatan produksi dan penjualan, serta pengelolaan keuangan yang transparan. Kelompok diharapkan menjadi wadah belajar, bekerja sama, dan meningkatkan ekonomi anggota. Ia juga merekomendasikan peningkatan kapasitas anggota melalui pelatihan pengolahan dan pascapanen, manajemen usaha, pemasaran digital, dan pengembangan kemitraan. Dalam produksi, anggota diimbau menjaga mutu bahan baku, tidak memanen sarang semut yang masih kecil, dan menerapkan standar kebersihan dan keamanan pangan, termasuk memisahkan dapur rumah tangga dari tempat produksi. Pengembangan usaha perlu didukung dengan perbaikan kemasan, legalitas produk seperti NIB, P-IRT, dan sertifikasi halal, serta perluasan pasar melalui toko, pasar lokal, pameran, dan media sosial. Refleksi, Capaian, dan Rencana Tindak Lanjut Kegiatan ditutup dengan diskusi interaktif dan FGD lanjutan yang dipimpin moderator. Sesi ini membahas evaluasi piloting, capaian kelompok, kendala teknis lapangan, kebutuhan pendampingan berkelanjutan, dan rekomendasi tindak lanjut bagi Kelompok MIR setelah tim pendamping selesai bertugas. Dari diskusi, peserta sepakat menetapkan Kelompok MIR sebagai pionir pengelola UMKM komoditas endemik dengan produk unggulan teh sarang semut. Peserta FGD juga menyadari bahwa pengembangan produk ini membutuhkan proses yang panjang. Sejumlah langkah telah ditempuh, antara lain pengurusan SK kelompok, studi banding ke Kelompok Mace Kanume di Yanggandur, Kelompok Ndungger di Wasur, dan SMK Negeri 5 Merauke, serta proses pengajuan NIB dan merek dagang. Seluruh tahapan ini didokumentasikan dalam sebuah roadmap pengembangan usaha. Perwakilan pelaku UMKM dari Kampung Kweel dan Bupul Kampung menyambut antusias kegiatan ini dan berminat mengembangkan kelembagaan usaha bersama untuk sagu, sarang semut, dan produk komoditas endemik lainnya. Harapan Masyarakat Kelompok MIR berharap dapat terus berinovasi dan karena itu membutuhkan akses informasi dan pembelajaran yang berkelanjutan. Perwakilan UMKM Kampung Kweel dan Bupul Kampung berharap kegiatan serupa dapat digelar di kampung mereka sehingga lahir kelompok-kelompok inisiator dan pionir baru seperti Kelompok MIR. Masyarakat Kampung Tanas menyampaikan terima kasih dan berharap pendampingan serta dukungan terus berlanjut dari Pemerintah Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Universitas Gadjah Mada, Universitas Musamus, Kelompok Ndungger dan Kementerian Transmigrasi sebagai kelompok percontohan usaha teh sarang semut. Pengembangan teh sarang semut oleh Kelompok MIR sejalan dengan beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan usaha berbasis komoditas lokal mendukung SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui peningkatan pendapatan dan kemandirian ekonomi masyarakat. Panen berkelanjutan dan pengolahan yang memperhatikan kelestarian sumber daya mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam menjaga hutan adat dan keanekaragaman hayati Papua di Kawasan Transmigrasi Muting. Penulis: Tim Media Departemen Tanah  

Lanjut Baca

Farmasi UGM Ajak Warga Sompok Imogiri Menjaga sanitasi dan Buat Minuman Fermentasi

Bantul, 14 Oktober 2026 – Penyakit infeksi seperti diare, cacingan, dan infeksi kulit masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang erat kaitannya dengan sanitasi lingkungan dan kebiasaan hidup sehari-hari, mulai dari kebiasaan cuci tangan, kualitas air minum, pengelolaan jamban dan sampah, hingga keamanan makanan. Selain kebiasaan hidup bersih, pola makan yang baik turut menjaga daya tahan tubuh. Dua hal yang dekat dengan keseharian ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat Departemen Kimia Farmasi (DKF), Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, di Pendopo Padukuhan Sompok, Kelurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Rabu (14/10). Mengangkat tema “Penyuluhan Sanitasi Lingkungan dalam Pencegahan Penyakit Infeksi serta Praktik Pembuatan Minuman Kesehatan”, kegiatan ini memadukan edukasi kesehatan lingkungan dengan keterampilan membuat kombucha dan yogurt. Warga diajak memahami hubungan antara kebersihan lingkungan, penyediaan makanan sehat, keamanan pangan, dan kesehatan keluarga melalui penyuluhan, tanya jawab, serta praktik. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan sambutan dari Carik Sriharjo, Kuswoyo, SH., dan dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Farmasi UGM, Prof. Dr. ret. nat. apt. Endang Lukitaningsih, M.Si. Kegiatan yang didanai Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Farmasi UGM ini diinisiasi oleh Ketua Panitia, Prof. Dr. apt. Rumiyati, M.Si., sebagai kelanjutan pendampingan DKF bagi masyarakat Sompok. Pada tahun sebelumnya, DKF telah menyelenggarakan kegiatan peningkatan sanitasi dan edukasi kebersihan di wilayah tersebut. Pada sesi pertama, Prof. Dr. apt. Ratna Asmah Susidarti, M.Si. menyampaikan materi sanitasi lingkungan dalam pencegahan penyakit infeksi. Pembahasan mencakup penggunaan air yang aman, pemeliharaan jamban, kebersihan tangan, keamanan makanan, pengelolaan sampah, serta pengendalian nyamuk dan hewan pembawa penyakit. Melalui contoh sehari-hari, warga diajak mengenali bagaimana kuman dapat berpindah dari tangan ke makanan, atau dari lingkungan tercemar ke sumber air. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menyimpan air minum dalam wadah bersih dan tertutup, serta memisahkan makanan mentah dari makanan matang menjadi langkah sederhana untuk membantu memutus rantai penularan.  Perhatian juga diberikan pada penggunaan bahan kimia rumah tangga. Warga diingatkan untuk membaca petunjuk pemakaian, menggunakan produk sesuai peruntukannya, dan tidak sembarangan mencampur bahan pembersih. Pengelolaan sampah serta pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk turut dibahas sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan rumah tetap sehat. Sesi berikutnya beralih ke penjelasan dan praktik pembuatan kombucha, dipandu oleh Dr. apt. Riris Istighfari Jenie, M.Sc. bersama tim. Kombucha merupakan minuman hasil fermentasi teh manis menggunakan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), yaitu kultur simbiotik bakteri dan khamir. Warga diperkenalkan pada proses menyiapkan teh manis, mendinginkannya, menambahkan SCOBY dan cairan starter, hingga melakukan fermentasi. Kebersihan tangan, alat, dan wadah menjadi benang merah yang menghubungkan praktik ini dengan materi sanitasi sebelumnya. Kombucha dengan tanda kontaminasi, seperti seperti tumbuhnya kapang (jamur berbulu) berwarna hijau, biru, atau hitam, atau berbau busuk, tidak boleh dikonsumsi. Selain proses pembuatannya, materi juga membahas kandungan senyawa bioaktif dan potensi manfaat kombucha. Bukti ilmiah manfaatnya pada manusia masih terus diteliti, sehingga minuman fermentasi ini perlu ditempatkan sebagai bagian dari pola makan sehat dan bukan pengganti pengobatan. Gizi seimbang, aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup tetap menjadi dasar menjaga kesehatan tubuh. Kegiatan ini mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), terutama SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui edukasi pencegahan penyakit, serta SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak melalui pembahasan air yang aman dan kebersihan rumah tangga. Materi pengelolaan sampah dan penggunaan bahan kimia secara bijak juga sejalan dengan SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Melalui perpaduan penyuluhan dan praktik, pengetahuan dari kampus diharapkan semakin mudah diterapkan di rumah. Dari menjaga kebersihan tangan hingga menyiapkan minuman secara higienis, warga dapat mengambil peran dalam membangun kebiasaan sehat bagi keluarga dan lingkungan Sompok. Penulis: Raisatun Nisa dan Siti Nurul Hidayah | Foto: Tim PKM DKF

Selengkapnya

Juara Greenovate 2026, Tim UGM Kembangkan Limbah TKKS Menjadi Material Elektroda Inovatif

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin dan Industri (DTMI) UGM kembali meraih prestasi, kali ini dalam event Greenovate 2026 yang diadakan di Senayan, DKI Jakarta pada 3-5 Agustus 2026. Dalam kompetisi yang diadakan oleh TBS Foundation ini, Tim UGM dengan nama ”Powerhart” beranggotakan 2 Pratiwi Putri Hasibuan (Teknik Industri 2024), Arsi Cahyani (Teknik Kimia 2024), dan Hayya Majida Amani (Teknik Kimia 2024) meraih juara 3.  Sebagai latar belakang, Tim Powerhart mengangkat permasalahan melimpahnya limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang pemanfaatannya saat ini masih didominasi oleh aplikasi bernilai tambah relatif rendah, seperti mulsa dan pembenah tanah. ”Berdasarkan permasalahan tersebut, kami mengusulkan pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku material elektroda karbon hibrida untuk superkapasitor,” tutur Putri. Ide yang diusulkan tim berupa inovasi material berbasis tandan kosong kelapa sawit sebagai alternatif material berbasis karbon untuk elektroda superkapasitor, dengan penambahan katalis feldspar sebagai salah satu bagian dari proses rekayasa material. Inovasi ini menargetkan pemanfaatan limbah TKKS yang belum optimal sekaligus mengurangi ketergantungan pada material karbon bernilai tinggi seperti grafena. ”Dengan demikian, gagasan kami tidak hanya berfokus pada pengembangan material baru, tetapi juga menghubungkan aspek teknologi, pemanfaatan limbah, dan keberlanjutan,” jelas Putri. Putri menjelaskan bahwa kebaruan gagasan tersebut terletak pada rekayasa material secara bertahap, dimulai dari karbonisasi TKKS dengan penambahan Fe dan feldspar untuk membantu menghasilkan struktur karbon yang lebih grafitik dan konduktif, kemudian mengombinasikannya dengan MnO₂ dan PANI. Karbon TKKS berperan menyimpan muatan pada permukaannya, sementara MnO₂ dan PANI memberikan tambahan penyimpanan muatan melalui reaksi elektrokimia. “Dengan pendekatan ini, kami tidak hanya mengubah limbah TKKS menjadi karbon, tetapi juga merancangnya menjadi material elektroda bernilai tambah tinggi yang berpotensi meningkatkan performa elektrokimia sekaligus mendukung pemanfaatan limbah dan pengembangan teknologi penyimpanan energi yang lebih berkelanjutan,” ujar Putri. Karya Powerhart tersebut memukau dewan juri yang terdiri dari Roderick Purwana (Managing Partner, East Ventures); Gita Sjahrir (Managing Director for Investor Relations, TBS); dan Iwan Syahril (Former Director General of Education, Indonesia) sehingga dinilai pantas untuk menjadi salah satu juara. Pada seleksi awal, tim Powerhart mengumpulkan ide yang mencakup identifikasi masalah, solusi yang ditawarkan, serta aspek kelayakan finansial dalam bentuk presentasi PPT. Setelah lolos ke babak final, Powerhart mengikuti sesi mentoring bersama Triana Krisandini, SVP Sustainability PT TBS Energi Utama Tbk., untuk mempersiapkan presentasi. ”Selama mentoring, kami mendapatkan banyak masukan, terutama dalam membangun storytelling yang kuat dan menyampaikan data secara lebih menarik bagi audiens. Salah satu contohnya adalah bagaimana mengubah data emisi yang berupa angka menjadi perbandingan atau gambaran yang lebih mudah dibayangkan, sehingga dampak dari permasalahan yang kami angkat dapat lebih dirasakan oleh audiens,” papar Putri.  Dalam proses meraih juara, tantangan utama yang dihadapi Powerhart adalah penerjemahan gagasan yang cukup teknis menjadi konsep yang mudah dipahami sekaligus menarik dari sisi bisnis. ”Kami perlu menjelaskan proses rekayasa material dan keunggulan elektroda tanpa membuat materi terlalu kompleks bagi audiens,” tutur Putri. Lebih jelas lagi, tim harus memastikan bahwa gagasan yang ditawarkan tidak hanya memiliki potensi keuntungan ekonomi, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan yang jelas melalui pemanfaatan limbah TKKS dan pengembangan material untuk teknologi penyimpanan energi. Seluruh aspek tersebut, mulai dari permasalahan, solusi, kebaruan, potensi bisnis, hingga aspek keberlanjutan, harus disampaikan dalam durasi presentasi yang hanya 7 menit. ”Oleh karena itu, kami perlu menyusun materi secara ringkas, terstruktur, dan didukung oleh storytelling yang kuat,” tutur Putri.  Dari kompetisi Greenovate 2026, Putri menyatakan mereka belajar bahwa sebuah ide tidak hanya harus menarik, tetapi juga harus bisa menjawab masalah yang ada dan punya nilai dari sisi teknologi, bisnis, maupun keberlanjutan. Kami juga belajar bagaimana menyampaikan ide yang cukup teknis dengan cara yang lebih sederhana dan menarik melalui storytelling,” tutur Putri. Selain itu, tambah Putri, lomba ini memberikan pengalaman bekerja dalam tim dengan latar belakang yang berbeda, menerima masukan, dan lebih percaya diri dalam menyampaikan serta mempertahankan ide di depan juri. Dr. Akmal Irfan Majid sebagai perwakilan DTMI yang turut menghadiri penyerahan juara menyatakan bahwa kompetisi ini merupakan kesempatan emas bagi mahasiswa karena kasus yang diangkat oleh Greenovate layak untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis dan memperoleh bimbingan dari para prominent figures perusahaan-perusahaan terbaik. “Hal ini tentu mengasah soft skill dan kemampuan analisis untuk mendekatkan mata kuliah di kampus dengan solusi praktis dari industri yang prominent,” tuturnya.

Selengkapnya

Dukung Pertanian Berkelanjutan, UGM Serahkan Bantuan Alsintan di Bantul

BANTUL – Universitas Gadjah Mada (UGM) melaui kerja sama Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem (DTPB) Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) dengan Center for Sustainable Agricultural Mechanization (CSAM) dan Balai Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Mektan menyerahkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) berupa chopper dan thresher di Dusun Japuhan, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Jumat (2/10/2026). Penyerahan alsintan kepada Kelompok Ternak "Lembu Suro" dan Kelompok Wanita Tani (KWT) ini menjadi langkah nyata UGM dalam mendukung modernisasi pertanian ramah lingkungan serta mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kegiatan yang merupakan bagian dari program "Scaling Crop Residue Management Through Mechanization and Custom Hiring in Indonesia" ini selaras dengan SDG 2: Tanpa Kelaparan (peningkatan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan), SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (pengelolaan limbah tanaman/ekonomi sirkular), SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi multisektor antara akademisi UGM, pemerintah daerah melalui Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan kelompok masyarakat. Acara serah terima tersebut dihadiri langsung oleh Ketua Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem FTP UGM Dr. Arifin Dwi Saputro, Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM Prof. Lilik Sutiarso, anggota tim Dr. Radi dan Dr. Sri Markumningsih, serta teknisi Marheri. Turut hadir Penyuluh Pertanian BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., serta Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ketua Tim CSAM–BRMP–UGM, Prof. Lilik Sutiarso, mengapresiasi komitmen para petani dan peternak di Dusun Japuhan yang dinilai sangat aktif dan maksimal dalam memanfaatkan teknologi mekanisasi pertanian. "Lokasi Japuhan ini bahkan akan kita jadikan salah satu daerah percontohan bagi laporan di skala nasional dan internasional. Saya berharap alat ini dapat dimaksimalkan melalui berbagai skema kerja sama yang ada agar kegiatan pertanian dan peternakan di Dusun Japuhan dapat terus berkelanjutan (sustainable)," ujar Prof. Lilik. Ketua DTPB UGM, Dr. Arifin Dwi Saputro, menambahkan bahwa keaktifan kelompok tani lokal yang mampu mengoperasikan hingga 90 persen hibah peralatan dari program sebelumnya menjadi alasan kuat UGM untuk terus memberikan pendampingan teknis secara berkelanjutan. "Harapan kami setelah serah terima ini tidak berhenti di sini. Kami di departemen memiliki laboratorium khusus yang menangani alat dan mesin pertanian, sehingga apabila Bapak dan Ibu mengalami kendala atau hendak melakukan modifikasi alat yang kami hibahkan, dapat berkunjung ke laboratorium kami," kata Dr. Arifin. Perwakilan dari BPP Kapanewon Bambanglipuro, Dwi Widayati, S.P., menyampaikan apresiasi mendalam atas kepedulian UGM terhadap kemajuan sektor pertanian di wilayahnya. Ia mengimbau para penerima manfaat untuk terus merawat alsintan yang diberikan agar dapat menyokong perekonomian dan kesejahteraan warga Desa Sidomulyo. Rasa syukur turut dirasakan oleh Ketua Kelompok Ternak Lembu Suro, Paijo. Ia mengungkapkan bahwa pendampingan dari DTPB FTP UGM yang telah berlangsung sejak beberapa tahun lalu memberikan dampak nyata bagi efisiensi kerja kelompoknya. "Terima kasih atas perhatian UGM kepada kelompok kami. Ini menjadi 'Jumat Berkah' bagi kami karena bantuan alat dan mesin ini akan sangat membantu serta mempermudah aktivitas sehari-hari anggota kelompok ternak," tutur Paijo. Melalui program pendampingan dan modernisasi alsintan ini, DTPB FTP UGM menegaskan komitmennya untuk terus mempromosikan tata kelola pertanian berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat desa.

Selengkapnya

Berkat Mahasiswa KKN UGM, Desa Limboro Kembali Bisa Panen Padi Setelah 14 tahun 

Mo Sangki Pae Kita Mosiala Pale, yang dalam bahasa Indonesia berarti mengarit padi kita bergandeng tangan, bukan sekadar tradisi panen raya bagi masyarakat Desa Limboro, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Perayaan yang diselenggarakan pada Selasa (7/7) tersebut menjadi simbol bangkitnya kembali harapan masyarakat setelah bertahun-tahun lahan pertanian mereka kehilangan pasokan irigasi akibat rusaknya Bendung Uvenja. Namun sejak kedatangan mahasiswa, mereka bisa merasakan panen padi kembali. Selama kurang lebih 14 tahun, Bendung Uvenja di Sungai Limboro mengalami kerusakan akibat banjir sehingga aliran irigasi terputus dan sekitar 43 hektare sawah tidak lagi dapat ditanami. Kondisi tersebut membuat para petani kehilangan sumber penghidupan sekaligus harapan untuk kembali mengolah sawah mereka. Harapan itu mulai tumbuh kembali ketika Program KKN-PPM UGM berkolaborasi dengan Universitas Tadulako (UNTAD) pada 2025 untuk menginisiasi gerakan gotong royong memperbaiki Bendung Uvenja. Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat dan Alumni, Dr. Arie Sujito ikut hadir dalam panen ra kali ini serata menyerahkan bantuan benih padi Gamagora, varietas padi dari hasil hilirisasi peneliti UGM, sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung peningkatan produktivitas pertanian masyarakat Desa Limboro. Pasalnya, padi ‘ampibi’ ini bisa ditanam di area persawahan maupun lahan kering. Arie mengajak masyarakat untuk terus menjaga potensi yang dimiliki setiap daerah agar dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan. Ia juga menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanahan dan membangun tanggung jawab bersama dalam mewujudkan ketahanan pangan. "Mari daerah-daerah itu sumber dayanya dijaga, pertanahannya diperkuat, pangannya dipikul," ujarnya. Panen raya yang berlangsung tahun ini tidak terlepas dari perjalanan panjang masyarakat dalam mengembalikan produktivitas lahan pertanian mereka. Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, menjelaskan bahwa inisiatif tersebut telah dipersiapkan sejak akhir 2024 melalui serangkaian pemetaan kebutuhan masyarakat. Bersama tim dari Universitas Tadulako (UNTAD), Nizam mengunjungi Desa Towale dan Desa Limboro pada November 2024 untuk berdialog dengan kepala desa, perangkat desa, Pemerintah Kabupaten Donggala, serta Camat Banawa Tengah. Proses tersebut kemudian dilanjutkan dengan diskusi secara virtual yang melibatkan mahasiswa UGM dan UNTAD bersama pemerintah desa serta tokoh masyarakat guna merumuskan program yang benar-benar menjawab kebutuhan warga. Dari hasil pemetaan tersebut, Bendung Uvenja ditetapkan sebagai program prioritas. Setelah melalui berbagai tahapan yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, UGM, UNTAD, sejumlah mitra, serta dukungan alat berat, bendung akhirnya berhasil diperbaiki sehingga aliran air kembali mengairi lahan pertanian warga. "Kami kemudian fokus mencari solusi dengan menggalang gotong royong masyarakat sekaligus dukungan dari berbagai pihak," ujar Nizam. Keberhasilan tersebut menjadi titik balik bagi masyarakat Desa Limboro. Pada awal 2026, sekitar 43 hektare sawah yang selama bertahun-tahun tidak dapat ditanami akhirnya kembali menghasilkan padi. Bagi sebuah desa di ujung Kabupaten Donggala, luasan tersebut menjadi capaian yang sangat berarti sekaligus menandai pulihnya produktivitas pertanian masyarakat. Menurut Nizam, kawasan tersebut sebenarnya memiliki potensi pertanian yang sangat besar karena kondisi tanahnya tergolong subur dengan produktivitas yang mampu mencapai sekitar delapan ton gabah per hektare. Kembalinya aliran irigasi tidak hanya menghidupkan kembali harapan masyarakat untuk mewujudkan swasembada pangan di tingkat desa, tetapi juga memperkuat peran Limboro sebagai salah satu penopang lumbung padi di Sulawesi Tengah. Keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja tidak menjadi akhir dari kolaborasi tersebut. Melalui KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026, berbagai program pemberdayaan kembali dilanjutkan, salah satunya melalui penguatan ketahanan pangan dengan memperkenalkan varietas padi Gamagora kepada masyarakat. Varietas padi hasil pengembangan UGM tersebut dipilih karena mampu tumbuh pada lahan kering sekaligus memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dinilai berpotensi membantu petani menghadapi ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino. Kormanit KKN-PPM UGM Bulava Donggala, I Komang Agus Juliantara, menjelaskan bahwa pendampingan mahasiswa tidak berhenti pada penyerahan benih. Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan mendampingi petani dalam mengenal karakteristik Gamagora, teknik budidaya, hingga penyusunan demonstration plot (demplot) sebagai media pembelajaran di lapangan.  "Gamagora merupakan padi yang amfibi dan bisa hidup di lahan yang kering, serta memiliki produktivitas yang unggul. Diharapkan padi ini dapat membantu masyarakat untuk mengatasi serangan El Nino ke depannya di Sulawesi," jelas Komang. Menurutnya, keberadaan demplot diharapkan dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk mempelajari teknik budidaya Gamagora secara langsung sehingga inovasi tersebut dapat diterapkan secara berkelanjutan."Rencananya kami akan membersamai masyarakat tentunya. Kami akan mengenalkan lebih dalam lagi perihal padi Gamagora itu sendiri, khususnya yang terkait dengan cara penanaman, hal-hal khusus yang perlu diperhatikan, dan akan membuat demplot," ujarnya. Selain penguatan ketahanan pangan, Tim KKN-PPM UGM Bulava Donggala Periode 2 Tahun 2026 juga mengembangkan sejumlah program lain yang disusun berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan masyarakat. Program tersebut meliputi pengembangan sektor pariwisata, seperti restorasi terumbu karang, penguatan ekonomi kreatif, serta lingkungan dan konservasi melalui rencana pembangunan tanggul dan penanaman bambu sebagai upaya mitigasi bencana sekaligus pelestarian lingkungan. Bagi Komang, seluruh rangkaian pendampingan tersebut menjadi pengalaman berharga. Ia menilai keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh inovasi yang dibawa mahasiswa, tetapi juga oleh keterlibatan aktif masyarakat dalam setiap proses pelaksanaan. "Pembelajarannya, masyarakatnya sangat terbuka sehingga mudah diajak berdiskusi. Kami belajar bahwa keberhasilan suatu program itu harus ada keterlibatan semua pihak," tuturnya. Waludin, selaku perwakilan dari kelompok tani juga turut mengucapkan rasa syukur dan terima kasih atas hibahan Padi Gamagora yang telah diberikan oleh UGM. “Kami sangat bersyukur karena adanya bantuan bibit Gamagora dari UGM,” ungkapnya. Kolaborasi yang telah terjalin selama dua tahun terakhir juga mendapat apresiasi dari Kepala Desa Limboro, Mohammad Kifli. Menurutnya, kehadiran UGM telah menjadi bagian dari proses belajar bersama yang melibatkan masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam menyelesaikan berbagai persoalan di desa."Saya memberi ucapan syukur dan juga ungkapan rasa terima kasih kepada Universitas Gadjah Mada yang sudah dua tahun ini sudah membersamai proses belajar dengan kami," katanya. Kifli menilai keberhasilan menghidupkan kembali Bendung Uvenja hingga sawah kembali produktif merupakan bukti nyata bahwa pembangunan desa hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi berbagai pihak. "Bagi kami ini merupakan proses kolaborasi yang melibatkan banyak pihak," ujarnya. Ia juga mengaku terkesan dengan keterlibatan langsung Dosen Pembimbing Lapangan KKN-PPM UGM Bulava Donggala, Prof. Ir. Nizam, yang mendampingi masyarakat sejak awal proses perencanaan hingga pelaksanaan program. "Banyak kades yang punya kenalan profesor, tapi bagi kami, teman profesor pertama kami itu ya Prof. Nizam. Ini menjadi kesan yang melekat di warga desa karena jarang sekali ada profesor yang mau berproses bersama dengan petani," ungkapnya. Ke depan, Pemerintah Desa Limboro berharap kolaborasi yang telah terbangun bersama UGM tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat. "Besar harapan saya bahwa ini tidak bersifat momentum, tetapi bisa kami rawat juga," pungkas Kifli. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Dok. Tim KKN-PPM Bulava Donggala

Selengkapnya

Dorong Swasembada Pangan, Kementan RI Siap Borong Hasil Riset Inovasi UGM

Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengajak Universitas Gadjah Mada berkolaborasi dalam melakukan hilirisasi hasil riset guna mendukung swasembada dan kedaulatan pangan nasional. Ajakan tersebut disampaikan saat menerima delegasi UGM yang dihadiri langsung oleh Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, PhD., bersama jajaran pimpinan Universitas dan Fakultas, dosen dan mahasiswa di kediamannya di Jakarta, Senin (29/6). Amran menyampaikan bahwa berbagai inovasi yang dikembangkan UGM memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam sektor pertanian nasional. Dikatakan langsung oleh Amran jika hilirisasi hasil riset menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap komoditas impor sekaligus meningkatkan daya saing pertanian nasional. "Banyak dari hasil karya UGM yang dapat diterapkan untuk sektor pertanian Indonesia," ujarnya. Ia menjelaskan keadaan ekspor sektor pertanian saat ini telah mencapai sekitar Rp760 triliun, tergolong meningkat sekitar Rp166 triliun dalam satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo-Gibran. Di sisi lain, nilai impor sektor pertanian juga telah turun sekitar Rp41 triliun, meski masih menyisakan peluang substitusi impor yang cukup besar. Dalam pertemuan tersebut, Mentan dan UGM membahas pengembangan kurang lebih enam komoditas strategis dengan nilai kerja sama sekitar Rp40 miliar yang akan dihibahkan ke UGM. Beberapa di antaranya meliputi pengembangan kedelai, bawang putih, pakan peternakan, pupuk berbahan batu bara, hingga inovasi sapi perah hasil riset UGM. Lanjut Amran, varietas kedelai yang dikembangkan UGM memiliki keunggulan karena bersifat non-genetically modified organism (non-GMO) serta memiliki ukuran biji yang lebih besar dibandingkan kedelai impor. Baginya, hal tersebut merupakan sebuah peluang kerja sama yang sangat baik karena memanfaatkan hasil lokal dibandingkan milik luar. Pemerintah pun berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000-2.000 hektare yang pada gagasannya akan berlokasi di Jawa Tengah. "Kalau kita bisa menghasilkan bibit-bibit unggul, kenapa kita harus beli dari luar?" katanya. Ia menambahkan, pemerintah ingin memastikan hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman, tetapi benar-benar diterapkan di lapangan. Menurutnya, percepatan pembangunan sektor pertanian membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha. Sementara itu, Wakil Rektor Penelitian, Pengembangan Usaha dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko mengatakan pertemuan dengan Mentan merupakan tindak lanjut dari komunikasi yang telah terjalin sebelumnya antara UGM dan Mentan. Ia menilai sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional. Menurut Danang, keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras perlu didukung dengan penguatan kedaulatan benih. Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran strategis melalui pengembangan varietas unggul yang dapat dimanfaatkan secara luas. "Salah satu faktornya adalah bagaimana kita memiliki kedaulatan benih. Kampus menghasilkan varietas, khususnya padi Gamagora, untuk bisa diserap oleh pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan pangan tersebut," ujarnya. Ia berharap berbagai inovasi yang dihasilkan UGM, tidak hanya pada komoditas padi, tetapi juga komoditas strategis lainnya, dapat semakin dimanfaatkan dalam program-program pemerintah. Menurutnya, keberpihakan terhadap hasil riset perguruan tinggi akan mempercepat pemanfaatan inovasi untuk menjawab tantangan pembangunan nasional, khususnya di sektor pangan. “Kerja sama ini juga yang kami tunggu-tunggu sebenarnya, bagaimana keberpihakan pemerintah dalam mewujudkan keberpihakan terhadap kampus sehingga warisan dan hasil riset kampus bisa diserap oleh pemerintah,” pungkasnya. Penulis : Zabrina Kumara Editor : Gusti Grehenson Foto : Donnie

Selengkapnya

Program Pengabdian Masyarakat UGM Hadirkan Teknologi Evaporator dan Kristalisator bagi Produsen Gula Semut Banyumas

Banyumas, 31 Mei 2026 – Menjawab tantangan peningkatan mutu gula semut untuk pasar ekspor, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (FTP UGM) menerapkan teknologi evaporator dan kristalisator tepat guna di Desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini bertujuan meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi gula semut melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar, sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Banyumas di pasar internasional. Program Community Development berbasis riset aplikatif dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan berjudul “Penerapan Evaporator dan Kristalisator Tepat Guna untuk Meningkatkan Mutu dan Kuantitas Ekspor Gula Semut dari Nira Kelapa Genjah di Cilongok, Banyumas” ini dipimpin oleh Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P. dari Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian UGM, bersama tim dosen lintas bidang, yaitu Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., Dr. Arifin Dwi Saputro, S.T.P., M.Sc., Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc., Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D., serta mitra akademik internasional Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin dari Universiti Putra Malaysia. Program ini juga melibatkan mahasiswa dalam kegiatan survei, sosialisasi, pelatihan, dan penyusunan laporan. Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik). PT IMC merupakan eksportir gula semut yang bermitra dengan ribuan petani di berbagai wilayah Jawa Tengah, salah satunya adalah KOPIPO. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya permintaan gula semut sebagai pemanis alami di pasar domestik maupun internasional. Gula semut memiliki berbagai keunggulan, seperti mudah larut, praktis digunakan, memiliki umur simpan yang lebih panjang, serta banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, minuman, dan produk organik. Seiring meningkatnya tren konsumsi pangan sehat, permintaan terhadap gula semut terus menunjukkan pertumbuhan yang positif. [caption id="attachment_15150" align="alignnone" width="1024"] Proses Pemasakan Nira Kelapa menjadi Semut secara Tradisional[/caption] Indonesia merupakan salah satu produsen dan eksportir gula kelapa terbesar di dunia. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia mencatat lebih dari 4.200 pengiriman ekspor gula kelapa ke 73 negara tujuan, menempatkan Indonesia sebagai eksportir terbesar dunia untuk komoditas tersebut. Salah satu sentra produksi utama gula semut nasional adalah Kabupaten Banyumas. Menurut data Pemerintah Kabupaten Banyumas, daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada tahun 2024 dan berkontribusi sekitar 40–50 persen terhadap produksi gula kelapa nasional, sehingga menjadi salah satu wilayah terpenting dalam rantai pasok gula semut Indonesia. Meskipun memiliki potensi pasar yang besar, proses produksi gula semut di tingkat petani masih menghadapi berbagai kendala, seperti ketidakseragaman mutu produk, keterbatasan pengendalian proses, dan tingginya ketergantungan pada keterampilan operator. Proses evaporasi nira umumnya masih dilakukan secara konvensional, sementara proses kristalisasi masih banyak bergantung pada pengalaman produsen. Kondisi tersebut dapat menyebabkan variasi warna, tekstur, kadar air, dan ukuran partikel gula semut antarbatch sehingga berpotensi menurunkan daya saing produk di pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kapasitas petani dan pelaku usaha melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar untuk menghasilkan gula semut yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan pasar nasional maupun internasional. Melalui program ini, UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar untuk mendukung proses produksi gula semut yang lebih terukur, higienis, dan konsisten. Evaporator dirancang untuk mengentalkan nira hingga mencapai kondisi siap kristalisasi dengan suhu yang lebih terkendali. Sementara itu, kristalisator digunakan untuk membantu proses pembentukan kristal gula semut agar lebih cepat dan seragam. [caption id="attachment_15149" align="alignnone" width="1024"] Pelatihan pengoperasian evaporator gula semut[/caption] Dr. Sri Rahayoe menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan upaya untuk menjawab kebutuhan industri sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. “Selama ini proses produksi gula semut masih sangat bergantung pada pengalaman operator sehingga kualitas produk sering kali tidak seragam. Melalui penerapan evaporator dan kristalisator tepat guna, kami berharap proses pengolahan menjadi lebih terukur, efisien, dan menghasilkan gula semut dengan mutu yang lebih konsisten sesuai kebutuhan pasar ekspor,” ujarnya. [caption id="attachment_15151" align="alignnone" width="1024"] Alat Kristalisator (kanan) dan Evaporator (kiri) Gula Semut yang dihibahkan kepada Petani Produsen Gula Semut[/caption] Selain penerapan teknologi, kegiatan ini juga mencakup serangkaian pelatihan dan transfer pengetahuan yang menghadirkan narasumber dari berbagai bidang keahlian. Dr. Devi Yuni Susanti, S.T.P., M.Sc. menyampaikan materi mengenai penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) proses produksi dan standar mutu gula semut untuk mendukung konsistensi kualitas produk. Ir. Muslim Mahardika, S.T., M.Eng., Ph.D. memaparkan inovasi rekayasa alat pendukung penderesan nira kelapa serta pengembangan (improvement) teknologi kristalisator dan evaporator gula semut guna meningkatkan efisiensi dan keamanan proses produksi. Sementara itu, mitra akademik internasional dari Universiti Putra Malaysia (UPM), Prof. Ts. Dr. Rosnah Shamsudin, berbagi pengalaman mengenai budidaya dan pemanfaatan tanaman kelapa di Malaysia sebagai bagian dari praktik terbaik pengembangan industri kelapa yang berkelanjutan. [caption id="attachment_15152" align="alignnone" width="1024"] Prof. Rosnah menjelaskan materi budidaya kelapa dan pemanfaatannya di Malaysia[/caption] Kegiatan juga mencakup pelatihan sanitasi dan higiene pengolahan gula berbasis nira kelapa, karakterisasi gula dari nira kelapa, penanganan pascapanen nira kelapa, serta praktik pengolahan gula semut menggunakan evaporator dan kristalisator yang dikembangkan oleh Tim Fakultas Teknologi Pertanian UGM. [caption id="attachment_15153" align="alignnone" width="1024"] Prof. Eni Harmayani memberikan pelatihan GMP dan HACCP guna menjaga kualitas gula semut[/caption] Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Prof. Dr. Ir. Eni Harmayani, M.Sc., memberikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan oleh Dr. Sri Rahayoe beserta tim dalam mengembangkan program berbasis kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan masyarakat. Menurutnya, kegiatan ini menunjukkan bagaimana hasil riset dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan mendukung pembangunan desa. “Saya memberikan apresiasi kepada Bu Yayuk atas inisiatif kegiatan ini. Program ini sangat baik karena mempertemukan unsur akademisi, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem pengembangan yang saling mendukung. FTP UGM akan selalu mendukung upaya mewujudkan kemandirian pangan, di mana desa dapat menjadi salah satu penopang utama ketahanan pangan nasional. Dari pelatihan ini kami berharap terjadi transfer teknologi dan penguatan jejaring yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan asli desa (PAD) serta kesejahteraan masyarakat,” ungkap Prof. Eni. Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Mario Ngensowidjaja, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC). Dalam wawancara daring, ia menilai kolaborasi antara UGM dan industri memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas dan konsistensi produksi gula semut di tingkat petani. “Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki UGM, kegiatan pelatihan ini sangat membantu dalam menjaga kualitas produk, meningkatkan efisiensi produksi, serta membuat kegiatan pascapanen menjadi lebih terukur. Kerja sama antara UGM dan IMC membantu petani memahami proses yang mereka kerjakan dengan lebih baik sehingga dapat menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan lebih konsisten,” ujarnya. Mario menambahkan bahwa pihaknya berharap kolaborasi tersebut dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. “Harapan kami, kerja sama ini dapat terus memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan membantu pengembangan produksi gula kelapa dengan mutu yang semakin baik serta volume yang semakin besar. Dengan demikian, Indonesia dapat semakin dikenal sebagai salah satu produsen gula kelapa berkualitas di dunia,” tambahnya. Salah satu petani peserta kegiatan, Bapak Mukamil, mengaku memperoleh banyak wawasan baru dari materi dan pelatihan yang diberikan selama program berlangsung. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis mengenai proses produksi gula semut, tetapi juga meningkatkan kesadaran para petani akan pentingnya menjaga mutu produk secara berkelanjutan. “Materi yang disampaikan sangat bermanfaat bagi kami. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga menyadarkan dan memberikan semangat kepada kami untuk bersama-sama menjaga kualitas nira dan gula semut yang kami produksi. Kami jadi lebih memahami bahwa kualitas yang baik merupakan kunci agar produk kami dapat terus diterima di pasar,” ujar Mukamil. Ketua tim pelaksana, Dr. Sri Rahayoe, menyampaikan bahwa penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani. “Keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh volume produksi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga mutu secara konsisten. Karena itu, selain menyediakan teknologi, kami juga memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan, penyusunan SOP, dan pengendalian mutu agar produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar pasar global,” jelasnya. Program ini juga diarahkan untuk mendukung produksi gula semut yang lebih aman, inklusif, dan berkelanjutan. Budidaya kelapa genjah menjadi salah satu bagian penting dalam program karena tanaman ini memiliki batang lebih rendah dibandingkan kelapa dalam, sehingga proses penderesan nira dapat dilakukan dengan lebih aman dan berpotensi membuka ruang keterlibatan yang lebih luas bagi perempuan dan generasi muda. [caption id="attachment_15148" align="alignnone" width="1024"] Gula Semut hasil pelatihan bersama para produsen gula semut[/caption] Luaran utama dari kegiatan ini meliputi terpasangnya unit evaporator dan kristalisator yang operasional, meningkatnya kompetensi petani dan operator dalam penggunaan alat, tersusunnya SOP produksi dan mutu, serta terlaksananya sistem pengendalian mutu internal di tingkat kelompok. Program ini diharapkan dapat menjadi model pengolahan gula semut berbasis teknologi tepat guna yang dapat direplikasi di wilayah sentra produksi gula semut lainnya. Melalui kegiatan ini, UGM berkomitmen untuk mendorong hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, memperkuat kapasitas petani, meningkatkan mutu produk lokal, serta mendukung daya saing gula semut Indonesia di pasar global.

Selengkapnya

Salurkan Hewan Kurban, UGM Ajak Warga Bungkus Daging dengan Daun Jati

Sebanyak 17 anak-anak dari dusun Wukirsari Imogiri Bantul mengikuti khitanan massal yang diadakan oleh tim pengabdian Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) dalam rangka Kegiatan Bakti Sosial dan Penyembelihan Hewan Qurban pada Jumat (29/5) lalu. Selain melakukan khitanan massal, tim pengabdian FKK MK juga menyalurkan hewan kurban dan pemeriksaan gratis di Girimulyo Kulonprogo dan Playen Gunungkidul. Koordinator tim Pengabdian Masyarakat FK-KMK UGM, Dr. Supriyati, S.Sos., M.Kes., menyampaikan kegiatan bakti sosial dan penyaluran hewan kurban kali ini dilaksanakan agenda tahunan FK-KMK UGM sebagai bagian dari penguatan nilai kepedulian sosial dan pengabdian kepada masyarakat. Pada tahun ini, FK-KMK UGM menyalurkan tiga ekor sapi dan dua ekor kambing pada tiga kabupaten berbeda yaitu Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo, dan Kabupaten Gunung Kidul. “Shohibul qurban tidak hanya dosen dan tenaga kependidikan tetapi juga mahasiswa, residen hingga alumni sebagai bentuk dari pengabdian masyarakat,” ucap Supriyati. Supriyati mengatakan bahwa selain penyembelihan hewan kurban juga terdapat kegiatan bakti sosial berupa edukasi dan penyuluhan kesehatan dengan fokus yang berbeda sesuai dengan kondisi masyarakat masing-masing wilayah. Di Kabupaten Bantul tepatnya di Sanggar Among Budoyo Kampung Pramuka, Wukirsari, Imogiri, FK-KMK UGM berkolaborasi dengan Lembaga Kesejahteraan Sosial Sahabat Pemerhati Difabel (LKS SAPADIFA). FK-KMK UGM menyalurkan satu ekor sapi dan satu ekor kambing. “Edukasinya mulai dari skrining reproduksi, USG, urologi, hingga pemeriksaan gigi dan mulut. Diadakan juga khitanan massal yang memiliki 17 orang pendaftar,” katanya. Selanjutnya di Kabupaten Kulon Progo, tepatnya di Mushola Al Mu’minun, Patihombo, Girimulyo disalurkan satu ekor sapi sekaligus memberikan edukasi dan penyuluhan terkait kesehatan mental anak dan gizi pada anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) setempat sekaligus mengajak warga memilih menggunakan daun jati sebagai pembungkus daging kurban yang ramah lingkungan. Hal serupa juga dilakukan di Gunung Kidul yang menggunakan daun jati sebagai pembungkus daging kurban. Berlokasi di PS Lentera Keluarga, Getas, Playen, Gunung Kidul,  FK-KMK UGM menyalurkan satu ekor sapi dan satu ekor kambing Edukasi yang dilakukan di wilayah ini yaitu pemeriksaan kesehatan seperti kolesterol, gula darah, dan asam urat pada lansia setempat. Melalui momentum idul adha seperti ini, Supriyati berharap kegiatan ini dapat mengasah kepedulian terhadap sesama dengan berbagi kebahagiaan dan ilmu yang dimiliki oleh dosen dan mahasiswa FK-KMK UGM. “Kegiatan ini merupakan salah satu cara dengan mengedepankan kebersihan daging qurban dan tetap ramah lingkungan dengan membungkus daging menggunakan daun jati dan besek. Hal ini sejalan dengan misi UGM sebagai kampus sehat yang berdampak kepada masyarakat sekitar,” katanya. Dr. Ibrahim Rahmat, S.Kp., S.Pd., M.Kes selaku ketua panitia kegiatan ini juga berharap dengan adanya kegiatan ini dapat memberikan kebahagiaan terhadap sesama dan meningkatkan inklusivitas melalui kolaborasi. “Mudah-mudahan adanya kurban ini dapat membahagiakan hati dan psikologis para penyandang difabel yang turut menghadiri kegiatan ini,” tuturnya. Penulis: Jesi Editor: Gusti Grehenson Foto: Dok.Supriyati dan FK-KMK UGM

Selengkapnya

Fakultas Farmasi UGM Berdayakan Srikandi Desa Kulon Progo melalui Pengembangan Produk Farmasi Berbasis Empon-Empon

Kulon Progo, 9 Mei 2026 — Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Kulon Progo untuk Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol” di Kelurahan Hargotirto, Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Program EQUITY Community Development 2026 dari Universitas Gadjah Mada menghadirkan inisiatif pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Srikandi Desa Hargotirto, Kulon Progo dalam Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol.” Program ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat berbasis riset aplikatif yang dilaksanakan dengan dukungan kolaborator internasional. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemberdayaan perempuan desa, khususnya kelompok istri petani yang tergabung dalam Srikandi Desa, melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman, bermutu, dan bernilai ekonomi. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Hibah Equity Universitas Gadjah Mada, sekaligus komitmen Fakultas Farmasi UGM dalam mendukung pengembangan kesehatan masyarakat berbasis potensi lokal sekaligus memperkuat implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Istilah “Srikandi Desa Hargotirto” mencerminkan peran aktif perempuan dalam kegiatan pemberdayaan di wilayah tersebut. Sejak tahun 2010, Desa Hargotirto dikembangkan sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada, dengan salah satu fokus utama pada penguatan peran perempuan. Hingga kini, terdapat 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan produktif, bahkan salah satunya telah meraih prestasi Juara I tingkat kabupaten. Pengembangan produk berbasis empon-empon dipilih karena Kabupaten Kulon Progo dikenal sebagai salah satu sentra utama empon-empon di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa produksi empon-empon di wilayah ini sangat dominan dibandingkan kabupaten/kota lainnya, terutama untuk komoditas jahe yang kontribusinya mendekati sebagian besar produksi daerah. Komoditas empon-empon yang dikembangkan antara lain jahe, kencur, kunyit, temu ireng, temu kunci, lengkuas, dan temulawak. Komoditas jahe dipilih karena memiliki potensi besar sebagai bahan baku produk herbal. Namun demikian, pengelolaan pascapanen serta standardisasi mutu berbasis kandungan senyawa aktif masih menjadi tantangan di tingkat masyarakat. Salah satu fokus utama program ini adalah penetapan mutu jahe berbasis kandungan senyawa aktif. Jahe diketahui mengandung senyawa bioaktif penting seperti 6-shogaol dan 6-gingerol yang memiliki berbagai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan antidiabetik. Namun demikian, selama ini penilaian mutu jahe di tingkat masyarakat masih lebih banyak didasarkan pada aspek fisik, belum mengacu pada kandungan senyawa aktif sebagai parameter ilmiah. Melalui program ini, tim pengabdian memperkenalkan penetapan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol sebagai parameter ilmiah untuk menjamin kualitas produk olahan empon-empon. Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada 9 Mei 2026 meliputi sosialisasi program, pelatihan dan focus group discussion (FGD), serta workshop dan praktik langsung pengolahan jahe. Peserta memperoleh pendampingan terkait teknik pengolahan pascapanen, pembuatan sediaan herbal sederhana, hingga penerapan teknologi tepat guna skala rumah tangga untuk meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk. Selain penguatan kapasitas teknis, program ini juga mendorong pembentukan kelompok kerja perempuan sebagai unit produksi berbasis masyarakat yang diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal secara berkelanjutan. Kegiatan ini turut diperkuat melalui kolaborasi internasional guna mendukung transfer pengetahuan, inovasi, serta keberlanjutan program pemberdayaan masyarakat. Menurut Prof. Agung Endro Nugroho selaku Ketua Program EQUITY Pengabdian kepada Masyarakat Farmasi UGM 2026, pendekatan berbasis sains ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk empon-empon sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya kelompok perempuan di Desa Hargotirto. Melalui program ini, Fakultas Farmasi UGM menargetkan tercapainya peningkatan kapasitas minimal 20 peserta perempuan desa, tersusunnya panduan mutu jahe berbasis kadar 6-shogaol, serta dihasilkannya produk olahan jahe yang berkualitas dan memiliki nilai tambah ekonomi. Program ini sejalan dengan beberapa tujuan SDGs, di antaranya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui pengembangan produk kefarmasian berbasis bahan alam yang aman dan bermutu, SDG 5 (Gender Equality) melalui pemberdayaan perempuan desa sebagai aktor utama pengembangan produk herbal, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan ekonomi masyarakat desa, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pengembangan produksi herbal yang terstandar dan berkelanjutan. Penulis: Rizqi Vazrin | Editor: Fathul | Foto: Rizqi Vazrin

Selengkapnya

Sambut Ramadan, Wanagama Hadirkan Pasar Murah dan Bazar Sembako untuk Masyarakat Sekitar

Gunungkidul – Hutan Pendidikan dan Pelatihan Wanagama I kembali menggelar acara tahunan Bazar Ramadan dan Pasar Murah pada hari ini, Sabtu, 7 Maret 2026, di Gedung Serbaguna Wanagama. Kegiatan yang telah sukses diselenggarakan sejak tiga tahun terakhir ini bertujuan untuk mengenalkan Wanagama kepada masyarakat luas, memperkuat peran Wanagama sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dan edukasi lingkungan, serta mempererat tali silaturahmi antara masyarakat sekitar dengan KHDTK Wanagama I. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam melestarikan Hutan Wanagama, dan memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan produk kebutuhan sehari-hari dengan harga yang jauh lebih terjangkau di bulan Ramadan ini. Bazar Ramadan dan Pasar Murah tahun ini menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan menarik, di antaranya: Stand Pakaian Bekas Layak Pakai (Thrifting): Menawarkan pakaian bekas layak pakai dengan harga terjangkau. Pasar Murah Sembako: Menyediakan paket sembako yang berisi kebutuhan pokok seperti beras 2,5 kg, gula 1 kg, dan minyak 1 liter. Setiap paket sembako dijual dengan harga Rp 50.000. Tahun ini, Wanagama menyiapkan 300 paket sembako untuk masyarakat sekitar kawasan. Bazar Sembako Diskon: Menyediakan beras 2,5 kg, gula 1 kg, minyak 1 liter, kopi giling, hingga sirup yang di diskon hingga 50% dengan jumlah terbatas. Antusiasme masyarakat sekitar tetap tinggi. Hal ini terlihat dari mengularnya antrian masyarakat yang hendak menukarkan kupon miliknya sejak satu jam sebelum bazar dimulai.  Salah seorang warga Kelurahan Banaran, Nur, mengatakan bahwa adanya Bazar Sembako Murah yang diselenggarakan Wanagama ini selalu dinilai sangat membantu warga dalam menyambut Ramadan. “Kami merasa terbantu dengan adanya bazar sembako yang diselenggarakan Wanagama” ujarnya. Kegiatan ini terselenggara dengan dukungan berbagai pihak, yakni Fakultas Kehutanan, Yayasan Oemi Hani’in, Zoomia Coffee, hingga  para Sahabat Wanagama. Wanagama melalui kegiatan Bazar Ramadan dan Pasar Murah diharapkan dapat terus memberikan manfaat yang besar secara berkelanjutan bagi masyarakat sekitar dan memperkuat peran Wanagama sebagai pusat edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Penulis dan Dokumentasi : Zulva Ulin – Wanagama [gallery size="large" columns="1" ids="9069,9070,9071,9072"]